MENUJU KESIBUKAN

Siapapun orangnya, setelah menjalani Idul Fitri, biasanya  akan mengalami  kelellahan yang teramat tinggi, dan jika hal tersebut tidak disikapi dengan baik, justru akan dapat menurunkan semangat dan dedikasi  kepada instansi atau lembaga yang digeluti selama ini.  Bahkan mungkin juga akan menjadi bahan tertawaan pihak lain dan dikatakan sebagai kondisi pasca Ramadlan yang memperihatinkan.  Seharusnya secara teoritik, selepas puasa Ramadlan semuanya akan meningkat secara signifikan.

Akan tetapi mungkin disebabkan oleh aktifitas yang berlebih saat menjalani Idul fitri dan sama sekali tidak dirasakan, lalu menumpuk dan pada  saat dibutuhkan justru malah melemah, dan itul;ah yang banyak dialami oleh kita.  Dengan kondisi tersebut kita justru malahan tampak  seperti melemah dalam hal kinerja atau bahkan mungkin dapat dikatakan tidak mencapai target.  Nah, kesan tersebut memang tidak berlebihan dan itulah kenyataan yang haruis dihadapi.

Cuma  kalau kemudian kita dapat menyikapi hal tersebut dengan cukup bijak, tentu  tidak akan sampai kepada sebuah kesimpulan yang memang menyakitkan. Artinya  kalau kita pandai untuk  berbuat sesuatu agar bdan dan semangat tetap menyala, tentu semua penilaian tersebut  berubah secara lebih  drastic, yakni  tampak  bersemangat dan gairah yang menyala, meskipun baru saja menjalani libur panjang.  Itulah barangkali yang saat ini kita butuhkan untuk memompa spirit agar  tampak lebih bergairah.

Sebagaimana kita tahu dan memahami bahwa  setelah liburan cuti panjang, kita akan meninggalkan pekerjaan rutin dan kemudian baru  menyentuhnya lagi setelah selesai cuti bersama, nah, sudah barang pasti beberapa pekerjaan tersisa akan menjadi semakin menumpuk dan sulit untuk dikerjakan dalam waktu yang berasamaan.  Cara yang paling mudah ialah bagaimana kita menciptakan suasana bahwa kita sangat mencintai dan menyenangi pekerjaan yang ada  di hadapan kita tersebut.

Jangan sampai kita begitu masuk kerja langsung  menyentuh banyak pekerjaan yang sangat menumpuk yang pasti kita akan merasakan betapa berat dan “awing awangen” untuk menyelesaikannya.  Ditambah lagi kalau kita  melihat pekerjaan yang menumpuk, maka nyali kita menjadi ciut, dan akibatnya akan sangat berat untuk  dapat membuat target yang realistis.  Karena itu sekali lagi, yangb pertama cobalah untuk menciptakan suasana yang menarik dan menyenangkan terhadap pekerjaan yang ada.

Jika suasana menyenangkan tersbeut sudah tecipta, maka sebanyak apapun pekerjaan tersbeut, akan dapat kita jalankan dengan penuh semangat dan  dan  ringan saja untuk menyelesaikannya.  Bahkan mungkin tidak terasa ternyata sudah selesai.  Itulah mengapa kita memerlukan  kondisi  yang  memungkinkan untuk  terciptanya susaana ceria dalam pekerjaan, bukan sebaliknya suasana muram.  Bagaimanapun  kesenangan terhadap sesuatui akan sangat mempengaruhi hasil yang akan kita dapatkan.

Apalagi  kita juga tahu  bahwa semakin hari, pekerajaan bukannya  menyusut, melainkan  akan lebih bertambah dan bertambah lagi,  seirama dengan  berkembangnya  tempat dimana kita mengabdikan diri.  Jika pekerjaan semakin mengecil, itu tandanya bahwa  tempat kita mengabdi mengalami kemunduran dan itu  berarti sinyal kelemahan dan  kita har7us bersiap siap untuk mendapatkan kondisi yang sangat tidak menyenangkan.

Kita semua pasti sudah mengatahui bahwa  semakin banyak pekrjaan yang harus kita selesaikan dan menjadi tangung jawab kita, maka  itulah tanda bahwa kita  berkembang dan  bertambah maju.  Untuk itu pekerjaan yang semakin banyak jangan dihindari dan  jangan pernah mengeluh, karena itulah konsekwensi kemajuan yang selama itu kita usahakan.  Jika ingin berleha leha, maka kita tidak perlu mengembangkan diri dan cukuplah dengan apa yang ada, meskipun lama kelamaan justru akan semakin hilang dari peredaran.

