BAGAIMANA KITA BERDAKWAH

Sebagaimana kita tahu bahwa setiap muslim ada kewajiban berdakwah meskipun snagat minim dan disesuaikan dengan kondisi masing maisng orang.  Tetapi yang pasti  dakwah itu tetap harus dijalankan, wlaupun hanya sekedar mengajak untuk berbuat kebajikan secara umum.  Jika ada orang yang hanya mampu untuk menyuruh dan mengajak keluarganya, anak  dan isterinya untuk melakukan  shalat atau mengajarkan membaca alquran, maka itu sudah merupakan salah satu bentuk dakwah yang dapat dijalankan.

Jika orang tersebut mampu lebih dari sekdar melakukan itu tentu akan lebih baik, akan tetapi memang untuk berdakwah itu diperlukan beberapa sayarat, terutama mengenai  kemampuan dalam bidang yang didakwahkan.  Kalau misalnya seseorang emndakwahkan untuk shalat, maka dia harus mampu menjalankan shalat dengan benar, sehingga kalau misalnya  diminta untuk mempraktekkan dia akan  dengan mudah dapat melakukannya.

Nah, persoalannya ialah bagaimana kalau seseorang melakukan dakwah tetapi dirinya belum mampu tentang persoalan agama, padahal dia  mendakahkan secara umum tentang agama.  Nah, kalau itu terjadi kemudian ada pertanyaan menyangkut hal asasi tentang agama, lalu dia terpaksa menjawab meskipun tidak didasari oleh pengetahuan yang cukup,  sesungguhnya dia sudah menyesatkan pihak lain, dan itulah yang dilarang keras oleh agama kita.

Atau kalau dia sudah mengetahui tentang swedikit saja  tentang agama, lalu dia berdakwah dan ekmduian muncul pertanyaan tentang sesuatu  yang secara substantive dia tidak mampu menjaabnya,  maka sebaiknya dia tidak menjawabnya dan  secara terus tyerang harus mengatakan bahwa dia akan emncaikan jawabannya dan akan disampaikan pada saat yang lain.  Namun terkadang ego  dan rasa malunya akan mengalahkan segalanya, dan akhirnya dia  menjawab pertanyaan  tersebut dengan sekenanya.

Itu juga merupakan salah satu bentuk pelavcuran terhadap agama dan  sangat merusak agama.  Karena itu untuk berdakwah seseorang memang harus membekali dirinya dengan ilmu yang kuat dan luas, bahkan kalau hanya tahu sedikit saja itu terkadang juga akan merusak agama kita.  Sebagai salah satu contohnya ialah jika seseorang menjaab pertanyaan tentang khilafiyah lalu dia hanya menjawab tentang satu saja yang diketahuinya sambil menyalahkan smeua pendapat yang lain darinya, maka itu juga  sama dengan merusak agama.

Kalau kemudian para dai sudah membekali dirinya dengan ilmu agama dengan cukup baik, namun tidak mau mempelajari ilmu lainnya sebagai salah satu alat bantunya dalam berdakwah,  itu terkadang  dakwahnya tidak akan efektif dan  mencapai sasaran.  Terkadang kita menemukan bahwa  kaidah yang menyatakan bahwa  metode itu lebih penting ketimbang  materi atau isi, itu tepat  karena sesuatu yang pokok tetapi dsampaikan dengan cara yang buruk  dan tidak disenangi oleh  para pendengarnya, maka materi yang bagus tersebut akan tampak  buruk dank arena itu tidak akan diikuti.

Sebaliknya terkadang ada sesuatu yang sesungguhnya biaa biasa saja, namun kemudian dapat dikemas dan disajikan dengan sangat bagus, maka  akan terasa bagus, dan ekmudian akan diikuti.  Nah, atas dasar kenyataan tersebut sungguh sangat diperlukan  penguasaan metode dalam menjalankan dakwah tersebut, agar tujuan dan target dakwah akan dapat dipenuhi.  Untuk itulah pengetahuan mengenai  dakwah dan bagaimana kita memahami dakwah Nabi itu sangat mutlak dikuasai.

Biasanya  para dai memedomani dakwah dari ayat yang ke 125 dari surat al-nahl, yakni:

ادع ألى سبيل ربك بالحكمة و الموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين : النحل :125

Yang biasa diterjemahkan dengan sedrhana  ajaklah kepada jalan  Tuhanmu dengan cara hikmah, dan juga mauidhatul hasanah, serta dengan berdiskusi yang baik.  Sesungguhnya Tuhanmu itu sungguh lebih tahu kepada siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dia juga lebih mengetahui orang orang yang mendapatkan hidayah.

