HANYA KEPADA MU YA ALLAH KAMI MENYEMBAH DAN MEMINTA PERTOLONGAN

Salah satu ayat dalam surat pertama al-Quran yakni surat alfatihah berbunyi “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” yang berarti hanya kepada Mu ya Allah kamu menyembah dan hanya kepada Mu lah kami memohon pertolongan.  Meskipun hanya  singkat namun sesungguhnya nbermakna sangat luas dan dalam, sehingga kita perlu  menjabarkannya sedemikian rupa hingga menjadi jelas bagi siapapun.

Menyatakan perkataan tersebut sesunggunya kita sudah berkomitmen untuk tidak akan pernah memikirkan dan menyatakan bahwa ada Tuhan  atau kekuatan lain selain Allah swt, sehingga kita pantas untuk  menyembanya.  Dan hanya Allah lah yang  pantas untuk menjadi Tuhan, sehingga kita harus menyemba Nya.  Namun jika pernyataan tersebut tidak diresapi, terkadang ada orang yang  secara lahir menyatakan tentang komitemen tersebut, tetapi dalam kenyataannya  dia malah menuhankan yang lain.

Kita dapat menyaksikan betapa banyak orang yang sangat mempercayai sesuatu selain Allah swt, sehingga orang tersebut seolah menuhankan benda tersebut, semisal terhadap ang, seolah uang adalah segalanya, tidak pandang waktu, pagi, siang, soe dan malam pun yang diingat hanyalah uang, bukannya Allah swt sebagai Dzat yang Maha Segalanya.  Nah, kelakuan spweeti itu sunggu sangat disesalkan, karena  orang tersebut dapat dipastikan akan selalu mengingat uang dan melupakan  selainnya.

Uang itu bukan Tuhan, dan  hanya merupakan  sebuah alat transaksi alam kehidupan umat manusia, sehingga tidak selayaknya terus dipikiran dan diburu.  Manusia itu  memang membutuhkan uang atau enda lain yang biasanya sangat disukai oleh manusia, akan tetapi kesenangan tersebut  tidak boleh melebihi kesenangan kita  kepada Tuhan dan perbuatan baik.  Uang yang kita cari setiap saat itu belum pasti akan membahagiakan kita, bahkan sering kali malah sebaliknya menyengsarakan kita.  Karena itu seharusnya sikap kita terhadapnya biasa saja.

Sementara itu  Allah swt yang kita  akui sebagai Tuhan, sudah seharusnya kita perlakukan sebagai Yang harus kita ingat dana  puja untuk seluruh watu kita.  Hanya Tuhan lah yang mampu  membuat hidup kita bahagia atau sengsara, hanya Tuhanlah yang akan mampu memutuskan tentang  segala hal yang terkait dengan  keberadaan kita dan seterusnya.  Karena Tuhan itu yang Memtuskan, tentunya kita harus selalu memohon kepada Nya tentang hal hal yang terbaik bagi kita.

Dengan demikian  sesungguhnya kita harus selalu mengingat dan menyebut nama Nya dan juga memohon  kepada Nya. Kenyakinan sperti itulah yang seharusnya kita tanamlan dalam kalbu kita sehingga kita tiak akan pernah berpaling dari Nya.  Bahkan jika Tuhan sedang menguji kepada kita  tentang hal hal yang tidak baik bagi kita, kta harus tetap mempercayai Nya bahwa ujian itu dimaksudkan untuk kebaikan kita juga.

Menyembah kepada Allah swt itu merupakan sebuah keniscayaan bagi umat manusia, khususnya yang menyadari dan kemudian mengakui bahwa hanya Allah lah yang mampu memutuskan segala sesuatu, karena  Allah lah yang Menciptakan dunia ini beserta seluruh isinya, bukan yang lain.  Jika ada orang yang  menuhankan  selain Nya berarti orang tersebut hanya menuhankan benda ciptaan Allah swt, sehingga tingkatannya sungguh tidak sebanding dengan Sang Pencipta sesungguhnya.

Menyembah itu identik dengan menggantungkan seluruh hidupnya kepada sesuatu yang disembah tersebut.  Dengan begitu jika kita  menyembah selain Allah, sama artinya kita menggantungkan segala sesuatu yang terkait dengan hidup kita kepada sesuatu tersebut.  Nah, dengan begitu kita akan  menyadari bahwa  menggantungkan sesuatu kepada  selain Alah, sudah pasti hanya pepean kosng belaka, karena selain Tuhan itu hanyalah benda ciptaan Nya.

