ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Hari ini merupakan hari yang ke 27 bulan Rajab, dan sebagaimana biasa umat muslim di seluruh dunia meyakini bahwa  pada saat itulah dahulu nabi  Muhammad saw menjalani Isr’ Mi’raj sebagimana yang sudah snagat dikenal di kalangan umat muslim.  Di dalam al-Quran, Allah swt juga telah menyampaikan berita tentang hal tersebut, yakni  di awal surat al-Isra’ yang intinya mengabarkan bahwa Allah sudah memperjalankan hamba Nya, yakn I nabi Muhammada saw pada malam hari dari masjid al-haram di makkah  sampai ke masjid al-Aqsha di palestina.

Perjalanan Isra’ tersebut dipenuhi dengan keberkahan disekitar beliau agar beliau dapat menyaksikan langsung tanda tanda kekuasaan Nya.  Nah, dalam beberapa riwayat, kemudian kita mengetahui bahwa tanda tanda  kekuasaan Tuhan  tersebut sangat benyak sehingga nabi Muhammad saw sendiri kemudian emmpunyai pengalaman yang sungguh luar biasa, terkait dengan umat umat terdahulu dan juga umat beliau yang akan mengalami berbagai hal sebagaimana digambarkan dalam riwayat tersebut.

Dalam perjalanan tersebut nabi  Muhammad saw dipertemukan dengan bebrapa Nabi lainnya yang sudah mendahuli beliau dan beliau pun dapat berdialog dengan mereka. Nabi tidak sendirian, karena malaikat Jibril selalu setia mendampingi beliau selama perjalanan tersebut sehingga ketika  Nabi  berkeinginan untuk mengetahui sesuatu yang dilihatnya, maka cukuplah Nabi bertanya  kepada Jibril dan Jibril pun dengan seang hati akan menjawab dan menceritakan peristiwa yang dilihatnya etrsebut.

Terlepas dari riwayat tersebut bernilai sahih ataukah bukan, namun umat muslim sudah mempercayai hal tersebutyangs ebagiannya tentu diriwayatkan oleh para ulama ahli hadis yang tidak diragukan lagi krediobilitasnya, seperti imam al-Bukhari, imam Muslim dan lainnya.  Nah, kita mengetahui berbagai cerita  yang ditunjukkan kep[ada Nabi tersebut sekaligus juga sebagai pelajaran  bagi kita tentang apapun yang patut dan harus kita  lakukan  saat di dunia ini.

Pernah Nabi diperlihatkan  pada orang orang yang disiksa sedemikian hebatnya, yakni mereka sendiri  menggunting lidah mereka sendiri, padahal mereka sangat kesakitan, menjerit dan  mengaduh demikian memilkukan, namun anehnya setelah itu lidah mereka kembali  utuh lagi dan mereka lalu mengguntingnya lagi dan begitu seterusnya.  Tentu Nabi heran dan lalu bertanya kepada Jibril, dan dia kemudian menjwabnya bahwa itu merupakan gambaran umat yang saat hidupnya selalu mengadu domba dan memfitnah dengan kata kata mereka serta menyakitkan  sesamanya.

Pada  kesempatan lainnya Nabi juga emnyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan, yakni ada sekelompok orang yang justru memukul kepalanya sendiri dengan benda padat hingga kepalanya pecah mengucurkan darah dan seisi kepala.  Mereka kesakitan dan  merintaih sedemikian menghibakan, namun kemudian setelah secara cepat pulih kembali kepala tersebut, mereka memukulnya kembali dan begitu seterusnya, sehingga Nabi kemudian bertanya kepada Jibril tentang hal tersebut.  Jibrilpun kemudian emnjelaskan bahwa itu merupakan gambaran umat yang  merasa menyesal karena sata di dunia  selalu bermaksiat dan tidak mengerjakan kewajibannya.

Tentu masih banyak lagi pengalaman perjalanan Isra’ nabi, karena dalam riwayat tersebut banyak sekali pelajaran hidup yang mesti diketahui oleh  nabi dan umatnya agar  selanjunya umat Nabi  akan menjalani kehiduopan yang lebih baik, lebih selamat dan emnjanjikan  kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat.  Hanya saja dalam kesempatan ini kiranya tidak bijak  kalau kemudian  hanya menceritakan kisah tersebut saja karena masih ada banyak hal yang lebih harus disampaikan kepada umat agar mereka menjadi lebih baik  dan dapat melakukan perencanaan dengan lebih baik lagi.  Untuk itu kita akan elbih focus untuk mebicarakan  tentang  hasil dari Isra’ tersebut, dan bukan proses perjalanannya.

