HARI PENDIDIKAN NASIONAL KOK SEPI

Sebagaimana kita tahu bahwa tanggal 2 Mei kemarin merupakan hari pendidikan nasional, namun sebagaimana  tahun tahun sebelumnya, terutama setelah era reformai, seolah amsyarakat, termasuk masyarakat  pendidikan kurang greget dalam memperingati hari tersebut.  Bahkan  kalau dahulu setiap tanggal 2 Mei selalu diadakan peringatan dengan melakukan upacara bendera, saat ini sudah tiada lagi.  Aapakah ini pertanda bahwa masyarakat pendidikan di negeri kita juga sudah kurang peduli dengan hari pendidikan nasional tersebut?

Kita harus akui bahwa kualitas pendidikan kita  masih tertinggal dengan  pendidikan di Negara lain, bahkan dengan negeri jiran saja kita sudah tertinggal jauh, meskipun dahulu mereka  justru belajar kepada kita.  Kesadaran  bahwa kita tertinggal tersebut sesungguhnya sudah muncul beberapa tahun yang lalu, sehingga kemudian kita melakukan usaha untuk memacunya, termasuk melalui penambahan anggaran secara nasional.

Meskipun demikian kita  masih merasa ada kekurangan yang significant dalam penganggaran bidang pendidikan tersebut.  Hal tersebut sangat mungkin bahwa pembagian dan penerapan anggaran yang kurang tepat karena  dilihat dari jumlah anggaran pendidikan yang dialokasikan oleh Negara sungguh sangat banyak, yakni 20%  dari total APBN kita, kalau APBN kita  saat ini mencapai 20 ribu Triliyun, maka anggaran pendidiklan tersebut mencapai angka 400 T, sebuah anggka yang fantastis.

Hanya saja memang sekali lagi mengenai ketepatan anggaran tersebut masih  dipertanyakan, karena tenryata masih banyak hal yang seharusnya menjadi prioritas, namun malah terbaikan  dan  hla yang dapat ditunda justru malah terus mendapatkan prioritas.  Artinya kalau kita jeli dengan berbagai lap[oran dari masyarakat, sampai saat ini masih banyak sekolah yang akan roboh, bahkan guru dan siswa tidak beranio menempati gedung tersebut, karena memang kondisinya sangat membahayakan.

Belum lagi sarpras sekolah yang masih belum memenuhi standarn minimal, speerti bangku yang belum standar, perpustakaan yang bel;um ada, demikian juga dengan laboratoprium dan lainnya.  Nah,  hal hal yang mendesak  tersbeut seharusnya menjadi perioritas utama dalam pembenahan  pendidikan kita, sehingga  dalam setahun anggaran saja seharusnya hal tersebut sudah dapat diatasi.  Saya sendiri tidak tahu dimana  letak kesalahan tersebut, hingga saat ini masih banyak laporan hal; yang menyedihkan tersebut.

Sementara di pihak lain pembiayaan kepada mereka yang sesungguhnya secara finansial  sudah mampu, tetapi terus disupport dengan berbagai bentuk.  Bukan berarti kita tidak setuju dengan pemberian beasiswa kepada anak anak bangsa, termasuk mereka yng sesungguhnya sudah cukup ammpu membiayai  sendiri, nemun harus ada perioritas sehingga  hal hal mendesak dan emergensi akan dapat tertangani lebih dahulu.Kita juga melihat pemberian tunjangan  sertifikasi kepada guru masih banyak ketimpangan, karena tujuan sertifuikasi pada awalnya ialah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun dalam kenyataannya tidak demikian.

Kita sangat paham bahwa ada factor kemanusiaan dalam pemberian sertifikat  kepada sebagian guru, sehingga meskipun secara factual merka tidak dapat dianggap sebagai guru professional, tetap saja diberikan sertifikat, karena factor kemanusiaan.  Itulah yang menyebabkan  banyak anggaran yang tidak tepat sasaran.  Seharusnya setelah anggaran pendidikan menjadi 20% dari total APBN semuanya akan menjadi mudah dan  terjangkau, dan  seluruh anak bansga akan dapat merasakan  pendidikan, tetapi  sekali lagi dalam kenyataannya masih banyak diantara mereka yang tidak dapat sekolah.

Pemerintah memang sudah mendeklarasikan adanya  sekolah  gratis alias  semua  anak abngsa diwajibkan sekolah, akan tetapi pengawasannya sangat lemah, sehingga  akhirnya banyak diantara merka yang kemudian putus di jalan.  Lalu pertanyaannya ialah kenapa mereka bias putus sekolah tersebut, padahal sekolah bagi mereka adalah kewajiban? Apakah tidak ada yang mengingatkan, termasuk sekolah yang menampung mereka?

