SELALU SAJA MEMENTINGKAN PIHAK LAIN

Kebiasaan manusia akan selalu mementingkan diri dan keluarganya terlebih dahulu ketimbang pihak lain, namun sesungguhnya jika manusia dapat  membalikkan kondisi demikian, yakni lebih mementingkan  pihak lain ketimbang diri dan keluarganya, maka itu akan jauh lebih baik baginya.  Hal tersebut disebabkan karena kalau manusia tersebut  selalu mengingat kepada pihak lain, tentunya  hatinya akan dipenuhi ketulusan ketimbang nafsu yang biasanya justru akan melupakan pihak lain.

Bahkan hanya sekedar berdoa saja biasanya manusia akan  selalu mementingkan dirinya  dan keluarganya, kemudian baru pihak lain, bahkan seringkali  manusia tersbeut justru melupakan yang lain, karena yang terpenting ialah bagaimana diri dan keluargnya.  Nah, lebih lebih jika berkaitan dengan persoalan dunia, dapat dipastikan akan lebi mendahulukan diri dan keluarganya ketimbang pihak lain.

Sesungguhnya sikap manusia yang demikian itu merupakan sikap yang wajar dan sah saha saja serta tidak melanggar aturan manapun, namun jika manusia tersebut mau memperhatikan dan  mendahulukan pihak lain, tentunya  akan menjadi sangat luiar biasa baiknya.  Hal tersebut  jika kemudian kita renungkan sesungguhnya akan kembali kepada dirinya sendiri karena bagaimanapun juga masyarakat tentu akan  mencatat kebaikannya tersebut dan jika mereka kemudian terperhatikan dengan baik, dapat dipastikan kondisi lingkungan  juga akan membaik dan seterusnya.

Sebagaimana kita tahu dan sadari bahwa kehidupan manusia itu  tidak akan dapat dilakukan swendiri, melainkan harus bersama dengan manusia lainnya.  Dengan begitu  secara hakiki setiap manusia pasti membutuhkan perqan manusia lainnya. Lalu bagaimana  kalau manusia itu membutuhkan manusia lainnya dan  sama sekali tidak mau berkontribusi kepada  manusia lain tersebut?  Pastinya dapat disebut sebagi kondisi yang tidak adil dan hanya ingin  menang sendiri.

Atas dasar itulah sesungguhnya jika manusia  mau memperhatikan mansuai lainnya dan memberikan sesuatu yang terbaik bagi mereka, tentu  akibatnya juga akan berbalik kepada dirinya sendiri.  Namun jika manusia hanya mementingkan dirinya  sendiri, maka sangat mungkin manusia lain justru akan  juga berpengaruh buruk kepadanya.  Jika kitamempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dan kemudian kita  juga menawarkan dan memberikannya, maka itu akan membuat pihak lain tersebut akan merasa tenang dan aman.

Apalagi jika hal tersebut menjadi sikap seluruh manusia di  lingkungan tersebut, maka sudah tidak ada lagi  hal yang diragkan dalam emmbentuk  kebaikan bersama.  Hanya sayangnya memang tidak mudah untuk menciptakan kondisi ideal seprti itu, karena  sebagaimana kita tahu justru kebanyakan msnuai itu lebih mementingkan diri dan keluarganya ketimbang  pihak lain.  Itulah mengapa kemudian  masyarakat kita tampak lebih menyukai indoividua ketimbang kelompok, dan itu masih tetap dianggap normal.

Jika kita menginginkan sebuah kondisi yang ideal di sebuah lingkungan tertentu, maka kita harus mampu memlulai dengan berusaa  untuk dapat memperhatikan dan berbagi dengan masyarakat lainnya, terutama  tentang hal hal yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh mereka.  Jika kita mempunyai makanan yang enak lalu kita juga membaginya dengan  para tetangga yang ada, tentu mereka akan sangat menghargai dan memberikan apresiasi kepada kita, dan jika hal itu terus kita lakukan, maka sangat mungkin mereka juga akan tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Nah, jika  masyarakat seluruhnya sudah membiasakan diri untuk selalu berbagi dengan para tetangganya, maka  itu merupakan modal utama untuk membentuk masyarakat ideal tersebut. Tentu  bukan hanya sekedar pemberian berupa makanan semata melainkan juga hal lainnya, termasuk persoalan yang tidak nampak, tapi sangat menentukan juga, yakni ketulusan dalam mendoakan  baik kepada semua tetangga dan masyarakat secara umum.