Apalagi kalau kita  berada di perguruan tinggi, sudah barang tentu akan lebih sibuk lagi terutama dengan datangnya para mahasiswa baru dan  merka yang baru akan mengadu nasib untuk masuk di perguruan tinggi.  Kesbukan tersebut  memang  nyata dan jika kita menyikapinya dengan santai dan penuh kegembiraan, tentu tidak akan menjadi beban berat, tetapi sebaliknya jika kita merasa terbebani oleh  hal tersbeut, pastilah akan terasa sangat berat.

Bagi kita yang mencintai aktifitas, benyaknya kegiatan seprti itu justru malah mengasyikkan dan emnjadi tantangan tersendiri,  lain halnya  bagi mereka yang malas, tentu akan menjadi sandungan  tersendiri dan bahkan mungkin akan dirasakan menyusahkan.  Jika demikian pada akhirnya semuanya akan menjadi berantakan, kalaupun kemudian juga selesai, namun hasilnya pasti tidak akan maksimal.  Untuk itu marilah kita siap menyongsong kesibukan yang terus akan kita temukan dan  kerjakan.

Syaratnya memang hanya satu yakni  melaksanakan pekerjaan sambil  gembira dan marasa mencintai pekerjaan tersebut.  Cobalah kita ciptakan suasana yang ceria dan menyenangkan, sheingga pekrjaan seberat apapun biasanya akan terasa sangat ringan.  Itulah barangkali kiat mereka yang sukses dan seolah tidak pernah merasakan kelelahan sama sekali, meskipun telah menjalani pekrjaannya seharian penuh.  Bahkan malah terkadang mereka harus melakukan lembur untuk menyeleaikan pekrjaan yang  saying untuk ditunda.

Hanya saja tentu bagi kita sebagai seorang yang beriman, kita tentu harus tahu tentang batas, sehingga tidak asal senang, lalu dapat melakukan pekerjaan sesuka hati, karena pasti kita masih emmpunyai kewajiban terhadap sang Pencipta, yakni melaksanakan ibadah.  Meskipun masih ada banyak perkejaan yang harus diselesaikan, dan amat saying kalau harus ditunda, namun kita tetap harus mengingat beberap hal penting lainnya, sperti ibadah kepada Tuhan, dan juga  kesehatan.

Kita tahu bahwa fisik kita itu betapapun kuatnya dan keinginan kita untuk dapat bekerja, tetapi kita tetap harus ingat bahwa kekuatan fisik kita itu ada batasnya.  Karena itu jika kita memandang bahwa  dengan meenruskan pekrjaan melalui  lembur, justru akan membahayakan kondisi badan kita, sebaiknya pekrjaan tersbeut harus ditunda.  Mungkin kita akan merasa saying dan mengalami kerugian atas penundaan opekerjaan tersbeut, tetapi pasti kita sudah ebrhitung mengenai keuntungan yang didapatkan, yakni kesehatan.

Untuk apa kita mengejar  selesainya pekerjaan dan mendapatkan keuntungan materi sangat banyak, jkalau ternyata badan kita kemudian emnajdi sakit dan akhirnya kita justru tidak lagi mampu menjalankan pekrjaan sehari hari.  Jadi memang harus ada perhitungan yang matang untuk  kepetningan kita sendiri, yakni keuntungan materi, kesehatan dan juga  kesempatan untuk menjalankan ibadah kepada Tuhan.  Kombinasi ketiganyalah yang akan menjadikan kita beruntung, baik di dunia maupun di akhirat.

Tanda tanda orang yang beruntung itu memang cermat dalam berhitung  mengenai keuntungan dan kerugian secara menyeluruh, bukan hanya secara materi saja.  Karena itu memang untuk dapat hidup di  dunia  secara  hasanah itu dibutuhkan sebuah konsep matang mengenai cara hidup yang benar.  Cara tersebut mungkin sebagiannya dapat didapatkan dari pengalaman hidup sendiri, namun sebagian besarnya sesungguhnya dapat didapatkan melalui pengalaman hidup orang lain, melalui bacaan yang tersedia.

Membaca itulah kata kuncinya,  termasuk jika kita ingin sukses dalam usaha lahiriyah untuk mendapatkan materi yang melimpah.  Pengalaman pribadi emmang  dapat  membuahkan  hasil yang bagus, jika cermat dan kemudian  ma uterus mengusahakan dengan baik, akan tetapi jika  dikombinasikan dengan membaca pengalaman pihak lain yang sudah pernah sukses, tentu akan jauh lebih ampuh dan cepat mendapatkan hasil yang dapat dirasakan secara langsung.  Semoga kita semua dapat menjadikan membaca sebagai alat untuk meraih kesuksesan, amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.