SALING MEMAAFKAN

Kita semua sangat paham bahwa  dua hari lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadlan, dan biasanya umat muslim juga  saling meminta maaf dan memaafkan agar sebelum masuk ke bulan yang suci,  badan juga  suci dari segala salah dan khilaf.  Kdebiasaan lainnya yang menyertai datangnya bulan Ramadlan ialah  mengunjungi orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, alias ziarah atau dengan bahasa lainnya, nyadran, kirim doa kepada mereka yang sudah mendahului kita.

Kebiasaan dan tradisi tersebut sungguh sangat bagus danperlu dilestarikan oleh kita dan para generasi mendatang.  Sebab dengan saling memaafkan dan berkunjung tersbeut silaturrahmi akan senantiasa terbangun dan biasanya  berbagai persoalan akan dapat hilang.  Bukankah kita yakin bahwa dengan bersilaturrahmi akan  memanjangkan usia dan mendatangkan rizki?  Nah, itulah kebiasaan tersbeut perlu diteruskan, bukan saja  pada saat idul fithri, melainkan juga sebelum memasuki bulan suci.

Pada zaman dahulu memang pernah terjadi kebiasaan saling meminta maaf tersebut hanya pada  saat lebaran idul fitri yang hingga saat ini masuh tetap dilestarikan. Bahkan mereka yang domisilinya  jauh di luar kota pun biasanya menyempatkan diri untuk pulang mudik, yakni mengunjungi para orang tua, saudara dan handai tolan di kampung aslinya, dan seklaigus juga berziarah ke makam orang tua yang sudah mendahului.

Namun saat ini memang amat disayangkan jika  kebiasaan tersebut sudah sedikit tergerus oleh kebiasaan  baru yang  jauh dari  silaturrahmi.  Memang mereka pulang kampung pada saat idu fithri, namun bukan untuk mendatangi saudara dan handai tolannya, melainkan hanya sekedar pulang kampung dan sama sekali tidak bersilaturrahmi dengan tetangganya dan  teman temannya dahulu.  Mereka pada umumnya hanya ingin pulang rame rame dan kemudian mendatangi tempat tempat hiburan dan terkadang juga ada yang sangat memperihatinkan, yakni pesta miras dan lainnya.

Untuk itu sekali lagi kita  memang harus peduli terhadap kebiasaan baik yang sudah berjalan, seperti tradisi untuk saling meminta maaf dan ziarah ke orang tua atau makamnya.  Hal tersebut sekaligus dapat membuktikan bahwa  anak tersebut masih ingat dan mau mendoakan kepada orang tuanya, walaupun mungkin hidupnya sudah bahagia atau sebaliknya masih memperihatinkan.  Hubungan yang erat demikian itu sangat dibutuhkan agar nuansa kebersamaan antara seluruh keluarga masih tetap bagus dan tidak  terganggu oleh gebyarnya dunia saat ini.

Bahkan mungkin akan sangat bagus jika mereka yang masih menjalankan tradisi etrsebut tidak meninggalkan anak anak dan keluarganya dengan alasan apapun, termausk alasan sekolah.  Akan tetapi kalau memang sulit untuk emninggalkan aktifitas sekolahnya, mungkin  harus tetap diajak pada saat  nerkunjung di hari raya Idul fithri nanti. Jangan sampai mereka kemudian putus sambung persaudaraan dengan saudaranya sendiri.

Kita tentu sangat berkepentingan untuk mengingatkan hal tersebut karena  saatn ini godaan sudah sedemikian banyak dan mudah untuk menimpa kepada siapapun, tidak memandang apakah dia itu santri ataukah bukan santri.  Kepentingan kita ialah bagaimana hubungan kekeluargaan tersebut masih tetap dapat dipertahankan untuk selamanya.  Kita  aharus ingat kepada pesan Rasul Muhammad saw bahwa mereka yang memutuskan  silaturrahmi apalagi memutuskan hubungan kekeluargaan,  akan medapatkan kesulitan, baik di dunia maupun lebih lebih nanti di akhirat.  Bahkan dalam  pernyataan beliau lainnya bahwa pemutus hubungan persaudaraan itu dosa.

