POLITIK BIASANYA MENGHALALKAN SEGALA CARA

Setiap kali kita menggelar pemilihan umum, baik itu untuk memilih presiden, gubernur, bupati/wali kota maupun anggota legislatif, selalu saja  masing masing pihak, baik partai politik maupun perorangan  mencari cara bagaimana mendapatkan dukungan dari masyarakat dengan tujuan akhir dapat terpilih.  Hanya saja kebanyakan cara yang digunakan tidak dilakukan dengan cara yang cerdas melainkan dengan cara cara konvensional yang masih dianggap sebagai hal yang mujarab, khususnya untuk masyarakat kita yang  katanya  sudah cerdas, tetapi nyatanya masih sama saja.

Berbagai cara  termasuk yang tidak latak sekalipun terus dilakukan semata mata untuk mendapatkan dukungan. Biasanya cara yang mudah dilakukan  akanntetapi membutuhkan biaya yang besar ialah dengan memberikan sumbangan kepada pihak pihak yang dianggap mempunyai massa cukup banyak, atau pada saatnya menjelang pemilihan kemudian menyebar uang sebagai bentuk politik uang yang sesungguhnya sangat dilarang.  Tetapi kita masih terus menyaksikan hal tersebut, bahkan  cukup transparan sekali.

Kita  juga dapat menyaksikan  cara lainnya, yakni dengan mengerahkan  massa untuk mempengaruhi masyarakat agar  mendukung,  dan biasanya cara ini dilakukan dengan memberikan tekanan kepada pihak lawan, semacam kampanye hitam dengan berbagai mode dan variasinya.  Kesalahan demi kesalahan pihak lain terus dicari dan diuber dan jika menemukan celah untuk mempermasalahkannya, maka  segera akan diangkat sebagai isu utamanya dan jadilah hal tersebut sebagai alat untuk mendapatkan dukungan dengan memojokkan pihak lain.

Sementara itu ada sebagaian  yang menggunakan cara melalui pendekatan agama.  Artinya agama mayoritas  masyarakat digunakan sebagai alat untuk  mengikat semacamkewajiban untuk memilih yang seagama, itu jika rivalnya jelas jelas tidak beraga  sesuai dengan meyoritas masyarakat pemilihnya.  Sedangkan jika  masing masing calon sama dalam agamanya,  maka  ajakan tersebut kemudian diikat dengan organisasi keagamaan yang dianutnya, dan begitu seterusnya. Tentu hal tersebut dilakukan  semata mata untuk menggaet dukungan.

Masyarakat kita sesungguhnya memang sudah cukup niteni kepada semua  janji para calon, karena biasanya kalau mereka sudah mendapatkan dukungan dan kemudian  benar benar jadi, maka  apa yang pernah diucapkan seolah tidak ada lagi.  Lupa itulah kata yang sering diucapkan dan  dengan keyakinan bahwa masyarakat kita sangat mudah melupakan sesuatu, maka merka dengan  leluasanya  melakukan hal tersebut.

Terkait dengan persoalan ini   saya  akan menekankan betapa konyolnya  mereka itu ketika harus menjadikan agama sebagai alat untuk mendapatkan jabatan pada sebuah kontestasi.  Sungguh sangat tidak beradab jika kita melihat kenyataan yang  dilakukan oleh mereka, bahkan terkadang  mereka tega menggunakan ayat ayat suci sebagai pijakannya.  Padahal secara nalar sehat, tentu tidak ada satu ayatpun yang mendukung dalam sebuah pemilihan jabatan apapun.

Semua ayat suci dalam kiab suci pasti bersifat untuk kepentingan umum dan bukan untuk kepentingan individual.  Mungkin  mereka menggunakan alat sebagaian ulama untuk memberikan tafsir yang menguntungkan kepada dirinya, namun setelahsemuanya tergapai, pastinya semua akan ditingalkan pula.  Lalu dimana posisi kita sebagai orang yang mengetahui hal tersebut?  Sudah pasti sesuai dengan kap[asitas kita masing maisng harus menyuarakan hal tersebut dan mengingatkan agar tidak menggunakan agama sebagai landasan untuk mempengaruhi massa.

Biasanya pula mereka yang jelas jelas menggunakan  agama sebegai tunggangan juga tidak mengakuinya dan selalu mencari alasan bahwa itu memang hal yang mutlak harus dilakukan sebagai bentuk membela agama, tetapi kita kemudian dapat menyaksikan bahwa segera setelah tujuannya selesai apa yang sebelumnya dikatakan sebagai hal  yang mutlak harus dilakukan oleh setiapmuslim untuk membela agama, dengan mudahnya ditinggalkannya.

