PILKADA BERSIH

Mungkin di dunia ini  kelau kita benar benar menelitinya, tidak akan ditemukan satupun bentuk pemilihan kepala daerah, yang dilaksanakan secara langsung,  yang benar benar bersih.  Kenapa? Ya karena  persoalan tersebut merupakan  rebutan pengaruh yang ditujukan kepada rakyat, semua pihak dapat dipastikan akan melakukan segala upaya untuk memenangkan pengaruh terhadap amsyarakat tersebut.  Dan hal tersebut tidak akan mungkin dilakukan hanya dengan ngomong belaka, melainkan  harus didukung  dengan melakukan  yang lainnya.

Adalah omong kosong kalau kemudian ada  diantara para kandidat yang mengatakan bahwa dirinya sama sekali bersih dan  tidaka mengeluarkan  uang sedikitpun, melainkan justru masyarakatllah yang bergotong royong menyokongnya. Mungkin ada sebagian orang yang mau menyokong karena mempunyai kepentingan tertentu dan  kalau itu rakyat  biasa, biasanya merekea menyadari bahwaa kepemimpinan orang tersebut diperkirakan akan membawa kebajikan bagi dirinya.  Dan itu pastinya tidak akan banyak dan  kalau hanya mengandalkan  orang orang tersebut,  sudah dapat dipastikan akan mengalami kekalahan.

Saat ini untuk mendapatkan kemenangan di sebuah pilkada, seseorangharus mempunyai modal besar, karena kalaupun emmpunyai modal tetapi hanya pas pasan, sebaiknya memang tidak terlalu banyak berharap, karena hampur mustakhil pilkada tanpa ongkos atau dengan ongkos seadanya.  Kalau seseorang hanya memiliki modal  cukup, namun kemudian ada beberapa pihak yang menyokongnya dengan harapan akan mendapatkan keuntungan besar setelah yang bersangkitan jadi kepalad daerah, maka itu sangat mungkin, tetapi dapat dipastikan hal tersebut tidak akan dinamakan sebagai “bersih”.

Ketulusan saat ini merupakan barang langka dan dalam keitannya dengaqn pilkada bahkan sudah tidak ada stoknya.  Itu karena  dalan sejarahnya tidak ada seorang pun yang meyakini bahwa kepalad daerah akan dapat berlaku jujur dan adil kepada smeua pihak.  Kalaupun ada yang  lebih baik saja itu sudah merupaka keberuntungan bagi daerah tersebut.  Kecenderungan kepada pihak pihak tertentu sudah barang pasti ada, apalagi saat ini pengusng  calon haruslah dari partai politik, nah itu menandakan bahwa parpol tersebut pasti mempunyai harapan tertentu terhadap pencalonannya.

Kitapun tahu bahwa parpol itu hidupnya dari uang yang  para pengurusnya harus berpikir keras untuk emndapatkan sumernya.  Salah satu sumber yang biasanya diandalkan ialah dari para opejabat yang berasal dari partai politik tersebut.  Karena itu kita dapat  melihat dengan nyata bahwa lembaga dan kementerian yang dipimpin oleh orang yang berasal darui partia polirik, sudah apsti akan menjadikan kementeriannya sebagai sumber keuangan partai tersebut.

Caranya?  Kita tidak tahu sefara pasti, akan tetapi pasti dan meyakinkan bawha  itulah sumber pendanaan dari partai etrsebut.  Bisa jadi dari menterinya secara langsung  atau  dari para pejabat di bawahnya yang memang diberikan target btertentu untuk menyetor atau melalui para pihak ketiga untuk memeangkan tender proyek di kementerian tersebut yangnujungnya pasti ada bagian di partai tersebut untuk mendapatkan keuntungannya.  Tentu masih banyak lagi cara yang dapat dilakukan dengan menjadikan kementerian tersebut sebagai  sumber dana.

Nah, begitu pula dengan  pilkada yang meskipun tidak ada  kementerian di dalamnya, tetapi pasti ada dinas di setiap propinsi dan juga kabupaten/kota, sehingga  merekalah yang kemudian menanggung kewajiban untuk menyetor uang untuk partai.  Kita juga  pasti tahu bahwa untuk promosi jabatan tertentu, semisal kepala dinas, pasti ada persyaratatn tertentu yang tidak dipublikasi ke pasyarakat.

Peryaratan  yang dipublikasi tentunya yang netral saja seperti pengaaman, kapasitas dan  rekam jejaknya dan lainnya, namun ada ersyaratan yang tidak dipblikasikan yang hanya diketahuinoleh beberapapihak saja untuk berkomitmen  memberikan  sesuatu, baik di muka maupun di belakang ataqu selama dalam proses menjabat.  Terungkapnya beberapa modus speeri itu sudah banyak dibuktikian, salah satunya ialah dalam kasus korupsi di propinsi Banten, meskipun para pihak yang disebutkantersbeut masih belum  mengakuinya.

