TIDAK PERLU MENUNGGU

Terkadang kita  diharuskan untuk sesegera mungkin menyelesaikan dan menuntaskan pekerjaan atau sesuatu, sementara ada pihak pihak tertentu yang masih dalam satu kelompok yang masih harus memerlukan beberapa waktu lagi.  Nah, kondisi demikian terkadang juga mendorong kita untuk menunggu yang lain agar dapat diselesaikan bersama sama.  Kalau memang  hal tersebut merupakan satu kesatuan dan tidak mungkin dilakukan penyelesaian tersendiri, maka  menunggu itu menjadi hal yang mutlak dilakukan, akan tetapi kalau tidak terkait secara langsung, sebaiknya yidak usah menunggu.

Jika kita  berhadapan dengan pihak lain yang kerjanya lambat, kita  terkadang menjadi senewen tersendiri, karena kita tidak akan dapat mengerjakan sesuatu yang laon, padahal seharusnya pekrjaana tersebut dapat diselesaikan dengan cepat.  Itulah mengapa biasanya team work harus disesuaikan dengan  kondisi masing masing anggotanya.  Artinya  kalau ada  anggota yang tidak sejalan, dalam arti tidak dapat menyesuaikan diri dengan kinerja kawannya satu tim, maka harus dihindari supaya tidak terjadi konflik di dalamnya.

Sebaik apapun hubungan di luar pekejaan, kalau kemudian di dalam pekerjaan ada perbedaan yang mencolok, biasanya akan dapat menimbulkan konflik  dan terjkadi keretakann hubungan.  Karena itu sebaiknya memang harus dipilih mereka yang sejalan dan dapat saling mengerti.  Namun demikian kalau di luar pekerjaan mungkin kita dapat memilih kawan   sesuai dengan selera masing masing, bahkan dengan perbedaan yang ada justru akan saling melengkapi.

Ada perbedaan memang di dalam tunggu menunggu, karena  ada kepentingan yang berbeda, misalnya ketika kita akan menggunakan jasa transportasi tertentu, seperti kereta api, maka kita harus mengerti bahwa  kepentingan kita lebih besar sehingga kita harus mau menunggu, meskipun  kereta dating telat pun kita harus maklum.  Namun sebaliknya jika kita yang telat, tidak akan mungkin kereta api akan menunggu kita.  Demikian juga dengan alat transportasi lainnya sperti kapal ataupun pesawat terbang.

Namun  kalau kepentingan bersama, ada baiknya  kita  menyediakan waktu untuk menunggu, asalkan ada kejelasan  tentang yang ditunggu.  Misalnya ada perjanjian untuk pulang bersama setelah melakukan kegiatan bersma di tempat yang sedikit berbeda.  Nah, jika salah satu diantara mereka tidak tepat waktu, maka seharusnya ada informasi yang jelas mengapa tidak tepat waktu, mungkin macet di jalan atau munghkin sebab yang lain. Dan jika semuanya sudah jelas, maka  menjadi kewajiban kita untuk menunggu.

Namun jika tidak ada kejelaan dan setelah ditunggu beberapa saat juga tidak  muncul informasi, maka kita boleh meninggalkannya, dan tidak perlu menunggu lagi  Itulah kira kira etika  dalam bergaul dalam kaitannya dengan persoalan menunggu.  Tentu akan lain lagi halnya dengan  posisi suami istweri yang misalnya sedang berbelanja di sebuah pasar atau mall dan lainnya, yang masing masing mempunyai keperluan, dan kebetulan alat komunikasi tidak terbawa atau mungkin baterainya habis dan lainnya.  Namun keduanya sudah berjanji ketemu di sebuah tempat, maka menjadi wajib untuk menunggu yang terlambat.

Namun itu  kalau dalam kondisi  tidak tepat waktu, padahal kita  inginnya semuanya serta tepat waktu sehingga tidak ada istilah menunggu atau  akan muncul sikap yang berbeda   karena terjadinya  menunggu tersebut.  Kita  sangat tahu bahwa persoalan menunggu itu merupakan hal yang sangat tidak nyaman dan bahkan membosankan, dan karena itu  harus dihindari  sebisa mungkin. Kalau misalnya terpaksa maka menunggunya  tidak akan terlalu lama.

