KITA RINDU KEHARMONISAN

Kita sangat paham bahwa  dunia politik itu identik dengan kekwerasan dalam sikap bahkan terkadang juga dalam kata kata dan perbuatan, sehingga kalau mengharapkan adanya sebuah keharmonisan dalam perpolitikan, maka hanya akan  muncul dalam angan angan semata.  Mungkin juga  dapat terlaksana hanya  beberapa saat saja, saat seluruh kepentingan masing masing  terpenuhi, namun begitu  salahs atunya tidak puas, maka yang terjadi ialah ketegangan, dan “permusuhan” dalam bingkai persahabatan.

Bahkan saat ini pertentangan dan permusuhan  tersebut sudah terang terangan, dan orang tidak lagi risih atau memeliohara sopan santunnya pada saat  menginginkan sesuatu yang dianggapnya sulit, sehingga harus merobohkan atau mematikan pihak lainnya.  Kenapa  mereka yang diberikan amanah untuk mengurusi negara, termasuk mereka yang dieksekutif, legislatif dan yudikatif tidak mempertimbangkan hati nurani dan akal sehat, sehingga mereka dapat bersepakaty untuk melakukan yang terbaik untuk masyarakatnya.

Mengapa  mereka tidak mampu melupakan kekalahan yang diderita pada saat pemilihan umum, apakah itu untuk memilih presiden dana wakilnya, untuk memilih gubernur dan wakilnya dan seterusnya.  Kenapa mereka masih  terus menyimpan dendam dalam diri mereka? Bukankah dendam itu merupakan penyakit ayang  semakin hari akan semakin menggerogoti kebajikan kita?  Lalu kenapa mereka tidak memikirkan rakyat yang menjadi obyek persengketaan mereka?

Jika mereka berpikir rasional, tentunya  setelah semanya selesai dan diputuskan ada yang meang dan ada yang kalah, lalu mereka semuanya  menyatu untuk berpikir  tentang kesejahteraan rakyat.  Jika  misalnya mereka akan maju lagi dalam pemilihan, maka  silahkan maju dengan cara yang terbaik, dan begitu seterusnya, tetapi tidak lantas  mereka  memelihara dendam agar saingannya yang kebetulan berkuasa  terkesan jelek dan  harus dibully tersu meenrus dan lainnya.

Saya  kita tahu apakah  pada saat mereka mendapatkan pelajaran tentang  kewarga negaraan, tidak diajrkan pula tentang  sopan santun berpolitik atau tidak juga diajarkan untuk saling mendukung dan bersatu untuk kepentingan masyarakat?.  Kenapa merka terus meenrus bertarung dan  saling menyalahkan, seolah tidak ada perbuatan baik sedikitpun yang  harus didukung dan diberikan pujian.  Kalau mereka berpikir jernih, sesungguhnya dengan tetap berlaku kesatria dan  selalu mendukung  kesejahteraan rakyat, mereka itu telah berinvestasi besar untuk masa  depan mereka.

Terkadang kita menjadi menyesal mengapa kita  harus menyaksikan kondisi negara kita yang terus emenerus dijadikan ajang pertentangan para elit politik, dan parahnya lagi mereka bukannya beratu untuk bagaimana  caranya memerangi  semua kejahatan yang ada, termasuk dan utamanya kejahatan korupsi yang semakin marak saja.  Kita  terlalu banyak menangisi kondisi kita  dan rupanya mereka  sama sekali tidak perhatian, sehingga merka mudah saja melakukan korupsi atau  teriak teriak untuk menyalahkan smeua kebijakan yang sedang akan diterapkan untuk  menuju kondisi sejahtera.

Sudah barang tentu mereka akan selalu mencari alasan untuk menyalahkan pihak lain, lalu kenapa tidak ditonjolkan bagaimana  caranya untuk selalau berastu untuk kepentingan umat?.  Coba kita pikir apa untungnya  membuat pansus angket terhadap KPK, wong caranya saja sudah menyimpang dari aturan yang mereka buat sendiri, lalu dikembangkan lagi  terhadap sesuatu yang tidak ada dalam rencana semula.  Targetnya sangat jelas mendapatkan kesan bahwa KPK itu jelek dan tidak  melaksanakan  prosedur sebagiamana mestinya.

Nah, kalau itu benar berarti mereka memang tidak ingin negara ini tenteram dan  bahkan  tidak ingin negera ini bebas dari korupsi, karena selama ini  kita semua paham bahw hanya KPK sajalah yang berani  untuk menangkap dan mengambil tindakan  terhadap para koruptor.  Kita juga mengakui pula polisi juga mempunyai andil yang  besar dalam memerangi kejahatan di negeri ini.  Nah, seharusnya  mereka semua berkolaborasi untuk lebih masif lagi memerangi kejahatan, bukannya malah mengadu domba antara kedua lembaga penegak hukum tersebut.

