TENTANG ONE DAY SCHOOL

Istilah sekolah full satu hari sesungguhnya  kurang tepat jika dimaksudkan ialah sekolah selama 8 jam sehari, karena  biasanya kalau kita mengatakan sehari itu berarti 12 jam.  Hanya saja kalau kita berbecara mengenai istilah  maka kita akan dibuat tidak berdaya oleh kesepakatan  para pakar di dalam bidang tertentu.  Itu disebabkan kata istilah itu sendiri untuk menyatakan bahwa sesuatu itu sudah disepakati oleh para ahli dalam bidang tertentu, meskipun sudah  bergeser dari makna aslinya.

Banyak istilah yang kemudian menjadikan sesuatu itu dapat dimaklumi oleh banyak orang, walaupun  sangat jauh dari makna aslinya, seprti kata basah yang pada aslinya ialah sesuatu yang terkena air atau sesamanya lalu menjadi basah, tetapi kemudian  kata tersebut dipahami sebagi sesuatu yang  penuh dengan kesenangan, meskipun tidak selalu dalam kondisi baik.  Kata jabatan atau kursi basah itu bukan dimaksudkan tempat duduk yang terkena air, melainkan sebuah posisi atau jabatan yang enak dan  ada  kesempatan yang mudah untuk didapatkan.

Kembali kepada  istilah one day school yang beberapa waktu lalu menjadi polemic dan hingga saat inipu juga masih menjadi perdebatan sengit di kalangan  masyarakat, sesungguhnya hal tersebut merupakan pilihan untuk masyarakat, apakah ingin lembaga pendidikannya dilakukan secara itu ataukah tidak.  Kita menyadari saat ini sudah banyak lembaga pendidikan yang memberlakukan  system tersebut, dan dianggap sebagai hal yang wajar, karena  justru akan  mampu membina  murid muridnya untuk sekaligus mempraktekkan ibadah shalat dan lainnya.

Namun  kita juga menyadari bahwa  di negeri kita itu masih banyak sekolah madrasah diniyyah yang diselenggarakan pada sore hari dan itu sangat  penting untuk memberikan pelajaran yang terkait dengan keagamaan.  bahkan kalau kita teliti mungkin pembentukan karakte anak anak bangsa justru  lahir dari madrasah tersebut.  Karena itu kelestariannya juga tetap harus dipehitungkan dan bahkan harus menjadi kewajiban sleuruh masyarakat untuk menjaganya.

Bagi  lembaga pendidikan swasta yang merasa sudah mampu  melakukan system tersebut, dengan kelengkapan sarana prasarananya, termasuk tempat istirahat, makan, ibadah dan lainnya, dipersilahkan untuk melakukannya, tanpa harus ada keharusan yang dipaksakan oleh pemerintah.  Bahkan di beberapa tempat dengan  system  tersebut justru akan membantu  siswanya untuk menjadi lebih baik, karena kalaupun  hanya  separoh hari, setelah itu mereka  tidak  masuk di dinaiyyah atau pesantren, maka system tersebut akan menjadi lebih bagus.

Persoalannya ialah jika system tersebut kemudian diwajibakan oleh pemerintah kepadav semua lembaga pendidikan, maka akan terjadi persoalan  besar, salah satunya ialah belum  siapnya sarpras  sekolah, sehingga justru tidak akan mendapatakn  tambahan manfaat, malahan akan menyeot manfaat yang  tadinya sudah ada menjadi hilang.  Keberadaan madrasah diniyyah yang snagat besar jasanya untuk mendidik manusia Indonesia, jangan sampai diabaikan dan bahkan  seolah dimatikan.

Kita menyadari bahwa pemerintah selama ini belum mampu mencukupi semua kebutuhan pendidikan anak bangs,a sehingga masyarakat kemudian merasaa terpanggil untuk ikut mencerdaskan  anak bangsa.  Nah,  masih banyak ragamnya dan memerlukan penanganan oleh pemerintah, terutama dalam hal kelem]ngkapan sarpras, fasilitas pembelajaran yang fital dan tenaga guru yang professional.  Nah, sesungguhnya hal hal semacam itulah yang seharusnya  dijadikan prioritas oleh pemerintah  agar pendidikan kita dapat menhasilkan sesuatu yang bermanfaat lebih.

Kenapa  system one day school yang kematin itu menjadi  gempar? Ialah karena  rencananya akan dipaksakan kepada semua sekolah atau lembaga pendidikan, pastinya  rencana tersebut tidak bijak, karena di sana masih banyak persoalan, termasuk persoalan keberadaan madrasah diniyyah,  dan sejenisnya.  Lalu kalau semua lembaga pendidikan diharuskan menjalani 8 jam sehari, maka tidak ada kesempatan bagi siswa untuk memasuki madrasah  yang selama ini menjadi andalan mengetahui keagamaan.

