MEMANG BENAR TERGANTUNG KEPADA NIAT

Kalau Nabi  Muhammad saw, pernah menyatakan bahwa segala sesuatu itu tergantung kepada niat, mungkin kita hanya dapat memahaminya sebagai sebuahharapan dan itupun hanya terkait dengan persoalan ibadah, apakah  ibadah tersebut dianggap sah dan bernilai ataukah tidak.  Sebab untuk urusan lainnya  seperti kegiatan keseharian manusia, tanpa niatpun tetap akan terwujud, dan karena itu kemudian  riwayat tersebut seolah hanya sebuah teori belaka.

Namun siapa tahu bahwa  penytaaan  segala seasuatu tergantung kepada niat tersebut mengandung makna yang sangat dalam, terutama jika kita sedang mengalami sesuatu yang luar biasa, baik menyenangkan maupun menyedihkan.  Unsur niat tersebut akan memegang peran yang sangat sentral terhadap sikpa dan  kelanjutan  dari sikap kita tersebut.  Bolh jadi kalau niat kita bagus, maka  apa yang terjadi berikitnya juga akan menjadi bagus, dan sebaliknya jika niat kita jelek, apa yang akan terjadi berikutnya juga sangat mungkin jelek.

Bilama seseoranag sedang mendapatkan kesulitan, semaam ditipu orang atau sedang kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya atau mungkin sedang mendapatkan perlakuan  yang sama sekali tidak menyenangkan, maka aspek niat akan sangat menentukan.  Artinya apakah kita akan terus bersedih, terus kecewa,  atau terus meratap dan sejenisnya, ataukah kita akan segera mengkahiri semua  penderitaan tersebut dengan sebuah senyuman, semuanya tergantung kepada sikap dan niat kita.

Boleh jadi kalau kita niatkan  jelek, dan  mungkin juga dapat  mengomeli orang yang mencuri hak kita, atau  menggerutu atas  kebodohan kita karena dapat ditipu orang lain, ataukah memarahi orang yang telah mengecewakan kita, maka kita akan terus berada dalamkondisi yang tidak stabil dan semakin lama  akan semakin menjadi parah.  Dengan begitu emosi kita akan terus berkembang ke arah yang tidak terkendali.

Kondisi demikian kalau tidak segera dikendalikan, kemungkinan besar akan meledak menjadi perlakukan yang  sama sekali tidak  terkendali dan pastinya akan merugikan diri.  Bahkan kalau tidak tertangani  dengan bagus dan  hanya dapat dikendalikan dari sikap lahirnya,  terkadang akan menjadi penyakit yang sangat slit disembuhkan.  Artinya memendam emosi yang terlalu berlebihan pastinya akan  berakibat kurang bagus bagi kesehatan diri, termasuk untuk akal pikiran kita.

Namun jika semua kejadian tidak menyenaqngkan tersebut disikapi dan diniati ikhlas dan  menjalani hidup sesuai dengan apa adanya, insayaallah akan menolong pengendalian  diri dari emosi dan sikap tidak cerdas.  Artinya  kalau kita serahkan semua urusan hanya kepada Tuhan, terutama sesuatu yang sudah terjadi, maka  hati dan pikiran kita  akan tertolong menjadi tenag dan tenteram serta tidak akan menyisakan  sesuatu yang tidak bagus.

Namun memang tidak mudah untuk melakukan dan mempraktekkan hal tersebut, karena biasanya emosi dan keegoan diri  akan sanggup menagalahkan pikiran sehat.  Karena itu memang harus dibiasakan dan untuk pertama kali memang harus dipaksakan agar menjadi terbiasa.  Kita harus  dapat membiasakan diri untuk mengingat Tuhan dalam kondisi apapun.

Jadi jika kita sedang  dalam kondisi galau, tidak menyenangkan dan sejenisnya,   sebaiknya segera mengucapkan istighfar berkali kali dan meresapinya sedemikian rupa,  sehingga  hati kita akan sedikit terkendali  dan akal pikiran kita juga akan tidak tertutup sama skali oleh emosi, sehingga masih tersisa  untuk memikirkan  sesuatu yang terbaik.  Nah, dalam kondisi yang seperti itu kita  dapat menibang hal hal yang baik dan buruk.

Pada gilirannya, pasti kalau yang mengendalikan ialah akal sehat kita, pastilah kita akan lebih memilih melupakan kesedihan tersebut dan memaafkan semua pihak yang berbuat tidak menyenangkan kepada kita.  Dengan pemikiran seperti itu yang dilandasi oleh niat tersebut, maka segala sesuatu akan terasa ringan dan indah.  Kitapun akan  dengan mudah memaafkan ihak lain yang  jahat kepada kita.

