KECENDERUNGAN MASYARAKAT DALAM MEMILIH PT

Saat ini musim penerimaan  mahasiswa baru sudah dimulai, terutama oleh perguruan tinggi negeri.  Seleksi yang  masih dilakukan  secara nasional pun baru dilakukan penilian dan baru saja diumumkan, sementara  ujian masuk yang bersifat tertulis, baik melalui kertas maupun melalui komputer juga masih sedang dilakukan pendaftaran.  Akan tetapi kita sudah dapat meilhat kecenderungan masyarakat dalam memilih perguruan tinggi negeri.  Pada umumnya mereka lebih memilih perguruan itnggi yang dianggap maju dan berkualitas.

Hal ini dapat dilihat dari membludaknya pendaftar pada perguruan tinggi tersebut dibandingkan dengan perguruan tinggi yang baru atau yang belum mempunyai reputasi yang dikenal luas oleh masyarakat. Kecenderungan tersebut memang sangat wajar dan sah sah saja karena  siapaun tentu akan memilih lembaga yang sudah teruji dan mempunyai penilaian yang bagus oleh masyarakat secara obyektif.

Hanya saja terkadang  masyarakat juga  masih mempertimbangkan persoalan ongkosnya, sehingga kalau mereka itu bukan termasuk golongan kaya, kiranya mereka akan melirik perguruan tinggi yang relatif terjangkau oleh mereka.  Nah, saat ini sistem yang diberlakukan  oleh pemerintah ialah dengan UKT atau uang kuliah tunggal, sehingga selain UKT  pergurua tinggi tidak boleh lagi memungut iuran dari mahasiswa dengan dalih apapun.

Meskipun demikian di lingkungan perguruan tinggi kementerian  rstek dikti, ketika seleksi mandiri, masih diperbolehkan untuk memungut SPI atau sumbangan pengembangan institusi, sehingga inilah yang kmudian masih emmberikan ruang bagiperguruan tinggi untuk sedikt memungut iuran dai masyarakat, walaupun tentunya dengan embel mebel semampu dan seikhlasnya.  Namun  biasanya masyarakat akan terobsesi dengan kemungkinan diterima ataupun tidaknya oleh perguruan tinggi tersebut sehingga ketika ditawari untuk memberikan SPI, mereka akan menyumbang  cukup besar juga.

Namun bagi perguruan tinggi dilingkungan kementerian agama rupanya SI tersebut tidak diatur dan memang  tidak diperbolehkan, sehingga praktis PTKIN  sama sekali tidak ada pungutan selain UKT tersebut.  Demikian pula kalau kita lihat juga UKT di PTKIN juga relatif rendah dibandingkan dengan di PTN kemristekdikti.  Dengan demikian  sesungguhnya PTKIN  merupakan perguruan tinggi negeri yang relatif sangat murah degan fasulitas  yang tidak kalah dengan PTN.

Itu semua dimaksudkan  untuk memberikan kesempatan yang lebih besar kepada masyarakat dalam mengakses pendidikan tinggi.  Bahkan beberapa  mahasiswa lama yang tidak terkena  penyesuaian  biasanya juga memprotes UKT baru, yang sesungguhnya jika dihitung secara cermat, perguruan tinggi masih  rugi dan untuk menutup kerugian tersbeut kemudian kita meminta  BOPTN atau bantuan operasional pendidikan tinggi dari pemerintah.

Inilah yang terkadang juga belum dapat dimengerti oelh masyarakat, karena meskipun perguruan tinggi negeri, tidak seluru pembiayaannya dipenuhi oleh pemerintah.  Sebagai satu conto karenma pemerintah membatasi pengangkatan  pegawai negeri, baik untuk tenaga kependidikan maupun tenaga doen, maka  mau tidak mau untuk memenuhi kebutuhannya perguruan tinggi negeri terpaksa harus mengangkat tenaga untuk memenuhi kekurangan tersebut.

Nah, tenaga baik tenaga kependidikan maupun dosen tersebut harus dibiayai sendir dari PNBP atau BLU, sehingga  bagaimanapun uang kuliah mahsiswa  sebagiannya juga untuk membayar tenaga tetap tersebut, disamping untuk proses pembelajaran danjuga untuk kegiatan kemahasiswaan dan lainnya.  Semakin banyak  kita terima mahasiswa tuntutan  tenaga tetap on PNS juga semakin banyak, dan  seharusnya UKT juga harus disesuaikan.

Kembali kepada kecenderungan  masyarakat dalam memasuki perguruan tinggi kita dapat melihatnya dari trend yang terjadi.  Disamping  mereka lebih memilih perguruan tinggi yang sudah relatif mempunyai nama, juga  dilihat dari kampusnya, apakah meyakinkan ataukah tidak.  Sebagian  kampus yang sudah mapan dan  menunjukkan kemajuan yang  baik, maka  masyarakat akan cenderung memilih kampus yang demikian.

