TRADISI HALAL BI HALAL

Mungkin bagi kita yang  ingin mencari referensi tentang halal bi halal dalam hazanah kitab kitab kuno Islam, yang ditulis oleh para imam mazhab dan juga oleh para ulama  yang biasa menulis buku buku fiqah, tidak akan menemukannya, karena halal bi halal itu memang orisinil ciptaan  bangsa Indonesia, walaupun namanya seolah berbahasa arab, tetapi itu sesungguhnya mengindonesia. oRang Arab sekalipun tidak akan paham dengan bahasa hala bi halal, apalagi kalau yang dimaksudkan ialah tradisi saling meminta maaf  pada saat idul fitri.

Jika kita lihat betapa hebatnya para ulama  kita untuk menciptakan tradisi baik yang selaras dengan islam,  dan bahkan  malahan dianggap sebagai baguian dari ajaran Islam. Maka kita sudah seharusnya menaruh hormat dan respek keada mereka dan kemudian menguri uri tradisi yang sudah mereka ciptakan, tidak hanya  halal bi halal, tetapi juga tradisi lainnya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat secara umum.

Para ulama kita telah memberikan ajaran dan sekaligus contoh kongkrit bagaimana  kita harus saling bekerjasama dengan sesame masyarakat dalam  hal kepentingan bersama, semacam membangun lingkungan, mendapatkan kenyamanan dan keamanan, menjaga  keutuhan lingkungan dan wilayah secara bersama sama, dan lainnya.  Demikian juga bagaimana mereka menunjukkan betapa mereka dapat menghargai dan memahami perbedaan yang ada di tengah tengah masyarakat, tanpa harus saling menghina atau merendahkan.

Kita juga tahu betapa mereka  saling menjaga kehormatan  pihak lain, tanpa harus menyinggung hal hal yang sensitive, yang dikhawatirkan justru akan dapat menimbulkan kegaduhan dan semacamnya.  Ketika mereka berdakwah dan  mengajak kepada kebaikan pun mereka tidak  akan memaksakan kehendaknya, melainkan hanya menawarkan kebaikan dan jika mereka mau menerimanya maka merek akan di berikan  ajaran yang lebih detail dan jika menolak juga tidak masalah.

Dalam ebrdakwah tersebut mereka sama sekali tidak pernah menyalahkan  keyakinan masyarakat yang tidak selaras dengan ajaran agama yang ditawarkan tersebut.  Bahkan ketika ada tradisi yang sudah mengakar di masyarakat lalu mereka mengikuti  dakwah mereka, maka tradisi tersebut tidak lalntas diperhangus dan dibuang begitu saja, melainkan justru tradisi etrsebut tetap dilestarikan, hanya saja kemudian diberikan warna da nisi yang sesuai dengan ajaran agama yang mereka peluk.

Betapa hebatnya para ulama kita dahulu yang demikian  mengatahui  bagaimaan seharusnya hidup bersama dengan masyarakat yang majemuk.  Tetapi mereka tetap eksis dan  kuat dalam mempertahankan keimanan serta ritual yang  menjadi kewajiban mereka.  Bahkan untuk mempermudah masyarakat dalam mengamalkan ajaran agama, para ulama justru  sering membuat tradisi yang secara tidak langsung  mengandung  ajaran islam itu sendiri.

Halal bi halal itu merupakan tradisi yang snaat bagus, sehingga saat ini sudah menjadi tradisi milik bangsa Indonesia, sehingga kita tidak heran jika halal bi halal juga dilakukan oleh kelompok masyarakat non muslim.  Cuma  kita perlu bangga karena halal bil halal  waktunya pasti terjadi setelah umat muslim menjalankan ibadah puasa seelama satu bulan penuh.  Jadi meskipun itu sebuah tradisi, tetapi masih ada kaitannya secara langsung dengan iabadah bulan Ramadlan.

Ada sebuah riwayat  dari nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa siapapun yang menjalankan ibadah puasa  dengan didasari oleh keimanan yang benar dan keikhlasan  karena Allah swt, maka  dosa dosanya akan diampuni oleh Allah swt.  Nah, menyadari bahwa  dosa  yang terjadi  atas hubungan manusia dengan Tuhan, akan dihapuskan  ketika sudah emnjalani puaa dengan benar, maka  alangkah  manisnya jika dosa dan slah diantara sesame umat manusia juga diselesaikan.

