MARHABAN YA RAMADLAN

Sebagaimana kita tahu dan prediksi bahwa  Ramadlan insyaallah  dua hari lagi akan datang, semoga membawa maghfirah kepada kita semua, terutaam yang menyambutnya dengan antusias dan sekaligus juga memanfaatkannya  sebagai wahana untuk  introspeksi diri sehingga pada akhirnya kita akan menjadi manusia yang taqwa dalam arti yang sesungguhnya. Sudah barang tentu harapan untuk bertemu dengan Ramadalan kali ini sungguh sangat  besar, mengingat persoalan bangsa terus bermunculan sehingga mengkhawatirkan kita semua.

Kita berharap bahwa dengan datangnya Ramadalan akan dapat mengembalikan kondisi sebagaimana semula.  Tekad umat Islam dalam menjalankan puaa tentu agar menjadi semakin bertaqwa dan semakin membaik.  Tindakan dan ucapannya juga akan semakin bagus dan santun. Biarlah kalau kemarin kemarin masih terasakan kasar dan cenderung terus melakukan pemaksaan kehendak dan  bahkan juga selalu berusaha ingin menang sendiri, tetapi dengan datangnya bulan suci kali ini diharapkan semuanya akan berubah dan semua menjadi penyayang dan pemaaf.

Ramdalan memang hebat dalam memberikan sentuhan kepada manusia agar mereka menjadi berubah secara drastis.  Bagaimana kita dapat menyaksikan banyak orang yang tadinya termasuk jenis menusia yang bakhil, tetapi seiring dengan munculnya Ramadalan, kemudian mereka mendadak menjadi sangat dermawan.  Mereka yang biasanya enggan untuk shalat secara berjamaah, kemudian di bulan Ramadalan menjadi sanat rajin ke masjid.  Demikian juga kitab suci alquran yang bis=asanya tidak pernah disentuh, di bulan suci tersebut rame rame dikaji bahkan menyita banyak waktu.

Sudah barang tentu kita semua merasakan kenyamanan tersendiri dengan banyaknya umat yang mendekat kepada Tuhan di bulan suci  tersebut.  Masjid masjid dan tempat lainnya sangat ramai didatangi oleh umat Islam untuk menjalankan shalat tarawiih bersama dan sekaligus  untuk mendengarkan tausiyah yang  selalu diberikan setelah shalat tarawih tersebut.  Bahkan termasuk anak anak juga  sangat antusias ikut meramaikannya.

Tidak ketinggalan  para pedagang pun juga turut meramaikan suasana denagn menjajakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa, dan itu sekaligus juga dapat memberikan kehidupan kepada umat melalui perekonomian yang bertambah maju.  Jadi jika kita mau merenungkan  hikmah Ramadalan tentu akan menemukan sangat banyak hal positif yang dapat dipetik oleh umat, termasuk yang  biasanya tidak disadari oleh kebanyakan uamt itu sendiri.

Di berbagai pesantren biasanya juga akan didatangi oleh para santri dan berbagai daerah hanya sekedar untuk mendapatkan berkah atas sebuah kitab yang dibaca oleh kiai pada  bulan ramadalan, meskipun mereka hanya sekedar mendengarkan dan mencatat sesuatu yang  tidak dipahaminya.  Mereka bahkan rela untuk meninggalkan pekerjaan  hanya sekdar untuk mendapatkan keberkahan Ramadlan.  Bagi  para santri yang sudah terbiaa melakukan itu tentu tidak menjadi persoalan, namun bahi mereka yang baru pertama kali mungkin saja akan menemukan sedikit persoalan.

Apalagi kalau merka itu sudah berkeluarga yang  harus mempersiapkan diri menghadapi lebaran dan lainnya.  Namun pada umumnya kalau keluarga tersebut merupakan keluarga santri yang terbiaa mondok di pesantren, tentu sudah sama sama tahu dan tidak akan menjadi persoalan.  Berbagai persiapan menghadapi Ramadlan kali ini memang terasakan demikian kuat, karena mungkin masyarakat sadar betul bahwa  Ramadlan itu mampu merekatkan kebersamaan yang sementara ini sudah  sedikit retak karena persoalan kepentingan politik sesaat dan lainnya.

Persiapan menyongsong Ramadlan memang sudah sedemikian maraknya, sehingga jadual selama satu bulan penuh juga sudah dilengkapi dengan  lengkap termasuk kajian apa dengan  judul dan penceramahnya sekalian.  Pada prinsipnya  masyarakat akan diberikan beberapa alternatif pilihan yang dapat di pilih sendiri sesuai dengan keinginan masing masing.  Sudah barang tentu ada sebagiannya yang menawarkan  kajian yang  dipandu oleh  orang yang  dikenal sebagai seorang pelawak atau artis dan lainnya.

