BERATNYA MENINGGALKAN KEBIASAAN

Sebagaimana kita tahu bahwa sebuah pekerjaan atau aktifitas yang secara terus menerus dilakukan, pasti akan menjadi sesuatu yang biasa, bahkan kebiasaan etrsebut6 akan menjadi semacam candu, sehingga kalau ditinggalkan akan  sangat berat rasanya, termasuk kebiasaan makan sesuatu, jika sudah menjadi  semacam tuntutan, maka saat kita berusaha untuk meninggalkannya,  rasanya akan sangat berat.  Kalau seseorang terbiasa makan nasi dengan segala lauknya, lalu ada keinginan untuk berhenti makan nasi dan diganti dengan umbi umbian, maka  harus ada perjuangan terelbih dahulu agar  segalanya menyesuaikan.

Banyak diantara manusia yang gagal untuk  meninggalkan kebiasaan etrsebut, karena memang tidak kuat dan mungkin juga kurang kuatnya tekat dan niat yang ada.  Jika seseoarng sudah berniat untuk  tidak makan nasi, tetapi diganti dengan umbi umbian, maka harus  diniatkan secara kuat, baik karena alasan kesehatan maupun alasan lainnya, sebab kalau tidak dilandasi oleh kekuatan niat, pasti semuanya akan berantakan di tengah perjalanan.

Namun jika  ada perjuangan di depan, lalu  lama kelamaan pastinya akan terbiasa dan mungkin mal;ah menjadi semacam  tuntutan.  Lihatlah misalnya  kebiasaan orang orang Barat yang tidak makan nasi, melainkan makan selainnya, seeprti kentang, kemudian juga  sayur sayuran dan buah, tetapi mereka  santai saja dan  tidak tampak lemas atau  kekurangan gairah.  Itu karena mereka sudah sejak kecil terbiasa dengan makanan seperti itu.

Jadi kalau kita mampu untuk bertahan untuk beebrapa waktu dan kemudian membiasakan diri dengan apa yang kita konsumsi tersebut, pada saatnya pasti akan terasa ringan dan biasa.  Mungkin pada awalnya kita akan merasa lemas, lapar atau rasa lainnya yang tidak nyaman di badan kita, namun kita harus percaya  bahwa pada saatnya pasti akan emnjadi etrbiasa.  Artinya jika kita emnginginkan sesuatu perubahan dalam kebiasaan kita, sesungguhnya  akan dapat kita lakukan dan tidak terlalu berat, jika memang niat kita sudah bulat.

Tidak ubahnya  dengan kebiaaan kita bangun malam atau menjalankan ibadajh secara berjamaah atau berpuasa tertentu.  Semuanya akan menjadi terbiasa jika memang dilakukan secara rutin dan kontinyu.  Namun yang lebihpenting Dari itu ialah bagaimana kita menancapkan niat yang kuat dalam hati kita, sebab secara psikologis pasti akan berpengaruh terhadap keberhasilan keinginan kita untuk membiasakan seuatu yang baru tersebut.

Sebagai sebuah contoh dapat disamp[aikan bahwa kalau seseorang tidak makan dan tidak minuam di siang hari tetapi tidak diniati berpuasa, pasti akan terasakan berat yang amat sangat, bahkan secara  ilmu kesehatan, orang akan dapat anfal penyakit maag atau aam lambungnya akan naik, namun jika  hal tersebut diniatkan berpuaa sejak malam atau setidaknya sejak pagi hari, maka  asam lambung tidak  akan naik dan  penyakit maag tidak akan kambuh.  Persoalan ini sudah dijelaskan oleh ahli kesehatan yang kebetulan juga seorang muslim yang tahu tentang ibadah puasa.

Jadi faktor niat itu memang menjadi sangat penting, terutama  dalam hal penguatan  secara psikologis yang  akibatnya juga akan mempengaruhi keseluruhan badan kita.  Orang yang berniat puasa dan tulus dalam niat tersebut, biasanya tidak akan merasakan  derita atau berat, akibat lapar atau haus, karena memang sudah diniati dan secara psikologis tidak akan memikirkan tentang lapar dan haus tersebut.  Pastinya akan jauh berbeda dengan mereka yang tidak berniat puasa, tetapi hanya tidak makan dan minum, maka rasa lapar dan haus p[asti akan emnghinggapinya.

Demikian juga dengan aktifitas lain yang ingin dijalani sehingga menjadi kebiasaan, seperti bangun malam dan menjalankan  tahajjud.  Yakinlah bahwa jika sudah menjadi kebiasaan, maka kalaupun kita  kelelahan karena beraktifitas seharian atau karena perjalanan yang snagat jauh, maka kita akan tetap terbangun pada saat saat yang biasa kita bangun dan kemudian  menjalani tahajjud.  Namun hal tersebut tidak  akan dapat dilakukan jika  belum terbiasa dan tidak diniati dengan sungguh sungguh.

