MENYAKSIKAN SEPINYA JAKARTA

Mungkin bagi  orang yang ketia di Jakarta  pada saat saat sibuk, yakni pada hari kerja, mereka tidakn menyaksikan betapa Jakarta juga merupakan kota yang  dapat  istirahat dari kesibukan  sehrai hari yang luar biasa.  Bahkan jakarta sudah kadung dicap sebagai kota macet pun  tidak akan dengan mudah dihilangkan, wlaupun hanya dalam angan angan semata.  Untuk itulah tulisan ini mungkin dapat dijadikan sebagai bahan untuk sedikit membayangkan kota Jakarta yang ramah dan cukup sepi.

Saya sendiri sering  menjumpai Jakarta pada hari libur, semacam Sabtu atau Minggu, namun demikian terkadang juga masih padat, khususnya di tempat tempat btertentu, kaena ada kegiatan olah raga atau even lainnya, sehingga kesan  sebagai kota macet masih saja menempel di jakarta tersebut.  Namun secara umum di beberapa wilayah, terlihat  sangat sepi dan kendaraan yang melaju di jalan pun juga dapat leluasa tanpa terganggu oleh kendaraan lainnya.

Pengalaman yang paling mengesankan bagi saya, terkait dengan sepinya kota Jakarta alah pada saat hari raya Idul Fithri beberapa tahun yang silam, yakni pada saat saya didaulat untuk memberikan khutbah Idul Fithri di masjid Istiqlal. Sudah barang tentu saya sudah harus sampai di Jakarta  sehari sebelumnya, dan itu  saya sudah merasakan betapa Jakarta juga bisa sepi dan lancar. Setelah selesai  khitbah, saya harus bersilaturrahmi kepada  menteri Agama di rumah dinas, hingga  sekitar  jam 11.00 siang.

Nah,  begitu pulang dari kawasan rumah dinas menteri itulah saya kemudian merasakan betapa  jalanan di Jakarta begitu lengang. Untungnya saya tidak harus mencari taksi sendiri, karena  diantara oleh driver kementerian agama sampai ke bandara, sehingga dalam beberapa menit saja, saya sudah sampai di bandara,tanpa menemukan sedkitpun kemacetan, bahkan jangankan  macet, kendaraan yang berpapasan saja pun dapat dikatakan sangan  jarang atau sanbgat sedikit.

Batangkali saat seperti itulah oang dapat  melepaskan  kebebasannya dalam menapaki jalan jalan di kota Jakarta tanpa harus  bertemu dengan kemacetan sebagaina biasanya.  Pada saat tersebut memang sejumlah penduduk Jakarta memang sdang mudik ke daerah untuk  berlebaran atau bersilaturrahmi dengan sanak saudaranya di kampung, sehingga Jakarta seolah tanpa penduduk.  Wajarlah kalau kemudian sepi, termasuk dijalanannya.

Saya juga pernah mempunyai pengalaman yang sangat luar biasa di ajakarta, yakni pada saat  tanggal pemilihan gubernur yang menghaqsilkan  Joko Widodo sebagai pemenangnya.  Pada saat itu saya sedang ada urusan di Jakarta sehari sebelumnya hingga malam, sehingga saya harus meginap di Jakarta.  Nah, pada saat sekitar jam 09.00 pagi saya berniat pulang dan menuju bandara Soekarno hatta, saya mendapatkan kesulitan, karena  hampir tidakada taksi yang beroperasi.

Saya katakan hampir tidak ada taksi yang beroperasi, karena lebih  seperempat jam saya menunggu, termasuk  pesan kepada petugas sekurity di hotel untuk mecarikan taksi, juga tidak emmbuahkan hasil.  Saya diberikan informasi bahwa  taksi yang  beroperasi hari itu sangat sedikit dan tidak ada yang melintasi di kawasan tersebut.  Saya memang  sedang menginap di kawasan Cempaka Putih untuk mendekatkan dengan  acara yang saya datangi. 

Namun alhamdu lillah akhirnya ada juga taksi yang dapat mengantarkan saya ke bandara.  Nah, di situlah saya merasakan betapa lengangnya Jakarta, walaupun saya  melewati tol pelabuhan tanjung periok yang sehari harinya selalu padat dengan kendaraan berat dan segala macam kendaraan.  Saya dapat menyaksikan  bangunan yang begitu rapat dari jalan tol, dan disitulah saya merasakan betapa berbedanya Jakarta dari biasanya, meskipun saat itu  penduduk Jakarta tidak sedang pulang kampung, sebagaimana pada saat  idul fithri.

