TRADISI KUPATAN

Sebagaimana kita tahu dan alami sendiri bahwa setelah  umat muslim merayakan  idul fitri, lalu disusul satu minggu kemudian dengan tradisi kupatan atau bodo kupat atau  juga biasa disebut dengan bodo kecil.  Sebuah tradisi yang bernuansa religi, karena kalau ditelusuri referensinya tentu tidak akan ketemu, terutama di kitab kitab klasik, namun jika ditilik dari isi dan substansinya, maka tradisi tersebut tidak dapat dipisahkan dengan  agama islam itu sendiri.

Pada awalnya tradisi  kupatan atau syawalan tersebut dilakukan di berbagai tempat, seprti masjid, mushalla  dan sejenisnya, yakni dengan  makan bersama setelah sebelumnya mereka membaca  berbagai bacaan yang baik baik, seprti membaca alquran, tahlil,   baca shalawat dan juga  ceramah keagamaan.  Intinya mereka diingatkan  untuk selalu ingat kepada orang tua dan  family yang telah mendahuli kea lam baka dan mereka kemudian mendoakan kepada mereka.

Nah, melihat isinya tersebut tentu kita tidak akan  pernah menyatakan bahwa isinya  tidak sejalan dengan ajaran islam, terkecuali  hanya mereka yang sejak awal sudha muak dengan segala macam tradisi yang ada.  Tradisi  sepeti itu yang cukup sederhan namun penuh dengan hikamad dan memberikan nuansa kesadaran bagi masyarakat untuk selalu memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berjasa, baik kepada mereka maupun kepada wilayah yang ada.

Namun saat ini kita  dapat menyaksikan betapa perkembangan  tradisi syawalan atau kupatan tersebut sudah ebrkembang sedemikian rupa  hingga sebagiannya malah sudah meninggalkan aspek hakikinya.  Coba kita lihat ada beberapa tradisi syawalan yang  hanya berupa  keramaian  dan  penuh dengan aneka  pedagang yang menjajakan dagangan mereka, ada yang berubah menjadi  sebuah kegiatan tertentu yang sama sekali jauh dari nuansa religi dan lainnya.

Namun juga ada yang masih tetap mempertahankan tradisi lama, meskipun sudah dilakukan  pengembangan dengan menambah kegiatan lain yang tidak terkait, seperti menyediakan  tempat untuk keramaian dan lainnya.  Sesungguhnya tidak ada aturan main yang mengharamkan atau mewajibkan untuk tetap mempertahankan tradisi sebagaimana aslinya, karena smeua itu hanya diserahkan kepada masyarakat sendiri.

Namun  seharusnya kita tetap mengacu kepada kebajikan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita, yakni tetap melestariklan tradisi tersebut, walaupun  kemudian kita juga boleh dengan menambahkan beberap event yang semakin menarik minat masyarakat untuk mendatanginya.  Tradisi kupatan tersebut  sesungguhnya merupakan kelanjutan dari halal bi halal yang sudah mendarah daging di masyarakat kita.

Kata kupat sendiri mempunyai makna yang sangat bagus, yakni sebuah pengakuan diri bahwa dirinya salah.  Dengan kata lain, kupat itu merupakan  singkatan dari aku lepat atau akan salah.  Nah, jika seseornag  mengakui kesalahannya sendiri, tentu  sudah merupakan modal yang bagus untuk membuat kebaikan berikutnya, dan menjauhkan diri dari sifat sombiong yang sering menghinggapi amsyarakat kita.  Pernyataan bahwa  saya salah dan kemudian ditiondak lanjuti dengan kesediaan untuk meminta maaf adalah sikap kesatria yang harus dimiliki oleh semua orang muslim.

Terkadang kita memang harus miris saat menyaksikan betapa anak anak muda saat ini  tidak diperkenalkan dengan tradisi budaya kita sendiri yang snagat bagus, dan mengandung filosofi tinggi.  Akibatnya mereka  tidak mempedulikan tradisi tersebut dan seringkali bahkan malah tradisi tersebut disebut sebagai hal kuno yang tidak patut dilaklukan oleh mereka.  Mungkin ini  sebagiannya  karena kesalahan kita sendiri yang lupa memberikan pengetahuan tentang tradisi tersebut kepada mereka.