Kita sebentar lagi memang akan segea memasuki bulan suci Ramadlan dan kita smeua akan menjalankan ibadah puasa serta  menjalankan shalat tarawih di malam harinya, namun akan jauh lebih bagus jika memasuki bulan suyci tersebut kita juga sudah suci dalam arti bukan hanya jasad kita, melainkan juga batin kita, sehingga  kita harus membiasakan diri untuk meminta  maaf kepada sesama dan sekaligus juga  banyak membaca istighfar kepada Allah swt.

Walaupun pada bulan suci nanti akan banyak  ditawarkan pahala kepada  kita, akan tetapi pada saat memasuki bulan suci tersebut sebaiknya memang kita juga berada dalamkondisi bersih.  Pada saatnya kita nanti juga akan selalu memohon kepada Tuhan untuk mendapatkan ampunan Nya dan juga mendapatkan pahala yang banyak.  Namun demikian kita memang bukan sekedar memburu pahala semata, melainkan juga menginginkan agar  jiwa kita  menjadi kaya dan  selalu condong kepada  hal hal yang positif dan baik.

Bahkan  bagi mereka yang hanya menginginkan mendapatkan ketaqwaan semata akan lebih ikhlas dan  tentu lebih bagus, namun jika kita masih menginginkan  pahala, itupun tidak salah dan masih tergolong wajar sebagai hamba Allah yang memang menginginkan kebaikan dan surga Nya.  Kita memang menginginkan dapat taqwa yang berarti keseluruhan hidup kita akan senantiasa diselimuti dengan kabajikan, namun jika hal tersebut belum mampu kita raih, setidaknya  salah satu tanda taqwa suda kita dapatkan.

Kesabaran, kelemah lembutan  serta kepedulian kepada sesama memang merupakan buah Ramadlan, akan tetapi jika  smeunya belum dapat kita peroleh, setidaknya satu diantaranya  akan mampu kita wujudkan dalam hidup kita.  Kita memang harus berkomitmen untuk dapat menjadi lebih baik ketimbang sebelum Ramadlan, baik itu dalam hal kedermawanan, atau dalam menjalankan ibada tertentu atau lainnya.

Kalau kita  ibaratkan ialah jika tahun ini setelah Ramadlan kita dapat melanggengkan satu saja kebajikan, maka itu sudah  bagus, semisal melanggengkan  shalat malam atau  melanggengkan  berbagi dengan fakir dan miskin, atau melanggengkan baca kitab suci alquran ataupun melanggengkan shalat berjamaah dan lainnya.  Lalu masih ada komitmen berikutnya yakni  akan menambah kebajikan lagi pada saat Ramadlan tahun depan da begiru seterusnya.

Mungkin dengan satu kebajikan tersebut terlalu kecil, akan tetapi menurut saya itu sudah cukup bagus ketimbang sama sekali tidak ada perubahan dalam diri kita  setelah mentas dari Ramadlan.  Kita sangat sadar bahwa Ramadlan itu sebagai  wahana untuk mendidik dan melatih diri untuk menjadi manusia taqwa, yang sifatnya snagat banyak, seperti bersabar, peduli kepada sesama, bersikap lemah lebut dengan pihak lain, selalu condong kepada kebajikan dan lainnya.

Kembali kepada  masalah awal yang saling memaafkan bahwa meminta dan memberi maaf oitu merupakan sifat baik yang seharusnya dimiliki oleh setiap umat muslim.  Bahkan akan jauh lebih bagus jika kita tidakmenyisakan sedikitpun ruang untuk dendam, sakit harti dan lainnya, tetapi memenuhihati kita dengan maaf dan kebersamaan serta kebahagiaan.  Jika kita mampu untuk mewujudkan itu, sudah pasti kita akan menjadi manusia  yang sangat mujur dan beruntung di dunia dan akhirat sekaligus.

Karena itu hkmah kita melestarikan tradisi saling memaafkan sebelum memasuki Ramadlan kali ini sangat perlu kita  wujudkan dalam  kehidupan sehari hari kita seraya kita terus  berusaha untuk menghilangkan  rasa kesal dan benci  dalam hatu kita.  Semoga saja kita  pada saatnya akan mampu menjadikan diri kita sebagai sosok  pemaaf dan sekaligus juga sosok yang senantiasa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.