TERSENYUMLAH

Mungkin ajakan ini terlalu sedrhana untuk direnungkan, karena untuk sekedar tersenyum saja itu merupakan hal yang paling mudah untuk dilaksanakan, akan tetapi dalam kenyataannya seringkali kita justru menyaksikan sebaliknya, yakni adanya sebagian orang yang sangat sulit untuk tersenyum. Bukan karena  apa apa melainkan  karena senyum itu sungguh sangat mahal, khususnya bagi mereka yang sedang mempunyai masalah berat ataupun lebih lebih jika sedang mempunyai persoalan dengan  kita.

Ketika seseorang sedang bermasalah dengan keuangan misalnya, tentu dia akan selalu konsentrasi kepada persoalannya, dan jika dia  bergerak sudah barang tentu akan ditujukan menyelesaikan persoalannya tersebut.  Nah, pada saat pikiran sudah  dipengaruhi oleh hal hal tertentu yang menyita perhatiannya, maka untuk melakukan senyuman kepada pihak lain, akan terasa amat sulit.  Tentu terkecuali jika memang sudah ada komitmen diri untuk selalu mengutamakan senyum tersebut, terlepas  dengan apapun yang terjadi.

Jika  orang tersbeut pandai  memerankan diri dan sudah ada komitmen diri untuk tidak pernah mengecewakan pihak lain, maka sesulit apapun dan seberat apapun beban yang sedang dipikulnya,  maka dia pasti akan mudah tersenyum untuk orang lain.  Pada prinsipnya tidak ada seorang pun yang terlepas dari persoalan, karena  setiap orang pasti akan mempunyai persoalannya masing masing.

Persoalan berat ringannya persoalan sesungguhnya tergantung  pada penyikapan masing masing orang.  Artinya  dapat saja ada orang yang persoalannya sangat berat secara umum, namun jika dia menyikapinya dengan santai, maka persoalannya akan terasa ringan, tetapi sebaliknya, jika ada orang yang sesungguhnya persoalannya  tampak ringan secara umum, namun kemudian dalam penyikapannya  tidak tepat, maka  akan terasa begitu berat bagi dirinya.  Begitulah hidup di dunia itu memang  tergantung kepada cara bagaimana seseorang menyikapinya.

Nah, ajakan untuk tersenyum tersebut sesungguhnya juga mengandung makna bahwa  hidup itu jangan  terlalu dipenuhi oleh hal hal yang dapat menutup pikiran kita sehingga  apapun yang sedang kita hadapi terasa berat, melainkan cukuplah persoalan hidup itu  dihadapi dengan penuh optimisme, karena kepercayaan diri kepada Tuhan yang begitu besar dan tulus.  Kita mempunyai Tuhan yang Maha Kuasa dan Menentukan, lalu kenapa kita harus bersusah payah dalam menghadapi hidup?.

Seharusnya kita memasrahkan  hidup kita secara total kepada Nya dalam arti yang benar.  Artinya kita tetap berusaha untuk melakukan sesuatu yang mesti kiita jalankan, akan tetapi hati dan pikiran kita harus selalu tertaut kepada Tuhan, dan jangan sampai kita sendirian dalam menghadapi hidup ini, sehingga akan terasa berat.  Maksudnya ialah kalau kita selalu menyerahkan dan memasrahkan seluruh usaha kita kepada Tuhan, pastinya hati dan pikiran kita akan terasa ringan, karena sikap kita akan tetap sama yakni mensyukuri semua keputusan Tuhan tersebut.

Jika keputusan Tuhan tersenyata secara umum menyenangkan dan menguntungkan kepada kita, sudah pasti kita akan  mensyukurinya, namun jika keputusan Tuhan ternyata secara umum  tidak menguntungkan atau bahkan tampak merugikan kepada kita, maka kita pun akan berperasangkan baik kepada Tuhan, karena  pasti Tuhan mempunyai  rencana lain yang lebih baik, meskipun kita belum mengetahuinya, tetapi keyakinan kita tersebut akan membantu meringankan beban yang sedang menempel pada diri kita.