Sebagaimana kita tahu bahwa emosi itu pastinya akan mengajak kepada kejelekan, dan pastinya akan merugikan diri sendiri.  Kita juga tahu bahwa emosi itu dikendalikan oleh nafsu yang memang harus terus menerus kita perangi dan kendalikan.  Dengan mengendalikan emosi tersebut berarti kita juga sekaligus  telah berusaha untuk  mendapatkan bimbingan dan hidayah dari Tuhan, sehingga  tuntutan nurani  akan lebih menonjol mengalahkan emosi kita.

Itulah kenyataan yang pada  lazimnya kurang dipahami oleh kebanyakan masyarakat, sehingga meeka akan kesulitan untuk mengendalikan emosi, manakala sedang mendapatkan ujian, berupa ejekan pihak lain, penipuan yang dilakukan  kepada dirinya, dan juga jika sedang  merasa dikerjain oleh pihak lain.  Biasanya dalam  hal hal tersebut, orang akan lebih  menonjolkan egonya ketimbang akal pikiran sehatnya.

Karena itu disamping  unsur niat yang berguna bagi  penambahan  nilai terhadap semua kegiatan agar mendapatkan pahala, yakni bilamana diniatkan dengan ibadah,  juga  sekaligus sebagai penenang jiwa  dalam menghadapi segala hal yang  memungkinkan  emosi kita tidak setabil, dan bahkan cenderung kepada pelampiasannya.

Bahkan sangat mungkin apa yang terkandung dalam riwayat tentang niat tersebut masih sangat luas, hanya saja kita belum dapat merasakannya, dan belum mengalaminya.  Karena itu sebaiknya kita memang berprasangka baik kepada  riwayat hadis tersebut agar ita pada suatu saat dapat menemukan hikamh dan  sekaligus  penrapan  hadis tersebut dalam kehidupan nyata kita saat ini.  Artinya kita tidak membatasi diri dengan pengertian yang awal sebagaimana tersebut di atas.

Dengan pengertian  dan penerapan niat yang sudah terbukti sebagaimana di atas saja sudah cukup membantu kita untuk menjalani hidup lebih nyaman dan terjauhkan dari segala persoalan.  Banyak  hal yang dapat diterapkan hadis tersebut sehingga akan dapat menenangkan hati dan pikiran, semisal, jika kita sedang  bepergian menggunakan pesawat dan kebetulan pesawat didelay hingga  hampur satu jam atau bahkan lebih dari itu, biasanya kita akan mengumpat dan jengkel.

Apalagi kalau kkita sedang mempunyai urusan sangat penting di seberang sana, sehingga ketepatan waktu sangat diharapkan.  Namun kalau ternyata maskapai yang akan kita tumpangi memang terlambat,  apapun yang kita lakukan, emosi, marah, melampiaskan dengan menghardik petugas masakapi dan lainnya, tetap saja  kita tidak akan dapat segera terbang, karena  pesawatnya memang belum datng misalnya.

Nah, dalam kondisi seprti itu kita memang  sangat membutuhkan  sikap bijak dengan mengembalikan semuanya kepada Tuhan.  Niatkanlah yang terbaik, insyaallah semuanya akan teta baik.  Dengan  mengembalikan semua hal hanya kepada Tuhan, maka hati akan menjadi tenang, pikiran pun akan menjadi terang dan emosi akan mereda.

Untuk urusan di seberang yang membutuhkan kehadiran kita tepat waktu pun insayaallah akan jalan keluar  yang bagus.  Jadi dengan sikap kita yang menerima apa adanya  dan mudah memaafkan kesalahan seperti apapun yang dilakukan pihak lain, hidup kita akan menjadi sangat stabil dan terjauhkan dari resiko  jatuh sakit atau bahkan  struk yang saat ini banyak dialami oleh masyarakat kita.

Jadi  riwayat hadis  sebagaimana tersebut sangat membantu kita dalam menjalani hidup sehingga  menjadi sangat enak, damai dan penuh dengan keakraban serta pertemanan.  Mungkin pada awalnya kita dianggap manusia yang  bodoh dengan membiarkan mereka yang menyakiti kita  dan bahkan memaafkan kita, namun setelah berjalan  beberapa waktu, smeuanya akan menyadari bahwa sikap kita tersebut adalah yang terbaik.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.