MENYESAL

Biasanya  ungkapan menyesal itu berada di belakang setelah semuanya terjadi, sebab kalau belum terjadi kemudian menyesal itu berarti bukan menyesal, melainkan memprediksi dan kemudian melakukan perbaikan atas kemungkinan kemungkinan yang bakal terjadi.  Karena itu keduanya berbeda asecara substansi, yakni jika menyesal itu ialah  sikap yang ditunjukkan oleh seseorang setelah menyaksikan kejadian tertentu, sedangkan kalau memprediksi itu memperkirakan sesuatu di masa mendatang.

Meskipun bentuk penyesalan diantara satu dengan tang lain berbeda, akan tetapi sesungguhnya  hakikinya tetap sama, yakni menyesali kejadian yang sudah.  Menyesal tersebut jika masih di dunia ini kiranya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena masih dapat melakukan hal yang relatif sama, atau bahkan  akan melakukan yang lebih bagus.  Sedangkan penyesala yang sesungguhnya itu hanya akan terjadi nanti dihari kiamat, karena  kita semua tidak akan mungkin memperbaikinya.

Karena itu jika kita menyesal atas kejadian yang  sudah berjalan di dnuia ini, kita masih dapat merencanakan kembali dengan lebih baik sehingga hasilnya tidak akan mengecewakan.  Sebagai contoh jika  sebuah team sebuah olah raga seprti sepak bola misalnya, kemudian setela berlaga ternyata mengalami kekalahan, sudah barang pasti para pengurus, pemain dan suporter aka kecewa dan menyesal, tetapi penyesalan tersebut masih dapat diperbaiki di kemudian hari, yakani dengan mempersiapkan team  dengan lebih bagus lagi.

Begitu juga dengan  seseorang yang sudah mengikuti sebuah pertandingan atau perlombaan tertentu  dan kemudian ternyata kalah, maka  kekecewaan dan penyesalan juga pasti terjadi, amun masih dapat kembali lagi untuk  bertanding di kesempaan lain  dengan mempersiapkannya lebih matang dan begitu seterusnya.  Intinya  seseorang yang  menyesal atas terjadinya sesuatu  yang masih di dunia ini akan tetap ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi.

Tentu kita juga harus emmbedakan sesuatu yang meskipun masih di dunia tetapi sudah tidak lagi  kembali memperbaiki karena kejadian tersebut menyangkut sesuatu yang tidak mungkin terulang. Sebagai contohnya ialah jika seseorang karena kelalaiannya lalu menyebabkan seseornag meninggal dunia, maka  penyesalan tersebut hanya dapat dilakukan untuk memperbaiki dirinya sendiri, dan bukan lagi terkait dengan orang yang menjadi korban.

Pada umumnya justru penyesala tersebut terkait dengan persoalan yang mirip dengan ini, yakni pengemudi yang tetap menjalankan kendaraannya, meskipun masih sangat mengantuk, lalu menyebabkan kecelakaan maut dan merenggut nyawa, atau karena sedang mabuk lalu tetap dipaksakan untuk mengemudi sehingga menyebabkan orang lain tewas, dan lainnya.  Bisa juga  ketika seseorang sedang emosi kemudian menumpahkannya kepada seseorang lalu orang tersebut  meninggal, maka penyesalannya   hanya dapat dilaukan oleh dirinya sendiri tanpa terkait dengan korbannya.

Sungguh snagat bervariasi dan banyak sekali bentuk bentuk kejadian yang menyebabkan penyesaalan  bagi pelakuknya, akan tetapi tidak semuanya dapat dilakukan sebegaimana  diinginkan, karena sebagaiannya  akan menyesal setelah dihukum penjarabeberapa tahun, atau  langsung menyesal tetapi tidak mungkin untuk meminta maaf kepada korban yang menyebabkan penyesalan tersebut, karena korbannya sudah meninggal dunia dan lainnya.

Pnyesalan itu merupakan sikap bagus, tetapi jika hal tersebut diulan ulang, maka bukan lagi penyesalan melainkan cuma alasan saja untuk meringankan dirinya.  Sikap menyesal seharusnya  memberikan efek yang luar biasa dalam diri seseorang sehingga  dalam waktu yang lama dia tidak akan mengulangi perbuatan  sebegiamana yang disesalanya tersebut.  Perbuatan menyesal itu datangnya dari dalam diri dan hati yang terdalam, sehingga akan meresap dalam keseluruhan hidupnya.

