MENDENGARKAN SUARA HATI

Memang benar bahwa hati itu tidak  dapat bersuara sebagaimana mulut, namun biaanya dalam bahasa kinayah orang dapat  mengatakan bahwa apapun  dalam sekujur badan kita akan mampu berbicara meskipun bukan dalam arti yang sebenarnya.  Orang sering mengatakan bahwa lambaian tangan seseorang akan dapat dianggap sebagai berbicara tentang sesuatu, demikina juga dengan bahu seseornag  dapat juga dibaca sebagai berbicara sesuatu.

Karena itu tidak heran jika  kemudian muncul istilah suara hati dari seseorang.  Barangkali semua itu disebabkan oleh  prediksi orang tentang fungsi anggota tubuh kita.  Hati biasanya melambangkan ketulusan  sehingga akalau yang berbicara itu hati, pastilah  tulus dan  benar, bahkan kalau hanya mulut saja, seringkali  malahan berbohong.  Untuk itu jika kita ingin memutuskan sesuatu yang  akan berakibat pada  masa depan kita, sebaiknya kita mendengarkan kata hati kita masing masing.

Kita semua tentu pernah mengalami kejadian yang membuat diri kita sangat  sedih, bukan karena  sebab kehilangan orang yang kita cintai misalnya, melainkan hanya disebabkan pilihan kita terhadap sesuatu ternyata salah besar sehingga penyesalanlah yang kemudian tersisa.  Pilihan yang kita tetapkan tersebut biasanya  dipengaruhi oleh  nafsu atau karena gengsi terhadap  kondisi sekitar.  Itulah kebiasaan  yang seringkali dilakukan oleh  manusia, tanpa harus meminta petunjuk atau setidaknya mendengarkan suara hati yang tulus dan murni.

Ketika akan memutuskan apakah akan membeli kendaraan mobil ataukah tidak, seseorang kemudian terdorong untuk membelinya, namun bukan karena itu merupakan sebuah kebutuhan yang mutlak, melainkan hanya  sebuah keinginan dan gengsi semata.  Sementara itu kondisi keuangannya  dan gajinya setiap bulan sesungguhnya belum cukup untuk membeli mobil.  Demikian juga untuk pergi puilang kerja, sudah ada kendaraan roda dua yang dosamping ngirit dalam aspek bahan bakar minyaknya, juga  mudah dan murah perawatannya.

Nah, ketika  sudah tahu  betapa beratnya  memiliki moboil, yang ternyata hamper setia[ bulan harus  masuk ke bengkel karena  kondisi mobil sudah tua atau karena sebab lainnya.  Itu belum memperhitungkan BBM yang harus dikeluarkan setiap harinya, sehingga kondisinya semakin menyedihkan dan kebutuhan primernya pun akhirnya harus tertunda.  Itulah kemudian mengapa dia merasakan betapa sedihnya  hidup saat itu dan  semuanya akan  terjadi karena pada awalnya tidak meminta  atau mendengarkan suara hati tersebut.

Coba jika  pada saat akan memutuskan membeli mobil terlebih dahulu meminta dan mendengarkan suara hati, tentu tidak akan sampai menderita seperti saat ini.  Hati pastilah akan mempertimbangkan bahwa memiliki  mobil, apalagi  bukan baru, pastilah akan banyak resiko, yakni membengkelkan dan  segala macam kerepotan yang pasti akan dialaminya.  Hati pulalah yang kemudian akan mengeremnya untuk tidak malu atau  gengsi dengan mereka yang bermobil.

Nah, kalau suaran hati tersbeut kemudian didengar, maka  kesenangan hidup pasti akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya  kepercayaan diri dan gaji yang pasti meningkat.  Motor miliknya yang tetap setia menemaninya tersebut juga akan tetap berpiojhak kepadanya karena perawatannya ringan dan BBM nya juga sangat irit.  Begitulah biasanya orang menyesal setelah smeuanya sudah terjadi, dan sulit untuk dikembalikan lagi pada posisi semula.

Kalaupun sudah kesulitan seperti itu, biasanya manusia juga tidak mau mendengarkan suara hati, tetapi akan lebih memilih berdiam diri atau bahkan juga  menuruti emosi dan nafsunya sehingga kehidupannya akan semakin sulit dan terasa sengsara.  Dalam kondisi seprti apapun, sesungguhnya suara hati itu snagat berguna terutama untuk menetralisir keadaan, agar tetap stabil dan  lebih memikirkan masa depan yang lebih baik.

