PEMUTIHAN LAGI

Sebagaimana kita tahu bahwa bulan Syawwal ini ibaratnya sebagai bulan untuk pemutihan kembali atas segala amal kita yang sudah berlalu.  Setelah kita menjalani bulan Ramadlan yang penuh dengan  ampunan Tuhan, dan sekaligus juga sebagai bulan untuk melatih diri tentang berbagai kebajikan, maka  di bulan inilah kita akan membuktikan diri bahwa dri kita memang sudah berubah menjadi baik.  Dengan kata lain semua amalan kita sebelumnya akan kita ubah menjadi  amalaqn yang  berbeda dan tentu saja lebih baik.

Kalau dalam istilah kita sehari hari  kita akan menyebutnya dengan pemutihan, karena semua amalan yidak baik yang sudah pernah kita jalani, lalu kita hapuskan  melalui amalan Ramadlan, dan kini kita akan memutihkannya dengan amalan yang baik dan sama sekali tidak terkait dengan amalan buruk yang sudah berlalu.  Harapannya ialah bahwa setelah pemutihan kali ini, seterusnya  akan selalu dihiasi dengan  amalan baik dan memberikan manfaat besar bagi banyak pihak.

Untuk itu seharusnya kita memang tidak boleh menyerah dengan keadaan, melainkan  harus terus berjuang untuk mendapatkan  sesuatu yang lebih baik.  Ramadlan memang luar biasa  dapat mengubah segala sesuatu, namun jika  ita sendiri tidak mau mengusahakan untuk beruba, maka  mustakhil akan terjadi perubahan yang baik. Semuanya harus diupayakan oleh kita sendiri, setidaknya  dengan niat yang baik dan sekaligus juga usaha yang harus dipadukan dengan seua potensi yang memungkinkan.

Bulan Syawwal memang disebut juga dengan bulan peningkatan, itu disebabkan karena  semua  orang   seharusnya   menigkat kebaikannya, setela melalui bulan suci Ramadlan.  Jika  orang tidak  lagi ada perubahan dan peningkatan setelah memasuki bulan Syawal, maka dia termasuk orang yang sangat rugi, dan bahkan mungkin dapat disebut sebagai orang yang malang.  Bagaimana  tidak disebuat rugi dan malang, kalau yang lainnya  mampu merengkuh kebaikan dan meningkatkan segala sesuatu menjadi lebih baik, tetapi dirinya tetap sama  dengan sebelumnya.

Ramadlan sebagai bulan latihan memang  sangat tepat dan itu tidak diingkari oleh hampir seluruh umat muslim, namun  sebagai realitasnya, tidak semudah yang kita ucapkan.  Selalu ada saja  pihakyang gagal dalam menjalani latihan tersebut.  Artinya masih cukup banyak orang yang sudah menjalani puasa Ramadlan satu ulan penuh, tetapi ternyata  tidak ada perubahan dalam dirinya yang dapat dibanggakan.

Pada saat Ramadlan mereka  selalu berbuat kebaikan, seperti   mengerjalan shalat  secara berjamaah,  selalu saja  melakukan tadarrus  kitab suci,  mungkin juga  sering untuk berbagi dan sedekah,  tarawih juga  terus dijalaninya, namun setelah Syawwal datang, semua kebajikan tersebut ternyata  lenyap bersama dengan berlalunya Ramadlan itu sendiri.  Sungguh sangat disayangkan, karena seharusnya  apa yang dibiasakan selama bulan Ramadlan, akan membekas dan  terbiasa sehingga  saat Syawwal menjelang, semuanya akan menjadi baru dan berubah.

Sesunggunya tidak harus semua kebajikan yang sudah dilakukan selama bulan  suci itu harus  terealisasi seluruhnya, melainkan cukuplah kalau ada  satu  atau dua amalan andalan yang dapat dipertahankan.  Jika kita  mempunyai perencanaan yang bagus, maka cukuplah kita wujudkan satu atau dua amalan baik yang sudah terbiasa kita jalani di Ramadlan, lalu dilestarikan setelahnya.  Sementara yang lainnya dapat kita jalankan secara  tidak rutin, namun harus ada komiutmen diri untuk melakukannya pada  Ramadlan tahun berikutnya.  Hal yang paling penting ialah menjaga konsistensi amalanyang sudah kita jalani agar tidak tergerus oleh kondisi apapun.

