TRADISI PESANTREN

Mungkin  masih banyak diantara  anak bangsa ini yang belum mengenal betul d4engan tradisi pesantren, meskipun secara umum sudah tahu apa itu pesantren. Biasanya mereka hanya mengenal bahwa pesantren itu ialah tempat tinggal dan sekaligus tempat  belajar para santri.  Biasanya  juga  mereka mengenal pesantren sebagai tempat yang kumuh, jorok dan penuh dengan ketidak teraturan, sehingga kemudian pesantren diidentikkan dengan penyakit kulit atau yang biasa dikenal dengan sebutan gudik.

Tentu  pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar, karena saat ini meskipun masih ada sebagiana kecil pesantren yang terkesan demikian, namun yang lebih banyak ialah  persoalan kebersihan sudah menjadi perhatian  lebih, sehingga persoalan identiknya santri dengan ngudik sudah tidak relevan lagi.  Pesantren juga bukan lagi tempat yang kumuh dan  tidak ada keteraturan dalam segala hal.  Kalau  pengertian pesantren tersebut diterapkan pada zaman  dahulu ada kemungkinan pas dan kita memang tidak dapat mengelak, namun saat ini semuanya sudah berubah.

Hanya saja ada yang tidak berubah hingga saat ini, khususnya  tentang tradisi pesantren  yang dianggap sebagai pesantren tradisional, yakni hubungan antara santri dan kiai dan juga bagaimana mereka belajar langsung kepada kiai di pesantren. Mungkin juga sudah ada yang berubah, khususnya  pesantren yang disebut sebagai modern, karena biasanya  pesantren yang demikian memang tidak mempunyai kiai khusus yang menjadi  sosok sentral di pesantren tersebut.  Sementara itu di pesantren moder biasanya hanya ada beberapa  orang tokoh atau ustadz yang mengelolanya  secara bersama sama.

Nah, kalau kemudian saat ini orang banyak berbicara mengenai pendidikan karakter, tentu pesantren  sudah sejak awal mula sudah melakukannya, meskipun  tidak dinamakan dengan pendidikan  karakter.  Itu karena pendidikan karakter tidak akan mungkin dilakukan di kelas  yang hanya  ada kesempatan bertatap muka antara guru atau kiai dengan murid untuk beberapaq saat saja.  Sementara itu pendidikan karakter sangat memerlukan pembiasaan dan keteladanan dari  seoranag guru atau kiai.

Kontrol yang terus menerus juga harus dijalankan agar kebiasaan menjalankan perbuatan baik selalu dilakukan oleh para santri.  Mungkin pada  awalnya para santri melakukan kebajikan tersebut dikarenakan  dorongan dari luar dan bahkan mungkin juga dilakukannnya   dengan keterpaksaan, namun setelah berjalan sekian lama, apa lagi kalau kemudian  dapat berjalan bertahun tahun, maka kebiasaan itulah yang  kemudian menjadi kebiasaan dan  kebutuhan para santri.  Itulah hakekat pendidikan  karakter bagi mereka.

Sebagaimana kita tahu bahwa di pesntren biasanya  para santri  diwajibkan melakukan shalat lima waktu dengan berjamaah bersama dengan kiainya. Lalu setelah shalat juga dibiasakan dengan wiridan dengan melafalkan  bacaan tertentu yang terkadang menyita waktui cukup lama.  Namun itu smeua  adalah sebagai bagaian dari mendidik para antri agar  terbiasa dengan  laku yang demikian, yakni  bukan setelah shalat lantas dapat keluyuran ke mana mana.

Pada saat saat tertentu mereka juga diwajibkan untuk mengaji dan pada  waktu lainnya mereka juga wajib belajar pelajaran sekolah bagi yang juga  masih sekolah.  Mengaji tersebut menjadi sebuah kewajiban santri, karena dengan mengaji itulah mereka diharapkan akan mampu mengetahui berbagai hal yang terkait dengan amalan yang harus mereka lakukan setiap harinya.  Biasanya  untuk pertama kalinya para santri akan diajari dengan kitab fiqh yang mengajarkan berbagai amalan ibdah, muamalah dan juga aspen lainnya.