Karena itu jika kita sudah menyadari bahwa kekuatan Allah itulah yang seharusnya  dinilai sebagai kekuatan yang tidak ada duanya,  dan kemudian kita meyakininya sebagai Tuhan, maka sudah secara otomatis kita akan menuhankan Allah swt tersebut.  Persoalannya ialah masih banyak amnsuia yang tidak mau berpikir sedemikian jauh sehingga tidak akan pernah mendapatkan kesimpulan yang benar.  Namun seharusnya jika seseorang tidak mau berpikir seperti itu, cukuplah  dengan mengikuti mereka yang  hebat dan berpikir jernih dan mendapatkan kesimpulan tentang  Allah swt tersebut.

Dengan mengikuti mereka yang tercerahkan itu sesungguhnya seseorang sudah  dianggap benar karena mereka yang tercerahkan tersebut tentu akan mempertanggung jawabkan pendapat dan kesimpulannya kepada siapapun juga.  Kita menyadari bahwa memang tidak semua orang akan sama dalam hal  kemampuannya untuk menyimpulkan sesuatu, sehingga sangat pantas jika ada sebagian manusia yang cukup  emngikuti mereka yang baik dan bijak saja.  Apalagi kalau yang diikuti ntersebut memang  dapat dibuktikan kebenarannya.

Tentang Tuhan tersebut, kita semua  sudah membuktikannya, yakni melalui berbagai peristiwa yang menimpa umat manusia kita sesunggunya juga dapat menyaksikan secara langsung befpa  Allah itu Maha Segalanya, dan  manusia  sudah seharusnya mengabdikan dirinya  secara penuh kepada  Allah swt tersebut.  Dengan demikian sesungguhnya perdebatan mengenai hal ini sudah cukuip dan kita hanya tinggal mengikutinya atau sebaliknya menetangnya.

Pengambilan sikap tersebut sudah barang tentu mengandung resiko, yakni  tanggung jawab masing masing orang untuk pilihannya etrsebut, karena mansuia sudah dilngkapi dengan akal pikiran oleh Tuhan.  Jika  kesimpualnnya adalah mengakui Allah swt sebagai satu satunya Tuhan yang layak, maka  dia harus dengan sadar  menyembah dan menyerahkan seluruh  urusannya  hanya kepada Nya.  Sebaliknya jika dia itu tidak mengakui dan bahkan melah menentang Nya, maka dia dipersilahkan untuk melakukan apapun sesuai dengan kehendanya, tetapi semua itu harus dipertanggung jawabkannya nanti di alam kekekalan.

Ajaran Islam yang terkandung dalam  salah satu ayat di  surat alfatihah tersebut sunggu sangat luar biasa, khsuusnya terkait dengan kepatuhan  seseorang kepada Tuhannya.  Komitmen untuk selalu menyembah hanya kepada  Allah swt dan  hanya meminta perolongan kepada Nya merupakan komitmen dasar yang memang harus dilalukan oleh semua  umat manusia yang mengakui Allah swt sebagai Tuhan.

Memang ada kalanya kita harus  membedakan antara  mengakui secara substansi dengan  adanya beberapa wasilah yang  mengarahkan kepada keberadaan Tuahn tersebut.   Kita ambl contoh misalnya kita sudah berkomitmen untuk menyembah hanya kepada Tuhan dan hanya memeinta pertolongan hanya kepada Nya, bukan berati kita kemudian menafikan segala hal yang wujud di dunia ini, karena secara riil kita  memang harus berhubungan dengan segala hal yang ada di dunia ini.

Jika kita sedang sakit lalu komitmen kita  adalah  hanya meminta pertolongan kepada Tuhan, lalu kita hanya  berdoa saja tanpoa harus berusaha untuk mendapatkan obat  atas sakit kita tersebut, maka kesimpulan tersebut  tidak dapat dibenarkan, karena bagaimanapun juga kita itu masih membutuhkan usaha yang  dapat dilakukan.  Cuma  ketika nanti ikhtiyar kita tersebut  jodoh dan penyakit kita kemudian menjadi sembuh,  maka kita harus meyakini bahwa kesembuhan tersebut ialah  karena kehendak Allah swt.

Obat yang kita usahakan tersebut hanyalah sebagai wasilah saja karena kita  secara riil  tidak akan dapat  melihat  Allah sat di dunia ini, sementara penyakit kita sangat tampak nyata.  Untuk itu sekali lagi kita harus dapat membedakan antara  pernyataan  hanya memnta perolongan kepada Allah swt dengan usaha kita untuk menyembuhkan  sebuah penyakit. Kedaunya dapat berjalan seiring   dan hanya keyakinan kitalah yang akan membedakannya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.