MENYIKAPI PUTUSAN AHOK

Sebagaimana kita tahu bahwa kemarin hakim telah membacakan putusan atas kasus Ahok yang saat itu didakwa menodai agama Islam, yakni dihukum  dua tahun penjara dan memerintahkan untuk segera ditahan.  Tentu ha tersebut sangat mengagetkan, khususnya  kepada terdakwa dan seluruh simpatisannya dan juga terutama para penasehat hukumnya, karena tunttutan jaksa penutut umum saja hanya satu tahun dalam masa percobaan  2 tahun sehingga kalaupun itu dipenuhi oleh hakim, maka Ahok tidak harus menjalaninya, terkecuali kalau selama dua tahun dia mengulangi perbuatannya lagi.

Nah, palu sudah diketuk dan  Ahok semalaman sudah nginap di rutan, meskipun hingga tengah malam masih banyak simpatisannya yang masih menungguinya di depan rutan, dan Jarot Saeful Hidayat sebagai wakil gubernur DKI yang kemudian sudah ditunjuk sebagai pelaksana tugas menghimbau kepada  para pendukung Ahok untuk kembali, rupanya masih ada juga yang tidak mau beranjak.

Sudah barang tentu banyak diantara pendukung  Ahok yang sangat kecewa dengan putusan hakim tersebut, akan tetapi hakim mempunyai kewenangannya tersendiri berdasarkan undang undang untuk menetapkan putusan melampaui tuntutan jaksa, sehingga secara hukum dan formal, putusan hakim tersebut sah dan  hanya dapat digugat melalui hukum pula, yakni melalui mekanisme banding.  Dan hal tersebut sudah langsung dilakukan oleh terhukum setelah berkonsultasi dengan para penasehat hukumnya.

Sementara itu  jaksa penuntut umum  menyatakan akan menggunakan waktu sebagimana yang diatur oleh undang undang untuk menyatakan banding ataupun tidak.  Presiden sendiri yang sedang melakukan perlawatan ke daerah Indonesia Timur lagsung memberikan tanggapan bahwa pemerintah tidak akan dapat mengintervensi pengadilan, sehingga semua pihak harus mengargai ptusan tersebut, dan demikian juga masyarakat juga harus menghargai upaya hukum banding yang dilakukan oleh Ahok.

Ternyata  episode Ahok masih cukup panjang untuk disimak, dan kita sesungguhnya sudah terjebak dalam  persoalan yang merugikan kita semua, yakni tidak bisa fokus kepada pekerjaan  serta melakukan hal hal positif yang akan mengembangkan bangsa.  Kita senantiasa disibukkan dengan persoalan satu orang saja.  Untuk itu menurut saya  sudah  sewajarnya saat ini smeua pihak mulai melupakan persoalan itu dan fokus kembali kepada pekerjaaan masing masing.

Kita memang yakin bahwa mereka yang tidak  suka atau yang membenci Ahok akan bersorak kegirangan, karena tuntutan dan keinginan  mereka sudah terpenuhi, mewskipun kita tidak boleh menyangka bahwa hakim dalam mengambil putusannya tertekan dan dipengaruhi oleh kekuatan tertentu.  Itu berarti kita tidak mempercayai hakim, karena mereka mempunyai kewenangannya tersendiri yang dijamin oleh undang undang.

Kita harus terus mengembangkan sikap baik sangka kepada siapapun,  kalau emudian ada sebagian dari pensehat hukum Ahok  semacam menuduh dan menyalahkan hakim itu merupakan sikap emosional setelah kekecewaan yang memuncak, namun kita yakin bahwa  secara hukum formal putusan hakim tersebut memang sah.  Kemudian menjadi kewajiban para penasehat hukumlah yang harus menyusun naskah memori banding agar di pengadilan tingkat banding nanti dapat memenangkan atau setidaknya  dapat mengurangi hukuman Ahok.

Pada saat ini mereka dan juga beberapa masyaraklat lainnya sedang mengupayakan agar Ahok ditahan di luar dengan menjaminkan diri mereka, namun itu semua juga masih terserah kepada hakim untuk mengabulkan ataukah  menolaknya.  Menurut saya agar kondisi umat pasca putusan tersebut tetap tenang, sebaiknya memang semua pihak menahan diri untuk tidak melakukan apapun, lebih lebih yang bersifat provokatif yang hanya akan memancing pihak lain untuk melakukan hal hal yang diluar nalar saja.