Sebagaimana kita tahu bahwa  dalam perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut pada akhirnya Nabi  menghadap Allah swt secara langsung di Sidratul Muntaha untuk menerima perintah secara langsung  dari Tuhan, yakni tentang kewajiban menjalankan perintah shalat lima waktu.  Kita tahu bahwa  seluruh perintah yang harus dikerjakan oleh Nabi dan umatnya selalu disampaikan oleh Allah swt melalui perantara Jibril, akan tetapi khusus untuk pwerintah shalat ini, Allah swt langsung  menyampaikannya kepada Nabi, sehingga  shalat tersebut merupakan kewajiban yang istimewa.

Salah satu keistimewaan shalat ialajh bahwa shalat itu harus dijalankan oleh  smeua muslim yang sudha baligh dan memenuhi unsur taklif, baik dia itu dalam kondisi sehat maupun sakit.  Hal ini tentu berbeda dengan kewajiban lainnya, seprti puasa ramadlan, meskipun wajib dijalani, akan tetapi boleh ditinggalkan jika sedang sakit dan harus dipenuhi pada saat yang lain.  Juga berbeda dengan zakat dan haji, dimana  semua itu boleh  ditinggalkan jika tidak emmenuhi persyaratan yang ditertapkan.

Bahkan kita juga tahu bahwa Nabi emngajarkan kepada kita untuk menjalani shakat dengan  duduk bila memang kita kesulitan untuk menjalankannya dengan berdiri, lalu kalau dengan dudukpun juga masih kesulitan, kita dipesilahkan untuk menjalaninya dengan tiduran miring, dan seterusnya dengan telentang dan  kalau memang masih suilit boleh dengan cara bagaimanapun tetapi melalui isyarat mata atau anggota badan yang masih memungkinkan.

Itulah  keistimewaan shalat bagi umat muslim, dengan demikian kita sebagai umat tentu tidak boleh melupakan atau tidak menjalankannya.  Secara khusus Nabi Muhammad saw juga pernah memberikan informasi kepada kita tentang  pertanyaan  Tuhan di akhirat nanti, yakni  pertama kali seorang hamba nanti akan ditanya di akhirat ialah tentang shalatnya, jika shalat seorang hamba tersebuit bagus dalam artio yang sesungguhnya, maka seluruh amalannya juga akan emnjadi bagus, dan sebaliknya jika shalatnya jelek atau tidak pernah shalat, maka amalihanya juga akan jelek.

Allah swt juga sudah memberikan isyarat kepada kita  tentang shalat yang benar tersebut, yakni bahwa  jika seseorang menjalankan shalat dengan benat, maka otomastis dia akan  menjauh dari perbuatan keji dan mungkar.  Nah, pertanyaannya ialah mengapa masih ada orang yang  rajin shalat tetapi masih juga melakukan kemaksiatan dan dosa?.  Jawaban gampangnya ialah akrena dia mungkinbelum menjalankanshalat dengan benar sehingga shalatnya tidak mampu menyetirnya kearah yang baik dan menghindar dari yang mungkar.

Jadi  dengan memperingati  Isra’ Mi’raj nabi Muhammad saw saat ini kita harus  dapat merefleksikan  tentang shat tersebut denganbbaik.  Artinya  setipa muslim yang memang berkewajiban untuk menjalankan shalat tersebut harus terus menerus memperbaiki shalatnya, agar  keseluruhan hidupnya dapat terarah  dan menjaid  baik.  Kita tidak lagi menginginkan bahwa  ada muslim yang rajin shalat tetapi maksiatnya masih tetap berjalan.  Kita harus kasihan kepada mereka, karena tidak mendapatkan berkah dan hikmah shalat itu sendiri.

Namun demikian semua itu memang  tidak dapat secara langsung dan tiba tiba, melainkan harus bertahap dan masing masing orang harus ada ghirah dan keinginan besar untuk menjalankan shalat dengan benar serta menghindarkan dirinya dari semua kemaksiatan dan kekejian.  Insyaallah kalau kita mau berusaha dan  belajar secara terus menerus tanpa bosan  bahkan  dengan disertai dengan kecintaan yang amat kepada Tuhan, pasti kita akan  mendapatkan  apa yang kita inginkan tersebut.

Pada akhirnya mari peringati Isra’ Mi’raj kali ini dengan memberikan penjelasan dan pencerahan kep[ada umat tentang peran pentingnya shalat dalam diri kita.  Dengan terus menerus kita saling mengingatkan dalam hal yang baik tersebut, insyaallah hati kita akan terbuka dan menerima kebajikan demi kebajikan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.