KENAPA HARUS MENGELUH

Bagi setiap manusia pastinya akan mempunyai problem tersendiri, dan sanat mungkin bahwa problem tersebut sangat sulit untuk dipecahkan.  Namun bukan berarti sama sekali tidaqk dapat dipecahkan, melainkan ketidak sabaran sajalah yang menyebabkan seseorang tidak mampu mengatasi problemnya tersebut, atau mungkin hanya  lebih memenangkan ego pribadinya sajalah yang kemudian akan kesulitan untuk menyelesaikan persoalannya.

Jika seseorang  terbiasa memberikan maaf kepada sesama, termasuk mereka yang  di bawah level kita dalam berbagai aspek, maka  untuk sekedar mengatasi masalah, tidak akan sulit.  Semisal ketika terjadi percekcokan diantara suami isteri, lalu ada kesepehaman diantara mereka dan saling memaafkan, pastilah masalahnya akan segera teratasi.  Masalah  akan semakin membesar, jika masing masing bertahan dengan pendapatnya dan tidak mau mengalah untuk kemaslahatan.

Demikian juga ketika ada kesalahahn yang dilakukan oleh anak buah, sebesar apapun kesalahan tersebut, bahkan  dengan kesalahan tersebut diri seseoranag tersebut menjadi rugi besar, maka biasanya tindakan yang diambil ialah memecat bawahan tersebut.  Sesungguhnya tindakan tersebut sama  sekali tidak menyelesaikan masalah.   Mungkin dari sisinya  sudah menyelesaikan masalah, tetapi pada sisi bawahan tersebut, justru akan menimbulkan masalah besar.

Nah, itulah hal yang tidak pernah dipikirkan oleh kebanyakan orang, sehingga seolah  setelah masalah dirinya selesai, semua menjadi selesai.  Sementara penderitaan pihak lain sama sekali tidak terpikirkan, padahal secara keseluruhan seharunys hubungan apapun, harus terus dipikirkan akibatnya, termasuk pihak lain tersebut.  Nah, dengan memberikan maaf serta pembinaan  melalui kasih sayang dan terkadang juga hukuman yang tidak mematikan, justru akan lebih menguntungkan semua pihak.

Bahkan  dalam kasus  seperti itu, setelah memecat bawahannya yang melakukan kesalahan tersebut, seseorang  juga sering mengeluh karena  ganti yang didapatkan justru tidak lebih baik dari yang pecatnya, dan begitu seterusnya, masalah demi masalah akan senantiasa muncul sehubungan dengan  ketidak puasan  pihaklain memberikan servis kepadanya.  Lalu kenapa  seseorang tersebut tidak mau sedikit  memberikan ruang maaf dalam dirinya, sehingga tensi kekesalannya akan menurun dan  batinnya akan semakin tenang?.

Terkadang merenung demikian menjadi sanat pentig artinya bagi kehidupan seseorang, karena dengan mempertimbangkan untung dan rugi dalam setiap melangkah, pastinya akan semakin menjadikan diri seseorang tersebut  semakin bijak dan tentu akan menjadikannya  semakin tenang dalam menghadapi  segala sesuatu.  Memang tidak mudah untuk melaukan hal tersebut, karena diperlukan  waktu dan pengalaman serta jam terbang, namun bukan berarti tidak dapat dicapai.

Bagi orang yang cerdas, mengeluh itu pantangan, terkecuali hanya sekedar mencurahkan masalah kepada Yang Maha Kuasa, karena  Tuhanlah yang  dapat menyelesaikan semua persoalan, tetapi sekali lagi bukan  mengeluh, karena mengeluh itu  merupakan sebuah keputus asaan dalam menghadapi persoalan serta tyidak mempunyai alternatif penyelesaian.  Padahal kalau mau sedikit saja berpikir dan merenung sebagaimana tersebut, pastilah akan banyak  jalan keluar dari masalahnya tersebut.

Kita memang menyadari   bahwa setiap orang  mempunyai masalahnya sendiri dan  berbeda secara substansial, namun secara umum semua masalah itu  berasal dari dirinya sendiri, karena itu jika  orang  mau berpikir dan tidak  hanya memikirkan kepentingannya sendiri, pastilah persoalan akan   segera dapat dilakukan.  Semua  milik Allah swt dan pada saatnya akan dikembalikan lagi kepada Nya.  Jadi kalau kita  menyerahkan semua urusan kepada Nya, pastilah di sana akan ada jalan mudah untuk ditempuh.

