MENDIDIK

Mendidik itu tidak identik dengan mengajar, sebab alau mengajar itu hanya sekedar mentransfer ilmu atau sesuatu ketrampilan, sedangkan mendidik itu merupakan sebuah proses pembelajaran yang  disertai dengan penanaman nilai kebajikan dan diperlukan juga  sanksi jika diperlukan.  Dengann demikian  mendidik itu jauh lebih sulit ketimbang hanya sekedar mengajar.  Mendidik itu tideak harus  di kelas  atau sekolah, melainkan  dapat dilakukan di mana pun  termasuk di rumah dan pesantren misalnya.

Mendidik itu memerlukan ketekunan dan perhatian yang lebih dari seseorang pendidik, dan jika diperlukan  seorang pendideik itu dapat melakukan upaya tertentu yang memungkinkan  seoranag anak didik akan menuruti ketentuan yang diberlakukan.  Bahkan snagat mungkin seorang pendidik itu  akan memberikan sebuah sanksi yang tidak  membahayakan, meskipun sifatnya  sebagai sebagai sebuah sanksi.

Orang tua dapat mendidik anak anaknya untuk membiasakan dirinya dengan kebersihan, semisal dengan  membiasakan diri dan anak anaknya untuk membuang sampah di tempatnya, atau sekedar peduli terhadap sampah yang berserakan di mana mana, termasuk ketika melihat smpah di jalanan, kemudian kita memberikan contoh untuk memungutnya dan kemudian ditaruh di bak sampah.  Sesakali kita juga perlu memberikan peringatan dan  mungkiin juga sanksi jika melihat anak anak  membuang sampah dis embarang tempat.

Demikian juga  orang tua  dapat mendidik anak anaknya untuk berdisiplin dalam berbagai hal, speri dalam hal  tidur dan bangun, dalam hal belajar, dalam hal menjalankan shalat berjamaah, dan dalam banyak hal lainnya.  Sesekali orang tua juga arus memberikan sanksi tertentu jika anak anaknya tidak mematuhi  ketentuan yang sudah disepakati bersama.  Hanya saja orang tua juga harus emmahami psikologi anak dan juga keterbatasan mereka.  Sebagai contoh jika kita melihat aktifitas anak hingga larut malam karena  sedang ada peringatan hari besar Islam mislanya, maka  ketika membangunkan merka di tengah mala agak sulit, kita harus memakluminya.

Mereka itu masih anak anak sehingga tidak boleh disamakan dengan  orang tua dalam segala hal.  Namaun yang pasti  mereka memang harus dibiasakan untuk  bangun pagi dan menjalankan  shalat, lalu di dorong untuk belajar atau sekedar berolah raga dan lainnya.  Jadi pada prinsipnya mendidik itu juga merupakan sebuah seni tersendiri bagi kita untuk mencapai sasaran yang dituju.  Mungkin akan berbeda cara yang dilakukan oleh maisng maisng orang, namun yang jelas mendidik itu perlu keseriusan dan pembiasaan.

Mungkin kita sesekali juga harus memberikan peringatan kepada anak anak jika mereka lupa melakukan kebajikan yang usdah kita contohkan, semisal jika kita masuk ke dalam rumah haruslah membaca salam, meskipun di dalam rumah tidak ada orang.  Kita juga  dapat memerintahkan kepada anak untuk selalu berpamitan kepada orang tua sambil meminta restu dan cium tangan, dan jika mereka melalaikan halmtersebut kita dapat memberikan sanksi nyang tepat buat mereka, dengan tujuan mereka akan selalu memperhatikan hal tersebut.

Kalaupun tidak terlalu saklek, kita juga bleh membuat aturan tertentu di rumah yang tujuannya ialah agar anak anak  melakukannya dengan penuh kesenangan.  Aturan tersebut  dapat berupa jam jama tertentu untuk bermain, untuk belajar, untuk mengaji, untuk makan dan untuk sekolah.  Pada  saat libur kita dapat megajak mereka sesekali membersihkan rumah, berkem]bu atau  melakukan keiatan lainnya, dan sesekali pula dapat mengajak mereka untuk rekreasi dan jalan jalan yang diakhiri dengan makan bersama di restoran dan lainnya.

Jadi pendidikan itu tidka mutlak milik guru di sekolah, melainkan dapat dilakukan di rumah dan juga di pesantren oleh para ustadz dan kiai.  Jika di pesantren suda terbiasa dilakukan shalat berjamaah, mengajai bersama, tadarrus bersama, dan juga shalat tahajjud bersama, maka  kebisaan tersebut harus selalu diingatkan kepada para santri dan sekaligus dilakukan  kegiatan membangunkan mereka, dan siapapun yang tidak melaksanakannya, dapat diberikan sanksi tertentu yang tidak merugikan kepada snatri.