Dalam haol demikian  sesungguhnya kita dapat mengatakan bahwa agama, alquran dan Nabi Muhammad saw  tidak memerlukan pembelaan dari umat  Islam, karena  mereka itu  terlalu suci untuk dijadikan sebagai alat untuk  tujuan politik mereka, meskipun dengan alasan membela.  Bahkan banyak umat Islam yang sama sekali tidak menjalankan ibadah puasa misalnya, juga  dibiarkannya, padahal itulah yang dinamakan sebagai pembelaan terhadap syaraiat.  Lalu banyak pula umat yang tidak menjalankan  kewajiban shalat misalnya, mereka juga diam seribu bahasa.

Lantas dengan alasan apalagi mereka selalu mencari sensasi dan memprovokasi umat untuk menikuti kehendak instan mereka?  Kita memang perlu mengingatkan kepada umat yang suka menggunakan  agama secara umum sebagai  tunggangan untuk meraih keuntungan mereka id dunia saja.  Artinya kita harus selalu dan berani menyuarakan sesuatu yang benar tanpa harus takut dicap sebagai  bagian yang menentang  mereka. Bukan mereka saja yang tahu ajaran Islam dan bukan mereka  yang emmpunyai surga, karena itu mari bersuara  untuk menentang penggunaan agama  sebagai alat tujuan politik mereka.

Ingat bahwa sekali lagi tidak ada satu ayat pun yang membenarkan cara mereka, karena  seluruh ajaran Islam itu mengacu kepada  kedamaian,  kesejahteraan umat secara utuh dan tidak ada yang membela individual, apalagi membela seseorang untuk menduduki sebuah jabatan tertentu.  Umat harus  dicerahkan dan  terus menerus diajari bahwa  kalau ada pihak tertentu yang mengajak untuk memilihnya dengan dasar dan argumentasi agama, maka itu sama dengan membohonginya.

Mungkin  pernyataan seperti  itu  kalau  saya sendiri  mencalonkan diri untuk sebuah jabatan, maka saya akan diperkarakan dan diupayakan agar saya diproses di pengadilan, padahal sama sekali tidak ada upaya untuk melakukan penghinaan ataupun pelecehan terhadap siapapun. Kita hanya mengedukasi kepada umat agar mereka cermat dan cerdas dalam mengambil keputusan.  Persoalan pemilihan pemimpin itu  murni urusan dunia dan urusan politik, sehingga maisng masing orang berhak untuk menentukan pilihannya dengan bebas.

Memilih para kandidat yang sudah disakan oleh panitia pemilihan itu mutlak menjadi hak setiap orang yang mempunyai hak,  seharusnya  para kandidat juga harus dapat menarik perhatian  para calon pemilih dengan rasional dan  tidak menyangkutkan kepada persoalan agama, melainkan bagaimana tawaran mereka kepada umat untuk perbaikan dan kesejahteraan masa depan.

Saya menjadi teringat pada saat saat kecil bahwa ada pernyataan yang sangat populer di masyarakat bahwa politik itu kotor, meskipun anya orang yang menyukai hal hal yang kotor tersebut, termasuk mereka yang  digolongkan sebagai tokoh dan ulama.  Lihatlah betapa mereka selalu berusaha merekayasa sesuatu agar menguntungkan mereka sendiri.  Bahkan secara kasat mata  mereka itu diharuskan menyetor kep[ada partainya sebagai sebuah kewajiban untuk menghidupi partainya.  Nah, lalu para  konsetuen juga  selalu mengharap sesuatu bantuan dan  kemudian  masih mendapatkan apa mereka itu dari gajinya?

Itulah mengapa kemudian mereka secara umum akan  berusaha mendapatkan tambahan peghasilan  dari selain gaji yang sudah ditetapkan.  Bisa jadi mereka kemudian melakukaan kegiatan yang diada adakan sehingga akan memperoleh tamahan dan lainnya.  Bahkan  jika mereka tega juga akan bergubungan dengan para pihak yang membutuhkan jasa mereka dan seterusnya.  Ini adalah hal yang sangat gamblang dapat disaksikan.

Jadi kesimpulannya bahwa  persoalan politik itu tidak seharusnya dihubungkan dengan persoalan agama, melainkan cukuplah diselesaikan dengan upaya tertentu yang  sudah barang tentu harus dapat meyakinkan para calon pemilih agar mendukungnya.  Semoga ke depan tidak ada lagi yang menggunakan  agama sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.