RENCANA PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA

Akhir akhir ini  ramai dibicarakan tentang  pemindahan ibu kota negar ke Kalimantan Tengah atau kota Palangka Raya, meskipun untuk pemindahan ibu kota tersebut  sudah cukup lama dimunculkan, bahkan sejak pemerintahan Orde baru, yakni ke Kalimantan Timur, namun dalam kenyataannya hingga saat ini masih belum ada perencanaan yang serius.  Soal wacana seeprti itu dapat muncul setelah mengetahui betapa sempitnya Jakarta sebagai ibu kota  negera saat ini dan melihat betapa sulitnya mengurai masalah yang ada, seprti kemacetan, banjir dan lainnya.

Sebagai rakyat biaa sesungguhnya kita tidak perlu ambil pusing dengan segala  rencana apapun yang akan dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah, karena hal tersebut tidak ada kaitannya secara langsung dengan kita.  Akan tetapi yang terpenting ialah bagaimana rakyat tidak dirugikan dengan mempergunakan  anggaran yang semestinya diperuntukkan bagi rakyat kemudian digunakan untuk perpindahan tersebut.

Namun demikian sesungguhnya masih banyak hal yang perlu diperhitungkan untuk memindahkan sebuah ibu kota Negara, seperti persoalan sarpras yang mesti disdiakan sedemikian rupa, masalah transportasi, masalah ketersediaan bandara yang pantas dan layak sebagai sebuah ibu kota Negara dan masih vbanyak lagi persyaratan sarana prasarana yang harus dipenuhi sebelum perindahan etrsebut benar benar direalisasikan.

Tanpa menyediakan sarpras yang  dianggap layak tersebut, maka perpindahan  tersbeut hanya akan menuai persoalan yang lebih serius dan pastinya akan merugikan Negara dan masyarakat saja.  Mungkin p[emikiran  perpindahan ibu kota Negara etrsebut dapat dilakukan perencanaannya hingga beberapa tahun sebelum benar benar direncanakan secara serius.  Artinya harus ada kajian emndalam tentang ebrbagai hal yang harus dipenuhi  dan  dapat dijangkau oleh pemerintah dalam waktu yang tersedia.

Jika rencana perpindahan ibu kota tersebut merupakan   rencana Negara yang disepakti secara bulat oleh seluruh rakyat melalui para wakilnya, dan ekmudian juga akan tetap dijalankan, meskipun pemerintah telah berganti rezim, maka  hal etrsebut akan dengan mudah direalisasikan, namun kalau yang mempunyai keinginan tersebut hanya  pemerintah sendiri, dan jika pemerintah  berikutnya tidak menghendakinya lalu dihapus, maka itu hanya akan menghabiskan enegri dan biaya tanpa ada realisasinya.

Mungmin menurut sebagian anak bangsa yang saat ini menyaksikan betapa perekonomian kita sedang kurang bagus, ditambah lagi dengan kegaduhan di Senayan, maka  wacana perpindahan ibu kota Negara hanyalah dianggap angina lalu dan tidak akan mungkin dilakukan oleh pemerintahan Jokowi Jk.  Kalaupun mereka kemudian mewacanakannya, maka itu hanya untuk sebuah wacana semata dan diserahkan kepada public untuk mengkajinya dan sekaligus  mengira ngira kemungkinannya.  Dengan demikian   dalam waktu yang tersisa dalam pemerintahan Jokowi JK kali ini tidak akan mungkin dilakukan.

Atau mungkin masih ada yang menganggapnya sebagai guyonan dan atau mimpi di siang bolong semata, karena melihat berbagai hal yang dibutuhkan dalam sebuah ibu kota Negara, maka smeunya hanya  sekedar guyonan dan tidak serius.  Tentu kita dapat memahami pikiran yang menganggap sederhana  wacana tersebut, namun kita juga tidak akan memandang sebagai angin lalu terhadap wacana tersebut.

Hal tersebut didasarkan  kepada kenyataan  bahwa Jakarta sebagai ibu kota Negara saat ini  terlalu bising dan  terlalu padat dengan  segala permasalahannya.  Dengan demikian Jakarta sudah tidak idel lagi sebagai sebuah ibu kota, karena itu harus ada rencana untuk dipindahkan ke daerah yang memungkinkan.  Salah satunya ialah di Kalimantan Tengah yang masih emmpunyai lahan cukup luas dan berbagai kemungkinan yang dapat diprediksi sehingga  pada saatnya akan  dapat disetting dengan  bagus.

