NURANI DALAM DIRI ADVOKAT

Ketika  kita menyaksikan  persidangan tentang pembunuhan misalnya atau tentang kejahatan lainnya, biasanya kita akan dibuat jengkel oleh beberapa pihak, khususnya pihak terdakwa dan pengacaranya. Kenapa demikian? Ya karena  seolah mereka tuidak ingin menjdaikan peridangan tyersebut cepat selesai dan  yang salah diputus salah serta yang benar diputus tidak bersalah.  Bahkan kalaupun bukti sudah  sangat jelas, mereka pada umumnya masih mencari celah untuk melemahkannya dan menginginkan bahwa  terdakwa dibebaskan.

Pertanyaannya ialah sesungguhnya pada advokat itu  ingin membel;a klien ataukah emmbela kebenaran? Kenapa  para advokat diberi nama penasehat hukum, itu seharusnya dikandung maksud bahwa advokat juga sekaligus memberikan pencerhan hukum sehingga kalau kliennya itu besalah,  ya  ungkapkan saja tetapi kemudian meminta diperingan, sehingga persidangan akan cepat selesai.  Namun dalam kenyataannya tidak demikian, karena para advokat biasanya akan mati matian membela kliennya yang telah membayarnya.

Bahkan dalam pembelaan tersebut harus  mencari dalil dalil yang membenarkan kliennya. Jkalaupun  kesalahan kliennya sudah jelas terbukti, masih saja mencari cara bagaimana membebaskannya, melalui  alasan formal, seprti prosedur dan lainnya yang mungkin dilihatnya lemah.  Lalu kita menjadi  bingung, apakah mereka itu ingin menegakkan hukum di negeri ini ataukah ingin mencendanginya denganklelihaiannya?

Kita sangat paham abhwa mereka itu merupakan  advokat yang profesional, dalam arti  kalau kerjanya bagus dan memenangkan banyak perkara, maka reputasinya akan semakin ttinggi dan semakin banyak pula masyarakat yang menginginkan jasanya.  Tetapi menurut saya  hal tersebut tidak perlu kemudian dilakukan dengan  mengkaburkan  hukum, sehingga  terkadang terliohat dalam persidangan yang  saling tuding dan bentak, hanya untuk mempengaruhi pihak lainnya.

Sesungguhnya mereka itu orang yang  dianggap tahu hukum dan karena itu mereka akan membantu untuk proses hukum orang yang sedang bermasalah, namun bukan untuk memenangkan masalah, sebab kalau tujuannya untuk memenangkan suatu masalah, maka akan dicarikan alasan apapun, termasuk kalau harus mempecundangi hukum, karena yang terpenting ialah  kliennya menang, terlepas secara hakiki salah atau benar.

Akan tetapi jika tujuan utamanya ialah untuk penegakan hukum, karena advokat juga termasuk diantara salah satu  unsur penegak hukum, maka  kebenaran hukumlah yang harus diungkap.  Advokat juga harus memperjuangkan kebenaran hukum materiil.  Seharusnya pantang bagi advokat untuk memenangkan perkara yang secara substansial salah, baik dalam  hukum pidana maupun perdata, tetapi kita melihat kenyataan yang sama sekali lain, yakni biasanya  mereka akan mencari cara bagaimana memenangkan perkara, meskipun itu salah.

Kita sangat merindungan  sebuah keputusan  yang pernah diambil oleh Rasuluillah saw, dimana beliau  sebelum memutuskan  mengatakan bahwa “saya ini hanyalah manusia biasa dan saya akan memutuskan berdasarkan apa yang  dibuktikan dalam persidangan.  Karena itu barang siapa yang saya menangkan dalam pengadilan, tetapi sesungghunnya  itu bukan haknya, maka sesungguhnya aku telah memberikan sepotong api neraka, karena itu  jika mau ambillah dan jika tidak mau tinggalkanlah”.

Memang posisi Nabi pada saat itu sebagai pemutuis atau hakim, namun sebagai salah satu  unsur penegak hukum seharusnya para advokat juga berpikir untuk bagaimana hukum dapat ditegakkan dan diterpkan dengan benar.  Meskipun kliennya membayar kepadanya, akan tetapi dfia juga harus emmberikan motivasi kepada kliennya, kalau misalnay perkara yang diproses di pengadilan itu  bukan haknya, sebaiknya  tidak usah dilanjutkan, tetapi kalau memang haknya ya harus diupayakan.

