SEMUA AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH SWT

Sekaya apapun orang atau sehebat seperti apapun, dia pasti akan fana, atau akan musnah bersama dengan kontrak usia yang telah ditetapkan oleh Tuhan.  Harta yang  banyak juga tidak akan mampu untuk dijadikan tebusan atas kematian yang sudah datang.  Barangkali hanya doalah yang mungkin dapat menenangkan orang untuk  menghadapi persoaan tersebut, atau mungkin doa pulalah yang  mampu mengubah takdir Tuhan.

Artinya jika  seseorang tulus dalam menjalankan aktifitasnya, termasuk dalam hal ibadahnya, lalu dia  meminta agar dipanjangkan usianya untuk kepentinganpengabdian kepada Tuhan  dan memberikan pelalayan terbaik bagi sesama manusia, mungkin Tuhan akan memberikan kelonggaran.  Namun itu hanyalah perkiraan manusia saja, karena takdir kita semua  hanya Tuhan yang mengetahuinya.  Mungkin juga takdir kita  sama sekali tidak akan pernah berubah sesuai dengan keptusan Nya.

Manusia sebagai hamba Nya hanyalah berusaha  dan meminta, dan persoalan apakah permintaan tersebut kemudian akan dikabulkan itu persoalan lain yang kita sama ekali tidak ada hak campur tangan di dalamnya.  Hal yang pasti dan harus kita yakini ialah bahwa semuanya  pada akhirnya akan kembali kepada Allah swt, karena dalam keyakinan kita  kita ini milik Tuhan dan  kalau diivaratkan hanya seperti  wayang saja, dan pada saatnya kita akan kembali kepada Nya.  Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Atas dasar pemikiran tersebut seharusnya semua manusia menyadari hal tersebut dan tidak akan pernah berpikir untuk memperkaya diri di dunia, karena toh, pada akhirnya  akan ditinggalkannya, dan salah salah malah akan menjadi obyek perengketaan yang akan terus bermasalah di kemudian hari.  Karena itu akan jauh lebih bagus, jika semua harta yang  dimiliki atau yang dititipkan oleh Tuhan  dimanfaatkan untuk kepentingan umat sehingga akan menjadi ivestasi di akhirat.

Memperkaya diri itu boleh aslkan dalam pengertian yang benar dan  malah sangat dianjurkan, tetapi kalau hanya sekedar menumpuk harta, baik diwujudkan dalam  barang, tanah atau lainnya atau ditumpuk di bank, maka itu bukan memperkaya diri, melainkan hanya  tertipu dengan harta, karena harta harta tersebut sejatinya bukan miliknya, melainkan akan menjadi milik orang lain, setelah  dia meninggalkan dunia.

Memperkaya diri sendiri itu artinya semua harta yang  didapatkan akan selalu disalurkan kepada  hal yang baik danmemberikan manfaat yang besar bagi umat manusia dan juga alam semesta.  Jika kita mempunyai harta, lalu kita titipkan ke panti ausuhan, untuk menyantuni anak anak yatim, untuk membangun  masjid, lembaga pendidikan, memperbaiki jalan dan fasilitas umum lainnya, maka itulah harta simpanan kita yang tidak akan pernah dapat dicuri atau  ditipu oleh pihak lain.

Sayangnya memang sifat kemanusiaan kita yang terkait dengan keduniaan masih sangat dominan sehingga teori yang begitu indahnya dan sangat masuk akal, tidak pernah diwujudkan dalam kenyataan.  Kalaupun kita tidak mampu untuk melakukan  dengan sangat ideal, setidaknya kita harus mampu memberikan ruang dalam diri kita untuk  selalu ingat masa depan kita,  dan kemudian kita mau berinvestasi untuk  masa depan tersebut.

Masa depan kita bukan saat kita masih berada di dunia, melainkan pada saat kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini, menuju akhirat.  Di sanalah masa depan kita tersebut, karena  kita akan   mengalami kehidupan yang langgeng untuk selamanya.  Masa depan  yang seperti itu seharusnya yang selalu kita ingat dan pikirkan, sehingga kita  akan tertarik dan berp[ikir untuk menjadi sejahtera di sana.  Untuk apa mempunyai harta dan kaya  di dunia, kalau di akhirat kita akan selamanya menderita?

