BERDAYAKAN MASYARAKAT LEMAH

Akhir akhir ini kita sering mendengar bahwa presiden Jokowi tidak ingin mendengar lagi program yang tidak jelas, seperti pemberdayaan, peningkatan dan sejenisnya, dan beliau ingin  program program yang disusun benera benar dapat dengan jelas dimengerti dan  ada target yang dapat diprediksi, sehingga evaluasinya sangat  mudah.  Kata memberdayakan dan meningkatkanmisalnya,  sangat abstraks sehingga tidak mudah dilakukan evaluasi tentangn kebrhasilan dan kegagalannya. Untuk itu program secama itu harus ditinggalkan dan lakukan dengan program yang jelas.

Kita  sangat setuju dengan program yang jelas tersebut, namun sesungguhnya pemberdayaan  tersebut juga dapat diperjelas,  terutama melalui penjelasan yang dapat diterima oleh akal sehat, semilsal memberdayakan  rakyat miskin sehingga mereka  dapat berdaya  untuk mendapatkan  harta sendiri melalui berbagai usaha yang dapat dilakukan.  Sudah barang tentu harus ada perencanaan dan sekaligus pelaksanaannya yang  sungguh sungguh, dan bukan sekedar menjalankan proyek semata.

Kekhawatiran presiden  sebegaiamana tersebut memang dapat dimengerti, karena pengertian pemberdayaan yang selama ini digunakan oleh kebanyakan kementerian ialah hanya sekedar  menjalankan proyek, tanpa  harus dievaluasi secara mendalam mengenai dampaknya secara langsung oleh masyarakat.  Dengan begitu  memang banyak proyek yang  habis begitu saja tanpa  dampak jelas, sehingga pemerintah  dan masyarakat  akan dirugikan secara umum.

Saya sendiri sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh bu Risma, waklikota Surabaya yang sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya.  Beliau mungkin juga menggunakan term pemberdayaan, namun sangat jelas  kegiatannya dan  berhasil dalam mengangkat atau memberdayakan masyarakat dari lemah menjadi kuat, dari miskin menjadi tidak miskin, dari pengangguran menjadi berusaha dan seterusnya.

Beliau tidak saja hanya menghimbau masyarakat untuk berusaha dan mengentaskan dirinya dari ketergantungan dan kemiskinan, melainkan secara lsngsung terjun  di masyarakat, dan mencari mereka yang memang benar benar tidak berdaya, lantas diberikan pekerjaan melalui apa yang menjadi minat mereka.  Bilamana  ada sebagian masyarakat yang ingin menjahit, maka kalau belum dapat menjahit dikursuskan dan setelah dapat menjahit dibelikan mesin jahid dan seterusnya, sehingga  itu merupakan karya nyata.

Kita juga tahu bahwa  kemiskinan yang ada di masyarakat bukan saja terkait denganpersoalan ekonomi, melaqinkan juga persoalan mental.  Artinya masih banyak diantara masyarakat kita yang belum  bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan secara cuma cuma, seeprti beberapa kasus yang ditemui oleh u Risma, yakni mereka yang sudah diberikan peluang untuk bekerja di suaru tempat seperti sentra kerajinan tertentu, namun mereka tidak mau datang juga.

Karena kepdulian beliau yang  luar biasa,  bu Risma akhirnya harus menjemput orang tersebut dan diantarkan ke tempat usaha atau kerjanya, dan suartu ketika  tidak dijemput,  dia juga tidak datang.  Usaha bu Risma tidak sia sia kerena setelah dilakukan penjemputan sendiri oleh wali kota selama  seminggu, pada akhirnya  orang tersebut  mau datang sendiri ke tempat kerja atau usaha tersebut.  Te4ntu bukan hanya  itu, melainkan juga banyak masyarakat yang sesungguhnya  sangat sulit untuk diajak bekerja atau berusaha, karena miskin mental tersebut.

Namun dengan ketekunan  bu Risma, pada akhirnya  saat ini hampir seluruh masyarakat Surabaya telah berubah dan lebih berdaya dalam bidang ekonomi, termasuk mereka yang dahulunya menjadi germo, pada saat  ini sudah  insyaf dan beralih  dengan ushaa yang terhirmat, seperti kejrajinan batik, pembuatan sepatu sandal dan berbagai kerajinan yang bukan saja  dapat dinikmati oleh warga Surabaya, melainkan juga oleh masyarakat luar  Surabaya, bahkan sampai ke manca negara.

