MASALAH PELEDAKAN PENDUDUK

Sebagaimana kita tahu bahwa perkembangan penduduk itu sedemikian hebatnya setelah pengendaliannya dilepas.  Peran BKKBN yang dahulu gencar menyuarakan agar  masyarakat membatasi kelahiran agar dapat dilakukan perencanaan keluara yang  baik dan ke4sejahteraan juga akan lebih terjamin, namun seiring dengan kebebanan yang demikian kuat, program keluarga berencana pun juga mulai  memudar.

Akibat selanjutnya kita sudah dapat menebak, yakni peledakan penduduk demikian besar dan sangat mungkin pada saatnya justru akan   dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi secara umum.  Kalau pertumbuhan ekonomi besar pun  jika tidak diimbangi denganpengendalian pertumbuhan penduiduk dengan normal, maka  seperti tidak ada artinya pertumbuhan ekonomi tersebut.  Hal itu disebabkan bahwa  secara nalar akan mudah dipahami bahwa jika ekonomi bertambah, tetapi  jumlah orang yang harus menikmatinya  juga bertmabah, maka pertmabhana ekonomi tersebut tidak akan  dapat dirasakan.

Dahulu saat zaman orde baru, saat BKKBN berperan aktif dan didukung oleh para ulama,  pertumbuhan penduduk  sangat ideal, mungkin secara nasional sampai pada 2,6 %  saja, sehingga keberhasilan KB tersebut dapat dirasakan dengan sangat mudah. Tanda keberhasilan KB tersebut ialah pada saat banyak sekolah yang dibangun untuk memenuhi tuntutan  banyaknya penduduk, yang bisanya disebut dengan SD Inpres, yang kemudian  tutup, karena tidak ada muridnya lagi.

Akan tetapi saat ini kita  sudah dapat menyaksikan betapa pertumbuhan penduduk demikian pesat, hingga kalau ini tidak dikendalikan,  sekitar 5-7 tahun mendatang, ledakan penduduk kita akan sangta luar biasa.  Itu sekaligus juga pasti dibarengi dengan merosotnya kesejahteraan bagi masyarakat secara umum.  Nah, untuk itu kiranya  kita perlu untuk  terjun memberikan pencerhaan kepada masyarakat tentang pentingnya peencanaan yang matang terhadap keluar ke depan.

Memang ada semacam kepercayaan di masyarakat bahwa  semua makhluk hidup itu pasti akan mendapatkan rizkinya masing masing, sehingga kalaupun anak banyak, pasti  seluruhnya akan mendapatkan rizki, sehingga  dengan demikian kita tidak perlu membatasi diri  melahirkan anak.  Biarlah T7uhan sendiri yang akan memikirkan  rizki tersebut.   Keprcayaan tersebut tentu harus dijelaskan dengwn rinci, karena kalau tidak, maka akan banyak kesalahan yang  pada akhirnya akan  merugikan amsyarakat itu sendiri.

Memang Tuhan pasti akan memberikan rizki kepada makhluk Nya, akan tetapi Tuhan tidak akan begitu saja memberikan rizki tersebut tanpa usaha  dari kita.  Nah, kalau rizki yang kita peroleh misalnya  100 dalam setiap bulannya, maka kita akan  dapat menghitungnya sendiri berapa yang harus kita butuhkan  jika anak kita berjulmah 2 orang, dan juiga berapa kalau anak kita misalnya 6 orang.  Bagian masing masing anak tentu akan berbeda.  Dengan demikian dengan membatasi kelahiran, kita akn lebih mampu mensejahterakan anak.

Memang benar saat ini tidak ada tekanan atau paksaan untuk emmbatasi kelahiran, melainkan hanya himbauan kepada masyarakat agar  mereka dapat berpikir dengan jernih, merencanakan  keluarganya dengan baik dan itu semua dari kesadaran mereka sendiri.  Jika memang ada orang yang merasa mampu dengan kalkulasi tertentu dan memang secara riil  dia  mampu untuk mensejahterakan anak anaknya nanti, maka  tidak dilarang seseorang untuk mempunyai anak lebih banyak.  Jadi sesungguhnya semua itu  merupakan pilihan amsing masing orang dan  diharapkan agar semua keputusan tersebut sudah dianalisa dengan sangat cermat.

Kita juga sudah tahu bahwa saat ini opersoalan pengangguran sudah sedemikian marak, bahkan mereka yang  berpendidikna saja masih banyak ynag nganggur.  Itu artinya diperlukan lapangan kerja yang memungkinkan  para pengangguran tersebut dapat bekerja.  Nah, dengan kondisi seperti itu kalau kita mau berpikir secara  baik, tentu kita harus memikirkan juga tentang bagaimana kalau  pertumbuhan penduduk sedemikian pesat, maka  persoalan pengangguran tersebut  semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu.