Dengan begitu kita dapat berharap bahwa pada saatnya nanti kebaikan yang kita lakukan dan biasakan serta lestarikan akan menjadi semakin banyak dan sempurna.  Kita tahu bahwa untuk melakukan kebaikan itu membtuhkan  keseriusan diri yang kuat, sehingga   mungkin bagi sebagian besar orang tidak akan mampu melakukannya  secara  sekaligus, melainkan harus berproses, sedikit demi sedkit.  Mungkin hanya sedikit saja   orang yang mampu melakukan kebakan  sekaligus.

Jika orang memaksakan diri untuk menjalani banyak kebajikan , mungkin pada awalnya  dapat bertahan, namun setela berjalan sekian bulan, atau bahkan mungkin anya beberapa mnggu saja, kemudian  sudah bosan dan tidak mampu untuk meneruskannya.  Nah, tentu jika demikian halnya, akan jauh lebih agus, jika sejak awal direncanakan untuk menjalankan kebajikan itu sedikit demi sedikit, tetapi konsisten dan  terus menerus menjaganya  sedemikian rupa, sehingga semuanya akan berjalan secara normal dan tidak memberatkan.

Saat ini  secara riil kita memang sudah berada di bulan Syawwal dana kita sudha mulai  melakukan aktifitas sebagaimana biasa, hanya saja apa yang dapat kita banggakan dengan berlalunya Ramadlan tersbeut? Tentu kita  sendirilah yang akan menjawabnya, bukan dengan kata kata, melainkan  dengan perbuatan nyata.  Pekerjaan rutin yang kita lakukan mungkin saja masih sama dengan sebelum Ramadlan, namun seharusnya ada semangat baru yang berbeda, khususnya  dalam hal niat dan motivasi yang menyertainya.

Jika niat dan tujuan kita menjalani  pekerjaan tersebut berbeda, menjadi lebih baik, tentu hasilnya pun juga diharapkan akan semakin lebih baik.  Hal tersebut akan  dapat juga dirasakan oleh orang orang di sekitar kita, semisal ketika mengerjaan sesuatu disertai dengan senyuman, bukan dengan kemarahan, atau  pada saat  banyak pekerjaan bukannya mengeluh, melainkan   malah  disyukuri, karena akan semakin banyak pahala yang didapatkannya dan  sejenisnya.

Perubahan memang tidak harus bertambah dalam arti volume pekerjaan yang dijalaninya, melainkan pada saat mengerjakan pekerjaan tersebut ada perubahan   kearah  yang lebih baik dan memberikan ketenangan bagi masyarakat sekitarnya.  Jika  orang bekerja dengan senyum dan  penuh keceriaan, dan kesenangan kepada pekerjaan tersebut,  sudah barang tentu akan  memberikan susasana yang cukup bagus dan menujang pada hasil yang dicapainya.  Sebaliknya jika saat bekerja  dipenuhi  oleh rasa kesal, marah atau wajah yaqng tidak menyenangkan, tentu juga aan berpengaruh kepada hsilnya.

Dengan demikian sesungguhnya perubahan terhadap diri atas pengaruh Ramadlan, bukan semata mata bertambahkan  pekerjaan yang baik, melainkan mungkin juga  jenis dan  volume pekerjaan masih tetap, namun suasana kerja menjadi lebih nyaman dan kondiusif.  Sementara  untuk kebajikan diri, tentu dapat diwujudkan melalui sikap, dan juga perilaku yang lebih dapat dirasakan oleh orang orang di sekitarnya.

Artinya memang mungkin ada kebaikan yang bertambah secara riil, seperti  perubahan dalam hal ibadahnya, atau dalam hal kerajinan dalam berjamaah saat shalat, atau  berubah dalam hal seringnya beramal dan membantu pihak lain dan lainnya.  Namun  dapat juga  ada perubahan dalam sikap dan perilaku yang secara langsung dapat dilihar dan rasakan oleh orang orang di sekitarnya, seperti  banyak senyum, dan  sudah tidak marah marah,  suka  memberikan salam kepada  kawan dan lainnya.

Pendeknya,  kita memang harus mengusahakan diri untuk  ada perubahan dalam diri kita  menuju kepada  kebaikan, dalam bentuk apapun.  Jika kita ternyata  belum mampu untuk melakukan perubahan setelah  menjalani puasa Ramadlan, maka  kita mungkin dapat digolongkan sebagai orang orang yang sangat rugi.  Saat ini tentu belum terlalu terlambat, jika kita mau  mengubah diri, asalkan ada kemauan dan tekat yang kuat, insyaallah semuanya akan dapat dilakukan dan diraih.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.