Bagi kita yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan, apalagi sebagai pegawai negeri sipil yang digaji dari negara atau uang rakyat, seharusnya memaqng tetap bersemangat dalam mengerjakan tugas, termasuk jika  aturan main yang diterapkan semakin  terasa berat.  Namun itulah yang harus dilaksanakan.  Kita harus yakin bahwa peraturan yang dibuat dan kemudian diterapkan kepada kita, tentunya sudah dipikirkan dengan cukup matang.  Harapannya  dengan peraturan tersebut kinerja kita akan semakin membaik, sebagai pertanggung jawaban atas  gaji yang diberikan kepada kita.

Namun jika kita  lebih banyak menuruti keinginan pribadi sendiri, maka  peraturan yang semakin ketat dan dimaksudkan untuk  memperbaiki kinerja tersebut, pastinya akan dirasa sangat membelenggu dan akhirnya mengeluh.  Bahkan disamping mengeluh juga pekerjaaannya tidak atau kurang beres, karena  saat melaksanakan kewajibannya, dilakukan  secara terpaksa  dan sama sekali tidak dapat  menikmatinya.

Sifat mengeluh  memang sangat kental dengan sifat manusia secara umum, karena memang Tuhan menciptakan manusia dibarengi dengan sifat tersebut.  Cuma persoalannya ialah  apakah manusia tersebut dapat mengendalikan dirinya sehingga menjadi lebih baik dan  terjauhkan dari sifat mengeluh tersebut, ataukah sifat tersebut dibiarkannya  tumbuh, sehingga akan semakin subur dan  semakin menguasai kehiduoannya.

Pada saat sifat mengeluh tersebut menguasai diri seseorang, maka yang akan terjadi berikutnya ialah orang tersebut akan  dibimbing oleh sifat yang negatif dalam dirinya.  Artinya  manusia tersebut akan lebi  banyak menuntut ketimbang mau mengerti pihak lain.  Pada saat mendapatkan kebahagiaan, biasna  dia akan lupa bahwa  hal tersebut juga atas partisipasi pihak lain, dan  dia hanya menganggap bahwa  semuanya itu berkat usaha dirinya sendiri.  Demikian juga  dia  akan lupa kewajibannya bahwa  dalam keberhasilannya tersebut sesungguhnya ada juga hak pihak lain yang harus ditunaikan.

Sebaliknya jika  dia sedang mengalami kesusahan dan kegagalan, dia lupa segalanya, termasuk lupa kepada Sang Pencipta.  Dia kemudian menganggap bahwa semua itu ialah kesialannya dan  kalaupun dia masih ingat kepada Tuhan, maka  dia akan menganggap Tuhan sama sekali tidak menyukainya, sehoingga dia diberikan  kegagalan dan kesulitan.  Pekerjaaan utamanya ialah berkeluh kesah atas hal yang dialaminya, tanpa  mau mengevaluasi dirinya sendiri serta tanpa mau melakukan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.

Bagi orang mukmin yang  taat, tentunya  sifat  mengeluh tersebut akan   dijauhi, karena  setiap ada persoalan, pastinya  ada Tuhan yang dapat diwduli atau dimintai solusi  penyelesaian. Wadul kepada Tuhan tersebut sifatnya bukan mengeluh, melainkan melaporkan  dan sekaligus meminta pertolongan Nya agar semua hal kurang menyenangkan yang sedang dialami dapat dibereskan.

Sementara itu bagi mereka yang memang sudah meninggalkan Tuhan atau sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Tuhan, seharusnya sembodo dan tidak akan pernah mengeluh, jika suatu saat mengalami kesulitan dan kegagalan dalam usahanya.  Kejumawaannya seharusnya diimbangi dengan sikap keberaniannya yang  konsisten, bukan  suatu saat  seolah hebat, namun pada saat lainnya nampak loyo dan banyak mengeluh.

Berdasarkan atas kenyataan tersebut, sesungguhnya kita dapat mengambil  sebuah kesimpulan bahwa  manusia itu secara hakiki sangat lemah, dan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, sehingga  manusia sangat membutuhkan Tuhan sebagai Penentu segala hal.  Kalau manusia merasa mampu, maka kemampuannya tersebut sangat terbatas, sehingga suatu ketika dia pasti tidak akan mampu untuk  melakukan sesuatu.  Atau kalau seseorang merasa sangat cerdas, maka kecerdasannya tersebut tentu  sangat terbatas, sebab  suatu ketika pasti dia tidak akan mampu memecahkan sesuatu yang ada dihadapannya. Dan begitu seterusnya.

Nah, agar  manusia  tidak merasa paling hebat, tetapi pada saat lainya  tampak sangat loyo, maka  pengakuan adanya Tuhan dan sekaligus peran Nya  yang  tidak terbatas, mutlak dimiliki, sehingga sifat congkak yang ada pada diri manusia akan  terkalahkan oleh pengakuan keagungan Tuhan tersebut.  Semoga semakin banyak manusia yang sadar akan keberadaannya, dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan yang super hebat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.