DHALIM

Barangkali kata dhalim itu sudah terbiasa kita dengar, terutama ketika ada pihak yang diperlakukan  tidak sebagaimana mestinya, lalu muncul istilah kata dhalim tersebut.  Lalu apa sebebnarnya yang dimaksud dengan dhalim tersebut?  Secara harfiyah kata dhalim itu  dapat diartikan sebagai menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya atau memperlakukan  sesuatu bukan sebagaimana mestinya.   Karena itu ada banyak sekali  kejadian yang dapat dikonotasikan sebagai perbuatan dhalim. Karena apapun yang tidak pada tempatnya itu berarti dhalim.

Bahkan ketika kita memakai kendaraan tidak sebagaimana  aturan main yang dibolehkan, itu juga termasuk perbuatan dhalim, meskipun bukan kepada manusia melainkan kepada kendaraan, seperti ketika kita  naik sepeda motor diboncengin oleh 2 hingga 3 orang, dan itu pasti dilarang oleh aturan, dan dapat dikategorikan sebagai perbuatan dhalim.  Jika sebuah bus yang seahrusnya bermuatan maksimal 55 penumpang misalnya, maka kelaua kemudian dipaksakan menjadi 60 orang, maka itu juga dhalim.

Bahkan ketika kita menengok di berbagai tempat perdesaan kita akan menyaksikan beberapa kendaraan bukan penumpang, seperti truk yang kemudian digunakan untuk  mengangkut penumpang, bahkan hingga melebihi kapasitas, itu juga perbuatan dhalim.  Karena itu kita tidak boleh hanay berpikir bhw dhalim tersebut hanya dikonotasikan  dengan perbuatan tidak senonoh kepada orang semata.

Kalau kita be4rbicara mengenai pernyataan dhalim yang diisyaratkan oleh al-Quran, maka  perbuiatan tersebut dapat lebih dahsyat, karena masuk di dalamnya ialah perbuatan syirik, yakni sebuah perbuatan pengingkaran terharap keberadaan Tuhan atau bahkan  penyamaan Tuhan dengan makhluik lainnya, dan merup[akan perbuatan dosa yang tidak terampunkan.  Karena itu dhalim di sini kemudian menempati urutan pertama dalam hal larangan untuk dilakukan.

Lantas  sekarang bagaimana dengan dhalim yang biasa dipahami oleh masyarakat secara umum.  Pada kenyataannya masyarakat memahami  kata dhalim itu  secara umum saja, yakni jika ada  orang kemudian  melakukan perbuatan yang kelewat batas dan  sama sekali tidak berkeprimanusiaan kepada pihak lain, maka itu baru dikatakan sebagai sebuah kedhaliman.  Sebagai contohnya ialah jika ada orang yang menghajar lkepada orang lain hanya disebabkan kesalahan kecil yang diperbuatnya, sehingga orang tersebut babak belur.

Demikian juga denagn perbuatan yang dilakukan dengan senagaja untuk memberikan  ketakutan kepada pihak lain sehingga pihak lain tersebut memang kemudian sama sekali tidak dapat membela dirinya, itu juga perbuatan dhalim.  Sebagai contohnya ialah jika  ada orang yang karena perbedaan  prinsip, lalu memaksakan kehendaknya, dan karena  pihak lain tersebut tidak mau mengikuti pahamnya, lalu  dia melakukan kekerasan kepada pihak lain tersebut hingga dia benar benar menjadi tidak berkutik sama sekali. Itu juga merupakan perbuatan keji dan termasuk dalam kategori dhalim.

Namun sesungguhnya masih banyak sekali bentuk dhalim dalam kenyataan di masyarakat, baik itu yang terjadi dalam lingkungan  pendidikan,  perusahaan/ pabrik, instansi tertentu, bahkan dalam lingkungan keluarga sekalipun.  Dalam lingkungan pendidikan, kita masih dapat menyaksikan betapa ada sebagaian pihak, termasuk guru yang memberikan hukuman  di luar  batas batas kewajaran sebagai pendidik, seperti memukul atau emghukum dengan hukuman yang sanat memberatkan dan tidak mendidik.  Walaupun untuk saat ini rupanya sudah  sangat berkurang, dan beralih kepada  siswa itu sendiri.

Artinya di kalangan siswa kita masih menyaksikan betapa mereka memperlakukan kaannya sendiri tidak senonoh, karena hanya sebuah kesalahan kecil atau memang dibuat atau dicari kesalahannnya, karena dianggap sebagai rival.  Ini memang problem pendidikan kita yang masih  sangat emmprihatinkan kondisinya.  Pembentukan geng di sekolah itu juga merupakan hal yang sangat berpotensi untuk terjadinya kedhaliman di lingkungan sekolah.