Dengan demikian ketika hati kita tidak terpengartuh leh irama dan aya hidup yang memberakan diri, pastinya  kita akan merasa  tidak terlalu berat dalam emnghadapi hidup di dunia ini, meskipun mungkin secara lahir kita sedang mengalami  kekurangan dalam berbagai bidang.  Dengan sikap hidup yang demikian kita tentu masih daat  dengan mudah untuk tersenyum, terutama  untuk pihak lain yang sedang berhadapan dengan kita.

Bukankah Rasulullah saw pernah  menyatakan bahwa jika kita memang tidak mempunyai harta atau sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pemberian, maka cukuplah kita memberikan senyuman bagi siapapun yang bertemu dengan kita, dan itu sudah dianggap sebagai sedekah.  Jadi tidak ada alaasan bagi umat muslim untuk tidak bersedekah setiap harinya.  Namun jika kita memang mempunyai sedikit harta maka kita harus bersedekah dengan harta tersebut, bukan sekedar hanya dengan senyuman saja.

Kita juga sangat yakin bahwa ada hubungan yang erat antara senyum dengan karakter kita.  Artinya jika kita memang termasuk tipe orang yang bakhil dan sulit untuk berbagi dengan sesama,  maka kita juga  akan sangat sulit untuk memberikan sekedar senyuman kepada mereka.  Karena itulah kita memang harus membiasakan diri, kalau perlu memaksakan diri untuk sering berbagi dan memberi kepada siapapun, khususnya  kepada mereka yang memang tidak mampu dan berada di sekitar kita.

Dengan membiasakan diri untuk berbagi, kita akan meraskaan betapa ringannya beban hidup pada diri kita.  Membiasakan diri untuk berbagi tersebut sekaligus juga  dapat dijadkan sebagai wahana untuk mencapai ketulusan dalam semua hal.  Mungkin masih ada sebagian orang yang memaksakan untuk berbagi, tetapi dengan memilih orang orang yang dharapkan akan membalasa membagi kepadanya, yakni justru  memberikan sesuatu itu bukan kepada mereka yang tidak mampu, melainkan justru kepada mereka yang  biasa memberi.

Bukan tidak boleh memberi kepada mereka yang kaya atau mampu, tetaqpi justru dianjurkan  pemberian tersebut diberikan kepada orang orang yang tidak mamu, sebab jika pemberian tersebut untuk mereka yang mampu, biasanya kurang tulus, karena seolah sebagai balas jasa atas pemberian mereka, namun jika pemberian tersebut kepada mereka yang miskin, maka  secara ksaat mata  tidak akan ada pegembalian dari mereka, sehingga akan membentuk diri kita menjadi tulus.

Justru akan jauh lebih baik jika  kita justru memberikan sedekah atau sesuatu pemberian itu kepada mereka yang tidak biasa memberi.  Hal tersebut di samping akan membuat diri kita tulus, juga sekaligus akan membangkitkan rasa untuk juga berbuat yang sama  bagi  mereka.  Artinya kalau orang tidak biasa memberi atau kikir, lalu selalu diberi, maka lama lama diharapkan akan muncul rasa keinginannya untuk berbagi juga.  Namun kalau misalnya dasar kikir dan mereka tidak akan mau memberi juga,  kita tidak akan rugi dengan pemberian tersebut.

Mari berikan senyuman kepada setiap orang sesuai dengan porsinya, dan bukan dengan mengumbar senyum tanpa perhitungan.  Artinya kalau kita senym senyum sendiri tanpa memperhatikan suasana  lingkungan, bisa bisa  malah kita akan menerima kenyataan pahit ataas penilaian orang lain.  Sebaiknya kita memang murah senyum kepada siapapun jika kita sedang berpapasan dan saling memandang, meskipun kita belum kenal dengannya, karena yang demikian tentu merupakan bentuk keramahan yang ada  pada diri kita dan kita wujudkan dalam penampilan kita.

Kita juga yakin bahwa dengan  sering tersenyum kepada pihak lain, selain  sebagai wujud keramahan kita juga sebagai bentuk keinginan kita untuk selalu merajut kebersamaan dan itu merupakan  cara sehat untuk  merawat diri kita.  Senyum itu merupakan salah satu tanda  bahwa kita bahagia, meskipun ketika kita sedanag dirundung sakit dan masalah pun kita tetap dianjurkan untuk tersenyum.  Jika kita mempraktekkan senyum tersebut, insyaallah kita akan mendapatkan kemudahan  dan  keringanan hidup serta sehat. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.