MENGAPA KITA PERLU BERSUARA?

Sebagaimana kita tahu bahwa saat ini ondisi masyarakat kita sudah sedemikian  mengkhawatirkan, khususnya terkait dengan kehidupan mereka yang penuh dengan intrik yang  sengaja diciptakan oleh mereka yang tidak menyukai ketenangan.  Walaupun mungkin bahwa munculnya kondisi  tersebut disebabkan oleh kepentingan politik sesaat, yakni dalam menghadapi pilkada,  akan tetapi kalau dibiarkan akan semakin membahayakan  masyarakat itu sendiri, utamanya terkait dengan kehidupan bersama dan kelangsungan hidup bangsa.

Kita tahu bahwa saat ini persoalan kebangasaan sudah sedemikian  membahayakan, kaena  semua pihak sudah mementingkan dirinya sendiri, tanpa mau  menghargai kepentingan pihak lain.  Agama sudah dijadikan komoditi politik sehingga kepentingannagama sudah diperkosa oleh kepetningan politik.  Sungguh mengerikan sekali, jika hal ini  dibiarkan dan  tidak ada pihak manapun yang tampil menyelamatkannya.

Berbagai ujaran bernada kenbencian, politik identitas,  dan berbagai penrnyataan yang  memusuhi dan sejenisnya sudah sedemikian marak di masyarakat, padahal  dahulu hal hal seperti itu tidak pernah muncul ke permukaan.  Warisan para pendahulu kita yang  mempertontonkan  kebersamaan  dalam berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat, saat ini seolah sudah menghilang.  Hanya  demik kepentingan mendukung  calon tertentu, saja kemudian  sudah  mengalahkan segala kebaikan yang selama itu sudah terbentuk.

Kita tidak tahu mengapa  orang sekarang begitu mudahnya membenci seseorang atau sebaliknya  mendukung seseorang dengan melupakan segala hal yang terkait dengan kebersamaan.  Mungkin penyebabnya sudah terlalu banyak dan menumpuk menjadi satu sehingga akan sangat sulit diurai.  Persoalan ekonomi itu sudah barang pasti ikut mewarnai, persoalan sosial, persoalan ketidak adilan, semuanya p[asti ikut membentuk terjadinya kondisi sperti itu.

Lihatlah betapa uang telah mengubah  watak manusia, hanya gara gara uang seseorang dapat membenci saudaranya sendiri, hanya karena uang orang akan bertrok dengan tetangganya  sendiri, dan hanya karena uang orang juga dapat berpisah alias bercerai dan masih banyak lagi kasus menyedihkan yang ditimbulkan oleh sebuah pilkada.  Lantas apa yang dapat kita perbuat setelah menyaksikan semua itu, apakah kita akan diam saja dan membiarkan masyarakat terkoyak dan berbenturan dengan mereka sendiri?

Tentu kita tidak akan tega membiarkan mereka  bertikai dan  bercerai berai hanya persoalan politik praktis  sesaat.  Kita harus tampil menyelamatkan mereka dengan cara yang bijak dan mendidik.  Kita kaum intelektual, tentu harus  tampil dengan  solusi terbaik bagi semuanya.  Selama ini kkita rupanya berdiam diri menyaksikan berbagai ketimpangan di masyarakat, baik yang terkait dengan kriminal,  suap, korupsi dan  semua ketidak adilan, meskipun mungkin secara individual  sudah ada yang tampil.

Namun karena individual, maka gaungnya sama sekali tidak didengarkan oleh  mereka yang sehaqrusnya memerankan diri  sebagai tokoh dan menentukan.  Sudah saatnya kita tampil dengan memberikan berbagai solusi kebangsaan  agar masyarakat dan bangsa ini dapat selamat dari kemungkinan terburuk perang saudara dan  mengedep[ankan emosi ketimbanga akal sehat.  Kita memang  sudah saatnya untuk turun gunung  memebrikan perhatian kepada berbagai persoalan  di masyarakat, agar mereka  sadar bahwa masih ada kaum intelektual yang mau memikirkan dan berpihak kepada mereka.

Itulah sebabnya  munculnya rahim bangsa dari kampus UIN Walisongo menjadi penting untuk kemudian  akan menjadi virus yang terus menyebar ke seluruh nusantara.  Tanggapan atas munculnya rahim bangsa yang kemudian mewujud dalam silatur rahim kebangsaan  para  akademisi dan guru besar di Jawa Tengah tersebut sungguh membanggakan, karena  meskipun serba terbatas tetapi komitmen semua yang hadir  sepakat untuk melanjutkan  kegiatan  ini secara terus menerus dengan  memberikan berbagai solusi  atas berbagai persoalan bangsa.

