MENUDUH

Perbuatan menuduh itu memang sangat keji, apapun yang tuduhkan, karena  pasti itu idak sesuai dengan kenyataan yang dialami oleh orang yang dijadikantertuduh tersebut, karena itu agama kemudian melarang menuduh tersebut atas  dasar memandang baha perbuatan tersebut sangat merugikan pihak lain dan hukumannya pun juga  sangat berat terhadap tuduhan yang  mengancam keutuhan dan kehormatan seseorang, semisal menuduh berbuat zina, makar dan lainnya.

Orang yang bermoral juga asti akan mengutuknya karena itu sama sekali bertentangan dengan  konsep hidup damai dan dalam bingkai kebersamaan.  Jika seseorang dengan tanpa mengetahui secara persis tentang sbeuah berita yang negatif terhadap seseorang lainnya, lalu  dia menyebarkannya, itu sudah cukup untuk disebut menuduh.  Namun jika kemudian dia tahu bahwa beruta tersebut itdfak benar dan tetap disebarkan maka itu dinamakan sebuah fitnah.

Kita juga tahu bahwa perbuatan fitnah itu  lebih kejam ketimbang pembunuhan sekalipun,  dan kita juga sudah sangat memahami betapa akibat dari sebuah fitnah tersebut, seseorang dapat mendapatkan masalah besar, termasuk  misalnya harus  berpisah dalam  hubungan  rumah tangga, atau harus diberhentikan dari sebuah  pekerjaan, atau dapat  dicibir oleh masyarakat sekitar sehingga kehidupanya akan sangat terganggu dan lainnya.

Anehnya jika kemudian tuiduhan tersebut  atau bahkan fitnah tersebut  tidak terbukti, pada umumnya masyarakat tidak cepat dalam memulihkan kondisi orang tersebut, sehingga penderitaannya akan masih dialami.  Mungkin terlalu mudah untuk menyimpulna bahw perbuatan menuduh tersebut sungguh sangat keji sehingga atas nama apapun perbuatan tersebut sungguh tidak dapat diterima sebagai sebuah perbuatan, termasuk dengan alasan apapun.

Sesungguhnya  akan lain  persoalannnya jika seseorang menyampaikan berita tentang sesuatu yang benar untuk kepetningan yang baik pula, sebab hal sepetri itu justru merupakan perbuatan terpuji disebabkan ada niatan untuk melakukan perubahan  menuju kebaikan.  Artinya jika ada seseorang yang melihat hal maksiat yang diperkirakan akan dapat mempengaruhi pihak lain di lingkungannya, lalu dia menceritakan hal tersebut dengan maksud agar perbuatan tersebut dilarang, maka itu  sebuah tindakan baik yang memang seharusnya disampaikan.

Kan tetapi  lain jika  seseorang mengetahui perbuatan jelek pihak lain yang itu  diperkirakan tidak akan mempengaruhi pihaklain, lalu disampaikan kepada khalayak sebagai bentuk keinginannya, maka itu pun kalau menurut agama  tidak dianjurkan, karena membuka aib pihak lain itu sebuah perbuatan yang  harus dihindari, sebab nanti  pasti akan menimbulkan  ketidak nyamanan bagi  mereka yang ainya disebarkan.

Bahkan secara tegas nabi Muhammad saw  menyatakan bahwa siapapun yang mau menutupi aib kawannya yang sesama muslim, saat di dunia ini, maka dia nanti akan ditutup aibnya oleh Tuhan di akhirat.  Tentu maksudnya ialah siapapun yang dapat menjaga kehormatan diri seseorang saat didunia  pada saatnya nanti Tuhan pasti akan membalasnya dengan hal serupa saat  hari perhitungan di akhirat.

Jadi kalaupun ada seseorang kawan kita yang secara  substansial melakukan perbuatan keji atau maksiat lainnya, lalu kita mengetahuinya secara persis, sebaiknya  juga tidak perlu kita sebarkan kepada umum, karena pasti akan memberikan kesan sakit kepada orang yang  menjadi obyek pemberitaan tersebut.  Artinya itu merupakan sebuah kenyataan yang sudah dilakukan oleh seseorang, tetapi masih  tidak akan baik jika kita menyebarkannya, apalagi kalau hal tersebut belum jelas kebenarannya,pastinya akan sanbat dilarang.

Pada prinsipnya bahwa  kehormatan seseorang itu sangat dilindungi dalam Islam, sehingga  pada pada prinsipnya siapapun tidak boleh mengganggu  kepada pihak lain dalam hal apapun.  Nah, sehubungan dengan persoalan tidak boleh saling mengganggu tersebut sudah barang tentu ada hal yang dipekecualikan, yani jika pihak lain tersebut akan membahayakan, baik secara langsung maupun tidak langsung  bagi  selainnya.  Dalam kondisi demikian tentu ada kebolehan untuk mengusiknya, meskipun sejatinya bukanlah mengusik.