Jadi sekali lagi tidak ada pilkada yang gratis dan besih.  Kita sesungguhnya sudah sangat paham dengan kondisi  compang campingnegeri kita, meskipun  terkadang kita masih ragu untuk mengungkapkannya, karena perswoalan politik tersebut.  Sebabnya politik it terkadang sangat kotor, dan terkadang sangat kejam.  Bisa asaja  persoalan hukum kalau kemudian terkalakan oleh pengaruh politik, akan  berubah menjadi sekedar perdata biasa dan  sangat mudah untuk diselesaikan.

Demikian juga persoalan yang menyangkut  kepentingan banyak orang, lalu dihadapkan kepada kekuatan politik dan pengaruh kekuasaan, kemudian akan dapat menjilma sebagai iblis yang menakutkan, kaerena bisa saja menghabisi pihak tertentu atau bahkan  membalikkan fakta yang sesungguhnya. Itulah keadaan perpolitikan di negeri kita yang masih sangat runyam, meskipun secara individual ada rtokoh politik yang menampilakn dirinya seolah sebagai sosok yang alim dan santun saat tampil di depan publik.

Padahal hakekatnya  mereka itu sungguh sangat kejam dan behkan lebih membahayakan ketimbang seorang bajingan sekalipun.  Lalu   adakah diantara  pilkada yang masih disebut sebagai bersih itu?.  Sudahlah kita tidak perlu lagi mendiskusikan apakah masih ada  pilkada yang besi atau apakah ada pasangan calon yang memang bersih luar dalam?, karena pasti kita akan mendapatkan kekecewaan semata.  Akan jauh lebih bagus jika kita membincangkan persoalan para calon yang sedang berjuang, apakah memang mereka  lebih baik ketimbangn yang lainnya.

Peniloaian lebih baik itu tentu harus dikaitkan dengan programnya dan juga  visi kepemimpinannya.  Aapakah  mereka  lebih memberikan perhatia kepada kepentingan masyarakat banyak ataukah hanya  lebih condong kepada  sekelompok masyarakat saja.  Itun tentu dapat dilihat dari program yang dicanangkan dan juga dari komitmennya untuk masa depan  daerah tersebut.  Jika kita melaihat ada kecenderungan  pihak tertentu untuk  berpihak tidak kepada masyarakat banyak, maka itu sebagai tanda  kepemimpinannya nanti tidak akan mmemuaskan banyak orang.

Tetpi lagi lagi kita harus tetap mengingatkan bahwa  pasti tidak akjan ditemukan calon ideal sebagaimana yang kita maksudkan, kaena sudah barang pasti di belakang mereka suda ada kekuatana menakutkan yang siap menerkamnya untuk ke3p[entingan mereka. Kita tidak akan pernah tahu maksud tersembunyi dari para pengusung yang selama ini ngotot untuk memenangkan pemilihan tersebut.  Tetapi yang jelas kita pasti akan mengerti bahwa kepentingan merea ialah seputar memanafaatkan momentum dan peluang yang ada untuk menempakan orang orang partai di dala pemerintahan.

Lebih dari itu tentu kita akan memahami  bagaimana mereka kemudian akan menjalankan pemerintahan dengan target tertentu yang sudah pasti dibebenatkan kepada mereka.  Persoalan initentu sudah dipahami oleh publik Indonesia.  Tidak akan mungkin mereka yang berjuang untuk meenangkan  salah satu paslon, lalu tidaka meminta upah apapun? Kalau itu ada  pasti hanya di alam dongeng saja.  Karena itu sebesaar apapun aharapan kita terhadap pilkada, sudah apsti kitan haqrus menelan kekecewaan di belakang hari.

Syukur syukur kalau yang terpilih tersebut masih memikirkan  rakyat dan kesejahteraan mereka serta memikirkan fasilitas umum yang  harus terus dibenahi, lah kalau misalnya kemudian mereka hanya menjalankan pemerintahannya biasa biasa saja dan parw pejabat yang ada justru lebih mementingkan  keuntungan untuk memunjung kepada partainya, maka itu kecelakaan yang sangat fatal.  Kita pasti mengerti kalau  punjungan kepada partai itu pasti ada  akan tetapi kepentingan rakyat juga harus lebih duidahulukan.

Istilah jawanya  ialah “ngono yo ngongo naning ojo ngono”, yang artinya  kita memang tahu persoalan punuungann tersebut akan tetapi janganlah kemudian  merugikan rakyat secara gamblang. Itu snagat menyakitkan, sebab selama ini  apa yang suda dilakukan untuk punjungan tersebut sudah terlalu menyakitkan, karena  uang yang seharusnya digunakan  semasimal mungkin untuk kepentingan rakyat, tetapi malah digarong untuk memenuhi ambisi tertentu.  Semoga ke depannya akan ada perubahan menuju perbaikan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.