TANAH RENCONG

Dahulu  pada saat Aceh masih menjadi wilayah konflik, Aceh memang sangat menyeramkan, bahkan kalau  pergi ke Aceh dan bisa pulang dnegan selamat, maka itu sudah karunia luar biasa, karena memang  di  banyak tempat, konflik selalu saja muncul dan tidak mengenal waktu.  Namun saat ini Aceh sungguh luar biasa aman dan sama sekali tidak ada kesan seram sama sekali, bahkan  dalam urusan keamanan dapat dibilang sangat meyakinkan.  Jika ada pencuri yang  ketahuan lalu ada teriakan  pencuri misalnya, maka seketika  masyarakat akan beramai ramai menangkapnya, dan kalau tidak segera ketahuan oleh aparat, maka  pencuri tersebut akan mati dikeroyok masyarakat.

Beberapa kali saya  pergi ke Aceh  saya dapat menyaksikan  betapa masyarakat Aeh sangat menyukai kehidupan di malam hari sehingga Aceh di malam hari seprti selalu hidup.  Al tersebut setidaknya dapat disaksikan oleh siapapun yang  berada di Aceh, karena di sepanjang jalan  di kota banda Aceh ada kedai kedai kopi yang selalu hidup dan dikunjungi oleh masyarakat Aeh bahkan hingga pagi hari.  Terkadang muncul pertanyaan dibenak saya, lalu pada siang hari apakah mereka tidak bekerja, kalau semalaman mereka harus begadang?.

Sudah barang tentu dengan mudah kita akan menjawaqbnya bahwa  bagi mereka yang suka  kehidupan malam hari tentu  mereka yang muda dan mungkin tidak mempunyai tanggung jawab pekerjaan di siang harinya.  Sementara itu bagi mereka yang mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan pekerjaan di siang hari, tentu tidak akan  begadang semalaman, melainkan cukup hingga setengah malam saja.

Kita pun dapat meyakini bahwa masyarakat Aceh  tentu akan lebih banyak yang beristirahat di malam hari ketimbang mereka yang  bergadang di malam hari tersebut.  Gambaran bahwa kota Aceh itu selalu hidup di malam hari hanya untuk menunjukkan bahwa di Aceh saat ini sudah tidak ada lagi konflik dan kekhawatiran, masuk di malam hari sekalipun.  Bagi siapapun yang menginginkan berkunjung ke Aceh akan dapat dengan aman  menyusuri setiap wilayah di Aceh, baik siang hari maupun malam hari dengan sangat aman.

Saat ini, terutama setelah peristiwa Tsunami di Acveh yang sangat memilukan itu, Aceh sudah menjadi  daerah  tujuan wisata, khususnya untuk melihat situs situs bekas tsunami dengan beebrapa saksi yang saat ini  dapat dilihat dengan mata telanjang, seprti adanya kapal yang mendarat di daratan, kuburan massal, adanya perahu yang  hinggap di atap rumah, masjid di pantai yang tetap utuh dan lainnya.

Kita juga sangat tahu melalui informasi dan sekaligus juga dapat membuktikannya sendiri tentang kelezatan kopi khas Aceh yang sangat dikenal tersebut.  Begitu kita mendarat di kota Banda Aceh kita akan dapat  merasakan nikmatnya kopi dengan berbagai sajian sesuai dengan keinginan kita.  Bagi mereka yang menyukai kopi, sudah barang tentu akan dapat  merasakan betapa nikmatnya kopi Aceh tersebut dan bagi mereka yang tidak dapat menikmatinya, sesungguhnya juga amsih dapat mencobanya.

Makanan khas ala Aceh juga  dengan mudah kita dapatkan, seperti mie Aceh yang  sangat lezat yang dapat dijumpai di  pinggir jalan dan juga ayam khasnya.  Kalau saya senediri sesungguhnya  sangat terkesan dengan mie Acveh dengan kuah merah yang sangat menantang, dan ternyata bukannya pedas yang syaa rasakan, melainkan  justru disitulah letaknya kelezatan tersebut.  Pada  awalnya memang  tampak menakutkan, khususnya bagi merka yang tidak menyukai rasa pedas, namun setelah mencicipinya  ternyata  bukan pedas yang didapatkan, melainkan rasa sedap karena  kuah tersebut ternyata  tidak pedas.