Kejahatan yang dilakukan oleh pihak lain tersebut tentu harus diungkapkan dengan tujuan agar tidak menyebar dan mengganggu  masyarakat secara umum.  Jadi kepentingan yang lebih umum yakni untuk melindungi kepentingan masyarakat.  Karena itu kita diperbolehkan, bahkan diharuskan untuk menyampaikan ha tersebut.  Itulah yang dimaksudkan dengan pengecualian tersebut.  Namun  kalau kejelakan tersebut tidak sampai berpotensi untuk mengganggu pihak lainnya, utamanya masyarakat, maka sebaiknya memang kita simpan saja dalam hati, dan kalau dapat kita mengingatkannya secara individual sehingga tidak akan menyebar.

Jika tuduhan itu dilemparkan ke publik, sementara  kondisi riilnya juga belum  ada kepastian, maka yang terjadi ialah fitnah sebagaimana disebutkan di atas.  Bahkan mungkin pada saatnya nanti juga terbukti misalnya, maka  penyebaran yang demikian di awal sebelum  kejadiannya jelas, itu juga sama saja.  Karena itu sesungguhnya Islam telah memberikan ajaran yang sangat baik untuk kehidupan bermasyarakat, yakni saling menjaga kehormatan sesama dan kehormtana bersama.

Mungkin diantara kita pernah mengalami hal demikian, bahkan dampaknya sangat luar biasa, terutama bagi mereka yang mempunyai nama dan kedudukan di masyarakat.  Sedikit saja ada informasi miring tentang dirinya, sudah pasti masyarakat akan beraksi terhadap informasi tersebut.  Dengan demikian dampaknya memang sangat luar biasa. Bahkan mungkin akan lebih dahsyat ketimbang berita menyakitkan lainnya.  Bahkan jika berita tersebut sama sekali tidak benarpun, maka pemulihannya akan sangat sulit.

Itulah mengapa tuduhan atau berita  hoax terhadap seseorang itu huykumnya  menjadi haram, karena dampaknya akan sangat serius dan bahkan akan dapat membunuh seseorang, baik fisiknya maupun karir dan kedudukannya.  Saya sendiri pernah mengalami diberitakan  dengan hal yang bukan bukan, sehingga membuat keluarga saya hamper tidak mempercayai saya lagi, namun alhamdu lillah dengan kesabaran dan penjelasan saya yang  sangat rasional serta  sejarah perjalanan hidup selanjutnya, maka akhirnya smeuanya menjadi  paham tentang  fitnah tersebut.

Namun sungguh menyita  banyak perhatian untuk memulihkan berita miring tersebut, padahal berita tersebut bukan merupakan berita yang dapat dikategorikan sebagai nista, yakni tentang isu menikah lagi.  Bahkan  pada saat saya sedang melaksanakan ibadah haji fitnah itu baru dimulai, dengan  ada seseorang perempaun yang dating kertumah dengan mengaku sebagai isteri saya dan emmbawa seorang anak. Bahkan mengaku bahwa anaknya yang satu sedang berada di rumah sakit.

Tentu isteri saya menjadi kaget dan tidak mempercayainya, tetapi  perempuan tersebut ternyata mengetahui rincian berapa gaji yang saya berikan kepada isteri saya, dan kemudian dia juga mengatakan bahwa  dia juga setia[ bulan saya kasih gaji, sehingga isteri semakin mempercayai fitnah tersebut.  Memang kemudian ada kemunikasi dengan saya  melalui telpon, tetapi isteri saya ternyata tidak mau menceritakan hal tersebut pada saat saya sedang melaksanakan haji, sehingga sama sekali tidak menyinggung persoalan tersebut.

Pada saat menjemput saya dari Debarkasi Donohudan, dia sangat sinis dengan kedatangan saya, dan seolah ada jarak diantara kami.  Sayapun sama sekali tidak mengetahui apa penyebabnya karena tidak ada cerita apapun darinya.  Namun setelah beberapa hari di rumah saya baru mendapatkan cerita tersebut, dan betapa  kagetnya saya, kok bias bisanya ada orang yang tega melakukan fitnah kepada keluarga saya tersebut.

Namun tanpa saya harus menelusuri sumber fitnah tersebut ternyata Tuhan telah membukanya kepada saya, sehingga saya dan keluarga akhirnyan mengetahui siapa sesungguhnya yang memfitnah saya tersebut untuk meruntuhkan rumah tangga kami.  Namun  saya memaafkannya, tetapi tidak lama kemudian dia mengalami sakit dan akhirnya meninggal dunia.  Semoga Tu8han memaafkannya.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.