Akan jauh lebih bagus, jika saat di dunia kita juga sejahtera dengan mendapatkan nikmat yang  banyak, lalu nikmat nikmat tersebut kita  investasikan guna menghadapi berbagai kepetingan di dunia  kelanggengan tersebut.  Dengan sikap demikian kita  akan meraih  kebahagiaan keduanya, yakni di dunia dan sekaligus di akhirat.  Namun tidak banyak amnusia yang menyadari secara total hal tersebut, karena yang terbanyak ialah mereka mengetahui tentang kehidupan akhirat, tetapi tidak menjadi fokusnya, sehingga melupakannya.

Sementara kehidupan dunia yang hanya sementara itu malahan emnjadi fokusnya sehingga dia akan terperdaya oleh rayuan duniawi dan bahkan tersandra olehnya.  Sangat disayangkan memang kalau orang berilmu dna banyak menjalankan ibadah kepada Tuhan, akan tetapi dalam hal  dan sikapnya terhadaop persoalan dunia, dia justru  dikahalkan oleh nafsunya sendiri.  Untuk itu mari kita selalu mengingat Tuhan dan juga mengingat ajal kematian kita, sebab dengan mengingat hal tersebut, akan mampu membangkitkan gairah beramal dan membantu mengusir pengaaruh nafsu kita.

Membiasakan mengingat ajal itu akan sangat bagus, karena biasanya kalau kita sedang berbahagia dan sedang  melakukan pekerjaan yang terkait dengan dunia, pasti kita akan sangat sulit untukl mengingat akhirat, terkecuali sudah dibiasakan.  Jika kita  mampu melakukan itu  insyaallah kita akan dijauhkan dari hal hal yang menyimpang dari aturan main, karena ketika nafsu mendorong kita untuk menyimpang, di situlah kita akan langsung ingat kepada Allah swt, sehingga penyimpangan tersebuit tidak jadi kita lakukan.

Biasanya pula kita akan mengingat ajal, ketika kita sedang  mendpatkan informasi tentang kematian dan kemudian kita bertakziyah, itupun mungkin hanya beberapa saat saja  dan setelah itu lupa kembali.  Nah, pada saat kita  hanya mengingat hal hal duniawi  itulah nafsu yang dikendalikan oleh setan akan  lebih giat lagi mempengaruhi diri kita yang terkadang kemudian kiota akan kalah dan menyerah tanpa syarat.  Kita sangat mengkhawatirkan  yang dmeikian, karena  suah banyak terjadi.

Karena  kita sangat paham bahwa smeua  pasti akan kembali kepada Nya, makacepat ataupu lambat kita juga pasti akan menghadap kepada Nya. Hnya saja istilah menghadap tersebut bukan dalam arti yang sesungguhnya, karena sebagian diantara manusia  ada yang memang benar benar akan emnghadap kepada Nya, dan sebagiannya tidak akan mungkin dapat menghadap kepada Nya, karena terhalang oleh banyak dosa ayang  dilaukannya.

Kalau istilah semua makhluk yang hidup pasti akan mati itu memang brlaku untuk semuanya, karena memang itulah yang terjadi.  Tidak ada satu makhluk pun yang akan  langgeng hidup, karena pada saatnya semua akan mati terkecuali hanya Allah swt.  Akan tetapi pada saatnya pula Allah swt akan membangkitkan kembali seluruh manusia, akan tetapi bukan untuk menjalanio kehidupan sebagiaman saat di dunia, melainkan hanay untuk menerima balasan atas apapun yang telah dijalninya  saat di dunia.

Jadi kehidupan akhirat itu hanya merupakan  alam pembalaan semata.   Mereka yang selalu berbuat baik di dunia,  pasti akan mendapatkan balasan baik, sebaiknya bagi mereka yang selalu durhaka pasti juga akan mendpatkan balasannya.  Lalu bagaimana dengan mereka yang pernah melakukan kebajikan, namun juga sekaligus melakukan kejahtan yang nilainya mungkin saja seimbang atau bahkan lebih banyak maksiatnya?

Allah swt pasti maha Adil, karena itu kalau hingga saat akhir hayatnya seseorang etrsebut belum sempat  bertaubat dan memohon  serta diampuni oleh Tuhan, maka dia harus mempertanggung jawabkan semuanya kepada Tuhan.  Mungkin dia akan dimasukkan ke nera  terlebih dahulu untuk menghabiskan hukumannya, lalu setelah itu barulah akan  diangkat ke surga untuk mendapatakn balasan kebajikannya.  Itulah gambaran yang  kita yakni sebagai sebuah keniscayaan. Semoga kita termasuk mereka yang beruntung dan tidak perlu menjalani hukuman di neraka, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.