AJAL

Kematian merupakan sebuah misteri yang tidak dapat diprediksi oleh manusia, karena semua itu merupakan rahasia Tuhan.  Meskipun kita sudah  menduga bahwa seseorang akan meninggal dalam beberapa waktu, namun jika Tuhan menghendaki pasti kematian tersebut tidak akan terjadi, sebaliknya jika orang menyangka bahwa seseorang akan  masih lama hidup di dunia, namun ketika Tuhan sudah menentukan, maka kematian pun akan  dating, dan begitu seterusnya.

Karena itu dalam ajaran agama selalu saja ditekankan agar umat manusia  tidak menunda nunda melakukan kabaikan, karena siapa tahu sebelum melakukannya ternyata ajalnya sudah sampai sehingga tidak akan pernah melakukan kbajikan tersebut.  Umat Islam mempercayai bahwa  masih ada kehidupan setelah mati, yakni kehidupan di alam barzah dan menunggu hingga akhir zaman nanti yang dinamakan dengan hari kiamat, lalu  akan memasuki alam lainnya yakni alam akhirat yang sifatnya kekal selamanya.

Karena itu sangat wajar jika kemudian dari keyakinan tersebut muncul ajaran dan sayariat yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan kejayaan dan kebahagiaan di akhirat, seseorang harus mempersiapkannya  pada saat masih di dunia, yakni dengan melakukan kabaikan dan  tentu sesuai dengan ajaran yang ditunjukkan oleh Nabi yang memang mengetahui secara pasti tentang apa yang dikehendaki oleh Tuhan.  Bagi siapapun yang percaya dan kemudian mempersiapkan diri dengan melakukan berbagai kebajikan, tentu pada saatnya akan mmperoleh balasan yang sangat baik dan  akan menemukan kebahagiaan di sana.

Namun sebaliknya bagi siapapun yang mengabaikan ajaran tersebut, yakni tidak mempercayai adanya  akhirat yang kekal, atau mempercayainya tetapi tidak melakukan persiapan dengan melakukan kebajikan, maka dia akan sangat rugi, karena pasti akan mengalami kerugian yang berlipat.  Mungkin bagi orang yang tidak  mempercayai kehiodupan akhirat sudah menjadi sebuah konsekwensi, namun bagi yang sudah mempercayai tetapi tidak melakukan periapan  dengan bekal yang cukup, maka kesengsaraannya akan semakin bertambah.

Karena itu beruntunglah bagi mereka yang menyadari pentingnya hal tersebut, lalu mau berusaha untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat tersebut dengan melakukan ebrbagai kebajikan dan  selalu berharap kepada Tuhan  agar diberikan kemuliaan di dunia hingga akhirat.  Jika seseorang sering memikirkan persoalan  akhirat, biasanya dia akan  melakukan kebajikan karena kalau dia nekat maka dia akan dapat membayangkan betapa sengsaranya hidup selamanya di akhirat nanti.

Siapapun yang berpikir sehat, sudah barang pasti  akan  berpikir keselamatan dan kesejahteraannya, baik saat di dunia maupunlebih lebih saat di akhirat nanti.  Apalagi ketika mengetahui bahwa kehidupan yang sesungguhnya ialah di  akhirat, karena pada saat itu sudah tidak ada kesempatan lagi untuk melakukan persiapan, semuanya sudah  terjadi dan  sudah berakhir serta tinggal menjalani kehidupan atas dasar perbuatannya saat di dunia.

Sebuah kematian itu  hanya   diketahui oleh Tuhan, sedangkan manusia  seharusnya  cukup memeperkitrakan diri sendiri agar suatu saat nanti ketika ajalnya sudah sampai tidak akan menyesal, dengan  eprsiapan diri yang cukup  dan diperkirakan sudah  akan mendapatkan kehidupan yang layak di akhirat.  Jadi untuk melakukan kebajikan itu tidak harus diukur dengan usia, bahkan saat masih kecilpun harus dibiasakan untuk melakukan kebajikan.

Akan  sanat rugi dan menderita jika orang hanya berpikir bahwa kematian itu ketika sudah tua, sehingga dia akan melakukan pertaubatan dan melakukan kabajika saat sudah berusia tua.  Sebab kita juga menyaksikan hamper setiap saat bahwa ada anak kecil yang  meninggal dunia, remaja juga banyak yang mengalami hal serupa,  sebagaiman aynag dialami oleh mereka yang sudah berusia tua.  Jadi ajal itu tidak memandang usia tua, melainkan kalau sudah tiba, usia berapapun tidak ada perbedaan.

