DUA RAMADLAN

Alhamdu lillah satu hari kemarin telah kita lalui dengan baik, meskipun masih ada rasa sedikit lapar dan terutama haus di siang hari, namun akhirnya dapat bertahan hingga maghrib tiba.  Sudah barang tentu semua itu harus kita syukuri, karena kita sangat yakin semua itu berkat pertolongan Tuhan kepada kita para hamba Nya yang sedang menjalankan perintahNya. Nah, atas dasar pertolongan tersebut pada saat kita menjalani puasa kedua ini kita juga harus terus menerus memohonkan pertolongan kepada Nya agar kita dapat menjalaninya dengan lebib khidmat dan bermakna.

Pengalaman  hari pertama kemarin harus mampu kita jadikan sebagai pemicu untuk lebih memberikan makna kepada puasa kita dan juga kegiayan amalan Ramdlan lainnya.  Dengan terus  berdoa dan sekligus juga menjalankan aktifitas positif selama menjalankan puaa, kiranya semuanya akan emnjadi ringan dan tidak akan terpengaruh oleh hiruk pikuknya kehidupan.  Bahkan kalaupun kita melewati sebuah tempat yang di situ dijajakan makanan yang baunya menyengat harum dan lezat, kita tetapi tidak akan terpengaruh olehnya.

Untuk  puasa hari kedua ini kita tentunya juga akan mampu mengukur diri seberapa seharusnya kita berbuka puasa, sehingga kita akan tetap trengginas dalam menjalankan ibadah tarawih.  Sebab pengalaman masing masing orang tentu akan berbeda, sebagiannya ada yang terlalu banyak minum pada saat berbuka puaa sehingga  menjadi lemas, dan  pada saat emnjalankan shalat tarawih menjadi bermalas malasan.  Sebagiannya mungkin ada yang makan sampai kenyang, sehingga  justru perutnya sakit dan pengalaman lainnya.

Nah, atas dasar pengalaman itulah kita akan dapat mengukur diri  kita sendiri seharusnya spwerti apakah berbuka puasa itu, sehingga aktifitas lainnya tetap dapat berjalan sesuai dengan keinginan kita.  Biasanya  pada saat berbuka puasa  sebaiknya hanya  melakukan aktifitas minum  dan makan buah semata, lalu menjalakan shalat Maghrib.  Nah, sambil menunggu waktu Isya’ kita dapat memakan makanan lainnya, seprti nasi, tetapi jangan banyak banyak, lalu menjalankan shalat tarawih.  Setelah itu jika menginginkan dapat mlanjutkan makan lagi.

Akan tetapi memang tidak bagus setelah makan lalu tidur, oleh karena itu sebaiknya jika setelah makan malam itu kita melakukan aktifitas lain, seperti membaca buku atau kitab suci atau mungkin  melakukan aktifityas lainnya, yang terpenting tidak langsung tidur.  Jika kita tidur setelah makan, biasanya akan menimbulkan kegemukan dan itu pada saatnya  akan menjadi bahaya bagi kesehatan kita.  Namun jika kita menginginkan segera  tidur, makan malamnya dapat dilakukan setelah shalat maghrib saja tetapi memang tidak boleh kekenyangan agar  masih tetap gesit untuk melakukan shalat tarawih.

Pada puasa kedua biasanya juga masih belum terbiaa sehingga kalau misalnya masih sedikit bermalas dan lemas  di siang hari itu merupakan gejala normal yang dialami oleh kebanyakan orang yang berpuasa, namun kita harus  berusaha untuk tetap tegar, karena kalau  kondisi seperti itu  dituruti, pastinya kita sendiri yang akan rugi, yakni kita akan merasa sangat berat dalam menjalani puasa dan nilai puasanya juga pasti tidak akan maksimal.

Sesungguhnya peran utama dalam menyikapi hal tersebut ialah  diri kita sendiri, jika kita  menyikapinya dengan biasa dan terus berusaha untuk tidak larut dalam kondisi lemas dan haus, tentu semuanya akan segera berakhir.  Artinya  kita akan menjadi tegar, meskipun kondisi kita sedang haus ataupun lapar, karena  motivasi dan spirit yang kita tunjukkan ialah untuk mengabdi kepada Tuhan secara penuh, sehingga apapun akan dapat diterjang dan lewati dengan baik.

