LARANGAN HTI DI KAMPUS

Sebagaimana kita tahu bahwa HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah melalui menkopolhukam beberapa waktu yang lalu dan kemudian saat ini sedang diproses di pengadilan agar memenuhi unsur elgal formalnya.  Kita juga tahu bahwa pembubaran etrsebut masih  digugat dan HTI sendiri rupanya  tidak terima kalau HTI dibubarkan sehingga  dia selalu saja mencari alasan dan  mencari simpati dnegan menyalahkan pemrintah yang membubarkannya tanpa prosedur pengadilan.

Ruapanya upaya yang dilakukan tersebut mendapatkan simpati dari ebebrapa orang yang memang tidak melihat bahwa HTI merupakan ancaman serius bagi bangsa  dan Negara yang secepatnya harus ditutup geraknya.  Mereka  masih saja membela diri bahwa HTI merupakan organisasi dakwah yang menyampaikan dakwahnya dengan cara yang baik, dan tidak bertentangan dengan dasar Negara Pancasila.  Namun banyak sudah yang mencatat gerakannya sungguh bertentangan dengan dasar  egara kita, bahkan seringkali dengan secara terang terangan bahwa mereka akan menggantinya.

Tujuan mereka sebagaimana sudah seringkali dideklarasikan di berbagai daerah ialah  mengusung khilafah sebagai idolanya.  Negara Pancasila akan digantikan dengan negara khilafah yang sifatnya trnas nasional  sehingga nantinya Indonesia  hanya merupakan bagian  saja dari negera khialafah yang diusung mereka.  Namun  anka bangsa ini tidak mudah dikelabuhi, dan mereka mengetahui bahwa tentang HTI ini juga sudah dilarang di ebebrapa negara Islam yang ada, karena memang  tidak dikehendaki oleh merka, dan kemudian mereka malah mengalihkannya ke negara kita.

Kita  juga sudah mengetahui bahwa HTI ini sudah  didengungkan melalui kampus kampus, terutama kampus  universitas umum dan lama kelamanaan mereka bahkan berani untuk memproklamirkan diri  dengan khilafahnya tersebut.  Hal itu terbukti bahwa  semakin hari pengikut mereka smeakin banyak dan beberapa waktu yang lalu di kampus besar di Bogor, yakni IPB juga sudah dengan snagat terang terangan mendeklarasikan khilafah tersebut.

Mungkin sejak itulah pemerintah merasa bahwa HTI semakin lama semakin menjauh dari rel organisasi yang berada di negeara Pancasila, walaupun sesungguhnya sudah lama diingatkan oleh ebrbagai  orams Islam khususnya yang sering berbenturan dengan HTI.  Bahkan pada  waktu yang lalu Banser sebagai  palang pintu dari NU dan Ansor terus menerus berbenturan dengan HTI dan sering pula  banser tersebut harus membubarkan kegiatan yang dilakukan oleh HTI tersebut.  Namun sekali lagi  malahan banser yang diserang dan  aparat juga belum melihatnya sebagai sebuah pembelaan banser yang luar biasa  sikap nasionalisnya.

Pada akhirnya pemerintah menyadari hal tersebut dan lalu melakukan kajian mendalam dan akhirnya membuibarkan HTI, meskipun saat ini masih terus diproses  di pengadian untuk mendapatkan legal formalnya.  Nah, seiring dengan langkah pemerintah yang tegas tersebut saat ini sudah banyak yang memberikan dukungan secara formal atas  pembubaran tersebut, meskipun juga masih ada yang membelanya, tetapi lama kelamaan suaranya menjadi sangat lirih.

Kampus sebagai  berkumpuilnya para intelektual tentu tiodak akan ketinggalan dalam menyikapi hal tersebut.  Nah, saat ini seluruh kampus negeri yang berada pada pembinaan kemneterian agama  sudah sleuruhnya menolak HTI dan semua  yang berbau radikal; dan ekstrim dan  membahayakan  sistem berbangsa dan bernegara.  Komitmen tersebut sudah diwujudklan dalam diklarasi anti kekerasan dan  semua yang  dapat merusak sistem yang sudah ada, termasuk di dlamnya HTI.

Secara khusus  masing masing kampus juga sudah melakukan  upaya  yang dilakukan secara internal untuk melarang semua hal yang dapat menimbulkan persoalan, seperti aliran  kaeras, ekstrim, radikal, dan semua aliran yang  bertentangan daengan empat pilar dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang undang dasar negara RI tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Larangan etrsebut biasnya ebrbentuk edaran yang ditujukan kepada semua dekan untuk dapat mengewasi munculnya  hal hal yang  dpaat merusak kesatuan dan persatuan tersebut.

