BURUH DI NEGERI KITA

Sebagaimana kita tahu bahwa  persoalan buruh hingga saat ini belum selesai, karena memang masih banyak hal yang dituntutoleh mereka dalam upaya  memenuhi kebutuhan dasar mereka.  Berbagai upaya  pun juga sudah dilakukan bahkan beberapa  waktu yang lalu banyak dilakukan demonstrasi di berbagai tempat, yang intinya  menginginkan agar  kesejahteraan buruh menjadi lebih baik.  Disamping itu juga mereka menuntut  adanya  hari buruh nasional  yang kemudian  dijadikan sebagai hari besar nasional.

Untuk keinginan yang kedua tersebut, yakni menjadikan hari buruh nasional dan menjadi hari libur, saat ini sudah dipenuhi oleh pemerintah, sementara tuntutan dan keinginan  yang pertama, sebagiannya ada yang belum terpenuhi.  Kita juga tahu bahwa masing masing daerah mempunyai kekhasan sendiri sendiri, termasuk kekuatan dalam  memberikan upah kepada buruh.  Dengan demikian  upah minimal buruh akan ebrbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Kita sudha banyak berbicara dan komentar para ahlipun juga sudah dilontarkan, yang smeuanya  dalam upaya mengatasi persoala perburuhan.  Namun memang harus ada pengertian dari smeua pihak agar persoala tersebut dapat diminimalkan.  Hal tersebut disebabkan persoalan buruh itu  berbeda antara satu daerah dengan lainnya.  Ada  buruh yang memang kondisinya sangat memperihatinkan karena upahnya  sendsiri tidak  mampu untuk mengatasi kebituhan pokok.

Namun kita juga menyaksikan bahwa di sebagian daerah sesungguhnya upah  buruh sudah relati bagus dan  cukup untuk kebutuhan pokok, namun  mereka masih saja menuntut kesejahteraaan yang lebih.  Akibatnya para pengusaha merasa akeberatan untuk meningkatkan upah buruh tersebut, karena memang perusahaan juga sedang mengalami  kesulitan dalam perusahaan mereka.  Sebagaiannya karena bahan pokok untuk produksi meningkat tajam, sedangkan persoalan lainnya ialah bahwa daya beli masyarakat idak dapat dinaikkan, sehingga mereka akan kesulitan dalam hal tersebut.

Nah, dengan kondisi demikian jika  deipaksakan maka aka terjadis esuatu yang tidak diinginkan, salah satunya ialah ditutupnya perusahaan oleh pemiliknya, karena  tidak mau harus menanggung kerugian yang teruis menerus.  Sementara itu para buruh tidak mau tahu dengan kondisi perusahaan, dan hanya ingin mendapatkan haknya dengan sempaurna bahkan menginginkan kenaikan upah.

Kelihatannya memang tidak adil kalau kenyataannya memang demikian, karena itu  diperlukan adanya salingpengertian diantara  buruh dan pemilik perusahaan, agar persoalan tersebut dapat diatasi, yakni untuk sementara  dalam masa sulit tersebut, para  buruh untuk bersabar dalam tuntutannya mengenai kenaikan upah, dan para pengusaha juga harus ada komitmen untuk menaikan upah mereka jika  kondisiperusahaan mengalami kemajuan.

Kita pernah mendengar adanya kerjasama yang sangat luiar biasa bagusnya antara para pengusaha dengan para buruh, dimana mereka saling menopang dan membantu.  Artinya jika perusahaan sedang kesulitan, maka para buruh bukan saja  tidak menginginkan kenaikan upah, melainkan justru malah membantu perusahaan dengan iuran bersama.  Namun pada saat perusahaan mengalami kemajuan dan keuntungan, maka para pemilik perusahaan juga tidak lupa memberikan bonus dan kesejahteraan bagi para buruhnya.

Perusahaan tersebut pada akhirnya  menjadi sangat kuat, karena  ada pengertian dan saling membantu antara para buruh dengan para pengusaha.  Lalu kenapa  hal tersbeut tidak dijadikan sebagai cermin untuk  dilakukan hal yang relatif sama agar perusahaan yang sedang dibangun akan menjadi kuat dan survive dalam kondisi apapun.  Barangkali banyak pengusaha yang  hanya memikirkan keuntungan saja tanpa memperhatikan para burtuhnya, padahal tanpa para buruh tersebut, perusahaan tentu tidak akan dapat berkembang dan maju.

