JANGAN LUPAKAN KEWAJIBAN

Banyak diantara umat muslim yang merayakan idul fitri dengan mendatangi tempat tempat hiburan, an itu tidak dilarang asalkan tidak melakukan kemaksiatan.  Namun sering juga mereka kemudian sampai melupakan kewajibannya, seperti menjalankan ibadah shalat.  Sungguh snagat disayangkan kelau hal tersebut sampai menimpa  keluarga kita, karena  idul fitri itu merupakan  momentum untuk membuktikan diri bahwa kita sudah kembali ke kesucian diri setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa.

Sebagai orang tua tentunya kita harus  tetap memberikan pengawasan dan memberikan  wawasan yang tepat bagi anak anak kita, agar mereka tetap berada dalam  jalur yang benar. Jika  kita selalu menasehatinya dalam waktu yang tepat, insyaallah merka akan  menurutinya, tetapi terkadang kita kelewat  ketat, sehingga malah membuat mereka masa bodoh dan bosan dengan nasehat yang kita berikan.  Akibatnya justru nasehat tersebut diabaikan begitu saja.

Akan jauh lebih bagus jika  selama lebaran kali ini kita dapat menyertai merka dalam  memperoleh  rekreasi atau kesenangan.  Kita dapat mengarahkannya sedemikian rupa sehingga  mereka  akan tetap mendapatkan keinginannya, tetapi  pada sisi lain  kita juga tetap dapat mengawasi mereka dengan baik dan mengarahkannya kepada hal yangpositif serta tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan.

Jika  dalam kondisi senang, apalagi  kalau kemudian bersama dengan kawan kawan yang sngat akrab, biasanya mereka akan lupa tentang segala sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban.  Banyak hal yang kemudian terabaikan, termasuk makan sekalipun.  Kesenangan yang terjalin diantara anak anak memang terkadang dapat membuat lupa segala hal, dan inilah yang harus terus diingatkan kepada mereka, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Sesungguhnya  melakukan apapun, asalkan tidak berupa kemaksiatan itu tidak dilarang, karena memang segala sesuatu itu diperbolehkan terkecuali yang sudah jelas dilarang.  Dengan demikian sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan oleh kita untuk memperoleh kepuasan.  Lebih lebih dalam suasana  lebaran kali ini, sudah barang tentu banyak hal yang dapat dilakukan, apakah itu  mengunjungi tempat tempat bersejarah,  mengunjungi tempat keramaian, mengunjungi kawan di kampong, maupun menyendiri dan melakukan  kesenangannya.

Namun rasanya kurang  lengkap jika hanya sendirian di rumah, karena  hal tersebut tentu  tidak akan dapat bergurau secara langsung  dengan mereka.  Buiasanya ada kenangan manis diantara kawan lama, mungkin salah satunya memang suka membanyol atau  mungkin kenangan lucu yang pernah dialami saat masih bersama di sekolah ataupun pengalaman lainnya.  Nah, itulah mungkin yang akan dapat memuaskan kita saat bertemu dengan mereka dan menceritakan hal hal lucu yang pernah dialami.

Kewajiban kita memang tidak hanya yang terkait dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, seperti menalankan shalat dan sejenisnya, melainkan juga kewajiban kita untuk menghormati orang tua, dalam hal ini melalui  berkunjung saat  lebaran sekaligus juga bersilaturrahmi keada saudara dan sanak keluarga.  Bahkan lebih jauh lagi kewajiban tersebut dapat berupa menyantuni anak anak yatim yang  biasanya memang sudah menjadi  kewajiban karena adanya komitmen untuk memberikan  bantua  pendidikan misalnya.

Idul fitri memang momennya  setelah puasa Ramadlan, karena itu sudah seharusnya semua tindakan kita, termasuk tindakan dalam mencari kepuasan lahiriyah, seperti rekreasi, ketemu dengan kawan dan lainnya menjadi semakin baik dan tetap tidak akan melupakan semua hal yang menjadi kewajiban.  Ramadlan memang harus memberikan dampak yang positif dalam upaya meningkatkan ketaqwaan kita.

Kalau puasa  memang sudah memberikan pengaruh yang baik bagi tingkat ketaqwaan kita, tentu smeua hal akan semakin membaik dan semakin memberikan manfaat tidak saja bagi dirinya, melainkan juga kepada pihak lainnya.  Seharusnya perubahan tersebut memang dating dari dalam diri amsing masing orang, dan tidak secara otomatis akan muncul, jika  seseorang hanya berdiam diri saja.  Semua itu merupakan usaha nyata dari  kita.  Artinya jika kita memang menginginkan perbaikan, maka kitalah yang harus aktif mengupayakannya.