Lebih dari itu melalui berbagai  media yang ada para pimpinan  dan rektor PTKIn juga sudah berkali kali menyampaikan penolakannya terhadap seluruh organisasi yang  mempunyai tujuan berbeda dengan dasar negara dan apalagi kalau berusaha untuk menggantikannya dengan dasar negara lainnya.  Namun demikian  memang terindikasi bahwa sebagian diantara merka masih ada yang  dengan malu malu masih membelanya, khususnya HTI, meskipun kemudian juga ikut menandatangi deklarasi anti  radikaoisme, ekstrimisme dan sejenisnya tersebut.

Mungkin karena terdesak oleh kondisi  yang saat ini telah mapan, yakni smeuanya menolak HTI dan bahkan suidah dibubarkan, maka  suara p[enolakan tersebut menjadi sangat lirih dan nyaris tidak terdengar lagi.  Hanya sajka secara individual mereka memang belum melakukan uapay pencegahan  di internal kampusnya.  Tenryata  ada indikasi bahwa sebagian diantara tenaga dosen di PTKIN ada yang menjadi pengikut organisasi HTI tersebut, bahkan menjadi salah satu pengurus intinya.

Menurut saya kalau memang pimpina suah berkomitmen untuk tidak emngijinkan organisasi etrsebut hidup dan berkembang di kampus,  pihak pihak yang terindikasi HTI tersebut hartus diklarifikasi, apakah memang berita yang santer tersbeut benar ataukah salah, dan  setelah semuanya  emnjaid jelas, baru dapat melangkah lebih jauh. Namun  akan jauh lebih bagus jika tidak langsung diberikan vonis sanksi apalagi kalau harus dipecat, melainkan cukupalah dibina dan diawasi dengan baik sehingga merka nantinya diharapkan akan kembali menyadari kesalahannya.

Kalaupun kita meyakni bahwa untuk aliran seprti itu biasanya akan sulit dimatikan, bahkan kelaupun organisasinya atau wadahnya yakni HTI sudah tidak ada lagi, tetapi spirit yang mengusung apa yang saat ini disung oleh HTI tetaplah akan hidup meskipun tidak  dilakukan secara terang teranagn, melainkan dengan secara sembunyi sebagaimana aliran lainnya yang tetap tumbuh di dunia, meskipun secara formal organisasinya sudah tidak diijinkan untuk hidup lagi.

Karena itulah kita memang harus waspada dengan smeua itu, karena pada saatnya  kalau kita lengah mereka pasti akan muncul kembali dengan baju lainnya.  Saat ini pemerintah juga sudah diingatkan dengan bahaya munculnya kembali PKI yang telah dilarang itu, namun rupanya pemerintah masih belum yakin dan belum menemukan bukti yang dapat meberikan kepercayaan tersebut, sehingga smpai saat ini belum melakukan tindakan apapun.  Kalaupun ada bukti yang berupa rekaman video dan sejenisnya, mereka tidak akan mudah diyakinkan.

Tetapi kita sangat percaya bahwa mereka sesungguhnya sudah melakukan kajian emndalam terhadap hal tersebut dan jika nantinya  sudah ditemukan hal yang meyakinkan abhwa PKI atau dengan mana lainnya tetapi mengajarkan ajaran PKI, maka pemerintah pastinya juga akan melakukan tindakan yang tegas.  Mesurut saya kita tidak perlu mencurigai apalagi ekmudian menuduh bahwa pemerintah saat ini  tidak tanggap terhadap[ bahaya laten PKI, tetapi  kita harus tetap memberikan bantuan kepada aparat untuk menemukan bukti otentik tentang pelanggaran yang mereka lakukan.

Kembali kepada persoalan HTI, kita sudah sepakat bahwa HTI memang harus dibubarkan dan tidak mengijinkan lagi  hidup di negara kesatuan RI karena kiprah dan usungan mereka tentang kholafah bertentangan dengan pilar pilar berbangsa da bernegara.  Kita tentu tidak mau mengorbankan  NKRI hanya untuk sebuah organisasi yang mebngkalim kebenaran sendiri.  Semoag  ke depan kita  tetap akan berkomitmen untuk menaga NKRI dari setiap rongrongan apapun, baik dari dalam maupn dari luar. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.