NGAJI BARENG PARA GURU

Sesungguhnya mengaji itu bukan asing bagiku, melainkan justru menjadi pekerjaan rutin saya, karena  saya mempunyai santri, meskipun terkadang harus  libur juga karena harus melaksanakan tugas di luar kota, namun kali ini saya memang benar benar menjadi lain, karena  seorang kawan meminta saya ngaji bersama dengan para guru dan siswa, baik  di tingkat SLTP maupun SLTA yang dikelola oleh yayasannya.  Padahal saya sudah lama tidak ngaji speerti itu, sehingga pada awalnya saya keberatan dan saya tidak tahu apa yang harus saya sampaikan.

Namun karena  dia mendesak dan  menyatakan bahwa yang penting dating, soal apa yang dibicarakan tidak menjadi masalah, pokok sak ngomonge saja.  Apappun boleh diomongkan dan tidak dibatasi dengan tema tertentu.  Nah, dalam kondisi terdesak seprti itu tentu saya kemudian tidak dapat mengelak lagi dan akhirnya sayapun menyanggupinya.  Persoalan  nanti bagaimana saya pasrahkan saja kepada Tuhan yang Maha Mengatur.

Kata ngaji memang berkonotasi dengan kebaikan, karena biasanya yang dilakukan ialah menelaah sebuah kitab  ataupun  mendengarkan ceramah keagamaan.  Dengan begitu tentu ada dua pihak yang saling berhadapan, yakni mereka yang mengaji dalam arti membaca kitab tertentu da nada pula yang mendengarkan atau mencatat.  Atau juga bias  ada yang berceramah da nada pula yang mendengarkannya.  Itulah kira kira pengertian umum ngaji tersebut.

Intinya ialah saling mengingatka pada kebaikan sehingga diharapkan  dengan negaji tersebut akan tercipta kondisi yang bagus dan terjauhkan dari keadaan yang tidak baik.  Namun sebagaimana dalam  hal lainnya, tidak semua yang diharapklan sebegaimana teorinya tersebut akan terwujud.  Tidak ubahnya dengan ngaji, dimana harapan baiknya sebagaimana tersebut, namun terkadang  malah sebaliknya, yakni tidak ada  efek sama sekali.

Ngaji yang biasa dilakukan oleh kebanyakan masyarakat ialah mendengarkan ceramah dari seorang ustadz atau kiai, tetapi karena sifatnya massal  maka biasanya mereka tidak focus dan  bahkan kebanyakan menginginkan sebagai hiburan saja.  Artinya  terbukti pengajian yang mendatangkan ustadz yang lucu bagai pelawak, amaka dihadiri banyak pengunjung dan mereka akan menjadi senang mendengarnya.

Sementara itu peroalan paham atau tidaknya terhadap misi yang disampaikan tidak terlalu menjadi masalah, dan bahkan biasanya mereka juga tidak ada perubahan darfi sebelumnya.  Kita juga sring menyaksikan betapa banyak orang yang sering nagaji tetapi sama sekali tidak ada perubahan dalam dirinya.  Lalu apa manfaat yang didapatkan dari kegiatanngaji tersebut?  Paling tidak ada nilai silaturrahmi dengan banyak orang sehingga akan dapat  informasi penting.

Namun umat juga perlu waspada terhadap segala macam informasi, karena saat ini marak informasi yang hoax dan bahkan menyesatkan, sehingga dalam kondisi bagaimana pun kita harus tetap waspada.  Artinya ada saja  peserta ngaji yang justru membawa berita firnah dan sangat membahayakan. Memamg aneh karena arena pangajian itu seharusnya steril dari hoax dan fitnah, tetapi kenyataannya masih banyak terjadi, bahklan mereka memanfaatkan kondisi kumpul seperti itu untuk menyebarkan berita hoax tersebut.

Sudah barang tentu ngaji sebagaimana yang hari ini akan saya laksanakan di Pati akan lain ceritanya, karena  sepetinya terfokus pada masyarakat tertentu, yakni mesayarakat pendidikan, sehingga diharapkan akan  mampu  dilakukan motivasi untuk berbuat kebajikan.  Saya sendiri belum tahu apa yang akan saya sampaikan, karena saya akan melihat dahulu speerti apa kondisinya, sehingga  segalanya akan mengalir saja.

Mungkin saya akan berbicara mengenai pendidikan secara umum dan memotivasi  kepada semua siswa dan juga juga untuk terus meningkatkan pengetahuannya  sehingga pada saatnya akan mendapatkan kemudahan dan posisi yang layak di mata Tuhan.  Mungkin  juga akan menyitir banyak cerita untuk mengajak para hadirin  menyimak dan mendengarkan dengan seksama, karena kalau monoton diceramahi, saya sangat yakin tidak akn didenagarkan.  Paling paling yang serious mendengarkan tidak sampai  sepuluh persennya saja.

