LILLAHI TAALA

Barangkali di dunia ini sudah sangat langka orang yang melakukan sesuatu dengan tulus, tanpa pamrih, atau dalam bahasa agama kita biasa disebut dengan lillahi taala.  Kita tidak tahu apa penyebabnya, karena  kalau kita bandingkan pada zaman dahulu, sudah sangat berbeda motivasi orang melakukan sesuatu.

Dengan kata lain, dapat diungkapkan bahwa  semua hal yang dilakukan oleh orang di zaman ini selalu saja ada harapan untuk mendapatkan imbalan, apapun imbalannya.  Tentu lain dengan apa yang dilakukan oleh orang terdahulu yang sangat rela melakukan sesuatu untuk generasi mendatang.  Contohnya ialah  mereka yang dahulu berperang melawan penjajah, sama sekali tidak mengharapka sesuatu, selain  kemerdekaan itu sendiri.

Bahkan dalam melakukan peperangan tersebut, mereka merelakan kalau hartanya harus tersedot untuk itu dan juga  semua keluarga dan bahkan nyawanya sendiri.  Para orang tua kita  juga rela menanam pepohonan yang   buanya dapat diharapkan setelah berpuluh tahun kemudian, sehingga mereka sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan justru memikirkan pihak lain, para generasi muda.  Jadi ketulusan mereka sungguh luar biasa, namun amat disayangkan hal tersebut tidak dapat diwarisi oleh generasi saat ini.

Lantas pertanyaannya ialah masih adakah generasi saat ini yang masih peduli terhadap kelangsungan  hidup generasi mendatang?.  Kalaupun masi ada,  sudah pasti jumlahnya sangat sedikit, karena yang kita tahu saat ini sangat banyak pihak yang justru berlaku sebaliknya, yakni mengeksploitasi alam, sehingga  mengakibatkan kerusakan alam yang begitu parah.  Mungkin mereka  dapat menikmati keuntungan saat ini, namun sama sekali mereka tidak memikirkan bahwa masih ada generasi mendatang yang juga  mengharapkan alam yang indah dan damai.

Betapa banyaknya  orang yang tega merusak alam, baik dengan mengeksploitasi sumber sumber  alam dengan tanpa perhitungan matang, mebakar hutan dan merusak lingkungan. Bahkan dengan perbuatan mereka itu saat ini saja sudah terasa kerusakan alam, seperti terjadinya banjir, kerusakan   ekosistem yang sangat parah dan rusaknya pemandangan alam.  Semua itu akibat ulah manusia yang  tidak mempunyai perasaan untuk mewariskan lingkungan yang nyaman bagi generasi mendatang.

Boleh dikatakan bahwa  saat ini kita sangat kesulitan untuk mendapatkan orang yang mau berbuat sesuatu lillahi taala, karena semua  yang dikerjakan selalu saja dikaitkan dengan keuntungan materi yang akan didapatkan secara instan, tidak pula memikirkan bagaimana cara yang digunakan, termasuk kalau harus merusak alam dan lingkungan.  Mereka yang membakar hutan, sama sekali tidak berpikir bahwa perbuatannya tersebut dapat merusak lingkungan secara luas, juga dapat mencemarkan udara dan banyaklagi kerugian lainnya.

Mereka hanya berpikir dengan pembakaran tersebut, mereka akan dengan mudah  membuka lahan untuk keuntungan mereka sendiri.  Kalau mereka berpoikir jernih, tentu ada jalan untuk membukan lahan hutan sehingga menjadi lahan yang siap untuk ditanami sesuatu yang produktif, tanpa harus merusak  lingkungan.  Itulah kenyataan yang saat ini dapat kita saksikan sehari hari di sekitar kita.  Demikian juga mereka yang mengeruk sumber daya alam dengan membabi buta, sehingga mengakibatkan lingkungan menjadi rusak parah, karena yang dipkirkan ialah hanya keuntungan secara pribadinya.

Lebih celaka lagi sudah merusaka lingkungan, tetapi masih saja tidak menyadarinya dan kemudian malah menggusur masyarakat yang sudah bertahun tahun  berdomisili di tempat tersebut.  Ini sungguh peruatan yang sama sekali tidak berperikemanusiaan.  Namun hal tersebut terus berlanjut seolah  tidak ada hukum yang dapat menyentuh mereka.  Pertanyaannya ialah ini semua salah siapa? Dan dimana pemerintah yang seharusnya melindungi seluruh tumpah darah Indonesia?.