Memang terkait dengan berbagai masalah lainnya, seperti kemiskinan, kebodohan dan juga terkait dengan pendidikan itu sendiri.  Bagaimana pendidikan kita  mampu menghasilkan para lulusan yang  tidak hanya mengandlkan menjadi pegawai saja, melainkan justru bagaimana perguruan tinggi kita mampu mencetak tenaga yang siap menjalankan usaha mandiri dan bahkan pada saatnya justru akan menciptakan lapangan perkejaan.

Kita memang  memahami bahwa tidak sluruh program studi di setiap perguruan tinggi  mengarahkan mahasiswanya untuk  melakukan inovasi dalam bidang bnidang tertentu dan  mereka dilatih dengan kemampuan keahlian tertentu, karena perguruan tinggi pada umumnya  hanya akan mencetak ilmuawan yang mampu melakukan inovasi dalam bidang keilmuan.  Sementara hanya beberapa prodi tertentu saja yang sengaja  mengenalkan kepada mahasiswa untuk melakukan  usaha usaha dalam bidang bidang  tertentu.

Pemberian ketrampilan  dan  pengenalan terhadap dunia usaha  memang dapat dilakukan, akan tetapi tidak akan  terkonsentrasi secara khusus  dalam persoalan usaha tersebut.  Barangkali ke depan dibutuhkan adanya program studi yang arahnya ke vokasi sehingga  para mahasiswa diharapkan anak  dapat melakukan  usaha sendiri setelah lulus nantinya.  Artinya  mereka memang dibekali secara khusus tentang ebrbagai ketrampilan yang  nantinya dapat dipraktekkan di masyarakat.

Persoalan  pengangguran sebagaimana tersebut memang akan terus bertambah dan akan sangat sulit untuk mengendalikannya, jika memang tidak ada perubahan kebijakan dalam dunia pendidikan dan juga tidak ada kebijakan dalam hal pengendalian laju penduduk.  Karena itu memang  dibutuhkan  koordinasi dan sinergitas antar beberapa lembaga untuk mengatsi smeua itu.  Mungkin juga kita sudah harus memulai dengan  mengarahkan mahasiaswa kita untuk  melakukan usaha  dalam bidang apapun yang  memungkinkan mereka lakukan.

Kebodohan yang terjadi di  masyarakat kita salah satunya disebabkan oleh tuntutan ekonomi yang begitu besar, sehingga pada keluarga miskin biasanya  tidak akan menyekolahkan anak anaknya, meskipun  tanpa biaya.  Kita  memahami bahwa merka akan lebih suka jika anaknya juga ikurt mencari rizki meskipun mereka tidak sekolah.  Toh kalaupun sekolah tidak membayar, akan tetapi seragam buku dan peralatan lainnya amsih harus dibeli sendiri.  Itu artinya  sekolah tetap membutuhkan biaya.  Prinsip bahwa orang hidup yang terpenting bisa makan yang hingga saat ini masih mendominasi pikiran sebagaian amsyarakat kita sudah saatnya dihapus.

Prinsip sekali hidup harus sejahtera dan mendapatkan berbagai kesempatan untuk  sukses, harus terus digelorakan, akan tetapi hal tersebut jangan dibiarkan   hanya sampai di situ, karena  jkalau tidak diimbangi dengan pendidikan akhlak atau karakter, maka akibatnya akan fatal juga.  Bisa  saja mereka akan melaklukan berbagai hal termasuk yang dilarang, karena yang terp[enting ialah emndapatkan harta dan  merka anggap dapat membuat mereka sejahtera.  Karena itu bimbingan kepada masyarakat tetap harus terus dilakukan sehingga mereka  tetap berada di rel yang benar.

Semua itu memang memerlukan kesada4ran tinggi dari kita semua.  Artinya kalau kita menyadari bahwa untuk sampai kepada hidup sejahtera itu diperlukan berbagai persyaratan, tentu kita harus memp[ersiapkan syarat tersebut terlebih dahulu.  Pendidikan harus dinomor satukan, lalu juga kesehatan dan  tidak kalah penting ialahbagaimana  laju pertumbuhan penduduk harus dapat di tahan sehingga  tidak terlalu cepat, melainkan normal saja.

Dengan pertumbuhan penduiduk yang normal dan laju pertumbuhan ekonomi menjadi semakin baik, maka  kesejahteraan tersebut akan dapat dinikmati.  Mudah mudahan kita akan mampu menyaksikan negeri kita menjadi makmur dengan seluruh rakyatnya mendapatkan kesempatan untuk berusaha dalam berbagai bidang yang diminati.  Dengan begitu kesejahteraan mereka akan dapat digenggam hingga  masa yang sangat lama. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.