Jujur saja  seandainya saat itu Ahok yang meminta maaf atas kesalahannya diberikan maaf, mungkin tidak akan terjadi  ontran ontran sebagaimana saat ini, namun sayangnya bangsa kita sangat sulit memberikan maaf kepada sesama umat manusia yang  mesti mempunyai kesalahan.  Terkadang kita  menjadi  sangat sensitif  pada saat tertentu, apalagi kemudian ada kepentingan lainnya, dapat dipastikan akan  mengupayakan sebuah  persoalan  dijadikan  menjadi besar.

Saya sendiri meyakini bahwa  seandainya tidak berbarengan dengan pilkada, persoalan Ahok tidak akan seheboh ini, ,eskipun banyak orang mengatakan ini bukanlah masalah politik dan pilkada, namun  siapapun yang berpikir jernih pasti akan menyimpuilkan bawa kalaupun tidak sepenuhnya, maka pasti ada kepentingan di balik itu, sehingga persoalannnya menjadi sangat heboh.  Lantas karena kepentingan pilkada tersebut selalu doikaitkan, maka kemudian ada pihak tertentu yang  berusaha terus mengedepankan persoalan Ahok meskipun pilkada sudah selesai.

Saya sesungguhnya tidak berkepentingan  pada  membela atau bukan membela kepada siapapun, namun sebagai bagian darti anak bangsa ini rasanya sangat sedih jika mengenang  sejak awal peristiwa tersebut.  Kenapa umat tidak mudah untuk memberikan maaf kepada siapapun yang sudah mengakui kesalahannya dan  menjelaskan bahwa  sesungguhnya tidak ada niat sedikitpun untuk  menghina atau menodai  salah satu agama, dalam hal ini Islam.

Bahkan kemudian  umat terus didorong untuk berpendangan bahwa  apa yang sudah dilakukan yang bersangkuitan, meskipun  satu minggu setelah  mengungkapkan sesuatu yang menjadi tuduhan tersebut  tidak terjadi apapun, lalu dibesarkan sehingga semua orang seolah diharuskan untuk memberikan  penilaian yang buruk dan seolah menggegerkan serta  mempengaruhi kehidupan sleuruh umat.

Saya sebagai seoranag muslim yang percaya kepada kitab suci alquran dan tentukepda  Allah swt dan Nabi Muhammad saw, tentu harus  selalu mengikuti perilaku  Nabi saw.  bahkan dalam alquran ada salah satu ayat yang menyatakan bawa  “katakanlah jika kamu mencintai Allah, maka ikuti aku, tentu Allah akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa dosamu…”.  Nah, seharusnya kita  terus bersuaha untuk mengikuti jejak Rasul dala segala hal, termasuk dalam  menyikapi seuah perkara.

Banyak sekali contoh yang sudah diberikan oleh beliau baik dalam praktek maupun dalam pernyataan beliau.  Salah satu diantaranya ialah beliau sesalu memaafkan  siapapun yang bersalah, apalagi kemudian yang ebrsala tersebut menyadari kesalahannya dan meminta maaf.  Nabi itu tidak pernah membalas dendam, sakit hati dan sejenisnya, karena memang beliau diutus ke dunia untuk memberikan ajaran yang rahamt bagi alam semesta.

Kita masih sangat ingat bahwa saat beliau disakiti oleh penduduk Thaif dan malaikat Jibril yang tidak tega lalu membeirkan tawaran untuk membalsskan dendam kepada mereka, lalu jawaban Nabi sangat tegas dan lugas, yakni Jangan Jibril, kalaupun mereka tidak mau  menyahuti seuanku, aku masih berharap anak anak mereka nanti yang akan mau mengikuti dan setrusnya, bahkan beliau  juga mendoakan baik kepada mereka, yakni Ya Allah tunjukkanlah mereka, karena sesungguhnya mereka  tidak tahu, dan bukan  malah mendoakan celaka.

Kalau kita belum mampu mengikuti jejak Nabi tersebut setidaknya kita  akan dapat  meniru beliau  meskipun belum seluruhnya, tetapi bukan malah bertindak sebaliknya.  Nabi juga pernah menyatakan bahwa  orang yang baik ialah mereka yang dapat  bersikap baik kepada siapapun yang berbuat jahat kepadanya. Nah, ini yang kiranya selama ini belum dimiliki oleh umat, sehingga umat  belum menjadi umat yang baik sebagaimana yang dikehendakioleh Nabi Muhammad saw.

Coba kalau sikap terakhir ini dimiliki oleh umat dan mereka memang  baik secara substansial, maka  semua hal akan sangat mudah untuk diselesaikan tampa harus membuang energi sedemikian banyak hanya untuk membuat orang lain sengsara.  Nabi obsesinya tidak akan m[ernah berharap ada orang yang sengsara, karena misi rahmatan lil alamin tersebut.  Renungkanlah.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.