Seharusnya dalam puasa kedua ini sudah ada kemajuan dalam hal  aktifitas puasa, yakni  sudah lebih banyak melakukan  aktifitas yang menyangkut pihak lain, seperti bersedekah, apakah hanya untuk beberapa orang aja ataukah  untuk orang banyak, semacam meberikan takjil berbuka puaa atau mengirimkan  minuman segar ke masjid yang diharapkan akan  dapat diminum oleh mereka yang berada di sana saat berbuka puasa.  Kegiatan ini  sangat penting untuk  semakin menambah keimanan kita dan juga kepedulian kita kepada sesama.

Bukankah kita  berharap bahwa  hikmah puasa yang salah satunya ialah dapat menimbulkan  sikap peduli kepada  mereka yang miskin akan dapat kita wujudkan dalam diri kita? Nah, berlatih secara langsung yakni dengan mempraktekkan diri  berbagi dengan sesama akan snagat memberikan kesan  dalam diri kita.  Ketika kita tulus dalam memberi tersbeut, tentu akan muncul rasa puas setelah kita berhasil memberikan bantuan kepada sesama, dan sama sekali tidak terbayangkan hal hal yang  menjadi hambatan bagi kita untuk berbagi.

Demikian juga dengan aktifitas di malam hari, dimana kita sudah berpengalaman dua kali shalat tarawih tentu akan meberikan perhatian kita untuk lebih giat dan bersemangat dalam menjalaninya.  Kalaupun shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat beserta dengan shalat witirnya, tidak akan menjadi masalah, karena niat kita sudah bulat dan tidak akan terpengaruh oleh hal lain yang justru akan membawa kita kepada suasana ynag tidak nyaman.

Bahkan ketika kita mengikuti tarawih yang  menghatamkan alquran, yakni setiap kali shalat tarawih pasti akan menghatamkan satu juz  alquran, kita pun tidak akan merasa berat atau malas menjalaninya, karena justru kita akan mampu merasakan kenikmatan dalam menjalankan shalat tersebut.  Memang tidak mudah untuk mewujudkannya, akan tetapi jika kita berusaha secara sungguh sungguh, rasnya tidak ada sesuatu aral pun yang  dapat membendung keinginan kita tersebut.

Nyatanya  masih sangat banyak jamaah shalat tarawih yang mengikuti shalat dengan menghatamkan alquran tersebut, dan bahkan semakin banyak.  Itu semua memang  terpulang kepada kita masing masing, jika kita sudah mampu merasakan betapa nikmatnya beribadah, khususnya shalat, maka  kita akan dapat melakukannya meskipun harus berjam jam.  Justru sebaliknya bahwa jika ada yang menjalankan shalat terlalu cepat, kita malah meragukan kekhusyuannya.  Jangan jangan malah sma sekali tidak akan mampu memebrikan efek baik bagi para pelakunya.

Secara umum kita memang berharap bahwa puasa kedua ini akan jauh lebih baik ketimbang puasa pertama kemarin, karena secara riil kita memang sudah mendpatkan pengalaman dan secara teori pun kita sudah banyak mendapatkannya melalui berbagai bacaan dan sumber.  Tinggal kita sendiri yang kemudian harus mengarahkan diri kita, apakah kita menginginkan kondisi yang lebih baik atau sebaliknya kita menjadi tidak nyaman dengan puasa tersebut.

Harapannya tentu kita akan mampu mengkondisikan diri kita dengan baik sehingga dalam menjalani hari hari selama Ramadlan kita akan tetap segar dan sehat serta dapat menyempurnakan puasa kita dengan baik pula.  Sementara itu godaan sebagaimana yang ditemukan pada puasa pertama tentu sudah berkurang, meskipun tidak atau belum hilang sama sekali, sperti lemas, haus dan sejenisnya.  Semoga kita  memang  selalu mengingat tujuan puasa yakni ingin menjadi manusia yang bertaqwa sehingga apapun rintangannya mampu kita terjang dan singkirkan untuk mendapatkan ketaqwaan tersebut.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.