Puasa hanyalah sarana untuk membiasakan diri selama satu bulan, selebihnya semua  tergantung kepada orangnya.  Kalaupun  sebulan penuh menjalankan puaa dengan baik, dalam arti memenuhi syarat rukunnya, tetapi kemudian dirinya sama sekali tidak ada keinginan untuk berubah menjadi  sosok yang lebih baik, maka tetaplah dirinya  masih sebagaimana  sebelumnya.  Jadi sekali lagi  perubahan dalam hal apapun itu sangat tergantung dan kembali kepada amsing masing orang.

Namun s ewajarnya  jika orang menjalani puaa dengan sangta bagus dan  berkinginan untuk mendapatkan banyak manfaat darinya, tentu pasti ada  keinginan dan upaya untuk  menjadi yang terbaik.  Kalau sebelumnya  tidak suka tadarrus, ekmudian  menjadi suka, sebelumnya  cukup pelit, lalu menjadi semakin dermawan, yang tadinya cuek saja dengan kondisi masyarakat sekitar, lalu menjadi ada kepekaan diri unutk menolong sesame dan begitu seterusnya.

Tetapi sekali lagi semuanya tergantung kepada orangnya, sebab bisaa saja  orang tetap tidak akan mau berubah, karena berbagai pertimbangan duniawinya, atau tetap dipengaruhi oleh pihak lain, atau  terus menerus dikalahkan oleh nefsu dan sifat egonya dan lainnya.  Hanya saja kita tetap berharap agar diri kita  bukan  termasuk tipe mansuia yang tidak mau berubah tersebut.  Kita menginginkan dan berharap dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, meskipun perubahan itu hanya sedikit.

Jika kita memang  menjadi muttaqin  benar, maka   sesungguhnya perilaku dan sifat sifat kita  pastilah akan menjadi lebih baik, karena  muttaqin itu  meniscayakan sebuah kondisi yang snagat ideal.  Sifat yang melekat di dalam dirinya juga pasti akan lebih baik ketimbang sebelumnya, termasuk dalam hal  kedisiplinan, ketaatan terhadap aturan, kepedulian terhadap sesame, kesadaran untuk menjalankan kewajiban dan juga menegakkan aturan dan lainnya.

Saat ini masih banyak kita jumpai pihak pihak yang hanya menginginkan  menuntut hak tanpa memperhatikan seberapa  kewajiban yang harus ditunaikannya.  Akibatnya tentu akan njomplang antara  keinginan tersebut dengan  sesuatu yang harusnya dilakukan.  Secara lahir memang mendapatkan hak itu  seeprtinya enak, namun jika hal tersebut direnungkan, maka  sama  sekali tidak enak, karena di sana pasti ada hak pihak lain yang disedot untuk dirinya.  Keseimbangan antara hak dan kewjiban itu sudah merupakan hokum alam, sehingga tidak ada lagi yang perlu diragukan.

Jika kita menginginkan sesuatu, sudah seharusnya kita mau mengusahakannya, itulah keseimbangan.  Biasa saja usaha yang dimaksudkan tersebut ialah sebuah kewajiban yang harus dilakukan.  Sebagai contoh yang mudah ialah jika kita ingin mendapatkan  harta,  kewajibannya ialah berikhtiyar bekrja dan usaha lainnya sehingga akan menjadi imbang.  Namun jika sebaliknya, yakni hanya ingin mendapatkan harta saja tanpa mau berusaha atau tanpa bekerja, maka itu  merupakan sesuatu yang sulit untuk didapatkan dan jika  didapatkan pun pasti akan tidak nyaman secara  harmoni  diantara seluruh masyarakat.

Karena itu  sudah menjadi sebuah kepastian bahwa kita  harus mau melakukan kewajiban jika kita menginginkan hak, termasuk  jika kita  sedang menginginkan kebahagiaan, kita juga tidak boleh melupakan kewajiban yang  menjadi beban kita, baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun yang berhubungan dengan sesame manusia dan  juga tanggung jawab pekerjaan dan lainnya.  Semoga kita  tetap diberikan kesadaran tentang hal tersebut dan kita  tetap mampu untuk menjalankannya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.