Walaupun tentu ada  diantara  masyarakat yang lebih memilih pergurua tinggi yang  sudah dikenal, baik karena kampusnya memang sangat dikenal luas oleh masyarakat atau juga karena kampus sangat rajin dalam emmberikan publikasi kepada masyarakat, terutama tentang  berbagai fasilitas yang dimiliki dan  daat diakses oleh mahasiswa, sehingga  masyarakat tentunya akan lebih nyaman jika dpaat diterima kuliah di kampus tersebut.

Ada yang cukup menarik dalam pengamatan  saya bahwa  meskipun perguruan tinggi telah beralih status, tetapi pengelolaannya belum  beitu bagus dan masyarakat belum melihatnya sebagai sebuah  perguruan tinggi harapan, maka minat masyarakat tetaplah belum tinggi.  Meskipun kita  juga melihat dengan  beralih satatus dan kemudian ada perubahan pengelolaan yang lebih bagus, ditunjang olehn sarana prasarana yang lebih bagus, kemudian amsyarakat lebih  memilihnya ketimbang yang lain.

Memang pembangunan kampus yang  saat ini  sangat digerakkan oleh SBSN di beberapakampus PTKIN sangat menonjol perubahan  pandangan masyarkat untuk bergabung.  Kita melihat beberapa kampus sudah  mendapatkan apresiasi masyarakat cukup bagus, jika dilihat dari animo  mereka untuk mendaftar pada saat seleksi prestasi yang sudah berjalan.  Ini tentu harus diimbangi dengan prestasi dalam bidang akademik dan lainnya yang kemudian juga dipublikasikan kepada masyarakat, sehingga ke depannya mereka akan lebih mengetahuinya lebih  mendalam.

Kita memang sangat percaya bahwa jika sebuah perguruann tinggi dikelola dengan baik, apalagi kemudian jua ditnjang dengan sarpras yang memadahi pula, dapat dipastikan amsyarakat akan semakin mempercayainya dan  pada saatnya mereka akan tertarik untuk bergabung dengan perguruan tinggi tersebut.  Karena itu para pimpnan perguruan tinggi tidak seharusnya khawatir jika memang sudah mengelola perguruan tingginya dengan bagus.

Lalu kita juga melihat sebaliknya ada pergurua tinggi yang sudah cukup lama dan tentunya  sudah dikenal oleh masyarakat, namun kemungkinan besar tidak dikelola dengan bagus, sehingga prestasinya tidak nampak, lalu dalampenerimaan calommahasiwa baru yang dapat kita saksikan, ternyata perguruan tingg tersebut tidak banyakmdiminati oleh masyarakat.  Tentu kita harus bertanya tanya ada apa  dengan perguruan tinggi tersebut?

Sementara ada perguruan tinggi yang relatif baru tetapi dikelola secara seius,ekmudian juga mendapatkan tanggapan p[ositif dari amsyarakat.  Jadi dengan begitu sesungguhnya masyarakat akan melihat para pemimpinperguruan tinggi  negeri, apakah mereka serius dalam mengelola lembaganya ataukah anya sekedar ingin mendapatkan posisi sebagai pimpinan saja.  Kondisi ini meski kita sikapi denganbijak dan kemudian kita harus ada komitmen secara nyata bahwa  kita memang harus segera membenahi lembaga pendidikan tinggi kita.

Mungkin  untuk seleksi prestasi belum dapat kita jadikan sebagai  satu satunya ukuran megenai minat masyarakat masuk ke perguruan tinggi kita, karena itu kita masih aka menunggu pendaftaran hingga selesai untuk ujian masuknya, yakni seleksi yang dilakukan melalui ujian, baik  secara tertulis dalam kertas maupun melalui komputer.  Grafik sementara hingga saat ini nampaknya juga relatif sama dengan seleksi prestasi yang baru lalu, hanya ada sedikit perbedaan, karena  belum seluruhnya selesai.

Kita berharap masyarakat akan dapat melihat perkembangan perguruan tinggi negeri, khususnya dibawah kementerian agama yang sudah mulai menggeliat, sehingga mereka akan tertarik untuk memasukinya.  Tentu seluruh PTKIN  akan diserbu oleh para calon mahasiswa baru tahun ini, karena secara umummPTKIn sudah lebih bagus  dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.  Apalagi  pembagunan gedungnya juga sudah relatif bagus.

Semoga  seluruh PTKIN  akan semakin berkembang maju dan berkualitas, dengan pengelolaan yang lebih bagus pula.  Kita juga melihat beberapa akreditasi program studi di beberapa PTKIN  sudah  mencapai A, dan itu menunjukkan  keseriusan dalam mengelola  pendidikan tinggi tersebut.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.