Memang ada kalanya kita harus mendahulukan diri  ketimbang pihak lain, meskipun kalau tetap dijalankan lebih mendahulukan pihak lain pastinya  akan jauh lebih baik.  Sebagai contoh kalau kita hanya mempunyau makanan  hanya cukup untuk diri sendiri dan keluarga, sebaiknya memang cukup dimakan sendiri dan tidak mendahulukan tetangga, tetapi jika kemudian datang orang yang lebih membutuhkan ketimbang kita, pastinya akan jauh lebih baik jika  makanan tersebut diberikan kepada  orang yang datang tersebut.

Itulah akhlak yang telah diajarkan oleh Rasul dan abhkan beliau  mencontohkannya secara langsung, dan seharusnya sebagai umatnya kita justru harus mengupayakan untuk mewujudkannya.  Cuma persoalannya  kebanyakan uamt manusia belum mampu untuk menjalaninya.  Mendahulukan kepentingan pihak lain bukan identik dengan menyengsarakan diri  sendiri, sama sekali bukan, melainkan  hanya sekedar berbagi atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan sehingga kita tidak akan termasuk mereka yang kikir dan  tidak mensyukurinya.

Sebaiknya kita memang harus mencoba dengaqn gaya hidup seperti itu, setidaknya kalau belum mampu menajlani kehidupan yang sebagaimana dicontohkan oleh Nabi tersebut, kita  cukup memulainya dengan mau berbagi atas  kelebian yang kita punyai.  Kalau kita mempunyai kelebihan makanan yang ada, mari biasakan untuk dibagi kepada tetangga dan pihak lain yang dianggap lebih membutuhkan.  Secara riil masih banyak di sekitar kita  yang  sangat membtuhkan makanan lebihan kita tersebut.

Kita dapat melihat bagaimana sikap dan kehidupan  mereka yang selalu berbagi dengan  orang yang sangat membutuhkan.  Pada umumnya mereka itu kemudianmenhgalami kehidupan yang sangat menyenangkan, walaupun mungkin secara materi tidak tampak berlebihan.  Ada  orang yang karena keinginan kuatnya untuk selalu berbagi, maka setiap harinya dia akan selalu  menyediaan satu bungkus makanan sebagaimana yang dia makan untuk  kemudian dia berikan kepada pengemis di jalanan atau kepada  siapapun yang dianggap membutuhkan.

Kemudian jika dia sudah mempunyai kelebihan yang lebih hanya sekedar nasi satu bungkus, maka dia akan tingkatkan lagi dan begitu seterusnya, karena yang terpenting baginya ialah bagaimana dia  dapat berbagi dengan sesama atas kenikmatan dan karunia yang telah diterima dari Tuhan.  Jiawa soaial yang demikian besar tersebut justru aan  lebih menjadikannya sebagai seorang yang  selalu dalam keadaan nyaman dan  lepas daro beban hidup yang bagi sebagian besar orang menjadi sangat berat.

Bagi mereka yang sudah  mendalami kehidupan yang demikian tentu tidak akan nyaman ketika masih melihat pihak lain tampak menderita, padahal dirinya sendiri  sudah  merasa cukup.  Bukan saja dalam persoalan makanan, melainkan juga masalah lainnya.  Jika menyaksikan  anak anak tetangga dengan pakaian kumuh dan seolah tidak pernah berganti, maka  dia akan merasa berdosa jikia tidak memperhatikan mereka.  Namun sekali lagi itu sngat berat bagi sebagian orang jika  tidak diniati dengan kuat.

Karena itu beruntunglah  bagi mereka yang diberikan hati emas oleh Tuhan, sehingga  dapat merasakan bagaimana yang dirasakan oleh pihak lain, terutama mereka yang kebetulan kurang beruntung dalam hal ekonomi.  Mari kita mulai saat ini juga untuk lebih memperhatikan pihak lain, meskipun kita tidak harus melupakan diri sendiri dan keluarga.  Semoga komitmen kita untuk mengubah gaya hidup kita menjadi lebih memperhatikan kondis pihak lain tersebut justru akan lebih menjadikan diri kita lebih baik dan  merasa nyaman serta puas dan syukur kepada Tuhan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.