Kita semua sangat paham betapa Jakarta terlalu sibuk dengan persoalan yang tidak kunjung dapat diselesaikan.  Mulai persoalan kemacetan yang  sudah dicoba dengan berbagai cara untuk mengatasinya, tetapi hingga saat ini tetap saja macet dan tidak ada jalan keluar untuk mengurainya.  Demikian juga dengan persoalan banjir yang setiap tahunnya tidak pernah sepi.  Semua gubernur kewalahan menghadai  persoalan yang satu ini.  Beberapa waktu yang lalu katanya sudah dapat diatasi dengan penormalan kali yang ada.  Namun nyatanya masih tetap banir dan bahkan kadarnya semakin mengkhawatirkan.

Belum lagi tidak adanya  ruang terbuka yang dapat dijadikan sebagai taman bagi penduduk. Jakarta  sangat sumpek dengan hadirnya berbagai gedung bertingkat yang tidak dapat dicegah pertumbuhannya.  Semua orang yang punya duit rupanya ingin terus membangun di Jakarta meskipun  ruangnya sudah tidak ada.  Ruang ruang yang seharusnya emnjadi  wilayah public dengan dijadikan sebagai taman atau sarana lainnya yang bebas digunakan oleh public, justru malah berlomba untuk dibangun.

Nah, melihat kenyataan yang demikian rumitnya, sangat pantaslah jika kemudian muncul ide untuk memindahkan ibu kota Negara tersebut ke daerah lain.  Saya piker untuk tujuan itu tidak ada salahnya dan  kalau hal etrsebut serius direncanakan  maka tidak ada rakyat yang menolaknya, karena memang hal tersebut  menjadi alternative yang dapat membuat Negara kita lebih nyaman dan lebih dapat bergerak dengan leluasa di ibu kota Negara.

Selanjutnya mungkin nantinya Jakarta  dapat dijadikan sebagai  kota industri atau sebutan lainnya yang sesuaid engan mondisi jakarta  pada saatnya.  Tentu kita tidak akan mematikan jakarta sebagai kota metropolitan yang sudah  sekian lama menjdai ibu kiota negara kita, melainkan akan erus merawatnya dan emnjadikannya  lebih nyaman dan tujuan wisata  para turis manca negara.  Berbagai fasilitas yang ada masih akan terus dipertahankan dan  kelengkapan wilayah publik juga akan tetap dibuat dan fungsikan.

Namun seprtinya   untuk emndapatkan kesepakatan menyeluruh diantara  rakyat atau yang mewakilinya sangat berat karena berbagai kepentingan yang ada.  Kita masihn menyaksikan betapa kepentingan kekuasaan dan politis masih sangat dominan dibandingkan dengan pemikiran tentang bangsa dan negara secara umum.  Kita masih melihat adanya  dendam politik yang belum dapat dilupakan oleh sebagaian  para politisi dan masih berkeinginan bahwa  lawan politiknya  akan jatuh pada saat yang ditentukan.

Karena itu kalau mereka diajak untuk sesuatu yang baik yang bertujuan untuk kepentingan bangsa dan negara, justru mereka khawatir bahwa hal tersbeut  akan mendongkrak elektabilitas saingannya tersebut.  Dengan berpikir begitu maka  akan semakin sulit untuk emndapatkan persetujuan termasuk upaya untuk merencanakan perpindahan ibu kota negara tersebut.  Kita terkadang dibuat tidak mengerti oleh ulah para politisi kita yang seolah tidak memikirkan  negara dan bangsa tetapi hanya memkikirkan diri dan kelompok serta partainya saja.

Pendeknya jika  wacana perpindahan ibu kota tersebut dipikirkan, sebaiknya tidak pwerlu secara serius teruitama bagi kita sebagai rakyat biasa, karena toh kita yakin bahwa wacana etrsebut hanya masih sebatas sebagai wacana semata dan belum serius untuk direncanakan.  Namun tidak ada salahnya jika kita berdiskusi  meikirkan hal tersebut  sekaligus juga sbagai upaya untuk mencari pemecahan masalah atas ibu kota kita yang sudah terlalu padat dan sarat dengan masalah.

Mudah mudahan  nantinya ada keadaran yang massal dari mayoritas bangsa ini sehingga  wacana tersebut pada akhirnya akan dapat direalisasikan. Entah kapan waktunya kita menyerahkan kepada  kemampuan pwemerintah dalam mengusahakannya.  Kita tentu akan mendukung keputusan yang terbaik dan menguntungkan kepada rakyat secara umum.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.