ITTABI’U MAN LA YASALUKUM AJRAN

Dakwah memang sudaha menjadi kewajiban semua umat sesuai dengan kapasitas masng masing, karena dakwah itu merupakan panggilan agama.  Namun kemudian muncul persoalan ketika mereka yang belum menguasai tentang  ilmu agama kemudian memberanikan diri untuk berdakwah.  Bukan sekedar dakwah  sesuai dengan kapasitasnya, melainkan biasanya karena mereka itu  bertindak sebagai selebriti, maka kemudian  dituntut untuk  menjawab semua persoalan yang muncul, sementara kemampuannya dalam bidang ilmagama masih snagat terbatas.

Nah, dalam kondisi demikian, sesungguhnya kalau  mereka itu kemudian  jujur  dengan menyatakan bahwa  untuk persoialan tersebut memang belum diketahui jawabannya, dan dia akan menanyakannya terlebih dahulu kepada ahlinya, tentu smeua akan ntetap baik baik saja.  Hanya saa sefat kemanusiaanna yang selalu dikuasai oleh nafsu dan keegoan, terkadang justru mampu mengalahkan kejujurannya tersebut.  Akibatnya mereka lalu tetap menjawab semua pertanyaan dengan  apa adanya.

Kasus seprti itulah yang barangkali sangat dikhawatirkan oleh Nabi pada sata itu, yakni peringatan beliau tentang hilangnya ilmu dan tinggallah orang orang bodoh yang lalu  memberikaan fatwa keagamaan dan mereka itu  sesat dan mem=nyesatkan.  Tentu kita  sangat tidak berharap kita akan menemui zaman seperti itu, namun secara nyata saat ini sduah banyak bermunculan dai  yang hanya berbekal bacaan sedikit dari  terjemahan buku, lalu  memerankan diri seolah telah menguasai segalanya.

Akibatnya kita sudah menyaksikan betapa banyak diantara mereka yang kemudian  dengan mudahnya menuduh pihak lain sebagai telah menyimpang atau telah sesat, hanya karena berbeda dnegan apa yang sudah pernah dibacanya.  Maklum saja bacaannya baru sedikit atau mungkin baru satu pendapat,  sehingga berlaku demikian. Pdahal kalau  mereka membaca lebih banyak dan emntetahui betapa kayanya  hazanah ilmu Islam dan betapa beragamnya pendapat para ulama, tentu mereka tidak akan semudah itu memberikan penilian sesat kepada pihak lain.

Lalu muncul juga pertanyaan  yang  mungkin akan snagat sulit untuk dijelaskan, yakni apakah para dai yang menyiarkan  dakwah Islam tersebut boleh dibayar atau  dengan kata lain apakah mereka boleh menerima imbalan dari dakwahnya tersebut?  Mu8ngkin kalau pertanyaan tersebut disampaikan pada zaman dahulu pada wal awal Islam, tentu jawabannya akan seragam, tidak boleh, aias haram.  Namun kalau pertanyaan tersebut dimunculkan pada saat ini tentu akan dengan mudah ditebak, yakni boleh. Alasannya tentu sangat banyak dan  bervariasi.

Dai juga manusia yang  mempunyai tanggungan keluarga dan lainnya, sehingga dia juga dituntut untuk memenuhi nafkag keluarganya, sehiga dengan alsan tersebut, masyarakat boleh memberikanimbalan kepada para dai tersebut.  Akibat dari perubahan tersebut saat ini kita sudah snagat sulit untuk mendaatkan dai yang gartis atau  tidak diberikan imbalan. Jangankan untuk berdakwah yang terkadang  harus dijalankan sampai malam hari, untuk sekedar berkhutbah saja saat ini  juga diberikan imbalan, meskipun dengan nama  bantuan transpoprt mislanya.

Barangkali hanya di beberapa daerah tertentu saja yang masih gratis, seprti di lingkungan  pesantren, di kampung kampung pedalaman atau di kalangan masyarakat terpencil dan miskin.  Sementara  di perkotaan  seluruhnya pasti  aka diberikan imbalan tersebut.  Nah, persoalan tersebut sesungguhnya masih tetap debatebel, karena  smeuanya harus dilihat dengan kacamata kewajaran, dan bukan  dengan kacamata bisnis.

Namun kita juga akhirnya mengetahui bahwa peran dan keberadaan para dai, terutama yang kondang, biasnya  tidak bisa disamakan dengan para dai yang biasa biasa saja, karena  banyaknya permintaan, maka mereka kemudian mengangkat menejer yang  mengatur kegiatan dakwahnya, dan karena itu dibutuhkan  dana yang cukup untuk membiayai semua.  Untuk itulah ita tidaka kaget jika  saat ini  mengetahui bahwa dai juga memasang tarif untuk dakwahnya, bahkan tarifnya terkadang  tidak masuk di akal.