Nah, jika seseorang mengatakan menyesal, tetapi kemudian tidak lama setelah itu melakukan hal relatif sama, maka sesungguhnya itu bukan enyesalan melainkan hanya sebuah ungkapan  sepontan yang tidak mengefek.  Menyesal itu persis seperti ungkapan tobat, yakni sikap yang datang dari kesadaran diri untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama untuk selamanya.  Nah, jika tobat tersebut hanya sebentar dan lalu mengulanginya lagi, maka itu bukan tobat melainkan hanya sekedar ungkapan palsu yang hanya untuk melindungi dir saja.

Kita memang tidak dapat melarang seseorang menggunakan istilah menyesal tersebut, karena sesungguhnya untuk mengaaakn sesuatu itu merupakan kebebasan setiap orang, hanya saja kita harus mengerti secara pasti bahwa ungkapan yang digunakan oleh seseoraqng itu benar ataukah tidak.  Bisa  saja seseorang menggunakan kata menyesal hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya  kurang senang dengan sesuatu, padahal masih dapat menerimnaya juga.

Nah, kata menyesal dalam ungkapan yang seperti itu  bukanlah merupakan penyesalayang sesungguhnya, karena yang dimaksudkan ialah bukan penyesalan itu sendiri, melainkan  untuk menujukkan bahwa  ada sesuatu yang lebih bagus dari itu dan  ternyata tidak diambil. Makanya kemudian dia mengatakan menyesal karena tidak mendapatkan yang lebih baik tersebut, walaupun yang sudah ditangan tersebut juga tetap diterima sebagai sesuatu yang sudah baik.

Kita tentu seringkali mendengar pernyataan penyesalan sepeti itu yang  hakekatnya bukanlah sebuah penyesalan, melainkan hanya sekedar sedikit kecewa  karena telah salah memilih saja.  Meskipun demikian biasnaya  uga dapat dikatakan sebagai penyesalan.  Sekali lagi penyesalan  dala berbagai bentuknya sebagaimana yang sudah diuraikan di atas  hanyalah penyesalan  semi yang  masih dapat diperbaiki,khususnya  untuk diri agar tidak terulang kembali hal yang relatif sama.

Nah, persoalannya  saat ini ialah bagaimana kita menyikapi penyesalan yang hakiki, yakni penyesalann yang bakal dinyatakan oleh orang orang yang saat ini durhaka dan menentang perintah Tuhan.  Kita sangat tahu dan percaya bahwa duian ini akan segraa berakhir, dan ekmudian akan berganti dengan dunia lain yang bernama akhirat.  Di sanalah semua orang akan mendapakan perlakuan yang sanat sama dan sangat adil, termasuk berbagai hal  dan kecurangan yang sudah dilakukan du dunia, masih akan tetap diperhitungkan di akhirat.

Jadi siapapun yang saat di dunia menjalankan kebajikan tentu akan mendapatan pembalasan yang setimpal, demikian juga siapapun yang  melakukan perbuatan yang diharamkan, juga akan mendapatkan belasannya  secara adil.  Secara teoritis seharusnya tidak akan ada lagi muncul penyesalan, karena semuanya sudah diniatkan oleh masinga masing orang.  Tuhan sudah menyeru dan menyampaikan ajarannya  melalui para utusan Nya agar manusia berbuat yang terbaik.

Semua perbuatan baik tersebut bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan  seluruhnya untuk kepentingan manusia itu sendiri, baik dirinya, maupun pihak lain.  Nah, manusia juga dibe=kali dengan akal pikiran yang  mampu untuk mebedakan yang baik dan buruk serta  untuk memutuskan sesuatu.  Nah, kalau kemudian manusia mengambil keputusan untuk tidak mengikuti perintah Tuhan dan lebih menginginkan mengikuti nafsunya sendiri, maka  akibat yang bakal diterima di akhirat sudah pasti harus diterima tanpa harus menyesal.

Namun pada kenyataannya nanti  mayoritas manusia pasti akan menyesal karena tidak mau mempercayai adanya kehidupan ahirat yang abadi, dan malah menjadikan akal pikirannya untuk menentang  kepada Tuhan.  Nah, jika kemudian manusia mn=enyatakan penyesalannya atas apapun yang sudah dilakukan di dnia, maa itulah penyesalan yang hakiki, karena  mereka tentunya sudah tidak mungkin lagi untuk memperbaiki dan embngulanginya lagi.

Pelajaran yang diaapatkan tentu sangat banyak, sdan salah satunya ialah kita harus pandai pandai untuk mempergunakan akal kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk kejayaan dan kebahagiaan di akhirat nanti.  Mungkin  kalau kita merenungkan dan memikirkan alam raya ini dengan lebih abik, kita pasti akan menemukan jawaban yang sangat logis dengan adanya kehoidupan akhirat tersebut.  Semoga kita  mampu mengikuti ajaran syariat  yang ada untuk  keselamatan dan kebahagiaan kta sendiri. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.