Bagi pesantren tertentu jika para santrinya itu sama sekali belum pernah mengaji dan belum mengetahui bahasa Arab, para kiai akan menjelaskan secara rinci tentang hal hal yang dianggap penting untuk diketahui, sehigga kalaupun sebagiaa santri tidak mampu emmbaca kitab yang dikaji, namun dengan penjelasan tersebut para santri akan  mampu mengetahui isi kandungan kitab fiqh tersebut.  Nah, yang palingpenting ialah bahwa isi kandungan  fiqh tersebut  secara langsung dipraktekkan  setiap harinya, khususnya yang terkait dengan persoalan ibadah.

Ada  kebiasaan yang sungguh sangat luar biasa di pesantren yakni hubungan antara santri dengan kiai.  Meskipun kiai nya tersebut tidak pernah sekolah misalnya, namun para santri akan sangat hormat dan mempercayai  penuh kepada kiainya.  Dengan demikian apapun yang dikatakan oleh kiai mesti harus ditaati secara total, meskipun sesungguhnya kiai tidak pernah mengatakannya.  Artinya  kekhususan hubungan santri kiai itu ialah adanya ketaatan yang mutlak  dari santri kepada kiai.

Pertanyaannyan ialah kenapa bisa terjadi hubungan yang begitu kuat? Padahal kiai tersbeut biasa biasa saja. Itulah hal yang menjadi salah satukekhasan  di pesantren, yakni hubungan antara santri dan kiai yang begitu kuat.  Barangkali haltersebut disebabkan oleh salah satunya kaena kiai  dalam megajarkan ilmu dilakukan secara ikhlas.  Para kiai di pesantren tidak pernah meminta bayaran atau gaji kepada para santrinya, bahkan seringkali para kiai justru memberikan banyak kepada santri, seperti makan, minum dan lainnya.

Para santri juga  sangat yakin bahwa kalau sampai berani dan menyakitkan hati kiai, ilmu yang didapatkan d pesantren tersebut nantinya tidak akan bermanfaat.  Jadi dengan keyakinan sperti itulah para santri kemudian sangat taat kepada kiai.  Hampir tidak ada  santri yang ketika bertemu dengan kiainya tidak berjabat tangan sambil mencium tangan kiainya itu, walaupun  tidak pernah diajarkan secara langsung. Itu merupakan sebuah penghormatan  santri kepada kiai yang telah dipercaya sedemikian rupa sehinga  dengan begitu para santri berharap  akan ada keikhlasan kiai kepada santri.

Kondisi seprti itu juga  masih didukung oelh para wali atau orang tua santri yang  juga sangat menghormati kiainya, karena mereka juga berharap bahwa anak  anaknya yang nyatri di pesantren tersebut akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.  Karena itu biasanya  para orang tua  santri jika menengok anaknya di peantren, selalu akan menyempatkan diri untuk mampir di kediaman kiai sambil membawa oleh oleh, dan lalu meminta  doa  kepada kiai tersebut.  Itu merupakan kebiasaan baik yang saat ini sangat jarang kita temukan dalam sistem pendidikan di luar pesantren.

Coba bayangkan saat ini hubungan antara orang tua dengan para guru begitu jauh, sehingga  hampir ampir tidak pernah tahu tentang kondisi amsing masing.  Bahkan akhir akhir ini para orang tua juga sama sekali tidak mendukung  keberadaan guru dalam endidik anak anak mereka,  padahal seharusnya ada dukungan secara langsung dan hubungan timbal balik yang harmionis sehingga proses pendidikan akan  dapat ebrjalan dengan baik.

Akibat dari hubungan yang teramat buruk tersebut, justru yang terjadi ialah kecurigaan ran tua kepada guru, sehingga kalau ada persoalan  terhadap anak anak mereka, orang tua bukannya  melakukan tabayun kepada para guru, melainkan hanya percaya saja kepada anak anak mereka, yang pasti  mereka akan menyalahkan guru, padahal guru tersebut suda tepat dalam mendidik.  Akibat selanjtnya kita dapat menyaksikan  adanya orang tua yang tega memperkarakan  dan bahkan memenjarakan guru yang berusaha mendidik anak mereka.

Sungguh ironis hal tersebut dapat terjadi dalam dunai pendidikan.  Namun kenyataan seperti itu pasti tidak akan pernah terjadi di pesantren, karena  ada saling percaya antara kiai dengan orang tua santri, dan pastinya para kiai akan  mendidik para santrinya dengan sangat bagus, termasuk me3mbiasakan untuk selalu berbuat yang terbaik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.