Pada awalnya mungkin disamping niat yang teguh, harus  ada usaha untuk membangunkan diri, seperti menghidupkan  alarm pada saat yang diinginkan.  Mungkin juga  alarm tersebut tidak hanya sekali, karena terkadang ada orang yang tidak mendengar bunyi alarm jika hanya berbunyi sekali saja, dan bahkan mungkin perlu bunyia alrem tersebut dimaksimalkan volumenya, sehingga kita akan terbangun  mendengar alarm tersebut.

Nah, ketika  kita sudah berniat untuk bangun, maka  saat emndengar alrm tersebut tentunya kita akan bangun juga meskipun pada awalnya ada  rasa  keterpaksaan juga.  Namun jika kita mampu memnghalaunya, dan kemudian kita ambil air wudlu, dan ekmudian shalat, maka  semuanya akan menjadi terang dan tidak lagi  akan diganggu oleh rasa kantuk.  Kalaupun kemudian setelah tahajjud masih merasa mengantuk, maka  bolehlah tidur kembali dan  bunyikan alarm sekali lagi pada saat masuk waktu subuh, dan begitu seterusnya.

Memang memerlukan proses yang tidak pendek untuk membiasakan diri dalam aktifitas yang baru, bahkan terkadang harus memerlukan waktu yang cukup  panjang, namun jika niat kita teguh, maka  apapun akan dapat kita jalani dengan baik dana pada saatnya apsti hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang seperti menjadi candu, yakni jika tidak melakukannya  seperti ada sesuatu yang hilang sehingga  hati dan perasaan emnjadi tidak nyaman.

Bahkan kalau kita mau dan berkomitmen untuk membiasakan diri  selalu berbagi dengan pihak lain, sesuai dengan  kemampuan kita, hal tersebut juga akan dapat terlaksana.  Artinya kehidupan kita akan selalu dipenuhi dengan rasa ingin berbagai dengan pihak lain, termasuk ketika kita hanya mempunyai sesuatu yang pas pasan atau hanya  sedikit saja.  Itulah yang namanya kebiasaan yang sudah mengakar dan akan mampu mempengaruhi keseluruhan sikap dan perilaku kita.

Olah raga  juga demikian tentunya, yakni jika kita menginginkan membiasakan beroleh raga tertentu, semisal hanya sekedar jalan kaki setiap pagi, dan itu kemudian kita niatkan dengan sungguh sungguh dan dijalani dengan kesungguhan pula, maka  pada saatnya kita juga pasti akan memetik hasilnya, yakni akan tergugah untuk berjalan kaki, walaupun mungkin sedang kurang enak badan dan secara otomatis kita akan merasa ada yang hilang jika tidak melakukannya.

Itu semua   adalah contoh kebiasaan baik yang  memang seharusnya kita upayakan ada perubahan  kesana, namun juga  sama efeknya  dengan kebiasaan buruk yang kita lakukan.  Artinya jika kita membiasakan diri untuk melakukan sesuatu yang buruk pun, akibatnya juga akan menjadi  sesuatu yang mencandu kepada kita dan itu berarti kita telah terjerat oleh kebiasan buruk yang seharusnya kita hindari.  Sebagai contohnya ialah tidur pagi.  Artinya jika kita  membiasakan diri untuk tidur pagi, maka ketika  tidak melakukannya, pasti ada  sesuatu yang hilang dan itu akan mempengaruhi kinerja kita selanjutnya.

Tentu banyak lagi yang dapat kita jadikan contoh tentang kebiasan buruk tersebut, termasuk kebiasaan mengkonsumsi sesuatu, semisal merokok atau makan makanan instan  sepeti mie atau lainnya.  Kebiasaan buruk tersebut memang tidak terkait dengan kejahatan, melainkan hanya terkait dengan kesehatan, sehingga  kalau kita emmbiasakannya tidak  ada sanksi hukuman yang akan kita terima, melainkan hanya aspek kesehatanlah yang akan kita tanggung.

Pendeknya smeuanya sesungguhnya dapat kita biasakan, namun ada yang mudah untuk kita  lakukan,  dan itu biasanya kebiasaan buruk, dan ada pula yang berat kita wujudkan, dan bisanya adalah kebiasan baik.  Akan tetapi semuanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang kita usahakan.  Semoga kita   akan mampu menjalani kebiasan baik dan terjauhkan dari kebiasaan buruk.  Sebab kalau sesuatu hal sudah menjadi kebiasaan, biasanya akan sangat berat untuk meninggalkannya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.