BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH

Terkadang orang memaknai berserah diri kepada Allah itu sebagai sikap fatalis dan  sama sekali tidak sesuai dengan  tantanga hidup yang semakin banyak dan variatif, namun pandanagn demikian tentu tidak  dapat dibenarkan, karena  fatalism itu bukanlah  sikap hidup yang baik, sedangkan berserah diri kepada Allah itu maksudnya  semua hal yang sudah diusahakan kemudian dengan maksimal, lalu  semuanya dipasrahkan kepada Allah untuk hasilnya.

Manusia hidup itu memang harus berusaha untuk mempertahankan hidupnya dan sekaligus juga untuk mengusahakan kesejahteraannya.  Kalaupun ada orang yang mendapatkan warisan dari orang tuanya  yang diperkirakan akan cukup untuk hidup sampai cucunya, maka itu bukan berarti orang tersebut cukup hanya ongkang ongkang saja tanpa berusaha, sebab kalau dmeikian, sesungguhnya dia itu seperti orang mati yang tidak mempunyai pengalaman bagaimana berusaha, dan pada saatnya akan  mendapatkan kesulitan tersendiri.

Mungkin hartanya diperkirakan akan mencukupi sleuruh kebutuhannya, namun hidup itu bukan Cuma Kaman, minum dan berfoya foya, melainkan juga harus dilengkapi dengan tanggung jawab  yang seimbang atas  apapun yang dilakukannya.  Akan jauh lebih baik dan bermanfaat, bila orang tersebut kemudian melakukan  usaha yang bermanfaat bagi banyak orang, seperti usaha yang menyerap banyak tenaga kerja atau usaha lainnya.

Dalam kondisi sepeerti itu dia  dapat menolong pihak lain, dan juga hartanya  akan semakin bertambah serta kepuasannya pun akan terwujud dalam dirinya. Nah, semua usaha yang dilakukan oleh manusia, sebaiknya memang kemudian dilandasi dengan ketuylusan niat dan sekaligus  memasrahkan semuanya kepada Allah, karena  Allah lah yang menentukan segalanya.  Artinya kalau pun kita sudah berusaha dengan seksama lau  hasilnya nihil, dan bahkan merugi, itu merupakan keputusan Tuhan.

Sebaliknya jika kemudian usaha tersebut membawa keuntungan yang banyak, itu juga keputusan Tuhan.  Manusia hanya berusaha  dan Tuhanlah yang menentukan.  Itulah prinsip yang harus diyakini oleh setiap manusia muslim agar semua yang dilakukan mendapatkan keberkahan dan juga tidak akan semakin membuat kita jumawa atau takabur dengan hasil yang diraih.  Tuhan  itu maha  segalanya, yakni jika menghendaki, maka  apapun akan terjadi, termasuk kalau harus melenyapkan semua harta yang kita miliki atau usaha yang sedang kita jalankan.

Tidak  cuma dalam hal berusaha, mendapatkan harta,  usaha dalam masalah apapun itu juga harus dibarengi dan yakini dengan memasrahkannya kepada Tuhan.  Sebagai contoh jika seseorang  sedang mengharapkan seorang keturunan, dan kebetulan  belum juga mengandung, lalu berusaha  mendatangi dokter atau bahkan kepada orang pintar untuk mendapatkan  sarana menghasilkan  sesuatu yang  diharapkan, itu tidak salah dan  normal saja.  Hanya persoalannya ialah  kalau kemudian orang tersebut sangat mempercayai orang pintar atau dukun dan melupakan Tuhan itulah kesalahannya.

Namun jika dia  mendatangi orang puintar tersebut hanya sekedar meminta tolong sebagai wasilah semata dan seluruhnya akan dipasrahkan kepada Allah, maka itu itu merupakan perbuatan yang memang seharusnya dilakukan.  Bahkan kalau hanya  berdiam diri  berdoa memohon kepada Tuhan tanpa mau berusaha merndapatkan pengetahuan tentang  berbagai hal yang terkait dengan itu, maka itu kurang baik.  Memasrahkan kepada Allah itu seharusnya setelah kita berusaha secara maksimal dan baru kemudian hasilnya dipasrahkan kepada Tuhan.

Sikap seperti itu juga sekaligus akan  menghilangkan prasangka kepada Tuhan dan akan  dapat menenangkan pikiran kita jika kemudian ternyata tidak terkabulkan juga.  Jadio penyerahan diri kepada Tuhan tersebut bukan berarti meninggalkan usaha, karena kalau itu yang dimaksudkan, pasti dunia ini akan berhenti, karena tidak ada usaha yang dilakukan oleh manusia,  dan semua akan berdiam diri menunggu keputusan Tuhan.  Sekali lagi itu sama sekali tidak masuk akal.