Atas dasar itulah kemudian mumncullah tradisi saling meminta maaf dan memaafkan diantara sesame umat, baik secara individual maupun secara bersaama sama yang dikemudian hari  tradisi tersebut disebut dan dikenal sebagai halal bi halal.  Itu sekaligus juga untuk menuntaskan  makna idul fitri yang diartikan sebagai kembali kepada fitrah atau kesucian, yakni suci  dari dosa dalam hubungannya secara vertical dengan Tuhan dan juga suci dalam hubungannya secara horizontal diantara seama umat manusia.

Hal tersebut juga disebabkan salah satunya  adanya  riwayat yang menyatakan bahwa  pada asalnya manusia itu dilahirkan dalam kondisi fitrah suci tanpa membawa dosa sedikitpun, termasuk mereka yang dilahirkan atas  hasil perkosaan atau hubungan terlarang karena belum menikah.  Dalam islam jika terjadi perzinaan, maka yang dosa itu orang yang melakukannya, bukan anak yang kemudian dilahirkannya.  Karena itu mereka yang dilahirkan  pada dasarnya  suci bersih tanpa membawa noda sedikitpun.

Lalu kedua orang tuanyalah yang akan menentukan nasib  berikutnya, yakni apakah akan tetap menjadi seorang muslim ataukan akan menjadi nasrani, yahudi ataupun majusi.  Sebab orang tuanyalah yang akan mendidikanya  dan membimbingnya hingga mereka dewasa.  Nah, ketika  kita berada di iful fitri, maka momentum untuk kembali kepada kesucian  sangat etrbuka dan semua orang kemudian sudah menyadari betapa berharganya moment tersebut.

Kembali kepada kesucian ialah karena  selama menjalani hidup, manusia pasti telah melakukan berbagai pelanggaran, kesalahan dan dosa, baik kepada Tuhan ataupun kepada sesame  umat manusia, karena itu untuk kembali kepada kesucian, mereka harus mau meminta ampunan dan maaf kepada Tuhan dan juga kepada sesama umat manusia.  Dengan  ditebusnya semua dosa dengan permohonan maaf dan  juga kesaklahan dengan meminta maaf, maka  seolah manusia tersebut telah bersih kembali sebagaimana saat dia dilahirkan.

Itulah kiranya yang menjadi latar belakang munculnya tradisi hala bi halal tersebut sehingga kebaikan taradisi tersebut akan terus kita rawat dan lestarikan untuk seterusnya.  Bahkan kegiatan kenegaraan juga sudah menyentuhnya, terbukti  bahwa secara  fortmal Negara juga menyelenggarakan halal bi halal diantara pejabat Negara, atau bahkan kemudian kepala Negara juga sering  mengadakan halal bi halal dengan masyarakat umum.

Kita juga  menyaksikan betapa untuk sekar memberikan maaf saja terkadang  orang akan sulit apalagi untuk memberikan maaf. Banyak contoh di masyarakat kita terjadi  hal demikian, bahkan ketika sudah ada sedikit bukti kesalahan saja  masih sulit untuk meminta maaf dan bersikukuh  untuk tidak meminta maaf karena merasa tidak bersalah.  Padahal ajaran islam menganjurkan kalaupun kita tidak salah,  mungkin secara tidak sengaja kita dapat berslah, karena itu mekinta maaf itu sangat elegan dan sangat  kesatria, dan demikian juga dengan mereka yang mau memberikan maafnya.

Padahal kita paham bahwa jika tradisi maaf maafan ini dilakukan setiap saat dan tidak harus menunggu saat idul fitri, maka semua masalah akan mudah diselesaikan.  Jika orang sudah tidak menyiasakan dalam hatinya  sebuah ruang untuk dendam, sakit hati dan sejenisnya, maka  semua masalah yang saat ini terus terjadi, tentu  tidak akan  muncul ke permukaan, karena smeuanya dapat diselesaikan dengan pemberian maaf.

Banyak kasus bermunculan hanya disebabkan adanya keinginan membalas dendam dan mencari celah kesalahan pihak lain. Nah, jika maaf itu dikedepankan, sudah pasti  hal sperti itu tidak akan muncuil dan semua persoalan akan sangat mudah diselesaikan, asalkan ada niat baik.  Semoga   kita  akan benar benar menikmati tradisi halal bi halal tersbeut dan sekaligus juga mampu menerapkannya pada dataran  riil keseharian kita. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.