PEREMPUAN

Makhluk yang bernama perempuan itu memang diciptakan oleh Tuhan sebagai  kesempaurnaan dunia, sama seprti makhluk laki laki juga sebagai penyempurna dunia.  Kita dapat membayangkan bagaimana sepinya dunia ini atau betapa gemparnya dunia ini jika  tidak ada  makhluk yang bernama perempuan tersebut atau sebaliknya tidak ada makhluk laki laki.  Jadi kedua  makhluk dengan jenis kelamin yang berbeda tersebut  sesungguhnya  didesain untuk menyemarakkan dunia dan sekaligus untuk memberikan rasa tenang kepada manusia.

Hanya saja  apapun tujuan awal yang telah dicanangkan, jika kemudian pengelolaannya salah, pasti akan berakibat menimbulkan persoalan yang justru lebih rumit dan mungkin juga lebih heboh.  Artinya  makhluk yang bernama manusia tersebut memang diberikan kelengkapan berupa akal pikiran, sehingga dengan akal tersebut manusia diharapkan akan mampu mengelola dunia ini dengan sangat bagus, demi kesejahteraan mereka sendiri.  Jika manusia kemudian mampu melakukan perencanaan dengan abgus dan juga melaksanakannya dengan tertib pula, maka  semuanya akan berjalan dengan baik.

Masalahnya ialah jika manusia tersebut tidak mampu mengelola dunia dengan baik, dan ingin melanggar aturan yang sudah dibuat, baik oleh Tuhan melalui para utusan Nya maupun atas kemampuan manusia itu sendiri, maka yang terjadi ialah kekacauan dan  ketidak tertiban.  Hubungan anatara makhluk berjenis kelamin yang berbeda tersebut  telah diatur dengan  baik, namun kalau kemudian aturan tersebutb tidak dipakai, jadi  yang terjadi ialah pelacuran dan perzinaan yang pasti akan sangat membahayakan banyak pihak.

Bahkan saat ini  sudah ada kecenderungan  makhluk manusia  yang sejak  awal tidak mengikuti  ketentuan yang sudah ditetapkan oleh manusia yang berakal sehat dan juga oleh aturan agama, sehingga  menghebohkan dunia, yakni  keinginan sebagaian manusia yang ingin kawin sejenis, baik homo atau lesbi.  Tentu itu  merupakan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan  nurani manusia yang paling dalam.  Tetapi hal tersebut menjadi fakta yang saat ini tidak dapat ditolak begitu saja.

Jika makhluk manusia mampu menjalankan perannya sebagai pengelola bumi seisinya dengan baik, niscaya akan tercipta kondisi yang sangat baik dan keteraturan juga akan dapat dinikmati.  Kita dapat membayangkan jika smeua aturan mengenai hubungan antara makhluk laki laki dengan perempuan dapat dijalankan dengan konsisten, seperti  melalui lembaga pernikahan dan kemudian masing masing menjalankan hak dan kewajibannya, tentu  akan dapat dilihat sebagai sebuah kondisi yang snagat ideal.

Seorang perempuan dengan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab mengatur  aturan di rumah, dan suami bertanggung jawab atas seluruh pembiayaan rumah tangga tersebut serta tanggung jawab menjaga keamanan dan  mewujudkan kesejahteraan serta keharmonisan bersama, tentu  itu akan menjadi modal utama bagi  siapapun untuk  mengembangkan diri menjadi semakin baik  dan sejahtera.

Namun demikian itu smeua  hanya merupakan gambaran umum dan dalam kondisi normal, karena pada saat tertentu bisa saja tanggung jawab dan fungsi masing masing tersebut dapat berubah sesuai dnegan kondisi.  Jika  fungsi  sebagai suami mengalami  gangguan, semisal sakit sehingga tidak mampu menjadi tulang punggung keluarga, maka  tampilnya seorang isteri untuk mengambil alih tugas suami juga akan terjadi dan itu bukan sesuatu yang  mustakhil dan salah.

Bahkan dalam kondisi normal pun jika kedua bnelah pihak menyepakati tentang pembagian tugas dan tanggung jawab atas rumah tangga, tidak akan dilarang asalkan masing maisng konsisten dengan perjanjian awalnya dan tidak ada yang  menyimpang dari kesepakatan.  Dengan demikian  suami isteri boleh seluruhnya bekerja dan mempercayakan urusan rumah tangganya  kepada pihak lain, dan mereka hanya sesekali saja mengontrolnya sehingga semua akan  tampak berjalan dengan baik.