Demikian juga dengan hukum pidana, jika memang terdakwa itulah pelaku kejahatan, maka  sebaiknya diakui saja, karen hukuman di dunia itu jauh lebih ringan ketimbang hukuman di akhirat dan  seterusnya.  Alangkah indahnya dunia ini jika semua pihak yang tahu hukum berperan aktif untuk menegakkannya denagn benar, bukan malah menjadi pemicu ketegangan baru disebabkan oleh keinginannya untuk membela secara “membabi buta” kepada kliennya meskipun  tahu bahwa kliennya itu salah.

Tentu demikian pula dengan penegak hukum lainnya, termasuk jaksa, hakim dan kepolisian.  Artinya mereka itu harus mengupayakan agar hukum ditegakkan dengan benar, sehingga  kalau misalnya  diantara mereka mengetahui secara persis tentang kebenaran, haruslah diupayakan untuk diterapkan.  Dengan kondisi seperti itu kita yakin bahwa kasus kasus suap atau  mafia pengadilan dan sejenisnya tidak akan muncul di negera kita.  Itu memang terasa  sangat ideal, tetapi kita memang harus mengupayakannya.

Dalam bahasa lain kita berharap bahwa dalam diri para penegak hukum harus ada nurani yang berbicara, bukan hanya para advokat saja, melainkan juga yang lain.  Memang para advokat mempunyai tanggung jawab yang cukup tinggi dalam penegakan hukum dan penerapannya, karena merekalah yang biasanya dianggap sebagai pihak yang justru mempersulit penyelesaian  perkara.  Mereka  dianggap terlalu membela kliennya ketimbang mempwertimbangkan penegakan hukumnya.

Secara riil kita belum pernah  melihat ada advokat yang lebih membela kepentingan penegakan hukum ketimbang  memenangkan kliennya.  Itulah mengapa masyarakat secara umum terkadang merasa jengkel kepada advokat yang  selalu saja mencari cari alaan untuk membenarkan kliennya.  Mungkin hanya advokat yang ada di LBH dan tidak mendapatkan  bayaran sajalah (kecuali hanya sekedar bantuan dari pemerintah) yang  akan melakukan hal tersebut.

Akan tetapi tentu tidak semuanya begitu, dan penggambaran tersebut dikesankan secara umum yang dapat dilihat  dalam keseharian.  Kita masih meyakini bahwa mereka itu mempertahankan kliennya karena sebuah keyakinan atas informasi dari kliennya  sendiri bahwa itulah yang benar.  Karena itu mereka kemudian  berupaya mencari dalil yang menguatkannya dan berusaha untuk memenangkannya.  Nah, kalau demikian seharusnya mereka akan berlaku  sangat baik saat bersidang, bukannya membentak bentak dan lainnya.

Kita memang tidak berpretensi dan menganggap bahwa semua advokat hanya mementingkan kliennya saja dan mengabaikan penegakan hukum dan kebenaran hukum, namun  kita juga yakin bahwa da  advokat yang keterlauan seprti itu. Buktinya ialah bagaimana mereka  berupaya memanangkan kliennya  dengan cara yang curang, seperti menyuap dan lainnya.  Seharusnya sebagai salah satu penegak hukum mereka menghindari cara seperti itu dan tetap berusaha menegakkan hukum yang benar.

Hati nurani memang menjadi penting dan menentukan dalam persoalan ini, karena jika hati nurani tersebut berbicara dalam setiap situasi, maka semuanya akan menjadi baik, dan sebaliknya jika hati nurani sudah dikesampingkan, maka ketidak jujuranlah yang akan berbicara dan menguasi medan.  Karena itu kita tetap berharap dan menghimbau agar semua  unsur penegak hukum tetap memakai hati nurani dalam melaksanakan tuagas mereka, demi bangsa dan negara serta menegakkan martabat bersama.

Kita tidak perlu lagi memperdebatkan masalah tersebut, karena yang lebih penting ialah bagaimana  semua kita  berupaya untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya yang pas, termasuk dalam bidang hukum.  Kita sudah terlalu kenyang dengan  maslah dan jangan lagi ditambah dengan lainnya.  Cukuplah pengalaman masa lalu kita jadikan sebagai guru yang paling baik, sehingga kita akan mampu merencanakan dan melangkahkan kaki dengan tagap  di maa kini dan masa depan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.