MAKNA SILATURRAHMI

Kenapa Rasulullah saw dahulu menyatakan bahwa  bersilaturrahmi itu akan dapat memanjangkan usia dan melapangkan rizki, padahal secara langsung nampaknya tidak ada hubungannya sama sekali.  Namun jika kita uraikan dan jelaskan, ternyata sangat erat hubungannya.  Bagaimana kita dapat menghubungkan  antara silaturrahmi dengan usia panjang dan juga dengan kelapangan rizki?  Sesungguhnya dapat dijelaskan dengan sederhana dan tidak memerlukan pemikirana yang njlimet.

Jika kita  sering bersilaturrahmi dengan kawan dan lainnya, tentu di sana, meskipun tidak disadari akan  terjadi dialog ringan dan mungkin juga tertawa bersama, termasuk mengingat kawan kawan lama yang sudah  jarang bertemu.  Nah, dalam situasi seperti itulah kemudian ada keinginan untuk mencari kawan atau mendapatkan informasi tentang kawannya yang lain, tentang dimana dia,  apa kabarnya, bagaimana keluarganya dan lainnya.

Disamping dialog ringan sperti itu, terkadang secara tidak sadar juga  telah terjadi perbincangan mengenai berbagi hal yang terkait dengan pekerjaan, tentang anak anak dan lainnya.  Kebetulan juga  salah satu  diantara kawan yang bersilaturrahmi tersebut ternyata  sangat  terkait dengan bahan permbicaraan tersebut.  Taruhlah jika  dia seorang petani. Lalu secara sadar dia  mengalami kesulitan untuk mendapatkan bibit unggul yang diinginkannya.

Ternyata kawannya tersebut  mengetahui tentang bibit yang dimaksudkan melalui bacaan ataup[un melalui kawannya lagi yang kebetulan bekerja di dinas pertanian misalnya, maka kloplah dan  dari perbincangan tersebut akhirnya  petani tersebut mendapatkan jalan keluar yang selama ini dicarinya.  Berkat silaturrahmi tersebut akhirnya usah pertaniannya menjadi sukses, berkat silaturrahmi yang awalnya tidak dimaksudkan untuk itu.

Demikian juga  biasanya silaturrahmi itu akan selalu membawa kwenangan manis diantara kedua belah pihak.  Rasa kangen yang  lama tidak tersalurkan akhirnya dapat mendapatkan  tempatnya.  Suasana bahagia tersebut yang terkadang akan terbawa hingga beberapa hari ke depannya, tentu akan menjadi salah satu hal yang dapat memberikan efek  sehat  dan itu berarti juga akan menambah usianya.  Barangkali analisa ini terlalu kasar dan terlalu  fulgar dan dipaksakan, namun sesungguhnya  secara riil  apa yang disampaikan oleh Nabi sebagaimana di atas memang  benar adanya.

Sialturrahmi dapat dilakukan dengan mendatangi kawan, terutama kawan yang  lebih rendah secara duniawi denagn kita, tetapi juga tidak ada salahnya jika kita  juga menyambangi kawan kita yang lebih sukses.  Namun tidak  menutup kemungkinan bahwa kita juga dapat bersilatuirrahmi  dengan mendatangi mereka yang tergolong alim atau ulama, karena  dengan mendatangi mereka, dan kita biasanya akan didoakan tentu akan semakin menambah kepercayaan diri kita, dan itu sudah lebih dari cukup untuk bekal kebahagiaan.

Bagi mereka yang sudah terbiasa mengunjungi ulama tentu dapat merasakan betapa sejuknya saat bersama mereka, seolah semua persoalan hiduip akan  hilang.  Nah, kesejukan itulah yang tentu akan semakin menambah usia kita, walaupun tentang usia itu urusan Tuhan yang telah ditetapkan, namun secara rasional tetap dapat dimengerti.  Jika hati kita  dalam keadaan senang, maka usaha apapun yang kita jalankan juga akan berpengaruh baik, sehingga ekonomi kita juga tentunya akan terpengaruh oleh itu.  Itulah kenapa kemudian  dikatakan bahwa  silaturrahmi itu juga dapat melapangkan rizki.

Kalaupun saat ini berbagai alat komunikasi sudah  sangat luar biasa banyak, termasuk yang dapat menghadirkan gambar secara langsung di layar HP, tetapi silaturrahmi secara fisik tetap menjadi sangat penting.  Coba kita perhatikan  ada orang tua yang  terlalu lama  tidak berjumpa dengan anaknya yang berada di rantau nan jauh, tentu dia akan sangat merindukannya, meskipun  setiap hari  dapat berkomunikasi dengan HP dan mungkin juga sudah bias melihat wajahnya mellaui layar HP.