Pada saat ini kita ssungguhnya juga masih dapat menikmati lancarnya kota jakarta, yakni jika kita datang atau berada di jakarta pada hari libur, Sabtu atau Minggu.  Pada  hari tersebut insyaallah Jakarta tidak seperti biasa, dan kalaupun ada banyak kendaraan yang lalu lalany di jalanan, maka  kemacetan tidak akan terjadi, karena pasti akan berkuirang banyak, dan kebnyakan msayarakat jakarta akan lebih memilih berada di rumah menikmati hari libur dengan keluarga, atau sekalian pergi ke luar kota untukiburan.

Kemarin saja saja  dapat menikmati lancarnya jalanan di Jakarta, saat ingin pulang  setelah mengikuti acara di jakarta.  Sejak dari hotel, yakni Golden Boutique di Angkasa hingga badara Soekarno Hatta, sangat lancar, meskipun beberapa waktu sebelumnya telah terjadi banjir dan memacetkan jalanan.  Memang pada saat  berangkatnya  telah terjadi kemacetan yang begitu kerissaukan, karena tengah terjadi banjir sehingga kemacetannya  tidak bergerak, dan  hanya berjarak sekitar seratus meter saja, harus ditempuh dengan  waktu sekitar setengah jam.

Bagi kita yang  dari daerah dimana jalanan biasanya lancar landar saja, tentu keberadaan kita di Jakarta  akan mengalami  semacam stress, terutama jika kita tidak memperkirakan kemacetan tersebut, apalagi kalau  sedang menuju bandara. Hal tersebut disebabkan oleh  jadwal keberangkatan pesawat yang tentu tidak akan mau menyesuaikan dengan kemacetan di jalan.  Spot jantung seperti itu akan selalu dialami oleh mereka yang tidak terbiasa  datang ke Jakarta.

Namun bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu, pastinya akan  mengantisipasinya sedemikian rupa, yakni menyediakan waktu yang  sekiranya cukup untuk perjalanan, termasuk atisipasi macetnya.  Karena itu memang harus ada antisipasi dari siapapun juga yang akan mengadakan perjalanan di Jakarta, agar  tidak mengalami nasib yang lbih menyedihkan, karena tertinggal pesawat, apalagi kalau pesawatnya idak  mungkin digantikan pada penerbangan berikutnya.

Namun sesungguhnya bagi kita yang tinggal di luar Jakarta tidak terlalu masalah, karena kepergian kita ke Jakarta hanya kadang kdang saja sehingga pemandangan macet tersebut tidak terlalu menjadikan kita stress, apalagi kita sudah mengerti dan mengantisipasinya.  Biarlah kita berjalan sebagaimana biasanya, dan  kalau hanya sekedar ingin mengetahui Jakarta lancar dan tidak bising, maka mungkin sesekali kita  harus  pergi atau masih menetap di jakarta  pada hari libur.

Sebaliknya jika kita ingin menyaksikan Jakarta penuh dengan kemacetan dan  kebisingan, bahkan  enuh dengan lautan manusia, sesekalai datanglah pada saat ada demo buruh misalnya, yang pasti akan menuhi jalanan, terutama di sekitar bundaran HI hingga istana.  Tetapi jangan berharap bahwa  kita akan dapat menrobos dengan kendaraan, melainkan jika kita ingin menyaksikan, sebaiknya kita mengambil tempat di jalan yang dilalui  oleh  demo tersebut,  dapat dipastikan kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan.

Demikian juga jika kita menginginkan  dapat menyaksikan Jakarta dalam kondisi yang benar benar sepi, maka sesekali datangla kita ke Jakarta pada saat Idul fithri, terutama siang hari, maka dapat dipastikan kita akan menyaksikan betapa  sepinya jalanan di sepanjang  jalan protokol yang biasanya  padat.  Iulah kondisi jakarta sebagai ibu ota negara kita, yang   bergumul dengan beribu masalah, sosial, politik, hukum, dan yang pasti kemacetan serta  pada  saatnya, banjir.

Jadi siapapun harus menyesuaikan diri dengan kehidupan Jakarta, kalau tidak ingin kecewa dan  dikecewakan atau bahkan dirugikan oleh Jakarta.  Bahkan  dala  kenyataannya kita juga harus tetap waspada dari berbagai kemungkinan penipuan yang saat ini masih sering terjadi, terutama bagi mereka yang belum mengetahui  seluk beluk Jakarta. Semoga kita semua aman dan tetap dapat menikmati apapun tentang Jakarta.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.