MENELADANI DOA NABI

Biasanya orang berdoa itu merupakan keinginan agar Allah swt memberikan yang terbaik bagi kita atau orang lain yang didoakan, sehingga banyak orang pula yang  ketika bertemu dengan orang lain, selalu saja meminta agar didoakan.  Bahkan ketika ada seorang ulama kharismatik yang dianggap tidak berdosa dan suci, maka banyak orang pula yang memintanya untuk mendoakan.  Doatersebut ada kalanya  diminta dengan umum yakni  didoakan agar baik, selamat dan beruntung, tetapi ada kalanya  merupakan doa khusus, seperti mempunyai anak, mendapatkan jodoh, mendapatkan pekerjaan dan lainnya.

Jadi masyarakat sesungguhnya sangat meyakini bahwa kekuatan doa itu sangat kuat dan menentukan, setidaknya dengan doa tersebut orang akan mendapatkan kekuatan lebih atau tambahan untuk mengupayakan terwujudnya keinginan yang  dicita citakan.  Kita sesungguhnya juga sangat meyakini bahwa tuah doa itu nyata, karena Allah swt sendiri telah memerintahkan kepada umat Nya untuk selalu berdoa dan memohon kepada Nya untuk apapun, dan Tuhan akan mengabulkannya.

“ud ‘uni astajib lakum”, begitulah Titah Tuhan kepada umat manusia, bahkan Tuhan akan menganggap manusia itu  ebrlaku sobong jika tidak mau meminta kepada Nya, sebab yang Mayha kaya dan menentukan itu adalah Allah swt  dan bukan yang lain.  Logikanya kalau kita meyakini hal tersebut tidak ada jalan lain selain kita harus terus meminta kepada Nya dalam hal apapun.  Bahkan pada setiap moment apapun kita seharusnya wajib meminta kepada Allah agar kita diberikan kekuatan untuk dapat menjalankan sesuatu tersebut.

Kalaupun  misalnya kita akan berkerja dan  badan kita tanpak sangat sehat pun, kita harus tetap meminta kepada Tuhan agar kita diberikan kesehatan, kekuatan dan keamanan dalam menjalankan tugas yang menjadi pekerjaan kita.  Dengan doa semacam itu kita akan semakin  yakin bahwa kita akan dilindungi oleh Allah swt dan sekaligus akan diberikan apa yang kita minta.  Kita tidak tahu bahwa sewaktu waktu bias saja Tuhan menentukan lain, semacam kecelakaan di jalan, sehingga mengakibatkan kita sakit atau bahkan meninggal dunia dan lainnya.

Kita juga mengetahui bahwa sejak zaman nabi Adam AS hingga nabi Muhammad saw,  mereka selalu mendekatkan diri kepada Allah swt dan selalu saja berdoa kepada Nya.  Dengan demikian tradisi berdoa itu merupakan tradisi para Nabi dan kita sebagai pewaris Nabi tentunya harus tetap melestarikannya dalam setiap kesempatan.  Kita  tahu bahwa saat nabi Adam melanggar  aturan Tuhan untukl tidak mendekat dan memakan buah yang menurut iblis akan dapat mengekalkannya di surge, maka Tuhan  memberikan sanksi kepadanya dan  akhirnya Adam pun berdoa memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah swt.

Nabi Ibrahim pada saat berada di tanah tandus makkah yang secara  nalar di sana tidak  akan dapat dihuni apalagi untuk mendapatkan kehidupan yang layak, namun kemudian Ibrahim berdoa kepada Allah swt agar beliau dan keturunannya diberikan kehidupan yang makmur di sana, dan dilengkapi dengan  berbagai buah dan sauran yang akan dapat dinikmati mereka, ternyata Allah pada akhirnya mengabulkannya hingga saat ini.

Begitu pula dengan nabi Muhammad saw saat  beliau menemukan apapun dan dalam kondisi apapun selalu saja memohon kepada Allah tentang kebaiakan, bukan tentang keburukan.  Bahkan ketika beliau disakiti, dihina dan diperlakukan tidak  semestinya pun beliau tetap saja memohon kepada Allah agar semuanya diberikan kebaikan.  Bahkan saat malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk menumpas penduduk yang menyakiti dan emnghina beliau, beliau malah mendoakan  kepada penduduk tersebut dengan doa kebaikan.

Inilah contoh doa  para nabi yang tentu berkeinginan untuk kebaikan umatnya, bukan untuk keburukan umatnya.  Kita memang mengetahui  dahulu ada sebagian nabi yang saking jengkelnya lalu mendoakan buruk kepada umatnya sehingga Allah benar benar menurunkan  adzab bagi umatnya.  Akan tetapi yang terjadi ialah rasa menyesal kenapa umatynya tersebut selalu saja membuat keburukan dan  akhirnya diberikan adzab oleh Allah swt.