Sudah barang tentu usaha yang dilakukan tersebut memerlukan dorongan yang serius dan benar benar riil  dalam hal kepedulian untuk memberdayakan  masyarakat.  Hanya saja  persoalannnya saat ini ialah kebanyakan pejabat dalam bidang yang seharusnya mensejahterakan masyarakat, justru   seolah tidak peduli dengan nasib masyarakat yang kurang berdaya.  Memang mereka  memprogramkan semisal pelatihan dan sejenisnya, namun  tidak dari hati, sehingga tidak mengena.

Sebagiamana disebutkan di atas, kebanyakan program yang disusun hanya untuk menjadi sebuah kegiatan atau proyek yang tidak dipikirkanndampaknya secara langsung kepada masyarakat.  Ketika ada masyarakat yang diam saja  setelah dilakukan training,  pemerintah tidak akan tahu dan memang seolah tidak mau tahu.  Pada akhirnya program program yang dijalankan seolah tidak ada gunanya sama sekali.

Sudah saatnya kita  memulai kepedulian kita untuk mereka yang  membutuhkan sentuhan tangan kita, sesuai dengan kapasitas  masing masing.  Kita sangat percaya bahwa bilamana kita serius  dan tuljus dalam memberdayakan masyarakat, pastinya akan berhasil.  Kpedulian tersebut memang menjadi kata kunci dalam pemberdayaan apapaun yang  nyata out putnya dan  dapat dilihat secara kasat mata.

Kita juga dapat menyaksikan betapa program yang diusung leh yayasan Damandiri dengan pos dayanya, saat ini telah mampu memberikan kontribusi nyata di masyarakat.  Dunia kampus saat ini suda bekerjasama dengan yayasan Damandiri tersebut dan sudah melhirkan banyak kelompok masyarakat yang kemudian dapat menunjukkan  kemampuan diri mereka dalam hal usaha dalam bidang peningkatan ekonomi  masyarakat.

Kelompok dalam pos daya tersebut tidak akan berdiam diri menunggu bole, melainkan  justru sebaliknya mendata secara langsung  kepada masyarakat sekitar di wilayah kelompoknya, masih adakah anak usia sekolah yang belum sekolah, masih adakah  yang menjaid pengangguran dan  tidak dapat berbuat apa apa, dan juga masihkan ada  keluarga yang belum mempunyai kakus serta masih adakah keluarga yang  tidak berdaya.

nah, dari data tersebut kemudian didiskusikan di dalam kelompok, semisal ada persoalan yang  segera ditindak lanjuti, maka kelompok akan mendcarikan h]jalan keluarnya, seumpama  mencarikan bapak asuh di kelompoknya bagi ana yang tidak sekolah, atau mencarikan pekerjaan bagi  orang dalam lingkungan anggotanya yang belum bekerja dan lainnya.  Namun jika  penyelesaian di kelompok tersebut tidak dapat dilakukan, maka pengurus kelompok tersebut akan mengangkatnya ke tingkat desa, dan begitu seterusnya, sehingga persoalantersebut akan mendapatkan  solusi terbaik.

Bahkan saat ini  Damandiri telah menggandeng beberapa mitra termasuk bulog an bank untuk memberikan kemudahan masyarakat yang peduli dengan sesama, yakni mendapatkan kemudahan dan sekaligus keuntungan ang jelas.  Memang syaratnya ialah mau berbagi dengan sesama.  Beberapa contoh tersebut yakni dalam bidang pemberdayaan ekonomi umat sudah dijalankan, namun masi diperlukan supoort dari pemerintah,anya yang terkait langsung dengan kementerian  yang mengurusi hal ini.

Artinya  agar program p[rogram yang disusun memang benar benar berguan dan menyentuh secara langsung terhadap kepentingan masyarakat, utamanya dalam upaya  mengentaskan mereka yang lemah dan miskin, sehinggaa mereka dapat  berdaya  dan mandiri.  Tentu harus ada sinergi dengan beberapa program kementerian lainnya, dan juga dunia perbankan dan lainnya, sebab tanpa  kepedulian  kementerian dalam masalah riil seperti ini, program yang disusun  bertahun tahun pun tidak akan dapat menyelesaikan persoalan.

Karena itu perd=guruan tinggi juga  harus memeprsiapkan diuri untuk bermitra dengan kementerian dan lembaga lainnya untuk peduli dalam hal pemberdayaan masyarakat secara riil tersebut.  Kampus  pada saatnya juga  dapat bekerja sama dengan beberapa keenterian terkait untuk bersama sama menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang jelas tujuan dan targetnya, bukan pemberdayaan yang abstraks. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.