Bayangkan saja jika setelah merasa kecewa dengan kondisi yang sangat sulit tersebut, lalu dia tidak memikirkan lebih jauh tentang  akibatnya di masa depan,  dia akan memilih menjual mobilnya dan ekmudian berusaha untuk pinjam di bank untuk membeli mobil yang lebih bagus atau bahkan mobil yang baru dengan pertimbangan nantinya tidak akan  sering ke bengkel.  Ternyata pertimbangan akalnya semata itu dipengaruhi oleh emosi dan nafsu sehingga tidak memikirkan persoalan income yang tidak significant untuk membeli mobil baru.

Akibatnya  kehidupannya  semakin sulit, karena banyak menanggung hutang dan gajinya hanya cukup untuk seekdar makan secara sederhana saja. Sementara persoalan yang harus dicovernya ialah biaya pendidikan anak, kesehatan dan lainnya yang pasti  akan terus  membutuhkan uang.  Dengan kondisi sepertyi itu hidupnya selanya tidak akan pernah senang karena harus terus meneerus menghadapi problem serius dalam kehidupannya.

Namun jika sebeluam memutuskan untuk mengganti mobilnya tersebut, dia mendengarkan suara hatinya, tentu akan didengarnya saran yang cukup bijak, yakni agar mobil tersebut dijual saja  lalu untuk membayar hutang yang tersisa, dan selebihnya kemudian  dapat hidup tanpa diburu hutang dan meskipun hanya berkendaraan motor, tetapi akan lebih bahagia dan nyaman karena kebutuhan lainnya tercukupi, seperti kesehatan, pendidikan dan juga kebutuhan  lainnya.

Jadi sesungguhnya suara hati itu sungguh  sangat luar biasa dan jika kita mau mendengarkannya dan mengikutinya, akan dapat diprediksi bahwa kehidupan kita akan jauh lebih baik dan nyaman.  Biasanya  nafsu ataupun  ego seseorang itu akan sangat mudah dikalahkan oleh hati, dan bukan oleh akal semata.  Kita tahu bahwa sesungguhnya akal yang sehat dan terkontrol akan dapat menjadi penyejuk dan pemimpin yang bagus, akan tetapi saat ini akal yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang ialah akal yang sudah terkontaminasi oleh kepentingan duniawi.

Dengan demikian akal tersebut tidak akan mampu berdiri sendiri, terkecuali harus disertai oleh hati.  Itulah sekali lagi kita mesti bertanya terlebih dahulu kepada hati nurani kita yang paling dalam sebelum memutuskan sesuatu yang  akan berakibat panjang dalam hidup kita.  Jangan sampai kita  akan menyesal setelah semuanya terjadi dan merugikan kita, karena kalau hal tersebut terjadi pada diri kita sudah barang apsti kita akan  mengalami kesulitan yang mungkin juga akan emnghabiskan usia kita hanya untuk memikirkan  kesulitan tersebut.

Kenapa kita tidak berpikir rasional dan  diiringi oleh hati yang  akan memberikan kecerahan dan kegembiraan di saat ini, dan saat mendatang?  Bukankah hidup  di dunia ini hanya sekali saja dan  setelah itu kita akan emnjalani proses berikutnya, yakni hidup di alam barzah dan selanjutnya nanti di alam akhirat.  Lalu bagaimana kita  tidka berpikir dengan hati  yang selalu menyertai bahwa  hidup itu harus kita manfaatkan untuk kesenangan yang bukan menyesatkan, melainkan kesenangan yang membahagiakan?

Bukankah  permohonan kita setiap hari ialah “wahai Tuhan berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia, dan kebahagiaan di akhirat serta  selamatkan dan jagalah kami dari api neraka”.  Doa tersebut jika kita renungkan dan  diusahakan untuk diwujudkan, memang  diperlukan usaha nyata, dan bukan asal saja.  Usaha yang kita lakukan untuk berbahagia di dunia tentu kita harus  bekerja  sepenuh hati dan menimatinya sedemikian rupa, bukan dengan cara menyiksa diri karena belitan hutang.

Sementara  untuk usaha persiapan hidup di akhirat tentu kita harus juga melakukannya sejak saat ini, seperti menjalankan  seluruh perintah Tuhan, berbaik dengan sesame dan selalu perhatian dan peduli kepada seluruh makhluk Tuhan.  Dengan begitu kita akan benar ebnar baik dan sejahtera di dunia dan juga kahirat. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.