PENGEMIS JALANAN

Mungkin pada zaman dulu kita sama sekali tidak membayangkan bahwa mengemis itu merupakan sebuah harapan  yang dapat mendatangkan kekayaan. Pada zaman utu yang namanya pengemis itu merupakan sebuah aib, karena keterpaksaan sajalah mereka mau merendahkan diri dengan meminta minta kepada pijhak lain, hanya sekedar untuk menyambung hidup.  Namun saat ini kondisinya sudah sangat berbeda bahkan 180 derajat, karena  mengemis itu sudah dijadikan sebagai saran untuk mencari keuntungan dan kekayaan, alias dijdaikan sebagai pekerjaan atau bahkan profesi.

Sungguh dunia ini kebalik balik, sesuatu yang terhormat malah dianggap sebagai pekerjaan hina dan aib, sedangkan sesuatu yang sesungguhnya  harus dihindari kecuali keterpaksaan, malah dijadikan sebagai  pilihan.  Saat ini kita dapat menyaksikan betapa banyaknya pengemis yang  lalu lalang di jalanan dan bahkan mengganggu perjalanan lalu lintas kendaraan bermotor.  Mereka banyak mabngkal di perempatan jalan, dan lampu pengatur lalu lintas jalan, di tepat tempat keramaian dan lainnya.

Bahkan kalau kemudian kita sedikit mau meneliti, maka kita akan menemukan sebuah pemandanagn yang sangat ganjil yakni kebanyakan diantara para pengemis tersebut aialah mereka yang masih sangat kuat untuk bekerja dan bahkan kita akan terperangah jika mengetahui  yang sesungguhnya mereka itu.  Diantara mereka  bahkan ada yang mempunyai kendaraan mobil dan rumah yang sangat bagus.  Kalau hanya sekedar kendaraan bermotor saja mungkin hamper semua pengemis tersebut sudah mempunyai, termasuk mengongkosi anak anaknya sekolah di luar kota.

Jadi pada dasarnya merka itu menjadikan mengemis sebagai pekerjaan dan mereka sangat mengandalkan hal tersebut, karena  pendapatnnya setiap[ hari tidak kurang dari seratus ribu rupiah, sangat jauh lebih baik ketimbang mereka yang bekerja sebagai buruh atau menajajakan  dagangan  emreak di pasar dan lainnya. Atas dasar pendapatan yang begitu besar itulah akhirnya  banyak  orang yang  tertarik untuk menekuni  pekerjaan sebagai pengemis tersebut.  Namun bukan dalam asri mereka menelusuri setiap rumah,  melainkan justru mereka itu berada di jalanan.

Anak anak jalanan yang sudah pernah merasakan bagaimana mudahnya mencari duit dari jalan tersebut tidak akan kerasan berada di panti atau rumah singgah untuk diberikan berbagai ketrampilan danpendidikan, karena  merrka pastinya ingin bebas dan melakukan apapun sesuai dengan keinginan mereka.  Bahkan ada diantara mereka yang masih di bawah umur, tetapi sudah berani main perempuan dan minum minuman keras.   Itu merupakan tantangan bagi kita smeua termasuk para pejabat di pemerintahan.

Secara pribadi saya  sudah membeikan masukan kepada pemerintah kota pada saat itu untuk  berinisiatif mengajukan perda yang melarang orang memberikan santunan atau sedekah kepada para pengemis jalanan tersebut, karena akibatnya akan semakin fatal, yakni semakin banyak pengemis yang apsti akan mengganggu  pemandangan kota dan sekaligus juga akan memancing para anak anak  jalanan untuk tidak mau dibina di panti social dan lainnya.

Sesungguhnya perda tersebut akhirnya sudah terbit, akan tetapi ternyata tidak dijalankan dengan konsisten, karena para petugas  di jalan yang seharusnya melansanakan peda tersebut  tidak menjalankannya dengan baik.  Jika gerakan tersebut dijalankan  secar aserentak untuk ebebrapa bulan saja di awal, insyaallah akan  ada perubahan  yang significant.  Artinay siapapun yang kedapatan emmberikan  sedekah kepada pengemis di jalanan lalu ditindak dengan hukuman denda, maka  mereka tidak akan berani lagi memberikan sedekah tersebut.