Rupanya sudah terlalu banyak persoalan yang ditimbulkan oleh mereka yang seharusnya mengusahakan ketenteraman bagi rakyat.  Jangan lagi ada cerita tentang pertentangan antar pejabat dan atau lembaga Negara, sebab suah  barang apsti jika itu masih etrjadi, maka mereka itu sesungguhnya tidak pantas untuk menduduki jabatan tersebut, karena tidak mengetahui ruh yang dibawa dalam amanah siapapun yang mendudukinya.  Berikan kesempatan kepada mereka yang mampu menghayati dan  merefleksikan ruh ketenangan dan keinginan untuk mensejahterakan rakyat.

Jika semua menggunakan akal sehat dan tidak mengedepankan ego masing masing, tentu akan lebih mudah untuk mendudukkan mereka berama dan menggabungkan  demi kepentingan bersama.  Kita  sesungguhnya dapat bersama dalam keberagaman, lalu kenapa para elit yang seharusnya menjadi pelopornya  justru malah menunjukkan hal yang bertentangan.  Mengepa mereka tidak mampu bersatu dalam  perbedaan partai ataiu golongan.  Mengapa bukan kepantingan rakyat yang menjadi tujuan utama mereka, dan mengapa pula mereka tidak  mengarahkan seluruh konsentrasinya untuk memajukan NKRI?.

Pada saat ini mungkin tingkat kerunyamannya sudah sedemikian berat, sehingga para  rakyat jelata saja sudah ketularan sikap angkuh dan tidak mau mengerti yang ditunjukkan oleh mereka.  Saat ini konflik kecil yang terjai di masyarakat akan sangat mudah menjalar menjadi ap[i yang cepat sekali membesar, padahal di kalangan masyarakat kita belum ada ceritanya masyarakat sedikian mbutal.  Lalu kenapa  hal hal tersebut belum juga menyadarkan mereka yang menjadi  petinggi? Atau mungkin merka sesungguhnya tahu dan paham, tetapi hati mereka memang sudah membatu.

Ada satu kata kunci yang akan mampu mengatassi semua problem yang saat ini menjadi Pr bagi bangsa ini, yakni  soal ketulusan memberikan maaf dan mau melupkan semua persoalan yang sudah terjadi, serta  membuang jauh jauh sikap  dendam dan ingin membalas kepada pihak lain.  Jika  maaf tersebut mampu dikendalikannya dan  kemudian disetir untuk  tidak dimunculkan kembali ke permukaan,  niscaya semua persoalan alan  sangat mudah untuk diselesaikan.  Namun sayangnya hanya untuk  mewujudkan  pemberian maaf tersebut saja sudah sangat sulit.

Karena itu jangan lagi kita berangan angan untuk mendapatkan kondisi damai dan nyaman diantara para petinggi kita.  Namun jika  kata maaf tersebut sudah emnjadi sebuah kebiasaan yang secara tuls diberikan, insyaallah banyak hal yang selama ini sulit diselesaikan, akan dengan gampang  mulus dituntaskan.  Kita melihat banyak kasus yang mencuat ke permukaan itu semata mata hanya disebabkan  oleh kengkuhan  ego masing masingorang.

Padahal kita smeua tahu bahwa Allah swt itu Maha Pengampun dan  dalam prakteknya, Nabi Muhammad saw  juga selalu memaafkan kepada siapapun yang bersalah kepada beliau,  bahkan seringkali justru beliau sudah memberikan maaf sebelum orang lain memintanya.  Kalaupun ada pihak yang  akan membunuh beliaupun, dengan senyumannya beliau akan  dengan mudah memberikan maafnya.  Seoalah memang tidak ada lagi ruang di hati beliau yang  dapat menampung sakit hati, dendam dan sejenisnya.

Kita masih berharap bahwa di negeri kita ini, para pemimpinnya, dalam semua  level, baik di eksekutif, yudikatif maupun legislatif, akan  terbuka hatinya untuk kemudian lebih memikirkan negara dan bangsanya ketimbang  memikirkan dirinya atau golongannya sendiri. Dengan kesadaran tersebut diharapkan pula bahwa diantara mereka kemudian akan terjalin komunikasi dan kerjaama untuk mensejahterakan umat serta memerangi semua kejahatan, utamanya korupsi, narkoba dan  terorism. Smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.