Jika   siapapun  lebih mementingkan dirinya  dan mengabaikan pihak lain  yang telah ikut andil dalam membantu dirinya untuk maju,  maka tentu akan banyak  muncul masalah yang pada saatnya akan sulit untuk diatasi.  Munculnya tuntutan kenaikan upah buruh sebagaimana yang kita  ketahui, salah satunya pasti tidak ada komunikasi yang baik dan saling pengertian diantara para pengusaha dengan para buruhnya.

Kita sangat yakin jika ada pengertian dan saling mendukung diantara mereka, pastilah akan terjadi  sebuah hubungan yang sangat bagus, bahkian seolah tidak ada jartak antara  mereka, terkecuali hanya  posisi mereka saja pada saat formal di perusahaan.  Selebihnya mereka akan bagaikana saudara sendiri dan akan saling membantu kebutuhan masing masing.  Nyatanya  sudah dibuktikan oleh beberapa perusahaan yang menerapkan  keadaan seperti itu.

Saat ini kita juga mengetahui bahwa mayoritas perusahaan yang ada di negeri kita tidak menerapkan  hal tersebut, dan masing masing hanya  menjalani kehidupan sebagiaman mekanik, sehingga pada saat tertentu akan timbul kecemburuan  kaena perusahaan telah dibantu dengan sekuat tenaga, akan tetapi nasib para buruhnya tetap saja menderita, dan hanya para pengusaha sajalah yang dapat menikmati keuntungan dengan lebih banyak.

Keirian tersebut tentu dapat dimengerti, terutama bagi para buruh yang sudah mengabdikan diri di perusahaan tersebut puluhan tahun, akan tetapi  nasibnya masih sama saja dan tidak ada perubahan kesejahteraan  bagi diri mereka.  Bagaimana mungkin mereka akan dapat tenang kalau  upah mereka tidak mencukupi hanya  sekedar memenuhi kebutuhan pokok mereka, sementara mereka  menyaksikan  bahwa perusahaan yang mereka berada di dalamnya terus mengalami kemajuna dan mendapatkian keuntungan yang besar.

Sebaliknya seharusnya para buruh juga  dapat mengerti kesulitan perusahaan, karena kalau  yang diinginkan hanya  peningkatan kesejahteraan semata, padahal perusahaan  sangat sulit, itu juga tidak adil.  Bahkan kalau pengusaha kemudian  menghentikan perusahaannya,  para buruh juga akan mengalami kerugian yang  besar, karena tidak mendapatkan pekerjaan lagi.  Sekali lagi  persoalan buruh tersebut memang harus  diurai sedemikian rupa sehingga diketahui  persoalan  apa yang  ada di perushaaan dan juga buruh.

Saat ini kita juga mengetahui bahwa para buruh secara  umum sudah lebih bagus kondisinya, terkecuali hanya beberapa  saja yang secara kasat mata memang masih dalam kesulitan besar, karena upahnya memang masih di bawah UMR.  Untuk itu pemerintah diharapkan akan selalu mengontrol dan mengawasi perusahaan yang ada di wilayahnya, dan memberikan  teguran kepada para pengusaha yang tidak memenuhi kewajibannya terhadap buruh.

Barangkali undang undang perburuhan juga   memerlukan  revisi dan disesuaikan dengan kondisi saat ini sebagaimana tuntutan sebagian buruh.  Intinya undang undang tersebut harus memastikan ada keberpihakan kepada buruh dan bukan sebaliknya, yakni keberpihakan kepada para pengusaha atau para konglomerat.  Saat ini undang undangperburuhan masih ada kecenderungan untuk memihak pengusaha, padahal posisi buruh   sangat lemah di hadapan pengusaha, meskpun saat ini sudah ada perbaikan poisis tersebut.

Hanya saja  secara praktek masih banyak pengusaha yang masih tidak mengindahkan undang undang perburuhan tersebut khususnya terkait dengan posisi para buruh tersebut.  Posisi buruh yang hanya  diikat dengan  kontrak   saja biasanya juga sangat rawan untuk pemutusan hubungan kerja.  Meskipun demikian memang harus ada posisi yang kuat juga bagi para pengusaha agar mereka tidak rugi dalam menghadapi para buruh nakal.

Jika buruh tersebut memang nakal dalam arti kerjanya tidak sesuai dengan  yang diharapkan, maka bagi pihak yang memperkerjaqkan harus diberikan hak untuk bersikap hingga pemutusan hubungan kerja.  Hal itu juga sekaligus untuk memberikian semangat bagi para buruh untuk tetap mentaati  aturan main dalam  pekerjaan yang telah disepakati untuk dilaksanakan.  Nah, jika semua hak dan kewajiban telah dijalankan dengan baik, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk  memutuskan hubungan tersebut, terkecuali memang telah habis masanya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.