Bagaimanapun  makhluk perempuan itu secara  hakiki berbeda dengan makhluk laki laki, sehingga perannya harus juga dibedakan, walaupun  mungkin ada yang sedikit menyimpang.  Artinya perempuan itu  secara umum merupakan makhluk lemah sehingga harus dilindungi, dan laki laki pada umumnya merupakan makhluk yang kuat sehingga harus melindungi dan  dalam kaitannya dengan kehidupan rumah tangga, maka suami haruslah menjadi kepala keluarga yang akan melindungi dan  bertanggung jawab atas  keluarga tersebut.

Jika  permpuan kemudian sudah melahirkan dan menadi seorang ibu, maka tanggung jawabnya akan semakin bertambah, sepeti harus melindungi dan menyayangi anaknya sepanjang hari, harus menyusui dan memperlakukannya dengan panuh kasih sayang.  Memang ada juga perempauan yang setelah melahirkan kemudian melepaskan diri dari tanggung jawab merawat bayinya, karena sudah dipercayakan kepada seorang baby sister misalnya dan keperluan susunya juga sudah diganti dengan susu sapi, namun hasilnya  tetap tidak akan maksimal.

Seharusnya  perempuan itu  akan menjadi penentu kesuksesan laki laki, dan sekaligus juga akan  menjadi penentu keberhasilan  rumah tangga dalam membentuk  kebahagiaan dan kesejahteraan.  Banyak perempuan hebat dalam karirnya di  luar rumah, tetapi  rumah tangganya berantakan.  Demikian juga banyak laki laki yang berhasil dalam pekerjaannya, tetapi gagal dalam membangun rumah tangganya sendiri, dan begitu seterusnya.  Meskipun demikian kita juga dapat menyaksikan adanya  sepasang suami isteri yang hebat  di luar tetapi juga dapat mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangganya.

Jika seorang perempuan sudah menjadi tua dan  lebih banyak dipanggil  ibu  dan nenek, maka itu merupakan sebuah kebanggan tersendiri baginya, karena  dia sudah berhasil menciptakan sebuah kondisi yang diinginkannya. Hanya saja mungkin diantara sekian banyak keberhasilan yang telah diraihnya, masih banyak hal yang  disesalinya, karena  pada saat sebelumnya ternyata dia tidak melakukan sesuatu sebagaimana mestinya.

Kebanggan orang tua, lebih lebih seorang ibu ialah jika di masa tuanya akan diperlakukan dengan sangat hormat oleh anak anaknya.  Lantas bagaimana  anak anaknya dapat berbuat demikian, kalau pada saat masa pendidikannya sama sekali tidak perkenalkan dengan akhlak dan dalam pratek kesehariannya juga tidak pernah diperkenalkan dengan ajaran kesopanan.  Sudah barang pasti siapapun yang mengalami hal buruk sperti itu, akan menyesalinya sepanjang  usianya.

Lain halnya dengan mereka yang saat masa kecil anak anaknya  selalu diajarkan akhlak dan juga diperkenalkan kepada agama dengan sangat baik, melaui  praktek langsung, dan ekmudian pendidikannya juga diarahkan kepada yang baik, tentu pada saat tuanya mereka akan sangat bangga karena smeua anaknya akan sangat memperlakukannya dengan baik, menghiormatinya sedmeikian rupa, serta membanggakan dengan seluruh perilaku dan hidupnya.

Alangkah indahnya hiodup dalam  kasih sayang anak dan cucu serta kemuliaan hidup lainnya, sehingga kalau  diibaratkan mereka itu akan sangat nyaman saat menjelang  ajalnya, karena semuanya sudah sesuai dengan keinginannya. Dan alangkah malangnya bagi mereka yang  santat emnderita saat usia senja karena anak anak dan cucunya tidak ada yang memperhatikannya, bahkan seolah menyia nyaikannya.

Pendeknya perempuan itu sesungguhnya menjadi penentu keberhasilan seseorang dalma berbagai bidang, namun  dalam hal lainnya perempuan juga akan menjadi faktor penentu kejatuhan seseorang.  Dengan demikian  persoalannya ialah  pada  posisi perempuan tersebut, apakah dia  menjadi peremopuan yang baik, taat kepada aturan main dan peduli terhadap masa depan keluarganya.  Jiak perempuan etrsebut  sanat bagus,  sangat mudah baginya untuk mengantarkan suaminya dan sleueuh anaknya menjadi  hebat dan sukses.

Kita tetap menghargai peran perempaun dalam kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga, sebagai pendidik pertama yang akan mewarnai kehidupan  selanjutnya dan  sekaligus juga penentu masa depan anak anaknya.  Semoga kita akan  dapat menyaksikan perempuan  Indonesai  mampu berperan bai  baik negara dan bangsanya yang diawali dari keluarganya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.