Akibat lainnya ialah bahwa para pengemis dengan sendirinya akan minggir dan tidak lagi beroperasi karena pasti tidak akan mendapatkan penghasilan.  Namun sayangnya hal tersebut tidak terlaksana dan pengemis justru semakin hari semakin banyak.  Di beberapa daerah ainnya sesungguhnya juga sudah dibuat perda serupa, akan tetapi karena kekurang konsistenan para petugas, akhirnya para pengemis akhirnya juga tetap beroperasi dengan bebasnya.

Sesungguhnya islam sudah sangat jelas memberikan  pedoman bahwa sebaik baik rizki ialah yang dihasilkan dari kerja tangannya sendiri, bahkan  digambarkan oleh Nabi Muhammad saw bahwa jika ada orang yang dengan tangannya sendiri mencari kayu bakar di hutan, lalu dibawanya  ke pasar untuk dijual, itu jauh lebih baik ketimbang orang tersebut mekinta minta, baik dikasih ataupun ditolak.  Itu artinya bahwa perbuatan meminta minta itu merupakan perbuatan yang sebaiknya dihindari kevul;ai memang sangat terpaksa.

Jika ada orang yang masih dapat berusaha atau pbekwerja, lalu malas dan tidak mau menjalankan pekerjaan atau usaha tersebut dan lebih memilih mengemis, maka orang tersebut sesungguhnya sudah menghinakan dirinya sendiri.  Memang  jika seseorang terpaksa hartus meminta kepada orang lain, maka itu diperbolehkan tetapi bukan untuk memperkaya diri, melainkan sekedar untuk menyambung hidupnya saja.  Nah, kalau sudah ada niat mengemis untuk memperkaya, maka itu sama dengan eprbuatan yang sangat hina dan tidak selayaknya dilakukan oleh orang beriman.

Kita masih memaklumi  para pengemis yang   memang benar benar tidak punya dan  juga tidak mampu untuk berusaha, karena itu kita justru harus menyantuni mereka.  Namun rupanya jenis pengemis yang demikian  saat ini sudah sangat suklit untuk dicari. Meskipun pengemis semakin hari semakin banyak tetapi jenisnya ialah yang  menjadikannya sebagai mata pencaharian semata.  Coba kita lihat di ebebrapa tempat ramai, pasti di sana akan muncul banyak pengemis, mungkin juga pengemis musiman dan jadi jadian.

Bahkan jika kita keluar dari masjid setelah shalat jumat misalnya, kita akna menyaksikan betapa banyaknya mereka yang antri berderet di sepanjang pintu keluar masjid untuk meminta belas kasihan kepada para jamaah.  Kita juga pasti akan menemukan banyak pengemis di beberapa makam para wali atau orang baik di beberapa tempat, khsusunya yang benyak dikunjungai oleh para penziarah.  Bahkan terkadang kita sampai rishi karena mereka seolah memaksa kita untuk memberikan sedekah kepada mereka.

Kita tahu bahwa sebagian diantara merka itu ada yang tidak layak untuk emnjadi pengemis meskipun sebagiannya ada yang kita maklumi.  Keberadaan mereka tentu akan mengganggu penzarah dan anehnya pemerintah tidak berdaya untuk menggusur mereka dengan berbagai alasan.  Nah, kita sesungguhnya bukan  bakhil untuk berbagai dan emmberikan sedekah kepada mereka, melainkan kita  juga kitranya harus mendidik kepada mereka agar mereka  tidak mengandalkan hanya dengan mengemis, padahal mereka itu  mampu untuk berusaha dan bekerja.

Barangkali kalau ada pengemis yang dating ke rumah kita, kita  akan  merasa ksihan kepada mereka  karena biasanya merka itu memang tidak mampu benaran dan  emmbutuhkan uluran tangan kita, tetapi mereka yang mengemis di jalanan tentu kita harus bersikap untuk tidak memberi kepada mereka, bukan  karena kita tidak kasihan, melainkan justru kita ingin mengembalikan mereka kepada jalan yang benar, dan tidak akan membiarkan mereka untuk terus dalam jalan yang salah dan hina.

Tuhan tentu akan memberikan jalan ternaik bagi siapapun yang secara  sungguh sungguh mau berusaha mendapatkan karunia Nya yang digelar di jagat raya ini.  Jika mereka sudah berusaha tetapi belum juag mendapatkan hasilnya, tentunya harus terus bersabar dalam menekuninya, dan pada saatnya pasti Tuhan akan membukakan pintu rizki yang cemerlang untuk keperluan dunianya dan juga untuk investasi ahiratnya juga. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.