Namun yang terpenting dalam menyongsong Ramadlan ialah bagaimana kita  menyiapkan niat hati kita agar semua yang kita kerjakan selama bulan suci tersebut berniali ibadah yang murni, sehingga tujuan pua akan dicapai sebagaimana dimaksudkan oleh Allah swrt, yakni menjadi manusia yang bertaqwa. Taqwa itu memang sangat mudah untuk diucapkan, tetapi  sangat sulit untuk diwujudkan.  Banyak orang yang dalam pengakuannya  bagus dan bertaqwa, namun dalam perjalanan hiduopnya selalu dipenuhi oleh perbuatan yang bertentangan dengan  nilai taqwa itu sendiri.

Karena itu persiapan untuk niat itulah yang paling harus didahulukan.  Jika hati telah  bulat untuk melakukan yang terbaik dan menjadikan Ramadaln sebagi  wahana untuk membiasakan dan memulai perbuatan baik, maka kemungkinanbesar kita akan mampu mendapatkan ketaqwaan tersebut.  Apa yang nanti kita lakukan, baik puasa  itu sendiri, lalu menjaga mulut dan sleuruh anggota badan untuk tidak melakukan kemaksiatan, memperbanyak sedekah kepada mereka yang kurang mampu, memperbanyak dzikir kepada Tuhan, memperbanyak membaca dan emngkaji kitab suci dan lainnya haruslah benar benar dimaksudkan untuk  menjadikan diri kita lebih dekat dengan Tuhan.

Memang  akan teraa berat jika semua yang kita jalankan selama bulan Ramadlajn kemudian harus kita  lestarikan di luar Ramadlan, namun  memang kalau niat sudah  kuat, kita  harus berusaha untuk melestarikan perbuatan baik tersbeut setelah Ramadlan.  Bukankah selama Ramadaln sudah kita niati  untuk membiasakan diri?  Nah, kalau kemudian semua yang telah kita biasakan tersebut ternyata hilang begitu saja setelah Ramadlan, maka  kita termasuk orang yang tidak berhasil dalam pembiasaan diri tersebut.

Seharusnya  ada prioritas beberapa  perbuatan baik yang terus kita pelihara setelah keluar dari Ramadlan, semisal kalau kita hanya kuat menjalankan dua perbuatan baik, maka itulah yang harus kita pelihara seterusnya, lalu  masih komitmen diri untuk menambah lagi pada saatnya nanti dan begitu seterusnya.  Jika hal tersebut dilakukan, dapat diprediksi bahwa hidup kita akan semakin bermakna dan tentu akan semakin bagus.

Kta memang harus memerangi rasa bosan dan jenuh terhadap perbuatan baik tersebut,  dan kita harus ingat bahwa musuh kita, yakni setan pasti akan selalu berusaha untuk menggagalkan kebajikan yang kita jalani.  Caranya bisa bermacam macam, seperti  mempengaruhi pikiran dan hati kita agar kita  berhentiu melakukan kebajikan dengan alasan tertentu.  Nah, jika kita ingat semua itu pastinya kita akan mudah mengusir gangguan tersebut, namun sebaliknya jika kita tidak mengingatnya, kemungkinan besar kita akan mudah dipengaruhi dan ditaklukkan oleh rayuan setan tersebut.

Persiapan niat dalam hati tersebut sudah barang pasti merupakan salah satu ujian keimanan kita, karena jika iman kita masih terp[elihara dengan baik, kita akan selalu menyahuti seruan Tuhan. bUkankah yang diseru untuk menjalankan puasa adalah mereka yang beriman?.  Di situlah kita harus terus menerus mengingat bahwa  bagi orang beriman adalah pantangan untuk melapaskanhubungan yang terus menerus dengan panggilan Tuhan.

Setan mungkin saja akan selalu berusaha untuk menggeserkan kita dari keimanan tersebut, namun  komitmen dan kegigihan kita dalam emmegang  tali Allah itulah yang  akan mampu menyelamatkan kita dari semua godaan setan tersebut.  Jadi sekali lagi modal utma yang harus kita persiapkan dalam menghadapi Ramadlan ialah  bagaimana iman dan niat kita perkokoh sedemikian rupa sehingga menjadi benteng yang sangat kaut  untuk tidak dapat diterobos oleh  segala macam setan.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.