Nah dengan metode cerita yang menarik, diharapkan mereka akan tertarik mendengarkan dan  harapan seterusnya  mereka akan dpat mengambil pelajaran dari cerita tersebut.  Mungkin pelajaran yang  ingin saya sampaikan tidka  banyak, mungkin hanya dua atau tiga hal, namun kalau itu  dapat divcerna dan measuk dalam pikiran dan hati mereka,  saya sudah sangat beruntung dopat menyampaikan sedikit pengetahuan dan berbagi cerita dengan mereka.

Sayangnya memang saya tidak terbiasa untuk emmbuat guyonan sehingga  dengan cerita tersebut sedikit  mengimbangai keseriusan mereka untuk mendengarkannya.  Memang terkadang juke itu diperlukan untuk menarik perhatian, meskipun tidak boleh terus menerus, karena  nanti yang ditangkap bukan  subtstansinya, melainkan jusrru malah kulitnya saja.  Saya  memohon kepada Tuhan agar apa yang saya sampaikan  dapat masuk dalam pikiran dan hati mereka. Itu saja permohonanku.

Semenetraa itu kalau  ngaji model yang biasa saya lakukan ialah  dengan membaca kitab tertentu dan lalu  saya memberikan penjelasan  secara detail.  Karena ada model ngaji yang hanya membaca dan memaknai secara  cepat dan para pendengar alias para santri hanya mendengarkan dan mencatat, sehingga sangat mungkin bahwa  mereka ada yang sama sekali tidak paham,  namun biasanya  dalam pesantren ngaji tersebut lebih banyak  naglap berjkah saja, karena mereka akan etrus menelaahnya sehingga pada saatnya nanti mereka akan benar ebnar mampu memahami kitab etrsebut.

Saya merasakan benar tentang kondisi tersebut sehingga saya memerlukan untuk menjelaskan apa yang say abaca dengan lebih detail dan jelas, harapannya ialah kalaupun mereka nanti tidfak sempat lebih lama di pesantren dan tidak mampu meneruskan ngajinya, mereka sudah tahu informasi tentang sesuatu yang  mungkin pada saatnya akan dialaminya.  Biasanya ngaji di pesantren itu terkait dengan persoalan agama Islam, semisal fiqh, tafsir atau hadis.

Bagi saya  tentang kitab apa yang dikaji itu tidak terlalu penting, karena  kitab tersebut hanya sebagai gaet line saja, sementara penjelasannya  harus diperluas  menyangkut berbagai aspek, sehingga mereka akn lebih tahu dan memahami keadaan  dan sekaligus mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul.  Hanya saja   dapat dipastikan  kitab kitab etrsebut bersifat netral dan kalau pun bermadzhab, maka madzhab Syafiiyah yang  diambil.  Hal tersebut untuk menyesuaikan dengan kondisi riil di masyarakat Indonesia.

Kata ngaji itu  sesungguhnya  mirip dengan  menelaah sebuah kitab atau buku, sehingga menjadi penting, terutama bagi mereka yang mencari ilmu pengetahuan. Karena kemiripan iotulah kemudian  obyek kajian juga mestinya tidak terlalu berbeda.  Hanya saja kalau  intilah ngaji dikalangan kita itu konotasinya ialah dengan  pemahaman keisalaman, bukan yang lain. Sedangkan kalau menelaah buku itu dapat berupa buku apa saja yang memang menjadi keinginannya, baik terkait dengan  keagamaan islam maupun sama sekali berbeda.

Artinya jika seseorang sedang kuliah di fakultas kedokteran, sudah barang opasti yang ditelaah ialah buku buku yang terkait dengan silabusnya fakultas kedokteran tersebut. Demikian juga jika dia  mengambil kuliah di kimia, maka buku buku yang ditelaah juga terkait dengannya.  Namun secara umum ngaji apap saja atau menelaah buku apapun hukumnya mubah atau boleh, termasuk jika harus membaca kitab perjanjian baru atau pun lama, karena membaca buku itu tidak mesti harus diamalkan.

Hanya saja  kalau memang belum mempunyai pengetahuan yang cukup, sebaiknya membaca dan menelaah buku yang menjadi konsentrasinya saja,  yakni buku yang terkait dengan pelajaran di sekolah maupun saat kuliah.  Atau buku buku yang mutlak berkaitan dengan  keisalaman.  Semoga kita dapat selalu ngaji untuk klebajikan hidup kita dan menambah pengetahuan untuk kesejahteraan kita.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.