Sudah barang pasti diharapkan bahwa  pada setiap pertemuan  kegiatan tersebut harus ada  beberapa kesimpulan yang dapat dijadikan sebagai sebuah “fatwa” atau solusi kebangsaan yang dapat disampaikan kepada berbagai pihak yang diharapkan akan menindak lanjutinya  sehingga persoalan bansga yang ada  sedikit demi sedikit akan dapat diaatasi dan  semuanya akan kembali normal sebagaimana semula  dan dengan demikian kita akan dapat membangun bangsa ini dengan lebih baik.

Setiap daerah pasti mempunyai persoalannya tersendiri, namun semuanya  terkait dengan masalah kebangsaan tersebut.  Kita sudah sepakat bahwa NKRI itu harga mati dan karenanya kita harus terus mengupayakannya sedemikian rupa agar seluruh proses berbangsa dan bernegara dapat dirawat dengan baik dan menjauhannya dari kemungkinan perpecahan dan pertentangan, sehingga bangsa ini akan semakin kokoh dan tidak mudah untuk diperlemah oleh siapapun.

Kita menyaksikan betapa parahnya masyarakat yang justru dianggap sebagai masyarakat paling beradap, sepetri DKI.  Kita tahu b ahwa DKI sebagai ibu kota negara selalu dijadikan sebagai barometer bangsa  ini.  Lalu bagaimana jika berbagai kejadian konyol justru terjadi di darah ini?.  Bagaimana mungkin hanya karena persoalan dukung mendukung poltik, kemudian sampai ke ranah agama? Dan kejadian tersebut belum sekalipun terjadi sebelumnya.  Jadi ini sungguh luar biasa dan perlu segera mendapatkan  tanggapan serius.

Kasus pemasangan spanduk provokatif dan sejenisnya dan juga kasus  orang meninggal lalu tidak boleh dishalati atau  bahkan  masyarakat tidak berani menshalatkan dan bahkan membawanya ke kubur yang disebabkan janazah tersebut pada saat hidupnya mendukung salah satu cvalon yang tidak dikehendaki, maka  itu merupakan kejadian yang sungguh mengerikan dalam dunia kita.  Kalau hanya  persoalan  ujaran kebencian  saja sesungguhnya meskipun sungguh tidak nyaman dan harus segera diakhiri, mungkin  masih ada yang membiarkannya.

Namun kalau sudah menyangkut orang  Islam mati, lalu tidak dishalatkan, tentu itu merupakan kejadian aneh di dunia ini.  Hukum fiqih sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama dahulu memberikan kewajiban kifayah kepada umat Islam tentang menshalatkannya, dan juga meguburkannya.  Lalu kenapa mereka ayang mengaku sebagai pemegang Islam sejati malah tidak mengamalkannya, karena hanya persoalan dukungan kepada salah satu paslon pilkada.

Sungguh tidak ketemu nalar dan  tidak boleh dibiarkan terus berlangsung.  Tentu masih banyak kejadian dan persoalan yang muncul di berbagai daerah yang berbeda, yang intinya  menyimpang dari kebiasaan  yang sudah lazim dilakukan oleh masyarakat  pada waktu sebelumnya.  Isyu isyu tentang kekerasan yang disebabkan oleh pilkada juga  sudah marak di beberapa daerah, dan juga  radikalisme dalam beragama saat ini sudah sangat marak dan mungkin akan sangat sulit untuk dicegah jika kita terlambat menanganinya.

Karena itu menurut saya  kaum akademisi memang sudah saatnya untuk  tampil kedepan menyelesaikan persoalan ini sesegara mungkin sebelum kondisinya menjadi semakin parah.  Barangkali kaum ingtelektual anyalah sebagai pemberi solusi, dan selebihnya  yang menjalankan ialah  mereka yang berkompeten dan mempunyai kewenangan untuk itu.  Kita sangat yakin bahwa kaum akademisi sangat arif dan murni ingin menolong bangsa ini dari keterpurukan yang semakin parah tanpa ada  kepentingan lainnya.

Kampus sebagai basis ilm pengetahuan tentu akan mampu dan banyak cara untuk mengat6asi berbagai persoalan bangsa tersebut.  Untuk itu kita harus menyatukan langkah  dengan membuat pertemuan silaturrahmi kebangsaan tersebut.  Jika ini dilakukan secara intensif  maka  dalam waktu tidak lama kita akan menyaksikan betapa indahnya kebersamaan  dalam keberagaman di bunmi pertiwi ini. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.