Maksud dari system tersebut memang baik, yakni mengkonsentrasikan  siswa untuk belajar dan sekaligus juga mampu mempraktekkan  ajaran yang sudah diteorikan, namun  system tersebuit akan ebrjalan baik, jika dijalankan pada lembaga pendidikan yang sudah memenuhi fasilitas yang dibutuhkan.  Dan tentu  bagi sekolah yang mayoritas sistwanya tidak  memasuki madrasah diniyyah pada sore harinya.  Namun jika  penerapan  system tersebut justru berbenturan dengan  pihak lain, tentu harus ditinjau ulang.

Mungkin system tersebut cukup diatur sebagai pilihan saja. Atinya bagi lembaga pendidikan yang sudah siap menjalankannya dengan baik dan diperkirakan  justru akan semakin menambah kualitas siswanya, maka dipersilahkan untuk memberlakukannya, tetapi bagi lembaga pendidikan yang belum siap, dan ini mayoritasnya, apalagi keberadaan  lembaga pendidikan tersebut   berada di tempat tempat yang banyak madrasah dinityyahnya, maka tidak perlu diterapkan system tersebut.

Selama ini sesungguhnya system tersebut sudah dijalankan oleh sebagian lembaga pendidikan kita, khususnya yang sudah mampu dan justru akan menambah kualitas siswanya, dan itu biarlah terus berjalan sebagaimana biasa, dan bagi yang lainnya juga biarkan tetap berjalan sebagaimana mestinya.  Hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah ialah bagaimana dapat memenuhi sarpras sekolah, khsusunya swasat ayng kondisinya sangat memprihatinkan.

Disamping itu yang terpenting lagi ialah bagaimana pemerintah membantu aspek pendidiknya  kepada lembaga lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara.  Dengan mengkonsentrasikan diri pada kekurangan tersebut, insyaallah  akan lebih bermanfaat dan  masuyarakat akan lebih bangga.  Berbagai kekurangan yang fital pada lembaga  pendidikan kita  harus dilihat kembali, lalu dilakukan upaya untuk memenuhinya, meskipun harus bertahap.

Mungkin kita perlu menyelami masalah pendidikan tersebut dengan sangat cermat dengan mempertimbangkannya dari berbagai kepentingan.  Tidak mesti sebuah system yang baik dijalankan di Negara asing, lalu secara serta merta akan menjadi baik jika diterapkan di Negara kita.  Itu disebabkan bahwa kondisi masyarakatnya berbeda, regulasinya juga berbeda, dan  masih banyak lagi perbedaan yang ada sehingga  yang diperlukan di kita ialah bagaimana kita mampu mendeteksi terhadap smeua persoalan pendidikan lalu melakukan upaya nyata untuk memenuhinya.

Karakteristik masyarakat kita  memang sangat berbed jauh dibandingkan dengan karakteristik orang Eropa misalnya, sehingga system pembelajartannya pun juga seharusnya berbeda.  Memang ada yang dapat disamakan, tetapi tidak seluruhnya.  Hal tersebut sesungguhnya sudah dipahami oleh para pakatr pendidikan kita, dank arena itu sejak semula  tidak ada keinginan  untuk menyamakan system yang kita miliki dengan system milik orang lain.

Hanya saja kita akan terus memikirkan bagaimana  mampu meningkatkan kualitas pendidikan kita sehingga akan mamp[u bersaing dengan pendidiklan di Negara lain yang terlebih dahulu maju.  Karena itu sangat diperlukan  kajian menyeluruh, yang meliputi penelitian yang komprehensif,  diskusi yang mendalam dan kemudian usulan yang ditindak lanjuti dengan konsekwen. Harus ada prioritas dalam menangani pendidikan kita, sebab kalau kita  hanya menambal sulam saja, maka yakinlah  pendidikan kita tidak akan bergeser dari yang ada saat ini.

Jadi untuk system one day school, biarlah tetap seperti saat ini, yakni bagi yang sudah mampu dan berpendapat akan lebih berhasil meningkatkan kualitas, maka  biarlah memberlakukannya, tetapi bagi yang lain, tetaplah  seperti saat ini, apalagi kalau kemduian ternyata di sana banyak madrasah diniyyah yang  justru dapat membantu dalam menceraskan dan membentuk karakter baik bagi para siswanya.  Semoga  ke depan tidak ada lagi  persoalan pendidikan yang dimunculkan secara kontroversial, yakni  mengharuskan sebuah system yang  harus diberlakukan oleh smeua lembaga pendidikan yang nyata nyata berbeda.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.