Atas dasar itu semua, sudah saatnyalah kita dan sleuruh rakyat Indonesia harus sadar behawa alam Indonesia ini  bukan hanya untuk kita saja, melainkan juga untuk anak cucu dan generasi mendatang,  karena itu perlu  dijaga sedemikian rupa sehingga kelestariannya dapat diharapkan.  Untuk menuju ke sana memang tidak mudah, tetapi harus melalui jalan berliku  dan terjal, wlaupun bukan mustakhil dapat dilakukan.  Sayaratnya ialah ada ketegasan dari pemerintah dalam menangani masalah ini.

Barangkali memang tidak hanya menjadi tugas pemerintah semata, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia, melalui kapasitas masing masing.  Setaip orang juga dapat berperan  melalui  perilaiu keseharian, yakni  dengan  memberikan contoh dalam berbuat secara tulus.  Artinya ketka ada pihak yang membutuhkan  bantuan kita, dan kita mampu melakukannya, jangan segan segan untuk terjun membantu, tanpa harus  meminta imbalan tentunya.

Kebiasaan tersebut  pada dasarnya dapat dimulai dari keluarga, seperti ketika menyuruh anak untuk urusan  sesuatu, sebaiknya tidak dibiasakan dengan memberikan imbalan, karena hal tersebut akan menjadi kebiasaan yang pada akhirnya  anak akan menjadi tergantung dengan upah yang diberikan.  Selama ada upah, maka  perintah akan dilaksanakan, tetapi kalau tidak ada upah, maka perintah hanya tinggal perintah, tanpa dikerjakan.

Sesekali mungkin bolehlah kita memberikan upa kepada anak kita, tetapi sebaiknya juga bukan langsung berupa uang, melainkan sesekali diajak makan di luar atau diberikan  pakaian dan lainnya, sehingga  mereka tidak akan menunutut jika setiap kali disuruh melakukan sesuatu.   Dalam kondisi demikian kita juga harus terus menerus memberikan pengertian kepada mereka bahwa  melakukan  sebuah perintah atau sekedar menolong orang lain, jangan sekali kali meminta upah, melainkan  harus dilakukan dengan tulus.

Kebiasaan tulus tersebut tentu akan sangat  membantu anak tersebut menjadi  berkembang  dengan sangat baik, bahkan kepduliannya terhadap orang lain dan lingkungan akan semakin membesar, tanpa harus dikomando pun anak tersebut akan dengan cekatan membantu siapapun yang merasa kesulitan dan dia mampu melakukannya.  Bahkan kalau misalnya dia melihat sampah disembarang tempat, dengan mudah dia akan memungutnya untuk diletakkan di tempatnya dan begitu seterusnya.

Anak anak  yang sudah terbiasa  melakukan sesuatu dengan tulus, tentu tidak akan membiarkan misalnya ada  orang tua yang akan menyeberang jalan atau membawa bawaan yang terasa berat dan lainnya.  Mereka  akan membantu dengan tulus dan justru mereka akan mendapatkankepuasan setelah mereka menolong pihaklain, bukan pada upah yang diterimanya.  Kita pun dapat berpean kepada anak anak kita bahwa menolong orang lain itu merupakan sebuah kewajiban, sehingga tidak perlu ada  perintah ataupun yang memberikan upah.

Alangkah hebatnya dan  damainya  dunia ini andai kata banyak anak yang mempunyai sifat sebagaimana digambarkan di atas.  Dan kita dapat menciptakan kondisi tersebut manakala kita  mau memulainya sejak saat ini, yakni  menerapkan  keikhlasan tersebut dalam keluarga kita dan memberikan contoh kepada masyarakat secara  luas.  Kita tidak perlu malu untuk berbuat kebajikan, karena pasti akan banyak pihak yang akhirnya  salut kepada kita.

Besikap dan berbuat lillahi taala memang tidak mudah, tetapi jiia kita  berkomitmen  untuk melakukannya,  pasti ada banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk mewujudkan semua itu.  Karena itu mari memulai dari diri dan keluarga kita, lalu kita menganjurkan kepada  lingkungan sekitar kita, semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama , kita akan  dapat menyaksikan betapa indahnya hidup dengan penuh keberkahan, karena banyak orang berbuat lillahi taala tersebut.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.