KRIMINALISASI

Saat ini  kita sering mendengar istilah kriminalisasi, yang dimaksudkan untuk  membela sebuah ketidak mampuan untuk  menjalankan aturan main yang harus dijalani.  Kata itu memang yang paling mudah diucapkan untuk mendapatkan pembenaran  diri dan menyalahkan pihak lain yang sesungguhnya  telah menjalankan tugas dengan baik.  Banyak contoh yang dapat disampaikan di sini,  semisal  ada orang yang terhormat, lalu melakukan  tindakan yang  termasuk kejahatan atau kasus susila, yang menurut aturannya harus diproses hokum, lalu ketika  hal tersebut diproses, maka muncullah istilah  kriminalisasi.

Pada saat mantan ketua dan wakil ketua KPK diproses hokum oleh kepolisian, karena diduga melakukan kejahatan yang dilaporkan oleh masyarakat, lalu  masyarakat yang sudah terlanjur memalaikatkan  komisioner KPK lantas melontarkan kata kata kriminalisasi ketua KPK. Kasus yang saat ini masih diproses oleh polisi tentang balada cinta Riziq juga  muncul kata kriminalisasi kepada ulama dan lainnya.  Padahal kriminialisasi tersebut  merupakan bentuk  upaya untuk  mengkriminalkan orang yang bersih dari perbuatan criminal.

Untuk itu diperlukan adanya proses terlebih dahulu dan dibuktikan di pengadilan, atau kelau memang tidak ada bukti awal yang meyakinkan, lalu dibuatlah seolah olah yang bersangkitan melakukan perbuatan criminal.  Namun jika hal tersebut dilakukan, maka akan dapat dibuktikan  di pengadilan bahwa  rekayasa  kriminalisasi etrsebut akan terungkap.  Jadi kita  harus mempercayai kinerja polisi dan KPK terlebih dahulu, baru kemudian kita akan menyimpulkan apakah ada rekayaasa ataukah tidak.

Seharusnya  semua pihak, utamanya merka yang melek hukum dapat memberikan penjelasan dan pencerahan kepada masyarakat tentang hukum yang sesungguhnya serta materi hukum yang ada dalam undang undang, sehingga masyarakat akan sdikit melek hukum dan tidak mudah memberikan cap kriminalisasi terhadap sebuah kasus yang  sedang berjalan.  Hanya karena terlalu percaya kepada figur seseorang lalu yang bersangkutan kebetulan melakukan kejahatan, apapun bentuknya, dan ekmudian dip[roses oleh pihak berwajib, kemudian harus dikatakan sebagai usaha kriminalissasi.

Seharusnya di dunia yang  transparan ini tidak ada istilah tersebut, karena  mungkin akan sangat mudah untuk membuktikannya.  Apalagi kalau masyarakat  dan semua elemen bangsa ini  saling mempercayai dan memberikan dukungan kepada pihak berwajib untuk memberantas segala macam kejahatan di masyarakat.  Jika  diantara masyarakat mempunyhai sedikit persoalan yang dapat  diselesaikan di luar pengadilan, lalu  melakukannya, semacam memberikan maaf kepada siapapun yang telah  melakukan  hal yang tidak menyenangkan, maka dunia ini pasti akan lebih tenang dan damai.

Kita sangat menghimbau kepada siapapun, termasuk  para tokoh yang mempunyai basis massa, agar tetap mengedepankan  kepentingan umum ketimbangan kepentingan pribadinya.  Karena itu jika  telah melakukan perbuatan  yang mel;anggar hukum, sebaiknya jalani saja prosesnya sehingga  akan diketahui bahwa apa yang dituduhkan tersebut terbukti dan benar atukah tidak.  Sebagai seorang  muslim, kita harus berani mempertanggung jawabkan semua perbiatan yang kita lakukan, dan berani untuk menentang  tuduhan yang memang tidak ebrdasar.

Karena itu jalani dahulu prosesnya sehingga akan dapat membuktikan kebenaran  klaimnya tersebut.  Jangan sampai  sudah ebrbuat salah, lalu justru malah menyalahkan pihak yang akan emnjalankan tugasnya dengan benar.  Itu namanya tidak kesatria dan  itulah yang akan merusak tatanan hukum serta  akan meninggalkan ekkecewaan banyak orang yang sudah  kadung mempercayainya.