Memang ada kalanya kita tidak perlu menunggu jika ada sesuatu yang  mengharuskannya, seperti jika kita sedang mengerjakan sebuah tugas penting dan  memerlukan ketapatan waktu, sementara ada kawan yang ingin bersama, tetapi pada saat yang telah disepakati ternyata tidak dating.  Dalam kondisi seperti itu tentu tugas tersebut harus didahulukan, meskipun tentu aka nada rasa kurang nyaman dengan kawan tersebut, tetapi kita dapat menjelaskannya dengan cara yang baik.

Menunggu itu  memang  merupakan kondisi yang sangat menjemukan sehingga  hamper tidak ada orang yang menyukai menunggu.  Bahkan untuk sekedar menunggu antrian saja terkadang ada yang tidak sanggup.  Barangkali hanya menunggu orang yang sangat dirindukan sajalah yang akan  merasakan keasyikan tersendiri.  Namun begitu jika  waktu menunggu tersebut telah terlampaui juga  pasti akan timbul rasa yang tidak nyaman, bahkan mungkin malahan tidak sekedar tidak nyaman, melainkan malahan rasa was wasa.

Akan jauh lebih menyakitkan bagi  pihak pihak tertentu jika  untuk menunggu  tersebut diatas namakan sebuah adat atau tradisi, maka  menunggu tersebut merupakan sebuah  hukuman atas seuatu yang tidak  salah.  Bahkan  terkadang malahan  waktu tunggunya sangat tidak jelas.  Contoh kongkrit dalam persoalan ini ialah jika ada anak perempuan yang  lama belum menikah, sementara adiknya yang laki laki atau p[erempuan akan menikah karena sudah emndapatkan jodohnya, maka dianggap sebagai sebuah hal yang memalukan, sehingga harus menunggu  kakaknya terlebih dahulu.

Persoalannya ialah kapan kakaknya tersebut akan menikah, karena  belum jelas itulah maka kemudian menunggu dalam jenis ini sungguh menyakitkan.  Seharusnya  kalau kakaknya memang belum akan menikah  tidak bolehlah kelau kemudian harus menghalangi adiknya yang sudah siap menikah, karena urusan menikah itu urusan yang penting, sehingga harus disesuaikan dengan kesiapan amsing masing.  Tradisi memang akan bagus jika memang tidak merugikan, tetapi kalau itu merugikan seharusnya tidak dipertahankan.

Pendeknya  menunggu hal hal yang tidak atau belum jelas itu akan merupakan sebuah kondisi yang sangat membosankan dan mungkin juga menyakitkan, karena itu kita memang harus  sigap dalam mengambil keputusan, terkecuali kalau memang tidak ada jalan lain, maka dengan keterpakasaan kita harus menunggu.  Artinya kalau ada jalan keluar untuk tidak menunggu atau kalau terpakasa menungu juga tidak terlalu lama, maka kita  akan mengikutinya, tetapi jika tidak sebaiknya kita mencari jalan lain yang memungkinkan.

Namun memang ada kalanya  menunggu terhadap sesuatu yang belum  pasti waktunya cukup mengasyikkan atau bahkan membuat deg degan, seperti ketika menunggu kelahiran anak.  Kalau pun kita belum mengetahui kapan anak akan segera lahir, tetapi menunggu speperti itu memang harus dijalani bahkan dengan berbagai pikiran, baik bayangan setelah kelahiran maupun bayangan betapa  dapat senyuman pertyama dari  isteri yang telah  berjasa melahirkan sang anak.

Secara umum kita memang mempunyai kewenangan untuk menentukan nasib kita sendiri, apakah kita akan menungghu sesuatu yang tidak jelas, karena mengikuti  arus banyak dan demi keselamatan, meskipun harus  merasakan kebosanan yang teramat sangat, ataukah kita akan mengambiol langkah tersendiri untuk  tidak menunggu.  Semuanya  menjadi  pilihan kita sendiri, namun  akan jauh lebih bijak dan baik jika sebelum mengambil keputusan harus dinalar terlebih dahulu mengenai untung dan ruginya.

Mudah mudahan kita akan  mampu memilah antara jkepentingan indivisu dan kepentingan umum sehingga apapun yang kita  putuskan akan tetap baik akibatnya.  Menunggu memang membosankan dan menyakitkan, tetapi terkadang ada kalanya kita harus menunggu dan itu  sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari hari.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.