Sementara itu di lingkungan pabrik atau perusahaan  kita juga masih mendengar adanya kekerasan kepada pegawai atau pemberian beban yang melebihi kapasitanya sebagai pagawai.  Hal tersebut biasanya menimpa pada karyawan kecil yang hanya  dapat mengandalkan kepada  pekerjaan kasarnya saja.    Merka terkadang dijadikan sebagai sapi perah untuk  kepentingan perusahaan sendiri, tanpa mengindahkannya sebagai seorang manusia yang harus diperlakukan dengan sangat baik.  Biasanya mereka  akan terpaksa melakukan hal hal yang tidak wajar, hanya karena suapaya tetap dapat bertahan di pabrik tersebut.

Kalau di lingkungan instansi tertentu terkadang kita melihat masih adanya   orang kuat yang  berkuasa di dalamnya dan dia akan selalu emngendalikan orang lain untuk melakukan  sesuatu yang dikehendakinya.  Celakanya  merka smua takut dengan piah tersebut sehingga tidak dapat berkutik atau pun memprotesnya.  Semua yang dilakukan tas dasar kendali orang tersebut sesungguhnya merupakan perbuatan keterpaksaan, sehingga termasuk dalam kategori kedhaliman juga.

Semantara itu kalau dalam lingkungan rumah tangga kita masih menyaksikan sebagaian keluarga yang  memperkerjakan anaknya yang masih di bawah umur utnuk bekerja, bahkan terkadang kita  juga mendengar ada sebuah keluarga yang tega memaksa anaknya untuk mengemis di jalanan dan lainnya.  Nah, semua ini tentu emnadi perhatian kita dan menjadi PR kita semua agar di masa mendatang kita tidak lagi menyaksikan pemandangan yang sangat menyedihan tersebut.

Semua bentuk kedhaliman memang harus kita  hapus dan  jauhkan dari  diri dan lingkungan kita amsing masing, karena bagaimanapun kedhaliman itu merupakan perbuatan dosa  dan pastinya merugikan amsyarakat secara umum.  Kalaupun  misalnya  perbuatan dhalim tersebut memang diciptakan oleh Tuhan untuk mengisi dunia ini, namun kita harus berusaha untuk memeranginya, karena kita juga diberikan jhak untuk mengelola bumi ini dengan sebaik baiknya.  Untuk itu kita memang harus merapatkan barisan untuk memerangi  segala bentuk kedhaliman tersebut.

Hal terpenting sebelum kita melangkahkan kaki untuk memberantas kedhaliman tersbeut ialah bagaimana kita memulai dari diri kita sendiri untuk menjauhkan  diri kita dari perbuatan dhalim, dan menjadikan diri kita  sebagai teladan dalam mempelopori peperangan terhadap perbuatan dhalim tersebut.  Artinya kita harus terus menerus mengupayakan agar kedhaliman di manapaun berada  untuk dikikis habis, hingga  tidak akan muncul kembali ke permukaan.

Mestinya kita harus selalu emngingatkan kepada masyarakat luas bahwa menjadi obyek dhalim itu sangat menyakitkan, bayangkan saja sesandainya kita didhalimi  melalui perbuatan yang sengaja di skenario oleh seseorang lalu  diri kita menjadi bulan bulanan pihak lain, karena pengaruh  perbuatan tersebut, maka itu sakitnya akan  terlalu lama untuk dapat dikembalikan kepada kondisi semula.  Nah, kalau kita sudah dapat merasakan, atau setidaknya membayangkan betapa sakitnya menjadi obyek  kedhaliman,  seharusnya  kita kemudian akan  berkomitmen untuk  memeranginya.

Pada prinsipnya kita sudah mengetahui apa itu dhalim yang berkonotasi kepada perbuatan tidak senonoh atau  pemaksaan kehendak dan merugikan pihak lain. Setelah mengetahui  kondisi yang sesungguhnya  tentang dhalim tersebut, kiranya akan sungguh bijaksana  bagi kita jika kemudian kita mau melakukan instrospeksi diri dalam setiap[ melangkah dan berusaha secvara sungguh sungguh untuk memberantas kegala bentuk kedhaliman yang  muncul.

Tentu kita akan menyesuaikan diri dengan posisi m,ita masing masing.  Artinya jika di lingkungan kita terjadi ekdhaliman dan kita mampu untuk mengentikannya,  seharusnya kita lakukan itu.  Jika  kita tidak mampu melakukannya, kita dapat merminta bantuan kepada pihak lain yang dianggap mampu untuk menghentikannya, dan begitu seterusnya.  Insyaallah jika itu berjalan dengan baik, maka kedhaliman akan semakin terdeask dan mungkin juga pada saatnya akan menghilang. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.