Kejujuran  itu merupakan hal yang mutlak untuk dididikkan kepada para santri dengan ebrbagai cara yang meungkinkan, dengan tujuan bahwa para snatri itu dapat memperthanaknannya hingga  mati nanti, sebab jujur itu merupakan sifat Nabi yang harus diwarisi oleh umatnya dan meurpakan modal utama dalam mengarngi kehidupan di dunia.  Sekali saja orang tidak jujur, maka semyua orang akan tidak mempercayainya dan itu merupakan kegegagalan hidupnya di dunia.

Masih banyak lagi pendidikan yang harus diberikan kepada anak anak kita, baik saat di rumah maupun ketika mereka id pesantren atau di tempat lainnya.  Kita tidak boleh hanya mengandalkan pendidikan di sekolah, karena  pada saat ini seperinya pendidikan  sangat langka dan mahal.   Hal tersebut karena didukung oleh  kondisi dan keberradaan orang tua yang tidak ikut mnenciptakan  suasana proses mendidik yang  baik.  Sehngga dengan demikian kalau kita hanya emngandalkan pendidikan anak anak kita hanya ekpada sekolah, kemungkinan besar kita akan merasa kecwa.

Kaeena itu kita harus  menambahnya dengan mendidik di rumah.  Sebagaimana kita tahu bahwa saat ni suidah banyak guru yang tidak lagi memerankan dirinya sebagai seorang oendidik, dan hanya  sebagai pengajar semata, karena mereka  sangat takut dengan berbagai ancaman dari masyarakat atau orang tua yang  sudah berubah orientasinya. Tidak sedikit  orang tua yang sama sekali tidak memahami bagaimana mendidik anak  sehingga mereka  bukannya emndukung, malahan mereka justru mengambat proses pendidikan itu sendiri.

Bayangkan jika suatu saat anak didik diberikan sanksi oleh gurunya untuk sekedar menjalani bersih bersih halaman sekolah atau hanya untuk berlari mengelilingihalaman sekolah atau  untuk menuliskalimat berkali kali atau dala bentuk lainnya, lalu ketika anak mengadu kepada orang tuanya, lalu orang tuanya tersebut membela anaknya dan emmperkarakan gurunya tersbeut kepada phak polisi, maka itu sesunggunya merupakan tuindakan yang menghambat proses pendidikan.

Bagaimana jadinya anak nanti keika  diberikan peringatan da sanksi lalu dibela  dan malahan gurunya dipenjarakan, apakah anak tersebut  dapat meniba akhlak dan rperoilaku baik, pastinya tidak mereka akan mempergunaka segala cara untuk memenangkan  sebuah perkara meskipun harus melanggar aturan main, atau bahkan kalaupun harus  membunuh pihak lain.  Nah, akibat dari smeua itu akhirnya banyak duru yang ambil sikap aman dan mereka sama sekali tidak mau mendidik dan hanya mengajar semata.

Lalu bagaimana kita akan menggantngan nasih anak anak kita kepada sekolah dannguru yang sudah ketakitan dalam mendidik?.  Sudah barang pasti kita akan sangat megkhawatirkannya.  Salah satu hal yang saat inisangat mendesak untuk dilakukan ialah bagaimana  dukungan orang ntua  kepada sekolah atau kepada para guru untuk mendidik anak anak, karena tanpa itu kita hanya akan menyeesalinya pada saat nanti semuanya sudah terjadi.

Mari kemba;likan fungsi sekolah dan guru dalam mendidik anak anak kita  sehingga merka mempunyai keleluasaan dalam mengarahkan dan membentuk karakter anak anak kita.  Dukungan yang kita berikan tentu bukan sekedar berupa finansial, melainkan dukungan moral dengan  membiarkan anak anak dididik dengan cara yang dilakukan oleh guru dan sekolah. Kita harus mempercayakan pendidikan tersebut  kepada sekolah secara total, dan bukan hanya separoh separoh dan selebihnya kita ikut campur.

Dengan mengembalikan fungsi sekolah dan guru tersebut pada asalnya, kita  dapat ebrnafas lega  dan  hanya menambah pendidikan di rumah yang  mungkinakan sangat ringan karena sudah terbantu dis ekolah. Mudah mudahannkita smeua menyadari hal tersebut dan  semuanya akan menjadi baik dan nomraal. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.