Nabi kita  Muhammad saw merupakan Nabi yang sungguh sangat santun dan akhlaknya  begitu mulia, sehingga Tuhan sendiri memujinya melalui salah satu ayat di dalam kitab suci “wa innaka la’ala  khuluqin ‘adhim”, dan sesungguhnya engkau Muhammad  sungguh berakhlak mulia”.  Karena itu kita tidak melihat sedikitpun  dendam dalam  diri beliau kepada  siapapun, termasuk mereka yang jelas jelas berusaha memusuhi dan bahkan ingin menghabisinya.

Mereka yang berada dan emmosisikan diri sebagai lawan pun oleh beliau tetap dianggap sebagai manusia yang  harus dihormati, sehingga kiota mengenal sejarah beliau bahwa siapapun, termasuk kawan maupun lawan, menghormati dan segan kepada beliau.  Sungguh  merupakan akhlak yang tidak ada bandingannya di dunia ini.  Bagiamana mungkin beliau dapat memperlakukan mereka yanag menyakitinya  sebagai kawan?

Kita  tahu bahwa ada orang yang setiap harnya sengaja menyakiti beliau dengan cara meludahi dan begitu setiap harinya.  Lalu suatu saat Nabi tidak mendapati orang tersebut, lalu Nabi justru melah mencarinya dengan menanyakannya kepada  orang banyak.  Lalu Nabi emndapatkan jawabannya bahwa orang yang dimaksud sedang  menderita sakit cukup berat. Demi emngetahui hal tersebut bukannya Nabi kemudian gembira dan  lega, melainkan justru Nabi bertandang kerumahnya untuk menjenguknya.

Betapa terkejutnya orang tersebut, karena dia mengiora Nabi akan membalas dendam pada saat dia sdang sakit, tetapi dengan lembutnya Nabi menyapa dan  menyampaikan salam, lalu beliau bertanya tentang sakitnya dan ekmudian didoakannya dengan tulus.  Orang tersebut sungguh ternyuh dengan akhlak nabi yang begitu  mulia.  Nabi yang selalu disakitinya, justru beliaulah yang  mau dating emnjenguknya saat sakit dan sekaligus mendoakannya.  Padahal kawan kwannya tidak ada satupun yang  mau menjenguknya.

Demi mengetahui hakikat akhlak Nabi itulah kemudian orang tersebut berikrar untuk mengikuti Nabi.  Itulah yang seharusnya kita  teladani dan  wujudkan dalam kehidupan kita.  Lalu kenapa kita masih menyimpan dendam, sakit hati dalam diri kita dan juga keinginan untuk terjadinya keburukan pada orang lain?  Masih inginkah kita kembali kepada kondisi jahilaiyyah  setelah nabi sendiri memberika keteladanan kepada kita?

Kita tentunya mengerti bahwa  sebagai manusia biasa kita tidak mungkin akan dapat meneladani Nabi secara keseluruhan, akan tetapi jika kita memang berkeinginan tentunya kita masih dapat mencontoh beliau walaupun tidak semuanya.  Setidaknya  dalam hal memperlakukan kepada orang lain, kita harus berusaha untuk tidak membalas dendam atau menyakiti mereka, melainkan justru memperlakukan mereka dengan baik.  Mungkinrasa kesal masih tersisa dalam diri kita, atau rasa sakit masih juga terasa dalam diri kita, tetapi akan jauh lebih baik jika rasa kesal dan sakit tersebut kita simpan saja dalam hati.

Jangan sampai kita terbawa oleh nafsu untuk  memusihi pihak lain dan bahkan berdoa tentang keburukan mereka.  Oleh karena itu kiota sangat menyesalkan dan berharap tidak diteruskan  kemarahan  seorang tokoh dan mendoakan hal yang buruk juga kepada siapapun yang tidak sehaluan dengan  dirinya. Bahkan hanya karena persoalan pilihan yang terkait dengan persoalan p[olitik saja, lalu harus  mencederai persaudaraan dengans esama muslim.

Kita tahun bahwa  ada  yang memusuhi dan bahkan juga mendoakan jelek kepada siapapun yangbtetap memilih pemimpin non muslim dalam persoalan pilkada DKI. Doanya juga sangat serem, agar diberikan sakit, dikelurakan dari pekerjaan, diberikan kemiskinan,  diberikan kesusahan dan segala macam hal yang susah dan sulit.  Walaupun doa tersebut belum tentu dikabulkan oleh Tuhan, tetapi tindakan yang demikian  tentu bukan merupakan  tindakan yang mengacu kepada ajaran nabi kita  Muhammad saw.

Semoga kiota terhindarkan diri dari semua perbuatan jahat, perbuatan maksiat dan menyakiti pihak lain.   Kita juga berharap bahwa harti kita selalu dicerhkan oleh Allah swt, sehingga akan mudah memaafkan pihak lain yang salah, dan dimudahkan untuk emngikuti teldan dari nabi kita Muhammad saw. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.