Tidak salah memang memahami ayat tersebut dengan sederhana seprti itu, namun jika kita mau mendalaminya  secara  lebih  detail lagi maka kita harus memaknai  ayat tersebut dengan lebih cermat.  Ketika kita memaknai hikmah itu dengan  bijaksana, maka  setelah itu kita akan berdiam dan berhenti, sehingga kita tidak pernah mengetahui bagaimana itu hikmah yang sesungguhnya.  Kata bijaksana itu masih terlalu umum karena tidak diketahui gandengannya, apakah yang bijak itu perilaku ataukah ucapan dan lainnya.

Lalu wujud dari bijak tersebut dalam berdakwah itu yang bagaimana, apakah dakwah yang dilakukan dengan bentuk ceramah namun orangnya berperilaku bijak dalam ucapannya  atau lainnya.  Jadi intinya kita memang harus menegaskan  bahwa  cara yang dianjurkan oleh alquran dalam menyampaikan dakwah itu ialah dengan hikmah dan hikmah itu harus kita jabarkan  dengan lebih mudah dan jelas.  Hikmah sesungguhnya dapat dimaknai sebagai cerdas, sehingga dakwah yang dilakukan itu harusnya disertai dengan kecerdasan.  Kecerdasan tersebut dapat menyangkut berbagai hal, karena  orang cerdas itu pasti banyak akalnya.

Mungkin dia akan memakai  teori dan juga metode yang  cocok dengan kondisi masyarakat yang dijadikan obyek dakwah atau mungkin kecerdasan tersebut kemudian dimaknai sebagai usaha  untuk mendapatkan kepercayaan dan kemudian  diikuti oleh  mereka yang dijadikan obyek dakwah melalui peran  langsung diri dai tersebut dengan menjadikan dirinya sebagai teladan dalam berbagai hal kebajikan yang dapat disaksikan secara langsung. Ataupun juga dalam bentuk lainnya.

Kita tentu sangat paham bahwa pada zaman rasul dahulu, beliau sangat  hebat dalam emmerankan diri sebagai sosok teladan yang sangat dikagumi oleh bukan saja pengikutnya, tetapi juga oleh mereka yang memosisikan diri sebagai musuhnya.  Namun ketabahan hati dan kecerdasan pikiran beliau serta kehebatan akhlak beliau, akahirnya banyak orang tidak lagi dapat bertahan dengan posisi menetang.  Nuraninya pasti akan mengakui bahwa Muhammad saw itulah sosok yang patut diikuti dan jadikan contoh konkrrit dalam mengarungi dunia.

Lalu apakah kita saat ini mampu berdakwah dengan meniru apa yang dipraktekkan oleh beliau, smeuanya terpulang kepada kita masing masing.  Mungkin  masih banyak diantara para dai yang sangat berat untuk mempraktekkan cara dakwah Nabi tersebut, karena memang kondisi riilnya  sangat jauh dengan apa yang dicontohkan oleh beliau.  Karena itu persayaratan sebagaimana disampaikan di atas seharusnya menjadi syarat mutlak bagi setiap dai.

Bagaimana mungkin kalau kita mendakwahkan dan emngajak orang lain untuk berbuat kebajikan, berbagi dengan sesame, untuk meninggalkan dendam, iri, dengki dan semua sifat jelek manusia , namun kemduian kita sendiri tidak mampu untuk menjalankannya.  Bukankah  nantinya kita akan masuk dalam kategori kabura maqtan, alias berdosa besdar karena mampu mengatakan sesuatu tetapi sama sekali tidak mampu mempraktekkannya.  Mungkin mudah bagi setiap orang untuk mengatakan dan emngajak untuk bersedekah, untuk menjalankan shalat malam, shalat dluha, untuk berpuasa rutin  dan kebajikan lainnya, namun akan sangat berat untuk menjalankannya.

Jika kita lihat  rangkaian ayat erikutnya ialah  dakwah dijalankan dengan mauidhatul hasanah yang biaa diartikan sebagai  ceramah dengan baik, baik isinya maupun cara menyampaikannya.  Kan tetapio sesungguhnya kita masih dapat menjelaskan dan menjabarkannya lebih luas lagi yakni  mauidhah itu tidak harus berupa ujaran melainkan juga  dapat berupa tindakan, sehingga  antara hikmah dan mauidhatul hasanah  dapat dikolaborasikan dengan baik sehingga menjadi sebuah  dakwah yang sangat menyentuh dan  diinginkan oleh banyak orang.

Hal terakhir yang dilakukan  dakwah ialah dengan mujadalah yang biasa diartikan sebagi diskusi untuk mempertahankan  argumentasi.  Namun mungkin akan jauh lebih simpatik jika mujadalah tersebut tidak semata dfimaknai sebagi diskusi semacam itu, melainkan  dapat berupa seminar, symposium, selebaran, bulletin, majalah dan lainnya  yang lebih luas dan luwes, sehingga akan emnjangkau banyak pihak dan  tidak embosankan.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.