Nah,  pada saat pionir digelar di banda Aceh, tepatnya di UIN Arraniry kali ini, sudah barang tentu seluruh kontingen dari seluruh  Indonesia ingin menyaksikan berita dan informasi yang sudah mereka pegang, dan sekaligus membuktikannya.  Namun  perlu diberikan  peringatan bahwa jangan sampai keinginan untuk menyaksikan beberapa situs di Aceh tersebut kemudian  justru melupakan tugas an kewajibannya dalam pionir  tersebut.

Artinya semua pihak harus pandai pandai  memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan   hal hal yang lebih penting terlebih dahulu, baru kemudian untuk hal hal yang sifatnya tambahan dapat dilakukan  dengan memanfaatkan waktu luang atau  setelah semuanya selesai dijalani.  Artinya smeua pihak, khususnya para pendamping kontingen harus senantiasa waspada dan  mengawasi  denganbaik agar semuanya dapat berjalan sebagaimana mestinya dan  tidak ada yang merugikan knotingen secara umum.

Khusus bagi mereka yang saat ini sedanag emnnjadi  delegasi atau kontingen PTKIN sebaiknya memang berkonsentrasi penuh dalam perlombaan dan pertandingan yang digelar, dan setelah semuanya selesai barula dapat melakukan hal hal yang menjaid penghibur seperti mengunjungi tempat tempat ebrsejarah di Aceh dan berbelanja  sesuatu yang khas Aceh dan lainnya. Ha;l terpenting  ialah bagaimana tugas utama dapat dijalankan dengan baik dan kemudian juga  ada kenangan yang mendalam selaa di Aceh.

Barangkali perlu diingatkan kepada smeua pihak agar nanti setelah semuanya selesai dan masih ada waktu longgar, kiranya akan  kurang afdlal kalau tidak mengunjungi tem,pat yang dianggap sebagai titik paling ujung  di Indonesia, yakni  kilo meter 0 yang terletak di Sabang.  Mungkin sedikit meluangkan waktu satu hari untuk pulang pergi mengunjunginya, karna kalau sampai lebih dari satu hari tentu juga akan ada  hal yang terbengkelai dan itu berarti merugikan kepada pihak lain.

Mungkin juga kita masih ingat dengan pahlawan nasional yang dar Aceh semacam Cut Nyak Din, Teuku Umar dan lainnya yang semua itu dapat kita jadikan sebagai sala satu tokoh dalam memberikan semangat dalam mengarungi hidup di dunia.  Meskipun hanya dengan berbekal senjata seadanya, mereka toh sanggup untuk melakukan sesuatu yang sangat luar biasa bagi rakyat dan bangsanya.  Itulah spirit yang perlu kita warisi dari mereka dan bukan sekedar mengenalnya  saja tanpa dapat mengambil makna yang terkandung di dalam nama besar mereka.

Aceh memaqng dikenal dengan  tanah rencong, itu karena senjata andalan masyarakat  Acveh, lebih lebih bagi para pahlawannya ialah rencong, yang saat ini masih erus dijadikan sebagai  icon senjata yang dibuat dalam berbagai ukuran.  Kita dapat  menjadikannnya sebagai salah satu koleksi benda kenangan yang dapat memberikan inspirasi  bagin kita untuk terus  berjuang dan membela kebenaran.  Rencong memang semacam keris  di jawa, tetapi biasanya bentuknya sedikit berbeda, tetapi mungkin juga ada kesamaan fungsinya.

Rencong sangat dikenal oleh dunia luar Aceh, bahkan kemudian saat ini sudah menjadi nama bagi daerah etrsebut.  Orang akan  tahu ketika disebut tanah rencong, kaena hanya Ace\hlah yang memang dapat dikonotasikan dengan tanah rencong tersebut.  Karena itu memang tidak salah ketika  suatu saat  kita juga menyebutnya sebagai tanah encong, meskipun  secara resmi nama Aceh itu ya Aceh dan kotanya disebut dengan Banda Aceh, atau biasa juga disebut dengan naggro Aceh Darussalam.

Mudah mudahan  saat ini  seluruh kontingen  pionir yang sedang ebrlaga di Aceh tersebut  mendapatkan kenyamanan dan juga kenangan manis.  Kita smeua berharap kota Banda Aceh, sebagaqimana juga kota kota lainnya di Indonesia menjadi  tujuan wisaa yang menyenangkan, bukan saja bagi orang Indonesia, melainkan juga bagi rakyat dunia. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.