Terkadang  ada orang yang ingin sekali dapat menunggui seseorang yang dikasihi dan atau dihormati agar dapat menyaksikan saat akhir hayatnya, tetapi kalau kemudian Tuhan menentukan lain, justru yang biasanya bersama, pada saat kematiannya justru saat tidak berada di sampingnya.  Lalu  bagaimana  sikap kita  dengan persoalan kematian tersebut?  Sudah barang tentu kita harus  bersikap biasa dan hanya memohon kepada Tuhan agar diberkan kematian yang husnul khotimah, selebihnya  kita serahkan kepada Tuhan.

Dengan sikap menerima apa adanya  tentang kematian tersebut, kita akan dapat cepat recovery terhadap perrasaan yang terkait dengan kematian tersebut.  Sebagai manusia tentu akan merasa sangat sedih dan  duka dengan kematian orang yang disayangi dan hormati, tetapi kesedihan tersebut tidak boleh lama lama dan perasaan kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan tersebut.  Dengan menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan, kita akan  dapat dengan cepat  mengalihkan perhatian kita kepada persoalan riil yang harus kita tangani.

Bukan berarti kemudian kita sama sekali melupakan orang yang baru saja  meninggal, melainkan  tuidak akan terpengaruh secara terus menerus sehingga tidak mampu mengerjakan sesuatu yang lain.  Mengingat kepada orang yang sudah meninggal itu sudah pasti, tetapi larut dalam kesedihan  itu pasti akan mengganggu aktifitas  kita yang boleh jadi menyangkut  kepada pihak  lain yang juga harus kita perhatikan.  Pekerjaan  yang menjadi tanggung jawab kita juga harus mendapatkan  perhatian sehingga kita masih tetap dapat meberikan  sesuatu kepada orang lain sebagaimana  harapan mereka.

Kita tentu patut menyayangkan ketika ada orang yang tidak mampu mengembalikan persoalan kematian tersebut kepada Tuhan, yang akhirnya  dia akan terus menerus menyesalinya dan  bahkan  sampai harus memperngaruhi akal sehatnya.  Ternyata  ada orang yang tampak secara lahir  sebagai orang yang tabah dalam menghadapi  problem kehidupan, tetapi ketika menghadapi kematian anaknya sendiri justru  malah tidak lolos, karena ternyata dia tidak dapat menerima kematian tersebut.

Kalau kita sudah  memasrahkan persoalan kematian tersebut hanya kepada Tuhan, maka hati dan pikiran  akan semakin tenang dan akan  dapat menjalankan kehidupan duniawi secara normal dalam waktu yang relative cepat.  Artinay persoalan duniawi yang menjadi tanggung jawabnya  akan mendapatkan eprhatiannya sehingga  aktifitasnya menjadi normal kembali.  Meskipun demikian tentu dia akan tetap  mengingat kematian tersebut, tetapi hanya sekedar ingatan biasa dan tidak sampai mempengaruhi kehidupannya secara keseluruhan.

Memang untuk dapat menjalankan  sesuatu yang menjadi keyakinan, kita perlu latihan yang terus meenrus, karena jika tidak  berlatih, ada kemungkinan hanya secara teori saja  bagus tetapi secara prakteknya justru sama sekali tidfak ada dampaknya.  Kita tentu ingin bahwa semua orang mampu  menjadi teladan, baik dalam pernyataan maupun dalam kenyataan, karena itulah yang sesunguhnya akan mewarnai kehidupan kita selanjytnya, apaklah kita akan menadi orang yang konsisten dan kemudian kita  dapat menjadi teladan ataukah kita hanya sebagai pecundang yang hanya dapat  berteori semata.

Terkait dengan kematian ini tentu masih banyak hal yang juga menjadi pertanyaan bai banyak orang, karena kematian memang merupana misteri yang tidak dapat ditebak atau bahkan diprediksi oleh orang.  Kita hanya dapat dan boleh berharap, amun semua keputusannya tergantung kepada Tuhan.  Tuhan sudah menggariskan usia  seseorang, dan kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik, yakni jika  kita sedang sakit atau ada keluarga kita yang sakit, maka kewajiban kita ialah mencarikan penyembuhan dan  beedoa kepada Tuhan.

Nah,  jika kita sudah berusaha dan kemudian Tuhan berkehendak dan memutuskan sesuatu yang lain, kita akan dapat menerimanya dengan tulus, bukan sebaliknya.  Semoga kita memang dapat berlaku demikian sehingga kita akan menjadi manusia yang sangat berguna dan sekaligus juga dapat menjadi diri yang sejati sesuai dengan keinginan kita sendiri

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.