Kita memang tahu bahwa istilah kriminalisasi itu pasti   ada dan  itu biasanya dilakukan dalam kondisi  amsyarakat yang sangat parah terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan atau pengaruh, sehingga para pihak akan berusaha menjatuhkan pihak lainnya.  Namun jika  dalam kondisi yang normal, apalagi bagi mereka yang selalu berbuat baik dan membela kebenaran, pastilah akan aman dari kriminalisasi tersebut.  Hanya mereka yang melakukan kejahatanlah yang  kemudian akan dijadikan sebagai tersangka.

Mungkin dalam tampilan kesehariannya bagus, tetapi jkalau dia juga sekaligus melakukan kejahatan, pastilah aparat yang berwajib akan  memprosesnya jika memang ketahuan atau ada pihak lain yang melaporkannya.  Namun sekali lagi jika kita tidak pernah melakukan kejahatan tersebut, kalaupun ada yang melaporkan, tetap saja kita akan aman dari tuduhan tersebut, karena  tidak ada bukti yang meyakinkan.  Karena itu  seharusnya dimulai dari diri kita untuk mengamankan kita sendiri.

Dengan kata lain, pihak lain akan sangat sulit untuk mendapatkan dosa kejahatan yang dilakukan, karena memang tidak pernah melakukannya.  Akan lain halnya jika  ada orang yang sesungguhnya melakukan kejahatan, lalu berpenampilan baik, ekmudian ada pihak tertentu yang merasa dirugikan dan melaporkannya kepada polisi, maka proses yang dilakukan  tersebut memang harus dijalani, karena kemungkinan besar memang yang bersangkutan  melakukan kejahatan tersebut, meskipun sudah cukup lama tersimpan.

Karena itu menjadi pemimpion dalam level apapun memang  harus berani menanggung resiko, Artinya jika kita memang  pernah mempunyai masa silam yang kelam, jangan sampai kemudian kita melupakannya, sehingga seolah kita tidak pernah melakukan kejahatan sama sekali, lalu menantang nantang pihak lain   untuk hal yang terkait dengan kec=sucian etrsebut.  Nah, kalau  demikian adanya, pasti akan muncul pencarian masa silamnya yang penuh dengan noda dan  terperangkaplah dia dalam permainannya sendiri.

Orang memang tidak boleh menyombongkan diri bahwa dirinya sangat ebrsih, cukuplah dibuktikan dalam perbuatan semata, bukan di gembar gemborkan, karena biasanya  orang itu pasti emmpunyai kelemahan tersendiri. Karena itu sombong  dikategorikan sebagai perbuatan setan  dan sama sekali tidak patut untuk disandang oleh seorang yang beriman.  Jika orang berkelakuan santun dan  berbuat baik kepada siapapun, insyaallah akan terselamatkan dari segala  cobaan yang sulit untuk diatasi.

Kembali kepada  istilah kriminalisasi tersebut, seharusnya kita tidak akan mudah memunculkannya,  hanya  terpengaruh oleh pihak lain.  Kalaupun kita  harus mengembangkan sikap  baik sangka tetapi bukan berarti kita kemudian menyimpulkan bahwa  seseorang itu memang sangat  bersih sehingga ketika ada tuduhan terhadap dirinya yang   bertentangand engan  sikap atau pernyataannya, lalu kita menyalahkan kepada pihak yang menuduhnya.

Kalau dalam dunia  kita sebelum sampai ke proses pengadilan biasanya kita diminta untuk bertabyyun terlebihd ahulu terhadap semua pemberitaan yang  sampai kepada kita, khususnya yang menyangkut penilaian terhadap seseorang.  Jangan jangan  itu semua hanya sebuah fitnah atau hanya  omongan yang tidak berharga.  Itulah  perlunya tabayyun untuk mendapatkan kejelasan dari orang yang mendapatkan  tuduhan.  Kalaupun kemudian  yang bersangkutan mengatak bahwa semua itu tidak benar, kita pun tidak boleh  mempercayai begitu saja dan kemudian menyerang pihak lain yang menuduhnya.

Kalau persoalan sudah masuk dalam proses yang ditangani oleh pihak berwajib, sebaiknya kita tunggu saja  hasilnya, karena kita harus memberikan kepercayaan penuh kepada pihak yang berwajib, termasuk pengadilan.  Jadi kita tidak perlu tergesa geda ikut ikutna  dengan memunculkan istilah kriminalisasi tersebut, karena hal etrsebut akan semakin menyulitkan dan dapat emnghambat proses  yang  akan dijalani oleh para openegak hukum di pengadilan.  Semoga kita mampu menyikapi setiap persoalan dengan bijak sehingga kita akan tetap bersikap netral dalam menghadapi semua persoalan yang muncul.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.