Lalu apakah dengan perkembangan yang demikian esensi dakwah  masih dapat dipertahankan? Atau juga sudah mulai berubah orientasi dan  lainnya.  Kita juga tahu bahwa saat ini dakwah yang dilakukan oleh para selebriti biasnaya hanya  terbats seremonial semata, karena tuidak ada  kuril=ulum tertentu serta tidak ada targetnya.  Semuanya hanya didasarkan kepada  kepuasaan sesaat saja, bahkan  kecenderungannya saat ini dai disamakan dengan komidian, karena  dai yang lucu, pasti akan disukai dan  mendapatkan apresiasi masyarakat.

Kita tidak tahu mengapa kecenderungan masyarakat bukan kepada isi dakwahnya, melainkan kepadakelucuannya, meskiipun isinya biasa biasa saja.  Kenapa  dcakwah yang sesungguhnya merupakan ajaran Islam yang pokok sebagiamana telah dicontohkan sendiri oleh Nabi ternyata telah bergeser sedemikian jauh, sehingga  sangat mengkhawatirkan  umat. Kalau dakwah yang sudah mulai menjelekkan  sesama dan mengkafirkan atau menyatakan sesat kepada lainnya, pasti itu akan merugikan umat dan Islam itu sendiri.

Lalu kenapa juga dakwah sudah menjadi komoditi yang  dibisniskan sedemikian rupa.  Tentu kita snagat menyealkannya, karena  masyarakat kita yang rata rata miskin, malah harus membiayai para dai yang sudaha kaya raya.  Lalu mengapa para dai tersebut tidak pernah mengevaluasi apakah  masyarakat yang pernah didakwahi telah berubah menjadi lebih bagus ataukah masih tetap smaa saja atau malah lebih buruk lagi.  Mereka seolah telah terbebas dari tanggung jawab asalkan sudah selesai melakukan dakwahnya dan menerima imbalannya.

Lalu apa fungsi dakwah tersebut bagi masyarakat? Apakah hanya mereka sekdar mendapatkan hiburan  semata?.  Jawabannya wallahu a’lam. Semua pihak tentu akan sulit untuk mejawabnya secara jujur.   Kalau harus emnjawab tentu  dengan memeprtimbangkan perasaan para dai itu sendiri.  Kenapa mereka tidak pernah berpikir bahwa masyarakat yang didahwai adalah kebanyakan miskin, lalu kenapa  para dai tersebut masih saja “meminta” imbalan kepada mereka?

Kita saat ini dapat menyaksikan betapa  kayanya para dai, bahkan kendarananya juga  meaqh, rumahnya megah dan pakaiannya juga  tergolong mahal.  Lalu apakah  perbuatan mereka sesuai dengan apa yang didawahkan kepada masyarakat miskin?  Sudah barang tentu tidak seluruh dai akan demikian adanya, tetapi mayoritasnya memang demikian.  Kita juga mengakui ada sebagian dai yang menggunakan  imbalan dari dakwahnya untuk membiayai anak anak yatim.

Lalu  kita juga   meyakini bahwa mereka  tahu tentang ayat yang menyatakan bahwa  ikutilah merka yang berdakwah atau mengajakmu kepada kebenaran dan mereka itu tulus  serta tidak meminta bayaran. Nah, kalau saat ini para dai sudah emminta imbalan, apakah masyarakat  saat ini sudah tidak diperintahkan lagi untuk mengikuti mereka?  Mungkin  juga benar karena   ada sebagian dai yang justru tidak memberikan teladan kepada masyarakat mengenai kebajikan, baik yang terkait dengan hidup sederhana, menjalankan ketentuan agama dengan konsisten, seperti berzakat mal, besedkah dan membantu mereka yang membutuhkan.

Kita  sangat menyayangkan  ketika kita melihat adanya sebagian dai yang justru malah berperilaku sebaliknya, seperti tidak  mau bergaul dengan amsyarakat sekitarnya, dan menjaga jarak dengan mereka.  Itu disebabkan  anggapan mereka bahwa mereka itu tidak level dengan amsyarakatnya, sehingga mereka harus ditempatkan pada level yang  terhormat, dan karena itu tidak pantas   mereka bergaul secara langsung dengan masyarakatnya.

Itu smeua tentu sangat disayangan, karena justru seharusnya  sebagai dai mereka berkewajiban turun langsung dan memberiian keteladanan kepada masyarakat dalam mengamalkan ajaran Islam.  Kita tentu dapat melihat jejak nabi  Muhammad saw yang  selalu berada di tengah tengah masyarakatnya dan  bergaul dengan mereka tanpa batas atas nama gengsi dan lainnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.