Namun menurut saya  saat ini belum terlalu terlambat, karena tradisi tersebut di sebagian daerah masih terus dilestarikan, sehingga kita masih dapat memebrikan pembiasaan kepada mereka sambil kita menjelaskan maknanya, sehingga  pada saatnya mereka akan  dapat memahami dan kemudian mau mengapresiasi dan melestarikannya.  Seharusnya kita menjadi bangga mempunyai tradisi yang bagus, ketimbang kita harus mengadobsi tradisi  luar yang terkadang malah bertentangan dengan kondisi idela kita sendiri.

Sebagai orang tua yang juga mempunyai kewajiban untuk membrikan pendidikan anak agar  menjadi anak yang baik, berakhlak mulia dan cerdas dalam menerjemahkan zaman, kita  tidak boleh ebrdiam diri  saat menyaksikan  tradisi baik yang sudah diciptakan oleh para pendauhulu kita tersebut ditinggalkan atau bahkan dirusak oleh generasi muda yang sama sekali tidak pernah memahami arti pentingnya.  Kita harus terus mengupayakan agar semua tradisi baik tetap dipelihara dan dijalankan, emskipun tidak harus secara terus menerus.

Sebab siapa tahu pada saatnya nanti akan  ada pihak yang mau menguri urinya sehingga akan semakin tumbuh besar dan menjadi kebanggan bersama.  Masih banyak tradisi baik selainkupatan atau Syawalan tersebut yang seharusnya kita pertahankan, waklaupun  sata ini kita sudah berada di zaman yang dianggap modern,  tradisi tradisi yang dibuat oleh para leluhur kita yang  mengejawantahkan  kebiasaan baik yang sudah mengakar di masyarakat tentu mengandung makna yang sangat dalam untuk membuat kita menjadi semakin baik, kokoh dan tidak mudah luntur oleh  pesatnya zaman atau peradaban.

Dengan kata lain kita tidak boleh membiarkan tradisi yang sudah ada  dan baik dirusak atau dibiarkan  begitu saja oleh generasi kita saat ini, karena  dikhawatirkan jika  tradisi tersebut disingkirkan, maka lama kelamaan akan punah dan  hilang.  Padahal kita  belum dan tidak pernah  memulai untuk menciptakan tradisi baik sebagaimana   mereka telah melakukannya.  Karena itu  kita harus merasa berdosa jika tidak mampu memeliharanya  dengan baik dan mewariskan kepada anak cucu kita.

Tradisi kupatan atau syawalan itu sangat erat berhubungan dengan kesadaran manusia setelah menjalani puasa Ramadlan, yakni kesadaran untuk   menyadari  posisi diri yang sangat lemah dan tidak mungkin akan terhindar dari berbagai macam kesalahan dan kekurangan.  Menyadari kekurangan diri itu menjadi  mutlak harus dimiliki oleh smeua orang, karena dengan begitu orang tersebut akan mampu menerima kritik, masukan dan juga  saran dari semua pijak, tanpa harus memandang kedudukan dan status orang tersebut.

Kesadaran seperti itualh yang di zaman sekarang sangat mahal harganya, dan  disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang untuk membuat kesadaran yang demikian, akibatnya banyak pihak akhirnya menjadi sasaran tembaknya, bukan untuk  dihormati dan dimuliakan, melainkan justru sebaliknya untuk dibulli atau diperkarakan.  Hanya persoalan kecil sauja kita tidak mampu untuk memberikan maaf, apalagi kalau sudah emnyangkuit gengsi diri, biasanya  meskipun harus menghabiskan harta banyak pun tetap harus ditempuh.

Ibaratnya  nafsu mereka sudah memuncak sehingga kalau harta harus habis untuk membayar pengacara tidak masalah, asalkan  orang lain yang dibidik itu harus menaggung malu,  atau masuk penjara dan lainnya.  Itulah kondisi saat ini yang sangat miris kita menyaksikannya.  Itu  salah satunya ialah karena tidak mau melestarikan dan emngambil teladan dari tradisi yang diwariskan olehn para ulama tempo dulu yang adi luhung itu.

Dengan  kupatan atau syawalan kali ini kita berharap ada titik cerah dari kita untuk emmberikan  pemahaman kepada generasi mudah kita agar mereka  tahu dan mau memberika apresiasinya dan kemudian juga mau memelihara dan melestarikannya.  Yakinlah bahwa dengan memelihara tradisi bnaik tersebut hidup kita tidak akan tertinggal dengan pihak lain, bahkan kita yakin  justru kita akan lebih unggul ketimbang merka yang mengaku modern.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.