Ada beberapa alasan mengapa mereka  keluar dan tidka meneruskan sekolah, diantaranya ialah:

  1. Pembiayaan sekolah hanya menyangkut pembayaran uang bulanan sekolah yang diogratiskan, bahkan diantaranya juga ada yang  tidak gratis.  Nah, bagi mereka yang memang sama sekali miskin dan tidak mamp[u untuk membeli peralatan sekolah, tentu akan keluar, karena  pasti mereka akan malu kepada teman temannya yang mampu membeli tas, buku, dan juga sepatu.  Sementara mereka tidak mampu sehingga  merka beranggapa akan lebih baik tidak sekolah saja.  Apalagi kalau kemudian hal tersebut didukung oleh orang tuanya yang memang miskin, dan mereka akan lebih baik kalau ikut membantu orang tua.

Melihat kenyataan tersebut seharusnya kewajiban  anak usia sekolah untuk tetap  berada di sekolah tidak hanya semata sebuah himbauan dan hanya dibebaskan dari membayar uang bulanan, melainkan seharusnya juga dibiayai tentang peralatan sekolahnya sampai sepatu dan seragamnya.  Tentu bagi merka yang mampu dipersilahkan kepada orang tuanya untuk membelinya sendiri.  Dalamn hal ini pihak sekolah harus aktif dalam  memberikan [enbinaan dan penjelaan mengenai berbagai hal sehingga semuanya akan menjadi jelas.

  1. Kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Kita emmang menyadari bahwa kalau orang tua tidak berpendidikan, maka persoalan sekolah anak anaknya tentu tidak begitu dianggap penting, meskipun ada kewajiban dari pemerintah.  Nah, untuk itu diharapkan kepada smeua pihak, terutama pihak  perangkat desa bersama sama dengan para guru dan sekolah harus intensif memberikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama mereka yang miskin tentang pentingnya sekolah bagi anak anak mereka.
  2. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa sebagian orang tua akan lebih senang jika anaknya dapat membantunya dalam mencari rizki, semisal membantu kerja di sawah atau  membantu mendaci rizki dengan melakukan berbagai usaha yang dapat dilakukan oleh anak anak.  Kondisi seperti itu harus dapat dihentikan dan  orang tua agar dapat sada4r bahwa masa depan anak anaknya masih  sangat panjang dan harus dipersiapkan agar mereka menjadi lebih baik kondisinya ketimbang mereka.

Dengan begitu, yakni adanya kerjasama yang ap[ik diantara  orang tua dan pihak sekolah serta  pemerintah, diharapkan  akan muncul kesadaran yang tinggi  tentang pentingnya pendidiklan bagi anak anak dan dukungan orang tuia terhadap keberhasilan  mereka.

Dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional yang saat ini tampak sepi ini kita harus tetap bersemangat untuk  meninghkatkan kualitas pendidikan kita melalui berbagai cara yang dapat dilakukan.  Demikian puila kita harus dapat memastikan bahwa pemertaan pendidikan di  seluruh wilayah nusantara  ini akan dapat dijamah dan rasakan oleh seluruh anak bangsa.  Kalau masyarakat  umum  bias lupa  bahwa  2 Mei adalah hari pendidikan nasional, maka kita yang berada dalam dunia pendidikan seharusnya tidak boleh melupakannya.

Mungkin  sepinya  peringatan hari pendidikan nasional tidak harus dilihat dari sisi peringatan yang berbentuk upacara, melainkan kta harus dapat  membacanya sebagai usaha untuk konsentrasi meningkatkan kualitasnya.  Secara diam diam sesungguhnya para pelaku pendidikan sudah melakukan hal hal yang serius untuk  memajukan pendidikan kita walaupun tidak  dengan cara gembar gembor, dan itu menurut saya tetaplah harus dihargai sebagai upaya untuk  menambah kualitas pendidikan kita.

Hal terpenting bagi kita ialah bagaimana  kita mampu  mendidik anak anak bangsa kita emnjadi cerdas dan berdaya saing tinggi. Khususnya jika dihadapkan kepada  anak anak bansga lain. Di samping itu yang lebih penting lagi ialah abgaimana kita dapat menanamkan akhlak mulai dalam diri mereka sehingga pada saatnya kita akan menyaksikan betapa indahnya  Negara kita pada saat dikelola oleh mereka yang mempunyai integritas  dan  berpikiran dmei bangsa dan Negara.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.