Melihat secara langsung  tentu akan berbeda  jika hanya melihatnya  di layar kaca atau HP, namun dmeikian memang alat komunikasi tersebut sudah sedikit membantu kerinduan yang ada.  Tentu kita dapat mengerti jika ada orang tua yang mewjibkan anak anaknya untuk pulang kampong, setidaknya satu tahun sekali saat lebaran, atau pada saat dibtuhkan.  Jika mereka tidak dating, sudah pasti kekecewaan berat akan dialami oleh orang tua tersebut, meskipun  sudah ada  telepon yang dapat menghubungkannya.

Lantas apakah dengan munculnya alat komunikasi tersebut sudah dpaat disebut sebagai silaturrahmi? Tentu ada perdebatan tersendiri mengenai hal tersebut, sebab mungkin ada sebagaian orang yang menggolongkan  alat komunikasi tersebut jika digunakan merupakan salah satu  bentuk silaturrahmi, karena  dapat menyambungkan dua belah pihak, bahkan juga sudah dapat mengobati kerinduan  bagi mereka yang merindukan.

Tetapi ada juga yang tidak menggolengkannya sebagai bentuk silaturrahmi, karena silaturrahmi yang dimaksud ialah  bertemunya  dua orang atau lebih secara fisik dan bukan melalui alat komunikasi.  Bagaimanapun akan tetap berbeda anata  hadir secara fisik  dan hadir melalui alat komunikasi.  Namun bagi saya  biarlah  berda pendapat etrsebut tetap  berjalan, karena  kita amsing masing tentu akan dpat membedakan antara  dating langsung dengan sekedar melalui alat komunikasi saja.

Jika  kita mampu untuk hadir secara fisik itu tentu akan jauh lebih  baik dan afdlal, karena pasti akan berbeda  jika hanya lewat alat komunikasi, namun jika  ada halangan tertentu sehingga tidak memungkinkan untuk hadir secara fisik, tentu  hadir  melalui alat komunikasi juga  sudah  baik.  Sebab inti dari  silaturrahmi itu ialah bagaimana ada komunikasi sehingga menyambung dan tidak terputus hubungan diantara  orang orang, terutama  mereka yang bersaudara atau bahkan antara anak dan orang tua.

Kalau saya tentu akan dapat mengerti jika  ada sebagaian yang  tidak dapat dating secara fisik, dan hanya menyampaikan kabar melalui alat komunikasi saja, karena bagi saya yang terpenting ialah niat baiknya, karena ada halangan yang tidak memungkinkannya dating, maka dia kemudian memberitahukan tentang hal tersebut.  Justru yang tidak baik dan akan dapat memutus hubungan ialah jika tanpa kabar dan tidak datang, padahal  alat komunikasi sudah ada dan udah dijalankan.

Tentu  saya juga akan menganjurkan kepada siapapun agar tetap mementingkan  hadir secara fisik jika  berniat sitarurrahmi, termasuk jika  silaturrahmi etrsebut sudah didesain untuk kebersamaan banyak orang, walaupun tentu jika ada yang hanya mencukupkan diri dengan SMS atau WA atau menelpun dan lainnya juga harus tetap dihargai.  Bahkan saat ini ketika  menjelang Idul fitri malahan banyak yang mencukupkan diri dengan kirim ucapan selamat, baik melalui  surat, SMS, WA ataupun yang lain.

Dengan hanya  melalui pemberian kabar tersebut, kita juga sudah merasa senang dan  merasa dihormati oleh pihak lain.  Dengan begitu kita juga tidak akan kehilangan  komunikasi dengan mereka yang telah melakukan komunikasi melalui alat, dan bukan secara langsung fisik.  Ituntandanya bahwa  berkomunikasi melalui alat pun juga  dapat memberikan kesan mendalam dalam diri dan tentu itu dapat dimasukkan ke dalam  bentuk suilaturrahmi, meskipun jika dilakukan secara fisik tentu akan jauh lebih baik dan terhormat.

Namun demikian  memang harus dilihat tentang  siapa yang akan disambung silaturrahminya.  Jika kawan dan jauh tempatnya, maka melalui alat tersebut sudah emncukupi, namun jika  orang itu ialah orang tua, padahal memungkinkan untuk didatangi secara fisik, atau seorang ulama, tentu tidak etis dan tidak elok jika hanya melalui alat komunikasi semata.  Mudah mudah kita dimudahkan oleh Tuhan untuk  bersilaturrahmi secara fisik, terutama untuk mendatangi para orang tua, ulama dan orang orang terdekat.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.