Justru dengan sikap berserah diri kepada Tuhan tersebut orang diharapklan akan semakin bergairah untuk menjalankan usahanya dan sekaligus juga menjadi hamba yang taat dan mempercayai kekuasaan Nya.  Kita  mangajak kepada semua orang untuk mengenal lebih  dalam tentang Tuhan yang Maha Kuaa dan Menentukan segalanya.  Dengan begitu manusia akan  tetap melakukan aktifitas sebagimana mestinya, tetapi tidak akan pernah meninggalkan Tuhan sebagai Penentunya.

Orang akan terjauhkan dari sifat putus asa jika suatu waktu mengalami kegagalan dalam usahanya, karena dia sudah mengetahui bahwa ada kekuatan lain yang sangat kuat yang menentukan segala seuatu.  Bahkan  kemudian dia akan dapat meyakini bahwa dibalik kegagalan yang dialaminya, memang sudah ditentukan oleh Tuhan untuk memberikan  sesuatu yang lain yang lebih baik lagi. Dengan begitu jika semuanya  menyerahklan segalanya kepada Nya tentu  sudah tidak ada persoalan lagi yang diributkan, meskipun kondisinya  baik ataupun sebaliknya.

Sudah barang tentu semua menginginkan bahwa apapun yang diinginkan, akan terwujud, baik melalui usahanya sendiri ataupun usaha pihak lain.  Nah, prinsip inilah yang  sesungguhnya membedakan  antara satu orang dengan lainnya.  Artinya  orang yang berusaha sendiri untuk mendapatkan sesuatu dan kemudian berserah diri secara total kepada Tuhan itulah sikap benar yang seharusnya diambil oleh setiap orang.  Tetapi ada juga orang yang untuk mendapatkan sesuatu yang diingibnkan, ternyata tidak mau berusaha sendiri, melainkan justru dengan mengandalkan kepada pihak lain.  Nah, sikap inilah yang seharusnya dihindari oleh setiap orang.

Percaya dengan kemampuan diri sendiri itu pangkal kesuksesan, akan tetapi memang bukan hanya sekedar begitu saja, melainkan harus diimbangi dengan   usaha usaha untuk membekali diri dengan berbagai ilmu dan ketrampilan, sehingga usaha yang dimaksudkan tersebut akan  dapat diharapkan.  Sikap  mengandlkan kepada pihak lain tersebut  justru akan menjadi penghalang bagi orang tersebut jika terjadis esuatu yang tidak diinginkan.  Sikap mengandalkan kepada pihak lain tersebut juga dapat berupa hanya  menunggu  doa yang dipanjatkan kepada Tuhan tanpa harus berusaha.

Sikap yang demikian bukanlah sikap kesatria dan seharusnya dihindari oleh orang muslim.  Namun dalam kenyataannya kita masih menyaksikan banyak pihak yang bersikpa demikian, dan  itulah salah satu yang menyebabkan kesejahteraan manusia belum dapat diraih secara merata.  Bahkan  kita juga menyaksikan adanya ot=rang yang begitu percayanya  dengan kemampuan dirinya, justru malah sama sekali tidak mau menyandarkannya kepada Tuhan sebagai Penentu semuanya.

Kedua sikap tersebut  mempunyai sisi kelemahan, khususnya bagi umat muslim, karena pada saatnya  akan sangat mungkin kesulitan yang lebih parah akan ditemuinya.  Sudah banyak kejadian yang  dapat dijadikan contoh, yakni jika seseorang hanya mengandalkan kepada kemampuan dirinya tanpa menyandarkan kepada Tuhan, kemudian  dia jatuh dalam usahanya, maka biasanya dia akan sangat  sulit untuk bangkit, dan akan selalu menyesali semua yang terjadi.

Padahal jika dia itu menyerahkan dan percaya bahwa semua kejadian itu sudah diatur oleh Nya, pasti akan  mudah untuk bangkit kembali karena keyakinannya yang kuat  bahwa Tuhan pasti akan menolongnya kembali untuk bangkit.  Sementara itu mereka yang tidak mau berusaha dan hanya  mengandalkan pihak lain, baik itu ssama orang ataupun  kepada Tuhan sekali pun, maka  itu juga akan emmbawa kepada kerugian besar baginya.

Tuhan tentu tidak akan memberikan sesuatu begitu saja tanpa ada usaha dari manusia itu sendiri, dan jiika dia mengandalkan kepada pihak lain sesame manusia, biasanya manusia itu cepat bosan atau  mungkin diberikan  sakit dan  atau mati.  Nah, kalau demikian maka sandaran untuk itu akan hilang dan  orang tersebut pasti akan mengalami kesulitan yang semakin besar dana begitu seterusnya.  Karena itu sekali lagi sikap terbaik yang harus diambil oleh setiap manusia beriman ialah berusaha  dengan sungguh sungguh, lalu dipasrahkan kepada Tuhan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.